
Setelah beberapa saat, Elang pun masuk kedalam rumah mertua nya. Disana hanya ada papa dan mama. Dewa sudah tidak ada lagi di ruang tamu.
"Masuk Lang, sini duduk."kata mama.
"Aduh maaf ya ma, Lang kesini mau pamit aja sebenar nya. Karna Lang ada kerjaan dan harus pulang sekarang." kata Elang.
Elang tau, jika Dewa saja tidak menerima nya. Bagai mana dengan Gea, karna ia tahu bagai mana keras nya hati Gea.
Ia lebih memilih memberi waktu lagi untuk Gea sendiri. Karna ia tak ingin memaksa kan kehendak nya pada istri nya ini.
Mama pun mengerti apa yang Elang kata kan. Ia mengizin kan Elang untuk pulang. Tanpa bertanya apa kah Elang tidak ingin bertemu Gea lagi atau tidak.
Esok pagi nya, Gea sekolah seperti biasa nya. Tentu nya bersama Dewa kakak tersayang nya lah.
"Ge, lho kemana aja sih. Kok gak angkat telfon gue sih." kata Rika saat mereka ada di dalam kelas.
"Gue lupa ponsel gue di mana, jadi nya gue gak tahu jika lho nelfon gue." kata Gea.
"Hah, gue gak salah dengar kan Ge. Ponsel lho hilang, kok bisa sih?" kata Rika gak percaya.
"Ya bisa lah, karna aku kan pelupa Rika." kata Gea.
"Ampun deh, gue gak habis pikir sama sahabat gue yang satu ini." kata Rika.
"Ngapain lho habis kan pikiran lho untuk mikir gue. Kan gak ada guna." kata Gea.
"Ya elah, mati dah gue. Serah lho aja lah." kata Rika cemberut.
"Hay... Cantik, pada ngapain nih." kata Danu yang baru masuk kelas.
"Hay juga tampan, nih lagi ngelayanin anak yang sakit sebelah gue." kata Rika.
Saat mereka sibuk bercanda, bel tanda masuk berbunyi. Akhir nya mereka harus menghenti kan ritual pagi mereka. Yaitu bercanda sebelum bel berbunyi.
Mereka pun belajar dengan tenang, hebat nya Gea, dia tidak membawa masalah nya kedalam pelajaran nya. Ia sekolah seperti biasa, dan belajar seperti biasa nya.
Berbeda dengan Elang yang tidak fokus pada pelajaran. Bahkan sekolah nya pun tidak tentu arah lagi. Hobi nya hanya marah-marah di kelas. Bukan hanya teman-teman nya, guru pun tak berani menegur nya.
Elang berubah jadi sangat liar sekarang, sedikit saja salah. Dia akan membuat salah itu masalah yang sangat besar.
Saat mereka sampai, Dewa sudah duduk manis di sana. Menunggu tiga sahabat yang pasti akan datang kepohon mangga.
"Tumben kak Dewa gak bareng ama kita kak." kata Rika saat sampai di pohon mangga.
"Yah.. Kalian kan agak lama baru keluar, sedang kan kakak sudah dari tadi. Maka nya kakak memutus kan untuk pergi dulu aja deh." kata Dewa.
"Oh iya, cemilan nya belum di beli kan." kata Danu.
"Iya belum lah, jika sudah pasti kak Dewa udah makan tahu gak." kata Rika.
"Lho itu ya, jika bicara sama cogan gak ada manis-manis nya." kata Danu.
"Udah gak usah bertengkar lagi, jika bukan punya kakak gue. Udah gue nikahin kalian berdua tahu gak." kata Gea.
"Eh, itu mulut bismillah dulu gak jika ngomong. Main lepas aja kayak nya ya." kata Rika.
"Udah ah, Ge. Mending kamu beli jajan dulu sekarang." kata kak Dewa angkat bicara.
"Iya Ge, jika ngak kan kita gak akan makan cemilan sampai jam istirahat usai lho." kata Rika.
"Ya udah, aku sama Danu yang pergi ya. Kalian berdua tunggu di sini." kata Gea.
"Asiiik ada kesempatan berduaan deh." kata Danu.
"Hush... Mulut ya, enak banget ngomong nya." kata Rika.
"Udah, ayo... Pergi sekarang." kata Gea sambil menarik tangan Danu.
Mereka pun sampai di kantin sekolah, yang menjual macam-macam cemilan. Gea pun memilih apa aja yang enak untuk di makan bersama.
Di sana, ramai anak-anak yang sama seperti mereka. Memburu cemilan yang bagi mereka lezat untuk di santap.
Di antara mereka, ada yang bicara tentang hubungan Elang dan Sella yang telah masuk berita.
"Eh, lho tahu gak sih. Elang dan Sella masuk dalam berita kemarin. Gue gak nyangka lho jika mereka punya hubungan." kata anak-anak yang sedang duduk di kantin itu.
"Iya, aku juga sempat baca sih. Kata nya mau menikah segala lagi. Tapi sayang nya berita nya sudah di hapus. Gak ada lagi pas aku mau baca yang kedua kali nya." kata anak yang lain.