Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
S 45


Setelah hari yang melelakan bagi Gea, ia pun pulang kerumah. Banyak hal yang ia lalui dikampus hari ini. Mulai dari memberi peralajaran pada Astrid, hingga bertemu dengan orang yang memberikan ia cincin berlian.


Emang sih, dekan itu masih sangat muda sekali. Namun, Gea tidak tertarik untuk berteman meladeni dekan itu. Sudah tahu dia punya suami, masih saja punya niat untuk mendekatinya. Apa dia tidak dengar, bagaimana Gea memberi pelajaran buat raja kampus waktu itu.


...


Saat Gea sibuk memikirkan harinya yang sangat melelahkan, Elang pulang dari kantornya. Seperti biasa, ia melihat istrinya yang sedang duduk sendirian diruang tamu mereka. Elang pun menghampiri Gea, lalu mencium pipi istri cantiknya ini.


"Lang, kamu kok bikin kaget aku sih. Bagaimana kalau aku jantungan, apa kamu senang."


"Cantikku, bagaimana bisa kamu tidak sadar kalau aku pulang. Bukannya menjambut aku, kamu malah bilang aku bikin kamu jantungan."


Gea diam saja, ia tidak berniat untuk menjawab apa yang Elang katakan. Elang melihat istrinya yang seperti tidak punya mood sama sekali.


"Sayang, apa kamu punya masalah di kampus hari ini?" kata Elang sambil membelai rambut Gea.


"Gak ada Lang, aku tidak punya masalah apapun saat ini."


"Sayang, malam ini ada acara makan malam perayaan ulang tahun perusahaan. Kamu gak keberatankan ikut aku keacara nanti malam," kata Elang dengan sangat lembut.


Seperti biasanya, Elang tidak pernah memaksakan Gea untuk ikut kemanapun ia pergi. Ia hanya memberitahukan pada Gea kalau ia ingin Gea ikut, tapi tidak memaksakannya secara langsung.


"Ulang tahun perusahaan kita? Apakah akan diadakan malam ini Lang?" kata Gea sedikit kaget.


"Iya sayang, masa kamu lupa sih sama ulang tahun perusahaan kita ibuk ceo."


"Bagaimana? Kamu gak keberatankan untuk ikut aku pergi malam nanti."


"Iya, kita akan pergi makan malam nanti."


......


Malam ini, Gea sangat cantik dengan gaun merahnya yang sangat mewah. Rambut yang disangul dan memakai sebuah perhiasan yang tidak terlalu mewah dikepalanya. Itu terlihat sangat amat cantik sekali. Ia bagaikan bintang yang berada ditegah langit malam. Semua mata yang melihatnya, akan terus memuji betapa cantiknya wanita itu.


"Wah, ibuk ceo memang wanita yang paling cantik diantara semua wanita yang ada disini," ucap salah satu karyawan yang ada disana.


"Berhenti jadi penjilat, aku sangat tidak suka mendengar orang yang suka menjilat atasannya," kata Kirana.


"Kamu yang kalah saing, kenapa marah pada orang lain," kata seseorang.


"Aku tidak kalah saing, kamu lihat saja, suatu hari nanti, aku akan mendapatkan pak Elang sebagai kekasihku."


"Hahahah, jangan bermimpi terlalu tinggi Kirana. Kamu bukan merak yang berbulu cantik, kamu hanya gagak hitam yang menghayal menjadi bagau."


"Diam kamu, aku akan buktikan padamu bagaimana gagak bisa jadi merak. Aku akan perlihatkan pada semua orang, kalau aku tidak pernag gagal dalam mendapatkan hati lelaki manapun," kata Kirana.


"Benarkah?" kata Gea yang tiba-tiba ikut bicara.


"Ib ... ibuk ceo, saya permisi dulu," kata karyawan yang bicara dengan Kirana tadi.


Setelah karyawan itu pergi, Gea mentapa Kirana dengan tatapan yang sangat tajam. Namun Kirana tidak takut, ia malah membalas tatapan tajam dari Gea itu.


"Ki ... ra ... na ... ternyata kamu gadis yang sangat suka dengan suami orang yah."


"Kalau iya kenapa? Apa urusannya dengan kamu," kata Kirana tidak gentar.


"Oh, jelas ada urusannya dengan aku. Kamu lupa ya siapa Elang itu. Dia adalah suami aku, suami Gizella. Apa kamu tidak tahu," kata Gea.


"Ibuk ceo yang terhormat, walaupun bis Elang adalah suami dari presiden negara ini pun, aku tidak akan takut sama sekali. Aku akan tetap mengejarnya sampai kapan pun, sampai aku berhasil mendapatkannya."


"Aku suka nyalimu Kirana, selama ini, aku belum pernah bertemu orang seperti kamu lho."


"Oh ya, apa kamu merasa kecut saat bertemu orang seperti aku?"


"Tidak sama sekali, aku tidak pernah merasa kecut atau tidak punya nyali untuk menghadapi calon pelakor seperti kamu. Aku juga ingat, mungkin kamu sangat butuh banyak biaya untuk merawat mama kamu dirumah sakit saat ini," kata Gea sambil tersenyum.


Kirana terdiam saat mendengarkan apa yang Gea katakan. Ia ingat akan mamanya yang sedang berada dirumah sakit saat ini. Nyalinya yang tinggi, sekarang mulai luntur akibat ingat sang mama yang sedang berjuang melawan penyakitnya.


"Dari mama kamu tahu soal mamaku," ucap Kirana.


"Oh, aku memang serba tahu Kirana. Bukan hanya soal mama kamu saja yang aku tahu, masih banyak hal lain lagi yang aku tahu lho, tentang kehidupan kamu."


"Aku juga tahu, kenapa suamiku masih mempertahankan kamu untuk tetap bekerja di perusahaan kami," kata Gea lagi.


"Jangan sok tahu kamu, aku bertahan diperusahaan ini karna aku sangat menguasai pekerjaan yang aku kerjakan."


"Kirana, itu bukan alasan yang tepat untuk kamu. Kamu bertahan di perusahaan kami hanya karna suamiku kasihan padamu, karna kamu adalah satu-satunya harapan dalam keluargamu."


"Sayang, sedang apa kamu disini?" kata Elang yang tiba-tiba saja datang lalu merangkul Gea.


"Gak papa sayang, hanya bicara dengan salah satu karyawan kita," kata Gea.


"Oh, ayo pergi dan duduk disana. Aku yakin kamu sangat capek bukan, kita akan pulang sebentar lagi."


"Baiklah, kamu pergi dulu saja, aku akan nyusul sebentar lagi."


"Sayang, jangan lama-lama yah."


"Iya, gak akan lama kok."


Elang pun meninggalkan Gea dan Kirana, ia tidak melihat Kirana sedikit pun dari awal hingga akhir. Kirana merasa sangat sakit hati, ia tidak bisa tebar pesona pada ceo muda yang satu ini. Mana istri sang ceo sungguh bukan gadis sembarangan. Karna, biasanya tidak ada satu orang pun yang bisa melacak tentang kehidupannya selama ini. Sudah banyak lelaki yang ia rebut dari wanita lain, tapi tidak pernah tahu identitasnya sedikitpun.


"Kirana, aku tidak akan merusak hidupmu jika kamu tidak bikin masalah buat rumah tangga aku dan Elang. Ingat satu hal, sedikit saja kamu bikin masalah buat aku dan Elang, maka kamu akan kehilangan semua hal berharga dalam hidupmu buat selamanya."


Gea pergi setelah bicara hal itu, ia pergi sambil tersenyum manis pada Kirana. Sedangkan Kirana, ia diam terpaku disana. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengan dari Gea. Gea ternyata tahu banyak tentang dirinya. Nyalinya yang besar, kini harus hilang tanpa bekas sedikitpun.


'Tidak, aku tidak bisa mengorbankan apa yang paling berharga dalam hidupku hanya karna ambisiku. Aku tidak bisa berdapat dengan gadis itu lagi sekarang. Dia orang yang luar biasa', kata Kirana dalam hatinya.