
Makan malam bersama itu ternyata lumyan lama. Mereka tidak bisa pulang sebelum Gea ingin pulang. Gea bagaikan ratu saja saat ia hamil. Semua yang ia inginkan selalu dituruti oleh orang-orang disekitarnya. Ia benar-benar manja saat ia hamil.
Tapi manjanya itu tidak pernah terbawa pada orang luar untungnya. Ia hanya manja pada orang-orang terdekatnya saja.
"Sayang, apa kamu sudah siap?" kata Elang dari luar kamar.
"Bentar lagi selesai kok Lang," kata Gea.
"Cepatan sayang, kita akan ketinggalan nanti."
"Iya sabar, aku selesai sebentar lagi."
Elang sudah menunggu Gea didepan pintu kamar sekitar satu jam lamanya. Mereka akan pergi kepernikahannya Denis dan Sella.
Sella dan Denis akan menikah hari ini. Acaranya diadakan dirumah Denis. Hanya acara resepsi biasa-biasa saja, sementara ijab khobulnya diadakan di KUA. Pernikahan Sella diadakan di KUA karna Sella tidak punya keluarga lagi saat ini. Orang tua Sella telah meninggal saat ia masuk kerumah sakit jiwa waktu itu.
....
Elang yang resah terus saja munda mandir didepan pintu kamar. Sedangkan Gea, ia sibuk memilih satu persatu baju yang akan ia kenakan untuk datang keacara resepsi Denis dan Sella. Baginya, tidak ada baju yang cocok dengan badannya saat ini. Ia merasa, semua gaun yang ia miliki semuanya kecil dan sempit untuk ia pakai.
Elang masuk kedalam sangking lama ia menuggu. Elang tidak sabar lagi menunggu terlalu lama diluar.
"Sayang, ini kok berantakan semuanya sih. Kamu apakan ini isi kemari?" kata Elang frustasi.
"Aku cari baju yang cocoklah, masa iya aku bongkar gitu aja."
"Sayang, semua baju ini cocok buat kamu. Hanya saja, kamu yang tidak percaya diri untuk menggunakannya."
"Bajunya pada sempit semuanya Lang. Mana bisa aku pakai jika bajunya sempit," kata Gea.
"Ya udah, aku suruh Herika antar baju kesini untuk kamu pakai. Aku yakin, selera Herika tidak pernah salah dalam memilih."
"Terserah kamu ajalah, yang penting datangnya cepat."
Elang pun menghubungi Herika untuk membelikan satu set gaun yang cocok buat Gea. Tidak menunggu waktu yang terlalu lama. Herika langsung mengirim seseorang untuk mengantarkan satu set gaun hijau yang Elang minta.
Gea memakai baju yang Herika kirimkan buat dia. Bajunya sangat cocok buat Gea, dan Gea juga merasa sangat nyaman. Untuk tidak membuang waktu lagi, mereka langsung saja berangkat, menuju rumah Denis.
"Lang, kok bisa sih Herika secepat itu membelikan gaun yang sangat cocok buat aku. Lagian, kalau untuk pergi dari kantor kebutik aja butuh waktu lama. Belum lagi ia harus milih bajunya di butik. Dan juga, untuk mengirim bajunyakan butuh waktu Lang," kata Gea saat mereka berada dalam mobil.
"Udah jangan dipikirkan soal itu. Herika adalah sekretaris handal yang bisa melakukan semuanya dengan cepat dan hasil yang memuaskan," ucap Elang sambil senyum.
"Ya secepat-cepatnya ia bergerak. Gak langsung siap jugakan Lang. Lagian, dia itu laki-laki lho. Harusnya ia mikir banyak buat beli gaun yang aku pakai ini."
"Iya deh, aku ngaku sama kamu. Sebenarnya, gaun ini sudah ada di kantor. Beberapa hari yang lalu, aku membeli gaun ini buat acara pernikahan Danu nanti. Tapi tahunya, gaun ini buat acara pernikahan Denis. Tapi gak papa, aku akan belilan kamu baju yang baru saat pernikahan Danu nanti," kata Elang panjang lebar.
"Lho, ini gaun kamu yang beli. Kok gak kasih tahu aku kalau kamu udah beli gaun buat aku," kata Gea ngambek.
"Pernikahan Danu kan masih lama lagi Lang. Kenapa gak kasih buat pernikahan Denis aja," kata Gea.
"Gaun ini yang merancangnya Elsy sayang. Aku ingin kamu memakikan gaun ini dipernikahan dia dan Danu nanti," kata Elang berusaha menjelaskan.
"Jadi, ini gaun Elsy yang rancang. Kenapa kamu gak bilang dari awal sih Lang. Bagaimana kalau Elsy nya marah saat tahu aku udah pakai gaun ini saat pernikahan Denis."
"Udah, kamu tenang aja deh. Elsy dan Herika itu adalah sepupuan, dan yang bikin desain bajunya Herika. Yang buat bajunya baru Elsy," kata Elang.
Tanpa terasa, mereka sudah sampai tempat resepsi Denis. Di sana sudah sangat banyak tamu yang datang. Mereka berdua langsung turun dari mobil dan segera menghampiri Denis dan Sella yang sibuk menemani tamu-tamu mereka.
"Selamat ya Denis, Sella. Semoga kekal sampai anak cucu," ucap Elang sambil bersalaman.
"Makasih banyak Elang, kalian berdua udah sempat dateng keresepsi kami," kata Sella.
"Iya, walaupun agak telat sih datangnya. Aku harap kamu datang awal lho Lang," kata Denis.
"Gimana bisa datang awal, nih permaisuri dandannya lama amat."
"Aku lagi yang salah kayaknya ya," kata Gea.
"Ngak kok sayang, kamu gak salah. Udah yah jangan ngambek lagi. Serahin kadonya pada mereka, kemudian kita duduk."
Gea nurut kali ini, ia tidak protes sedikit pun. Setelah memberi selamat buat Denis dan Sella. Ia menyerahkan kado yang berada didalam kotak kecil.
"Terima kasih atas kadonya," kata Sella.
Gea hanya tersenyum saja. Ia tidak menjawab apa yang Sella katakan. Elang membawa Gea untuk segera duduk. Sella menatap kepergian Elang dan Gea. Elang sangat perhatian dengan istrinya.
'Elang jauh berbeda dari yang dulu aku kenal. ia sangat perhatian dan terlihat sangat mengalah oada Gea. Andai saja aku yang berada diposisi Gea saat ini. Mungkin aku adalah wanita yang paling bahagia didunia ini.'
Tanpa sadar, air matanya jatuh perlahan. Sella tidak sadar kalau ia menjatuhkan air matanya dan Denis melihat apa yang terjadi.
"Kamu kenapa Sell? Apa kamu merasa menyesal menikah dengan aku?" kata Denis.
"Tidak-tidak, kamu ngomong apa sih Denis. Aku gak menyesal sedikit pun, kamukan tahu, kita menikah atas kemauan aku."
"Tapi aku seakan menyesal, bahkan menangis saat melihat Gea dan Elang begitu mesra dihadapan kamu."
"Kamu tahu, aku memang menyesal. Tapi bukan karna menikah dengan kamu, tapi karna aku pernah jahat dimasalalu. Aku pernah jadi orang ketiga diantara rumah tangga mereka. Aku sangat menyesal untuk itu," kata Sella.
"Sudahlah, jangan ingat masalalu. Kita jangan selalu melihat kebelakang. Yang harus kamu lakukan hanyalah menata masa depan supaya jangan terjatuh ditempat yang sama untuk yang kedua kali. Aku yakin, jika kamu yang bersama dengan Elang kemarin. Mungkin kamu tidak merasakan apa itu penyesalan."
"Maksud kamu Den?" kata Sella tidak mengerti.
"Ya, kamu tidak tahukan apa yang akan terjadi dimasa depan. Yang bagus buat orang lain, belum tentu bagus buat kita lho Sell."