
Gea pun mandi dengan cepat, ia bahkan lupa membawa baju gantinnya. Sedangkan baju yang ia pakai basah karna tersiram air.
Mendengarkan air dalam kamar mandi, Elang yang terlelap pun terbangun. Ia masih baring diatas kasur, tapi sudah bangun dari tidurnya.
Beberapa saat lamanya, Gea keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai haduk saja. Ini pertama kalinya Elang melibat tubuh cantik Gea hanya menggunakan handuk. Apa lagi saat baru selesai mandi, dengan rambut yang disimpulkan dan hanya menutupi bagian yang penting saja.
Hasrat Elang yang telah lama terpendam pun bangkit. Ia tidak bisa menahan diri lagi saat ini, rasanya, ia ingin segera memeluk Gea.
Gea masih belum sadar kalau Elang sudah bangun dari tidurnya. Gea membelakangi Elang untuk melihat bajunya. Saat itu, Elang bangun dan memeluk Gea dari belakang.
"Lang ...." ucap Gea kaget.
"Ge, biarkan aku merasakan jadi suami sekarang, please!"
"Aku ...."
Kali ini, Elang tidak menunggu jawaban dari Gea. Ia terus mencium bahu putih milik Gea yang masih basah itu. Sedangkan Gea, ia berusaha tenang saja.
"Nikmati saja apa yang aku lakukan Ge, aku yakin, kamu akan merasa nyaman nantinya."
Gea tidak menjawab, jantungnya yang berdegup kencang, berusaha ia tahan. Sambil kedua tangannya memegang handuk yang melekat ditubuhnya, yang hanya menutupi buah da*anya putih bersih.
Tangan Elang yang sangat nakal itu pun sekarabg telah berpindah posisi. Dari hanya memeluk bahu, sekarang turun kepaha Gea yang putih bersih itu. Gea berdiri, ada rasa geli saat Elang menyentuh pahanya.
Tidak cukup dengan satu tangan, Elang menggunakan tangannya yang lain untuk menelusuri tubuh cantik istrinya. Awalnya hanya membelai dada saja, tapi sedikit demi sedikit, tangan itu menyentuh dua gunung putih bersih milik Gea.
"Lang," ucap Gea dengan nada lembut.
"Nikmati saja sayang, kamu akan merasa nyamana."
Elang membelai gunung itu dengan lembut, tapi itu tidak lama. Ia malah merem*s gunung itu dengan penuh nafsu. Bibirnya kini ikut berkelana sekarang, mulai dari bahu Gea yang ia cium, sekarang naik keleher Gea. Ia memberikan noda merah yang sangat Gea nikmati dileher itu. Ia benar yang Elang katakan, Gea akan menikmati setiap sentuhan lembut dari Elang.
Elang terus memberikan warna merah dileher Gea. Bukan hanya satu, ia bahkan memberikan lebih dari dua cap merah dileher putih itu.
Elang pun mengangkat tubuh Gea keatas ranjang. Gea hanya bisa jadi orang yang pasrah, namun menikmati saja. Sambil memegang handung yang hampir saja melorot.
Untuk pertama kali, ia hanya bisa pasrah dan berusaha menjadi penikmat setiap sentuhan Elang.
Gea merasakan tubuh Elang menaiki ranjang mereka. Tangan lembut ceo muda itu pun menyentuh bibir Gea dengan lembut. Sentuhan yang berawal dari bibir dan berakhir didada itu awal dari sentuhan Elang.
Elang menindih tubuh Gea, namun tidak membiarkan Gea mengeluarkan suara sedikitpun. Ia mencium habis bibir Gea yang merah muda itu. Ia melumati bibir itu sambil sebelah tangannya berkelana kemana-mana. Tangan nakah itu bahkan menyentuh hal yang berharga milik Gea, mahkota berharga itu disentuh oleh Elang dengan lembut. Gea tidak bisa berontak, bibirnya yang masih melekat dibibir Elang. Membuat tubuhnya sangat lemah dan tak berdaya.
Elang membelai lembut mahkota itu, menyusuri paha dan kembali kemahkota Gea. Elang hanya membelai, tidak berniat menusuknya sama sekali.
"Ge, ini mungkin agak sedikit sakit. Kamu harus tenang dan nikmati yah."
Tidak ada yang bisa Gea jawab, tubuhnya yang baru pertama kali menerima hal itu, merasa tidak bisa menolaknya. Tubuhnya bahkan sangat menginginkan hal itu. Menginginkan setiap sentuhan dan setiap kecupan hangat.
Elang melepaskan tangan Gea yang sedari tadi memegang erat handuknya. Perlahan tapi pasti, dua gunung putih itu terlihat jelas dimata Elang. Ia tidak bisa menahan hasratnya untuk mencicipi gunung putih itu. Elang pun membelainya dengan lembut, Gea tidak bisa menolak. Gadis galak itu berubah jadi lembut saat ini. Ia berubah penurut saat Elang melakukan semua hal itu.
Elang tidak bisa hanya membiarkan tangannya membelai saja. Bibirnya pun tidak bisa ia tahan lagi. Ia memberikan noda merah yang sangat kuat digunung putih itu. Bukan hanya satu, tapi kedua buah gunung itu semuannya ia berikan noda merah. Bukan hanya gunung, ia juga tidak membiarkan puncak gunung terbengkalai. Satu puncak gunung putih itu ia lumati dengan bibirnya, hingga separuh dari gunung itu berada didalam mulutnya. Sedangkan yang satunya lagi, ia mainkan dengan tangannya.
Bibir nakah Gea, tanpa sengaja mengeluarkan suara yang tidak pernah ia keluarkan sebelumnya. Ia tidak bisa mencegah rangsangan itu, ia bahkan tidak bisa menahan suaranya untuk keluar.
Pemanasan yang lama, yang Elang lakukan. Kini, senjata handalan milik Elang tidak bisa sabar lagi. Ia ingin segera masuk kesarangnya yang telah lama menunggu sejak tadi. Elang pun mencoba menyentuhkan miliknya, kemahkota milik Gea. Gea mulai merintih, tapi senjata itu masih belum menusuknya. Milik Elang masih berusaha membuka pintu sarangnya. Tapi sangat sulit sekali, karna sarang itu belum pernah tersentuh sama sekali.
Milik Elang berusaha sekuat tenaga untuk membobol sarangnya, namun begitu sulit. Sampai harus mencoba berkali kali dan gagal. Elang tidak menghiraukan rintihan Gea yang menyering kesakitan karna ulah milik Elang yang sangat kuat, untuk membobol sarang itu.
Akhirnya, setelah usaha yang lumayan sulit. Elang menekat miliknya dengan sekuat tenaga. Sarang itu bobol juga, dibarengi air mata dan teriakan sakit dari Gea.
Tidak hanya itu, Elang melakukan cara lain. Ia malah bermain-main didalam sarang itu, padahal sarang itu telah terluka dan mengeluarkan sedikit darah segar. Dan pemiliknya sedang menangis kesakitan. Elang malah menikmati semua yang telah terjadi. Tempat sempit itu membuatnya sangat tertarik. Ia memaju mundurkan miliknya yang telah berada disarang itu. Tangan Gea menggengam erat sprei kasur yang ada didekatnya. Sambil terus berucap kata "sakit ... sakit ..."
Elang terus bermain tanpa memperdulikan teriakan Gea. Ia masih sibuk memaju mundurkan miliknya didalam sarang sempit itu. Hingga beberapa saat lamanya, dan mikiknya merasa akan menggeluarkan sesuatu didalam sarang Gea. Rasa panas pun membuatnya harus mengeluarkan suara lega yang sangat kuar.
"Aaaaaaahhhhhh ..."
Desahan puas itu pun mengakhiri permainannya didalam sarang. Ia mengistirahatkan miliknya sebentar disana. Setelah itu, baru ia keluarkan miliknya dari sarang itu. Saat ia mengeluarkan itu, Gea berteriak untuk yang kesekian kalinya.
Walaupun milik Elang telah keluar, tapi rasa sakitnya masih tersisa di mahkota milik Gea