Cantik Cantik Galak

Cantik Cantik Galak
S 49


Gea sedang beristirahat dikamarnya saat ini. Elang senantiasa berada disamping Gea. Karna Elang takut, istrinya membutuhkan sesuatu tapi tidak ada yang menjaganya. Elang terlalu perhatian pada Gea, sehingga ia takut untuk beranjak sebentar saja dari sang istri. Apa yang ia khawatirkan adalah, takut Gea kenapa-napa jika ditinggal sendiri. Elang tidak hamil, tapi ia ingin ikut merasakan apa yang Gea rasakan.


Cinta sejati itu terkadang sulit untuk ditebak. Ia bisa datang pada orang yang awalnya kita benci, namun pada akhirnya kita cintai. Cinta sejati itu sebenarnya bukan bagaimana kita diberi, tapi bagaimana kita memberi. (Kok jadi gak jelas gini yah. Ah biarkan sajalah.)


Pintu kamar Gea diketuk oleh seseorang dari luar. Saat ini sudah siang, Elang berpikir, mungkin yang mengetuk pintu itu adalah mamnya yang ingin membawakan makanan buat Gea.


Gea terlihat terlelap saat ini, ia baru saja bisa memejamkan matanya. Setelah ia harus muntah berkali-kali sejak dari keluar rumah sakit hingga saat ini.


Elang bangun perlahan dari samping Gea. Ia pun berjalan menuju pintu kamarnya. Saat ia membuka pintu kamar mereka. Yang muncul bukanlah mamanya, melainkan mama mertua dan papa mertuanya. Ia kaget, bukan hanya mertuanya yang datang. Dewa dan Rika juga ada disana.


"Di mana Gea, Lang?" kata papa.


"Gea didalam pa, ia baru saja bisa tidur."


Elang sebenarnya tidak enak hati. Rasanya, ia ingin bicara pada papa mertuanya kalau nanti saja saat Gea sudah bangun baru bertemu. Tapi mana mungkin ia berani ngomong gitu pada papa Gea.


"Kamu kok cemas gitu Lang?" kata mama.


"Eh gak papa kok ma, masuk aja kalau mau lihat Gea," kata Elang.


"Tidak usah masuk lagi, nanti kita bisa masuk saat Gea sudah bangun. Mama gak akan gangguin Gea saat istirahat. Mama kamu tadi udah bilang, kalo Gea baru bisa tidur setelah semalaman muntah-muntah bukan?" kata mama panjang lebar.


"Iya ma, Gea kasihan sekali saat ini."


"Lang, kamu akan dapat bagiannya nanti saat Gea ngidam. Kamu akan merasakan siapa yang lebih kasihan," kata papa.


"Maksudnya pa?" kata Elang penasaran.


"Saat istri kamu minta dicarikan hal-hal yang tidak masuk akal. Maka kamu akna tahu, bagaimana susahnya kamu untuk mendapatkan hal itu. Itu namanya ngidam," kata papa.


"Ya ampun, kok pada berdiri di sini sih. Ayo duduk dulu dibawah, sambil menunggu Gea nya bagun," kata mama Elang.


Mama Elang tidak pulang kerumah sejak ikut pulang bersama Elang dan Gea dari rumah sakit. Ia ikut menjaga Gea dirumah anaknya. Sampai ia nginap dirumah Elang dan Gea.


Baru saja mereka ingin turun dari atas. Suara Gea menghentikan langkah kaki mereka.


"Lang ...." kata Gea memanggil.


Dengan cepat Elang menjawab panggilan Gea. Bukan hanya menjawab saja, ia juga segera meninggalkan semua yang ada di pintu kamar mereka.


"Ada apa sayang?" kata Elang.


"Aku laper," kata Gea.


"Oke, kamu mau makan apa. Aku akan carikan makanan buat kamu ya," kata Elang sambil duduk dan membantu Gea bersandar ditempat tidur.


Saat itu, semua keluarga Gea masuk kedalam kamar. Mereka melihat keadaan Gea yang terlihat sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, dari kemarin sore ia tidak makan apapun sama sekali.


"Mama," kata Gea saat melihat mama.


"Bagaimana keadaan kamu sayang? Apa yang ingin kamu makan, katakan saja sama mama. Biar mama yang buatkan untuk kamu," kata mama sambil duduk disisi ranjang Gea.


"Ya ampun, kamu gak bisa makan rujak Ge. Kamu ingat terakhir kali kamu makan rujak itu kamu sakit perut sampai mulas-mulas," ucap Dewa cemas.


"Sudah, jangan cemaskan apa yang ia mau kasihkan saja," kata mama.


"Elang, carikan apa yang mau Gea mau," ucap mama.


"Gak mau Elang yang carikan, aku ingin Danu yang membawakannya untukku. Elang biarkan saja tetap disamping aku," kata Gea.


"Lho sayang, kenapa harus Danu sih yang carikan. Akukan bisa carikan apapun buat kamu," kata Elang tidak terima.


"Sudah Lang, turutkan saja apa yang ia inginkan. Papakan udah bilang sama kamu, ini akan jadi masa sulit buat kamu nak," kata papa.


"Ya udah, aku akan minta sama Danu datang sambil bawakan rujak pinggir jalan kesini."


"Gak usah kak Elang yang telfon, biar aku aja yang bilang sama Danu ya," kata Rika.


"Ya udah kalo gitu," ucap Elang pasrah sekarang.


......


Beberapa saat lamanya, mereka menunggu Danu datang kerumah Gea. Danu yang sedang ada kelas hari ini, terpaksa harus izin sebentar saat mendapatkan telfon dari Rika. Yang lebih membuat hatinya tak sabar bukan niat Gea untuk makan rujaknya. Melainkan, ia ingin melihat sahabatnya yang cantik itu sedang hamil.


......


Danu sampai kerumah dengan tergesa-gesa sambil membawa dua bungkus rujak pinggir jalan yang Gea inginkan. Bibik membukakan pintu untuk Danu, lalu mempersilakan Danu untuk masuk kedalam kamar, di mana semua orang sedang berada di sana.


Danu pun mengetuk pintu kamar Gea. Dengan cepat Rika membuka pintu kamar itu, karna memang dia yang berada didekat pintu kamarnya.


"Maaf ya, sudah membuat kalian semua menunggu aku," kata Danu saat melihat semuanya melihat kearah dia.


"Gak papa Dan, kami berterima kasih pada kamu yang semoat datang secepat ini. Pahalal, kamu sedang ada kelaskan?" kata papa Gea.


"Gak papa om, aku malah senang bisa datang kesini dan diminta membawakan apa yang ibu hamil inginkan," kata Danu.


"Ini kak Elang, rujaknya," kata Danu sambil mengulurkan rujaknya.


"Makasih banyak Danu, maaf ya sudah bikin kamu repot karna permintaan Gea."


Gea ingin segera memakan rujaknya, ia tidak sabar lagi untuk menunggu Rika mengambil piring dan sendok. Ia melahap satu persatu rujak itu dengan tangannya. Dewa yang melihat adiknya makan makanan yang tidak bisa Gea makan sebelumnya, merasa sangat khawatir pada adiknya ini.


"Ma, apa Gea beneran gak papa makan rujak ponggir jalan kali ini. Mama ingatkan terakhir kali Gea hanya nyicip satu potong saja. Ia harus bulak balik kamar mandi," kata Dewa berbisik pada mama.


"Gak papa kak, kamu gak usah cemas sama Gea. Wanita hamil sama ngak itu beda kak, gak sama."


"Semoga aja iya ma, semiga gak terjadi apa-apa lagi kali ini pada Gea."


Walaupun mama bilang gak papa, namun Dewa tetap saja cemas sama adiknya. Karna ia ingat betul bagaimana Gea sakit perut akibat rujak dipinggir jalan yang ia cicipi. Bagaimana kalau kali ini, Gea sakit lagi dan ia harus bulak balik kamar mandi lagi. Itu akan membahayakan dirinya dan calon bayinya nanti.