
Saat Elang dan Herika sekretaris nya sedang sarapan. Datang seorang gadis yang mungkin seumuran dengan Gea, namun wajah nya sangat cupu dan lugu.
Ia membawa sesuatu di tangan nya. Gadis itu berjalan menghampiri Elang dan Herika.
"Maaf pak bos Elang, saya di suruh sama anak baru untuk memberi kan kotak makanan ini kepada bos Elang." kata gadis itu.
"Bilang sama anak baru, makasih banyak udah mau kasih aku makanan. Tapi kayak nya gak perlu, aku udah makan soal nya." kata Elang.
Elang bangun dari duduk nya tanpa menghabis kan sarapan nya. Lalu meninggal kan kantin, tanpa berkata apa pun pada Herika dan gadis cupu yang memberikan kotak makanan itu.
Setelah Elang jauh dari mereka, Herika melihat kearah gadis cupu tadi.
"Lulu, kamu gak tahu ya kalau bos Elang gak suka di ganggu sama cewek. Apa lagi, kamu kasih makanan kayak gini." kata Herika.
"Aku udah tahu, tapi aku gak bisa nolak sama Kirana. Ia minta tolong sama aku untuk kasih makanan sama bos Elang." kata Lulu.
"Lulu, kamu kan bisa bilang sama Kirana itu. Kalau bos Elang sudah punya istri, istri nya galak." kata Herika.
"Siapa yang galak?" kata anak baru yang nama nya Kirana.
Herika dan Lulu melihat asal suara yang tiba-tiba saja ikut bicara dengan mereka berdua.
"Jadi kamu adalah karyawan baru yang ngasih kotak makanan ini ya." kata Herika.
"Iya, kenapa? Gak boleh ya ngasih makanan sama bos sendiri. Hanya untuk ngucap terima kasih saja." kata Kirana.
"Bukan nya gak boleh, tapi harus lihat bos kita siapa juga dong. Kalo orang nya galak dan gak bisa di ajak bersahabat. Mending kamu gak usah cari masalah sama si bos deh." kata Herika.
"Aku suka sama cowok yang penuh tantangan, aku ingin lihat. Segalak apa nos kita, dan seperti apa bos Elang yang terlihat dingin dan sangat tampan itu." kata Kirana.
"Serah kamu lah, dasar anak baru gak bisa di kasih tahu. Kamu belum tahu aja gimana si bos dan gimana istri nya." kata Herika lagi.
"Istri?" kata Kirana terlihat kaget.
"Iya, istri. Kamu gak tahu kalau bos Elang itu udah nikah dan udah punya keluarga. Mana istri nya galak lagi, kamu gak takut kalau ketahuan dekat sama bos Elang. Bisa gawat kamu nanati anak baru." kata Herika.
"Aku ingin tahu, segalak mana istri bos kita. Gak masalah kalau dia punya istri, aku suka hidup dengan tantangan." kata Kirana.
"Dasar aneh, terserah kamu deh. Aku udah ingat kan apa yang bisa aku ingat kan apa anak baru. Selebih nya terserah kamu, urusan kamu kan." kata Herika.
Herika berdiri dari duduk nya, ia ingin meninggal kan kantin. Namun, sebelum ia meninggal kan kantin itu, ia kembali mengingat kan Kirana.
"Satu lagi Kirana, jangan bawa karyawan lain jika kamu tidak bisa aku ingat kan. Apa lagi karyawan seperti Lulu." kata Herika lagi.
Kirana hanya diam saja, sedang kan Lulu mengikuti Herika dari belakang. Kirana sangat penasaran bagai mana sifat Elang yang di kata kan galak itu.
Jiwa penasaran nya bangkit karna mendengar apa yang di bicara kan Herika. Selama ini, dia tidak pernah gagal dalam memikat cowok tampan. Baik itu bos kaya maun pun orang yang sudah punya istri. Ia belum pernah gagal memikat kaum lelaki selama ini.
Kali ini, ia ingin sekali memikat bos tampan tempat ia bekerja. Makin galak dan tidak suka di dekati. Makin bersemangat rasa hati Kirana untuk memikat Elang.
Sementara itu, Elang duduk di kursi dalam ruangan nya. Ia memikir kan hal aneh yang di laku kan Gea pagi ini. Merusak dapur mereka hanya untuk belajar masak. Dan membuat diri nya tidak sempat sarapan di rumah karna telat.
Elang menatap meja nya, di sana ada sebuah bingkai foto. Bingkai foto siapa lagi kalau bukan bingkai foto Gea.
"Kamu selalu buat aku merasa lucu Ge, setiap hari itu ada aja ulah kamu. Gak yang bikin hati geli, gak juga yang bikin kesal mau pun bahagia." kata Elang bicara pada bingkai foto itu.
***
Sesang kan di rumah, Gea sibuk memberes kan kamar nya. Membantu bibik memberes kan dapur akibat ulah nya. Juga membantu bibik memberes kan rumah mereka.
"Bibik, bagai mana cara nya ya agar aku bisa masak." kata Rina.
"Kursus aja non Gea, jika kursus kan bisa bikin makanan yang enak-enak." kata bibik.
"Aku yakin, Elang gak akan setuju sama ide kursus aku bik. Lagian, aku mau kuliah juga kan. Nanti dia malah bilang aku gak ada waktu buat dia lagi." kata Gea.
"Yah, kalau di rumah juga sama non. Nanti den Pangeran marah lagi, karna non Gea bikin berantakan dapur kita." kata bibik.
"Benar juga ya bik, tapi aku sangat ingin bisa masak kayak mama. Mama masak sendiri untuk papa." kata Gea.
"Oh ya, aku tahu bik. Aku mau kerumah mama dulu sebelum Lang pulang kerja." kata Gea bahagia.
"Ya udah kalo gitu, kasih tahu den Pangeran dulu non." kata bibik mengingat kan.
"Iyq bik, aku kasih tahu Elang." kata Gea sambil berjalan menuju tangga.
***
Elang masih, duduk sambil senyum-senyum di kursi sambil melihat foto Gea. Pintu ruangan nya di ketuk seseorang dari luar.
"Masuk." kata Elang sambil meletak kan foto di meja nya.
Siapa lagi kalau bukan Kirana yang mengetuk pintu ruangan Elang. Ia berjalan dengan sangat lembut sambil membawa dokumen di tangan nya.
"Maaf bos Elang, ini dokumen yang harus bos priksa." kata Kirana dengan suara yang lembut.
Belum juga Elang menjawab, ponsel nya berbunyi. Ia langsung melihat ponsel nya dengan bahagia. Ternyata, yang menelfon nya adalah Gea. Elang mengangkat telfon dari Gea.
"Hallo sayang, ada apa." kata Elang memgabai kan Kirana.
"Hallo Lang, apa boleh aku kerumah mama sebentar hari ini." kata Gea di seberang sana.
"Bukan nya kita baru pulang dari rumah mama kan Ge, tadi malam." kata Elang.
"Maksud ku, rumah mama mertua mu Lang. Aku ingin belajar masak sama mama." kata Gea.
"Apa kamu yakin mau kesana, aku takut kamu malah menghancur kan dapur mama nanti." kata Elang menggoda.
"Lang, kamu meremeh kan aku tahu gak. Aku gak akan merusak dapur mama." kata Gea.
"Ya sudah, jangan bawa mobil. Kamu harus pergi dengan sopir ya." kata Elang lembut.