
Cerita pagi ini dimulai dari Altea yang menggeliat diatas tempat tidur.... "Hoamm " Membelalakkan mulut dan membuka mata perlahan, "Aku dimana " Menyadari jika dirinya bukanlah dikamar yang biasa ditempati.
heh apa ini tangan??? tangan siapa ini " aaaaaa..
ya ampun Matteo, mampus kenapa aku bisa disini ?
Berusaha menyingkirkan tangan kekar Matteo yang melingkar di pinggangnya,namun percuma tangan itu terlalu erat, akhirnya Altea menggoyangkan tubuh Matteo "Mat... matteo bangun lepas aku " memberanikan diri melirik wajah Matteo yang masih belum ada tanda tanda bangun, tampaknya pria itu tidak terganggu dengan suara atupun gerakan Altea.
"ishh ..." lilitan tangan itu semakin erat kala Altea bergerak "aaa mau dibangunkan gak tega menyebalkan sekali " Gerutu Altea kesal.
Tapi tunggu kenapa aku disini ? apa Matteo yang membawaku kesini ... Iya pastilah siapa lagi kalau bukan lelaki menyebalkan ini.
Altea bermonolog , dia melontarkan pertanyaan dan dia juga yang menjawab.
Berbagai usaha yang dilakukan Altea hasilnya nihil, tangan Matteo masih setia melingkar di pinggangnya wanita itu. Dengan pasrah Altea kembali menjatuhkan kepalanya keatas bantal,mau berusaha pun tidak ada hasilnya masih terlalu pagi untuk bertengkar begitu pikir Altea.
Melirik lirik wajah Matteo melalui sorot matanya Altea memberanikan diri menyentuh wajah Matteo, kalau hidung mu ini aku tarik kau terbangun tidak ya, tapi ah lupakan saja aku tidak seberani itu. Altea memilih hanya meraba raba dagu dan wajah Matteo sesekali dia menjahili Matteo dengan menarik bulu mata pria itu, akan tetapi nihil juga pria itu tidak bergerak sama sekali, huh kau seperti mayat. Apa aku coba saja ya menarik hidungnya sekali. hihihi .... Altea cekikikan membayangkan apa efek perbuatannya nanti.
Tangan Altea semakin tidak bisa dikondisikan setelah puas bermain main dengan wajah pria itu, sekarang dia bermain dengan leher Matteo yang membenjol.
"Apa ini namanya jakun " gumam Altea sambil meraba tonjolan kecil itu. Dia kembali memulihkan memory tentang materi mata pelajaran sains ketika duduk di bangku sekolah.
"Iya ini namanya jakun " gumamnya lagi . Organ yang merupakan bagian berupa tonjolan yang berada di tenggorokan dan bersinggungan dengan sistem pernapasan manusia. Altea yang penasaran iseng iseng menekan tonjolan kecil itu .
"Sudah puas mengganggu tidur ku ?"
Altea seketika terlonjak secepat mungkin dia memutar tubuhnya dan bersembunyi dibalik selimut.
Apa!! dia hanya pura pura tidur ... aaaaa
"Hitung berapa bulu mataku yang rontok akibat tangan jahat mu itu dan kau harus menggantinya " Matteo berbicara datar sambil menampilkan senyum menyeringai. "Lancang sekali kau menyakiti tubuhku "
Altea langsung membeku. Pria yang dia jahili ternyata sudah bangun dan merekam semua aksinya sedari tadi. "ma ma mana ada.. " Altea gelagapan
"tidak ada yang rontok kok " menyibak selimut yang menutupi wajahnya dan berlagak seolah tidak salah. "Kau benar benar ya " Matteo sudah mempererat lilitan tangannya.
"Sudah jelas jelas kau menarik paksa bulu mataku tapi tidak juga mengaku "
"Ti... tidak kok mana ada aku cuman pegang dikit pun " Altea mulai beranjak. Namun ditahan oleh matteo
"Mau kemana ? kau sudah menganggu tidurku dan kau harus bertanggungjawab menidurkan ku kembali " ide licik Matteo keluar.
"Apa bertanggungjawab ? "
"Ya siapa juga yang menyuruhmu membawaku kesini " Altea tidak mau kalah.
"Siapa yang sudi membawamu kesini aku hanya kasihan meninggalkanmu tidur ditempat gelap" Matteo semakin licik memojokkan Altea. "Aku tau kau tidak berani tidur ditempat gelap "
"Kata siapa ? aku berani " Altea menantang Matteo.
"Lalu kenapa tidur di sofa bawah " Matteo mulai menampilkan senyum devil nya.
"Aku hanya... itu " Altea bingung mau menjawab apa, sejujurnya apa yang baru saja dikatakan oleh Matteo memang benar adanya karena dia takut .
"Jangan banyak bicara tidurkan aku kembali,karena ulah tangan jahat mu itu tidurku terganggu. berani berbuat berani bertanggung jawab!" Matteo langsung merebahkan kepalanya diatas paha Altea tanpa peduli wanita itu sudah mengomel panjang lebar, berbagai macam penolakan terus berkeluaran dari mulut Altea.
Matteo tidak perduli dia semakin memantapkan diri untuk mengerjai Altea, tidak seperti biasanya dia malah menikmati omelan itu.
Mengoceh lah terus,Aku senang kau tidak lagi takut denganku.
senyum tipis tertarik di ujung bibir Matteo.
"Pijit keningku seperti ini " memperagakan sebentar kemudian Menarik tangan Altea dan meletakkan diatas keningnya. "semakin cepat kau pijit semakin cepat juga aku tidur " . Altea semakin mendengus kesal. "Aku bukan tukang pijit " keluh Altea menggerutu.
"Sepertinya kau senang aku berlama lama berbaring di pangkuan mu, tidak apa apa silahkan " Seringai licik matteo kembali.
Altea hanya mendengus jengkel melihat tingkah Matteo yang sudah kelewat batas. Tapi dia mulai menggerakkan jari jarinya , anggap saja ini ucapan terimakasih ku untuk kerak telur itu pikir Altea "cepatlah tidur kepala mu berat sekali " keluh Altea lagi.
"Itu karena beban pikiranku banyak "
"Memangnya apa yang kau pikirkan" Alis Altea mengernyit.
"Aku selalu memikirkan mu setiap waktu, setiap detik bahkan " Goda Matteo dengan senyum menyeringai.
"Cih.....
"Aku selalu memikirkan mu setiap waktu " mengulang kalimat Matteo dengan nada mengejek. "Aku merinding mendengarnya " kesal Altea lagi.
Matteo semakin tersenyum lebar, Altea mulai menggerakkan tangannya, sedangksn yang dipijit sudah memejamkan mata menikmati sentuhan lembut Altea yang sangat berharga untuknya.
Matteo yang tadinya hanya berpura pura tidur malah benar benar tidur, rasa senang dan rasa nyaman berpadu menjadi satu.
Lihat dia malah tidur dengan nyenyak di paha ku.
dasar !
Altea terus memijit kening Matteo sambil menggerutu didalam hati. Sadar atau tidak rasa takutnya dulu sudah menghilang ditelan waktu.
Jika biasanya melihat Matteo saja dia refleks ketakutan berbeda dengan beberapa hari terakhir ini, ketakutan yang dia rasakan perlahan memudar bahkan dia sudah lupa jika pria yang sedang tertidur di pangkuannya ini adalah pria yang paling dia benci.
Dengkuran halus Matteo semakin terdengar menandakan bahwa pria itu sudah berkelana didalam mimpi, Altea dengan perlahan menurunkan kepala Matteo dan menyangganya dengan bantal, kemudian menarik selimut hingga menutupi tubuh pria itu.
ting ...tong......
Siapa yang bertamu pagi pagi...
"Hai Al " .....
"Gio, kamu kesini ?? " memperhatikan penampilan Gio yang sudah rapi dengan setelan kerja.
"iya mau menjemput Matteo, apa dia sudah siap?? " Gio celengak celenguk mengintip dari pintu.
"Matteo masih tidur... tapi aku akan bangunin "
"iya masuklah dulu " Altea mempersilahkan Gio masuk.
Hadeuh ......
Dari mana aku mulai membangunkan tidur nya.
Altea mendekati matteo yang masih bergulung dibawah selimut, ada rasa tidak tega untuk membanguni pria itu, karena dia tau semalaman Matteo tidak tidur dengan baik.
Setelah berdiri cukup lama Altea menggoyangkan tubuh Matteo, meskipun sebenarnya dia tidak tega
" Matteo bangun !!!!. " sekali.
"Heii bangun " dua kali
"Matteo bangun Gio sudah menunggu mu di bawah!!!! " tiga kali.
Tidak ada tanda tanda Matteo akan bangun, tampaknya pria itu tidak terganggu sama sekali walaupun Altea menggoyangkan tubuh Matteo dengan keras.
Bagaimana ini ,pasti dia masih ngantuk berat.
Dengan frustasi Altea berbalik sejenak.
"Panggil aku sayang dulu baru aku mau bangun " Ucap Matteo tiba tiba mengagetkan Altea.
"Apa !!!! " membalikkan tubuhnya dan menatap tajam Matteo, akan tetapi pria itu masih memejamkan mata.
Kurang ajar, ternyata dia sudah bangun juga. aaaaaa
"Panggil aku sayang ! " ucapnya lagi.
"Aku tidak mau !!! " tegas Altea menatap tajam Matteo.
"Ya sudah aku tidak akan bangun" Matteo membalikkan posisi memunggungi Altea sambil memeluk bantal guling.
"Ya sudah" ketus Altea membalikkan tubuhnya meraih handle pintu. Bodo amat!
"Ya sudah, tapi hadapilah kakek nanti jika dia datang menuntut kesini karena rapat di kantor diundur akibat aku tidak hadir " ucap Matteo dari balik selimut.
"Apa !!!! kenapa jadi aku ? " Altea membalikkan badannya lagi, tidak jadi meraih handle pintu.
"Karena aku masih tidur " ucap Matteo menahan tawa dibalik sana.
"Lalu apa masalahnya dengan ku " suara Altea naik satu oktaf.
"Karena kau tidak membangunkan ku, padahal kau yang menganggu tidurku semalam " ucap Matteo santai masih memeluk bantal guling. "membangunkan suami adalah tugas seorang istri " goda Matteo lagi dengan tidak tau malunya.
Aaaa ingin sekali aku menjambaknya sekarang!!
"Tapi kau kan sudah bangun !!! " kesal Altea.
"Aku belum bangun, aku masih membuka mata saja " Dengan tidak tau malunya Matteo menarik selimut menutupi seluruh badannya tanpa terlihat sehelai rambut pun, " Panggil aku sayang dulu baru aku mau bangun " desahnya dari dalam gulungan selimut. "Atau kau berhadapan dengan kakek " ancamnya lagi.
Kurang ajar....
Dia malah menyudutkan aku benar benar menyebalkan.
"Sayang bangun! " ucap Altea sambil menutup mulutnya merasa malu.
Aku tidak salah dengarkan ?
dia memanggilku sayang hahaha
Matteo tertawa bahagia didalam hati, setelah sekian lama dia akhirnya dia mulai menemukan kelemahan Altea.
"Panggil yang benar " desah Matteo dari balik selimut
Apa ! apa dia sengaja mengerjai ku.
"Bangun sayang " suara Altea dibuat se dramatis mungkin menahan geram.
Matteo membuka selimut yang menutupi wajahnya kemudian melirik Altea yang sudah menahan geram. "mendekat lah kemari dan panggil sayang dengan tulus " ucap Matteo sambil memejamkan matanya menunggu Altea bertindak.
hahahah...Matteo
"sayang bangun... " Altea sudah duduk menyamping diatas tempat tidur sambil menggoyangkan pelan tubuh Matteo, berharap drama kali ini bisa mengakhiri deritanya karena tingkah konyol Matteo.
Masih belum bergerak juga. "sayang bangun Gio sudah dibawah menunggu mu " ucap Altea dengan suara dramatis.
"Terimakasih sudah membanguniku" Matteo menyibak selimut dan segera beranjak dari tempat tidur, akan tetapi dia tidak langsung menuju kamar mandi dia mendekati Altea dan menunjuk pipinya. "morning kiss "
"Apa !!!! "
"kalau tidak ada ciuman pagi aku tidak mau mandi " seringai licik membingkai wajah Matteo.
"Aku tidak mau " Altea memalingkan wajahnya.
"Yasudah aku tidur lagi " sudah menaikkan satu kaki keatas tempat tidur.
"Cup " Altea mengecup pipi kiri Matteo, setelah itu dia langsung berlari keluar dari kamar menahan malu.
"Aaa kenapa aku menciumnya " Altea menghentakkan kakinya bak seorang anak kecil yang merajuk karena ibu tidak memenuhi keinginannya. Menutupi pipi sudah memerah bak kepiting rebus dengan kedua telapak tangan.
Kenapa !! kenapa aku menciumnya .aaaaaa
Yang dicium sudah tertawa terpingkal-pingkal didalam kamar mandi, pagi ini dia seperti mendapat durian runtuh yang melimpah.
Bersambung...
Hai reader like dan komen dong 👌❤️❤️