
Gea tidak menjawab apa yang Rika katakan. Hanya saja, ia melihat kearah Randy dengan rasa kesalnya. Sedangkan Randy berjalan mendekati Gea dengan mata yang masih menyimpan rasa kagun untuk kecantikan Gea.
"Siapa nama kamu?" kata Randy mengajukan pertanyaan pada Gea.
"Gea," jawab Gea singkat.
"Wah, nama yang cantik sekali. Sama persis seperti orangnya," kata Randy memuji.
"Memang kamu tahu arti dari nama aku," kata Gea semakin kesal.
Randy diam, ia tidak tahu apa arti dari nama Gea. Ia hanya berusaha memuji gadis cantik itu dengan harapan, Gea akan tertarik dan merasa senang dengan pujian yang ia berikan.
"Kamu tidak tahukan apa arti dari namaku, aku sarankan jangan sembarang memuji kalau kamu tidak tahu," kata Gea sambil ingin meninggalkan kantin.
Randy diam saja saat Gea mengatakan hal itu. Ini pertama kalinya ia di tolak mentah-mentah. Pertama kalinya seorang gadis tidak tunduk pada ucapan pujian yang ia ucapkan buat gadis itu.
Gea dan kedua temannya semakin menjauh dari kantin. Semua teman-teman Randy mendekati raja kampus itu dengan perasaan yang tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ran, kayaknya kali ini kamu gak akan mendapatkan apa yang kamu mau," kata salah satu dari teman Randy.
"Gak akan, gak akan pernah seorang raja kampus gagal untuk mendapatkan apa yang ia mau. Apa lagi itu seorang gadis, mana mungkin aku akan gagal."
"Ini baru pemula, aku makin tertarik sama gadis itu saat melihat bagaimana wajahnya. Ditambah lagi, ia sangat berbeda dengan gadis yang lain," kata Randy lagi.
.....
Sedangkan disisi lain, Elang sedang berada diruangannya. Untuk yang kesekian kalinya, gadis yang bernama Kirana itu tak bosan-bosannya mencari perhatian pada Elang.
Saat Elang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Kirana masuk kedalam ruangan Elang sambil membawakan segelas kopi.
"Permisi pak bos," kata Kirana sambil membukakan pintu.
Sesaat Elang menghentikan pekerjaannya. Lalu melepaskan napas malasnya saat ia lihat siapa karyawan yang masuk kedalam ruangannya.
"Ini kopi yang pak bos inginkan tadi," kata Kirana sambil meletakkan kopi di meja Elang.
"Kamu udah ganti profesi sekarang ya, apa kamu merasa senang menjadi OB?" kata Elang.
"Ngak kok pak, saya hanya mengantarkan saja. Membantu sesamakan gak ada salahnya, karna memamg kebetulan pekerjaan saya sudah tidak ada lagi," kata Kirana beralasan.
"Ya sudah, kamu bisa keluar karna saya masih banyak pekerjaa."
"Tapi pak, kopinya dicoba dulu aja. Kalo kurang gula saya bisa ambi dan tambahkan lagi."
"Tidak perlu, kamu bisa langsung keluar sekarang juga."
Mau tidak mau, Kirana pun harus memaksakan dirinya keluar dari ruangan Elang. Karna ia sudah mendapatkan satu tatapan tajam dari Elang. Sebenarnya, Kirana juga merasa ngeri saat Elang menatapnya. Hanya saja, niat yang kuat menjadi pendorong ia tetap berani mendekati Elang yang juga punya istri galak itu.
Setelah Kirana keluar dari ruangannya, Elang langsung menelfon Herika. Orang kepercayaan yang selama ini sangat ia handalkan.
"Herika, masuk keruangan ku sekarang," kata Elang.
Belum juga Herika menjawab, Elang sudah langsung menutup telfon yang tersambung itu. Membuat Herika merasa takut dan bergeges menuju keruangan Elang.
"Permisi bos ceo, ada apa memanggil saya," kata Herika saat ia sudah masuk.
"Ganti kopi aku dengan yang baru, dan jangan suruh siapa pun yang mengantarkannya keruangan aku. Aku mau kamu yang bikin dan kamu yang antar," kata Elang.
"Lho, emangnya kopi ini kenapa bos ceo. Ini terlihat masih panas dan baru."
Yang dilihat merasa ada yang salah. Tapi tidak bisa bertanya apa-apa lagi selain mengikuti apa yang bosnya minta. Dengan cepat Herika mengambil gelas kopi yang ada diatas meja lalu membawanya keluar.
....
Gea dan Dewa mau pulang, namun mobil mereka dicegat oleh beberapa orang ditengah jalan. Dewa kaget sama apa yang ia lihat, ia tahu jika dirinya tidak mungkin bisa melawan semua preman yang sedang ada didepan mobilnya.
"Keluar kalian," kata salah satu preman itu sambil menggedor kaca mobil.
"Ge, bagaimana ini. Siapa mereka?" kata Dewa sangat ketakutan.
"Lho, kak Dewa tanya sama aku. Mana aku tahu siapa mereka," kata Gea masih tenang saja.
"Kamu kok masih bisa tenang aja Ge, kamu gak lihat kita sedang ada dalam bahaya saat ini."
"Keluar kalian, kalau tidak aku akan pecahkan kaca mobil kalian," kata pereman itu sambil membawa batu.
Gea tidak bisa menahan diri lagi saat pereman itu mau memecahkan kaca mobil kakaknya.
"Ge, mau kemana kamu. Jangan coba-coba kamu turun," kata Dewa menahan tangan Gea.
"Dari pada mereka pecahkan kaca mobil kita, lebih baik kita keluar kak."
"Tapi, biar aku saja yang keluar. Kak Dewa tunggu dalam mobil saja," kata Gea lagi.
"Ge, kamu cewek dan mereka cowok. Apa lagi mereka gak sendirian, mereka ada lima sedangkan kamu sendiri," kata kak Dewanya dengan sangat takut.
"Kak, kalau kita gak mencoba gak akan tahu seberapa tinggi kemampuan kita. Lagian, aku turun juga gak akan langsung berkelahi kok. Aku ingin tanya saja, apa yang mereka mau."
Gea tak bisa dicegah lagi, ia langsung saja turun dari mobil dan melihat kearah peremen itu dengan tatapan marahnya.
"Wah, cewek cantik banget ternyata yang ada didalam mobil ini," kata salah satu preman utu sambil senyum.
"Kalian ada perlu apa sama kami sampai harus mengganggu jalan kami," kata Gea.
"Karna kamu cantik," kata preman yang lain.
"Iya, kamu cantik yang membuat kami harus mencegat mobil ini."
"Jangan banyak basa basi, aku tidak terlalu banyak kesabaran untuk meladeni kalian ngobrol," kata Gea.
"Wah ... wah-wah, ternyata galak juga gadis cantik ini," kata salah satu preman sambil mendekati Gea.
Preman itu ingin menyentuh dagu Gea dengan tangannya. Namun dengan sigap, Gea memegang tangan itu. Lalu tangan preman itu di putar Gea kebelakang.
"Aaaaaaa ...."
Pereman itu berteriak kesakitan, teman-temannya kaget saat melihat apa yang Gea lakukan pada teman mereka.
"Kalian berani menguji kesabaran ku," kata Gea.
Gea lalu menendang lelaki yang ada didepannya. Karna tendangan yang sangat tepat sasaran yang langsung Gea tuju pada ulu hati lelaki itu. Maka lelaki itu langsung terkapar jatuh kejalan yang berbatu.
Melihat hal itu, keempat preman yang ada disana merasa nyalinya ciut. Bagaimana tidak, sekali tendang saja, satu preman itu langsung tidak bisa bangkit lagi.
"Ayo, siapa lagi yang mau mendekati aku. Atau masih mau menguji kesabaran ku lagi," kata Gea pada keempat preman itu.