Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
S 4


Gea terus menutup wajah nya, sedang kan Elang tertawa bahagai. Ia berhasil mengerjai istri nya.


"Lang, kamu mau aku teriak kuat-kuat biar mama papa kesini. Dan kamu akan sangat malu kalau mama dan papa sampai beneran datang." kata Gea mengancam.


"Teriak aja, aku gak akan melarang kamu untuk melaku kan apa yang kamu mau. Karma nanti, yang malu bukan hanya aku. Kamu juga pasti ikut malu iya gak." kata Elang.


Gea kehabisan akal, galak nya tiba-tiba saja hilang karna ulah Elang yang semakin menjadi-jadi sekarang. Ia tidak bisa galak lagi saat bersama Elang.


Elang berjalan mendekat, membuka tangan yang menutupi wajah Gea.


"Lang, apa yang kamu laku kan. Jangan main-main kamu sama aku ya." kata Gea tiba-tiba saja menepis tangan Elang yang memegang tangan nya.


"Au... Sakit tahu." kata Elang merintih.


Bagai mana tidak merintih, Gea bukan hanya menepis tangan Elang. Ia juga mendorong Elang tanpa sengaja, sehingga Elang terduduk di samping meja belajar yang ada di kamar itu.


Dorongan yang Gea berikan memang lumayan kuat. Tapi jika Elang siap-siap tadi, ia tidak akan terjatuh kelantai dan pungung nya tidak akan menyenggol meja.


Gea kaget saat melihat Elang jatuh di samping meja belajar. Di tambah lagi, Elang merintih memegang pungung nya.


"Lang, kamu gak papa kan. Kamu sih yang salah, main datang tiba-tiba." kata Gea masih membela diri.


"Gak papa apa nya, kamu gak lihat nih aku jatuh. Kamu gak lihat, aku kesakitan. Waspada kamu itu tidak tetap sasaran tahu gak." kata Elang.


"Ya maaf, aku pikir kamu mau macam-macam. Aku mana tahu kalau kamu udah selesai pakai baju." kata Gea sambik nyengir.


"Kamu itu istri aku, apa salah nya aku mau macam-macam sama kamu." kata Elang.


Pungung nya masih sakit, dia masih terduduk di samping meja. Gea hanya bicara saja, masig belum membantu Elang untuk bangun jadi jatuh nya.


"Eh malah bengong, kamu gak niat mau bantu aku bangun ya." kata Elang.


"Yah, kamu mau bangun ternyata. Aku pikir kamu mau nya duduk di situ aja sampai waktu kita tidur." kata Gea mendekat.


Gea membantu Elang bangun, dengan susah payah Elang berusaha bangun dari duduk nya. Pantat dan pungung nya terasa sangat sakit akibat jatuh terentak dan mentenggol samping meja.


"Sini aku lihat, apa belakang mu remuk atau ada yang tergores." kata Gea setelah membantu Elang dudul di ranjang.


"Kamu gak mau lihat yang lain nya juga. Cuma mau lihat pungung aku aja ya." kata Elang kembali usil.


Gea tidak menjawab, tapi ia malah memberikan satu cubitan di pingang Elang.


Yang membuat Elang akhir nya menjerit kesakitan.


"Au, sakit tahu. Apa-apaan sig kamu Ge, kenapa malah mencubit aku." kata Elang.


"Itu untuk orang yang suka usil, aku gak mau ngurus kamu lagi. Aku mau turun kebawah sekarang." kata Gea sambil melangkah kan kaki nya.


"Eh, gak bisa gitu dong. Kamu kata nya mau lihat pungung ku, Ge." kata Elang.


"Aku batal kan niat ku, kamu lihat saja sendiri. Aku mau makan sekarang, aku udah sangat lapar." kata Gea.


"Istri seperti apa sih yang aku punya, kok kayak nya gak ada romantis-romantis nya tu anak. Bikin kesal sih ia, setiap saat malah." kata Elang bicara sendiri.


****


Gea sudah sampai di meja makan, mama sama papa ternyata sudah menunggu mereka hampir satu jam.


"Kok lama banget sih sayang, turun nya." kata mama.


"Iya, mana Elang nya. Kok gak turun bareng kamu Ge." kata papa.


"Elang sebentar lagi turun pa, Elang mandi nya lama banget. Maka nya aku turun duluan, kasihan mama sama papa nunggu nya lama. Maaf ya ma, pa." kata Gea dengan manis nya.


"Gak papa sayang, kalian juga kan jarang datang kerumah mama. Apa lagi sejak kamu menyiap kan diri untuk ujian kemarin kan." kata mama.


"Iya ma, maaf juga untuk hal itu." kata Gea.


"Gak papa, asal kan anak mama bahagi aja udah. Mama gak jadi masalah, jika mama kangen kan mama bisa datang kerumah kalian." kata mama.


Tak lama Elang muncul, ia berjalan mendekati meja makan.


"Lama banget kamu Lang. Apa sih yang kamu kerja kan di kamar mandi." kata papa.


"Di kamar mandi?" kata Elang tidak mengerti.


"Ini enak ya ma, apa sih ini nama nya." kata Gea memotong pembicaraan.


Gea bukan bermaksud tidak sopan, ia hanya tidak ingin Elang mengata kan apa pun tentang apa yang terjadi di kamar.


"Enak kok Ge, kamu harus coba. Ini nama apa ya, mama juga lupa nama sayur ini." kata mama berusaha mengingat-ingat sayur apa yang Gea tanya kan.


"Gak usah di ingat ma, kita makan aja ya." kata Gea.


Mereka pun menikmati makan malam bersama. Sambil di temani obrolan ringan di barengi candaan sesekali.


"Ge, kamu kan udah tamat sekolah. Apa kamu mau melanjut kan kejenjang perkulihan." kata papa.


"Gak usah pa, buat apa kuliah kan sudah punya suami. Dan juga gak perlu lah kuliah, aku kan udah ceo di perusahan." kata Elang yang menjawab apa yang papa tanya kan.


Gea diam, sebenar nya ia ingin sih kuliah. Hanya saja, apa yang Elang kata kan itu ada benar nya juga. Ia kan sudah menikah, mau lanjut kuliah kan harus tanya Elang dulu. Elang itu ngizinin atau ngak kalau ia lanjut.


Elang meman ceo di perusahan milik mereka sendiri. Tapi Gea juga ingin merasa duduk di bangku perkuliahan. Merasa bagai mana jadi mahasiswa, belajar bersama teman di sana.


Apa lagi saat Rika bilang, ia akan menikah dengan kak Dewa setelah kuliah. Kak Dewa setuju sama apa yang Rika ingin kan. Mereka sudah sepakat, setelah Rika tamat kuliah. Baru mereka akan menikah, Danu juga bilang mau kuliah di tempat yang sama seperti Rika.


Tapi bagai mana pun, ia harus bicara kan dulu apa yang menjadi keinginan hati nya dengan Elang. Karna, ia adalah istri orang sekarang.


🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀


Teman-teman, maaf ya jika agak tidak nyambung. Dan maaf juga jika lama baru up nya. Karna saat ini, aku lagi fokus pada memperbaiki karya aku yang judul nya. Cahaya cinta pengganti. Bukan memperbaiki sih sebenar nya. Malah lebih tetap nya, menulis ulang cerita aku itu. Karna terlalu berantakan, maka nya aku tulis ulang. Maka nya aku agak lama up yang ini, harap maklum ya teman-teman. Terima kasih banyak.