
Randy terdiam, ia ingat dan tahu betul siapa orang yang berada disamping Gea waktu itu. Pangeran Elang, itu adalah orang ternama dikalangan pembisnis besar. Ceo muda yang terkenal sangat dingin pada siapapun.
"Aku tidak percaya, kalau kamu dan Elang sudah menikah. Aku tidak yakin kamu sudah istri orang. Dan kalau pun iya, apa salahnya kalau aku mencoba mendekati kamu. Aku akan buktikan padamu, cinta siapa yang kebih baik untuk kamu."
"Buktikan saja kalau kamu bisa," suara Ekang yang terlihat sangat marah tiba-tiba saja memecah keheningan diantara mereka.
Randy dan teman-temannya sangat kaget ketika suara itu terdengar oleh telinga mereka. Sedangkan Gea, ia tersenyum manis dan menghampiri Elang.
"Sayang, kamu ini selalu saja buat masalah yah," kata Elang sambil mencubit hidung Gea.
Jauh berbeda dari yang Randy tahu selama ini. Elang terlihat sangat hangat saat bersama Gea. Bukankah yang beredar dikalangan semua orang, Elang itu adalah laki-laki yang sangat amat dingin pada setiap wanita. Tapi dengan Gea, ia sangat berbeda dan tidak terlihat dingin sama sekali.
"Aku gak bikin masalah kok, kamu bisa lihat sendiri kalau aku gak pukul mereka semua," kata Gea sambil tersenyum manis.
"Aku malah senang kalau kamu pukul mereka tadi sayang," kata Elang sambil merangkul istrinya.
"Jangan pura-pura romantis kamu didepan kami, kamu tidak tahukan siapa aku sebenarnya," kata Randy.
Elang menatap tajam kearah Randy, ia sangat tidak suka dengan apa yang Randy katakan.
Elang melepas Gea dari rangkulannya, lalu berjalan mendekati Randy.
"Aku tahu siapa kamu, dan siapa orang tua kamu. Apa jabatan yang orang tua kamu miliki dan berapa persen saham yang keluarga kamu punya," kata Elang sambil menantap tajam.
Elang mengatakan semua tentang keluarga Randy. Mulai dari orang tua dan setatus keluarga Randy, tidak ada yang terlewatkan. Semuanya Elang tahu, bahkan saham yang kelurga Randy miliki juga semua Elang tahu. Hal itu membuat Randy beku, ia tidak bisa berbicara sepatah kata pun. Ia tidak menyangka, kalau Elang bisa tahu tentang keluarga sedetail itu.
"Aku peringatkan untuk yang terakhir kalinya pada kamu, jangan pernah ganggu istriku jika kamu tidak ingin jadi gembel seumur hidup," kata Elang.
Tubuh Randy jadi gemetaran, ia tahu jika Elang tidak pernah main-main dengan apa yang ia katakan. Karna, sudah banyak kabar yang tersebar tentang siapa Elang itu.
"Maafkan aku, tolong jangan persulitkan orang tuaku. Aku berjanji tidak akan menggaggu istrimu lagi," kata Randy sambil berlutut.
"Bangunlah, aku tidak akan mempersulit kamu dan keluargamu, jika kamu tidak cari masalah dengan aku. Dan ingatlah, aku hanya memberikan kamu satu peringatan saja, tidak akan ada yang kedua kalinya."
"Aku tahu," kata Randy.
"Sayang, ayo kita pulang. Lain kali, kamu boleh menghajar siapapun yang membuat kamu terganggu ya," kata Elang sambil merangkul Gea.
"Kamu yakin?" kata Gea sambil senyum menggoda.
"Yakin banget, kamu boleh menghajar semuanya, terkecuali aku ya sayang," kata Elang.
"Kamu bilang boleh semuanya, kok ada terkecualiannya lagi sih."
"Aku suami kamu, mana boleh menghajar suami," kata Elang sambil mencubit gemes hidung Gea.
Mereka pun berjalan meninggalkan kelas itu setelah menunjukkan kemesraan mereka didepan Randy dan anak teman-temannya.
Itu Elang lakukan, agar tidak ada yang berani mendekati Gea sedikit pun.
Setelah kepergian Gea dan Elang, barulah teman-teman Randy berani mendekati Randy. Jika tidak, mereka tidak punya nyali sedikit pun untuk mendekati raja kampus itu.
"Gak papa, kayaknya, itu gadis bahaya banget. Jangan ada yang berani mendekati gadis itu lagi. Bahkan, usahakan menghindari gadis itu sekarang," kata Randy.
"Iya, kami paham."
.....
Sampainya dirumah, Gea kaget saat melihat sebuah mobil mewah terparkir didepan rumahnya. Ia menebak, siapakah yang telah datang kerumah mereka.
"Lang, itu mobil siapa sih?" kata Gea penasaran.
"Masuk ajalah, maka kamu akan tahu itu mobil siapa."
Gea tidak menjawab lagi apa yang Elang katakan. Ia langsung saja turun dari mobilnya, lalu segera masuk kedalam rumah.
Saat pintu rumahnya terbuka, ia sangat kaget dengan sosok wanita paruh baya yang tidak asing lagi baginya. Duduk manis diruang tamu sambil menikmati segelas teh dan cemilan diatas meja.
"Oma ...." kata Gea sambil berjalan cepat menuju wanita yang dudul di sofa ruang tamu itu.
Wanita paruh baya, yang ternyata adalah oma Gea itu pun bagun dari duduknya. Ia memperlihatkan senyum manis yang ia miliki untuk cucu tersayangnya ini.
Gea dengan cepat memeluk omanya, ia merasa sangat rindu pada oma yang selama ini telah pergi keluar negeri.
"Cucuku tersayang, oma kanget banget sama kamu cantik," kata oma sambil memeluk erat tubuh Gea.
"Gea juga kangen sama oma, oma kok lama baru pulangnya."
"Kamu marah sama oma, makanya oma lama baru pulang. Oma takut kamu masih gak bisa maafin oma cantik," kata oma dengan sedih.
"Oma, maafin Ge ya. Ge yang salah sama oma, oma jangan sedih ya."
"Cucu cantikku masih tetap seperti dulu ternyata. Masih manja dan terlihat seperti anak kecil. Oma bahagia sekali sekarang nak, oma gak akan sedih lagi. Kamu gak salah kok sama oma, oma yang salah sama kamu."
"Sudah oma, jangan ingat masalalu lagi. Kita buka lembaran baru dan lupakan semua yang tidak enak dimasalalu itu ya oma," kata Gea sambil melepakan pelukan oma.
"Makin pintar aja kamu sekarang ya. Oh ya, didepan ada sebuah mobil buat Ge, oma harap Ge suka mobilnya ya."
"Apa oma? Mobil mewah yang ada didepan itu adalah milik Ge ya. Ini terlalu berlebihan lho oma."
"Tidak ada yang berlebihan untuk cucu kesayangan oma. Dan yang paling penting, bukan hanya Ge yang dapat hadiah dari oma. Kak Dewa juga oma belikan sebuah mobil yang sama kok sama yang Ge lihat didepan sana. Hanya saja, warna Ge dan kak Dewa yang berbeda. Oma belikan mobil berdasarkan warna kesukaan kalian masing-masing lho," kata oma menjelaskan panjang lebar.
"Benarkah oma?" kata Gea dengan gembira.
"Iya, kapan oma pernah bohong sama cucu kesayangan oma ini."
Ada kebahagiaan disana, Elang hanya menjadi penonton saja. Ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan antara Gea dan oma. Ia hanya berdiri disana, sambil tersenyum, ikut bahagia untuk oma dan Gea yang telah lama berpusah, kini bertemu kembali. Hingga akhirnya, oma menyadari keberadaan Elang disana.
"Anak tampan, kenapa kamu tidak kesini. Kenapa malah berdiam diri disana sih," kata oma pada Elang.
"Eh, maaf oma. Lang tidak ingin mengganggu oma dan Gea," kata Elang sambil sedikit tersenyum manis.