
Jam menunjukkan pukul 19.00 Wib . Ilham dan Sofi sudah berada di dalam mobil bersiap meninggalkan kediaman Mahaprana karena acara pemberkatan nikah dan acara singkat keluarga sudah berakhir.
Altea dan Matteo ikut serta mengantar mereka hingga menghilang dibalik pagar besi yang menjulang tinggi. Dari kaca spion mobil Ilham masih melirik putrinya Altea yang berdiri melambaikan tangan kepada mereka. Dia melihat jelas wajah raut wajah sedih Altea.
Ada rasa tidak tega melihat putrinya menanggung beratnya cobaan hidup yang harus dia lalui.
Ilham menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan menyeka air mata yang mengalir membasahi pipinya yang sudah mulai menua.
"Apa kita jemput saja Altea dan kita minta Matteo menginap dirumah untuk beberapa hari ke depan ? " Ilham membuka suara sambil melirik istrinya.
"Kenapa ayah seperti itu ?
"Aku tidak tega meninggalkan dia sendirian ditengah keluarga yang belum dia kenal" Ilham kembali menyeka air matanya.
Rasanya berat sekali melepas putrinya begitu saja meskipun statusnya resmi menikah. "Andai ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini aku tidak akan memaksanya menikah dengan pria itu " ucap Ilham lirih menahan sesak di dadanya.
Disinilah dia mengungkapkan kesedihan yang dari tadi dia tahan . Selama proses pernikahan tadi dia mencoba tetap kuat dihadapan Altea dan juga keluarga Mahaprana. Dia tidak mau terlihat lemah sebagai orang tua Altea yang mungkin akan berefek samping terhadap kehidupan putrinya ke depan. Jika boleh ditelisik dialah yang paling terluka melihat jalan hidup Altea yang begitu rumit. Dia tidak pernah menyangka putrinya akan menghadapi masalah seperti ini mengingat jika Altea termasuk anak yang penurut dan juga baik Budi.
"Jangan seperti itu ayah, Altea bukan anak kecil lagi , kita lihat sendiri bagaimana orang tua Matteo memperlakukan putri kita aku yakin dia akan baik baik saja " Sofi berusaha meyakinkan.
"Terus hubungi dia dan pastikan keadaannya baik baik saja" Ilham menyeka air matanya yang mengalir begitu deras. Didalam hati dia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk kelangsungan hidup Altea kedepannya.
.
.
.
Di Kediaman Mahaprana.
Altea disambut baik oleh keluarga besar Mahaprana, meskipun dia datang secara mendadak tetapi dia tetaplah menjadi bagian terpenting keluarga itu karena dirinya sudah menyandang status menantu dan sekaligus mengandung anak Matteo.
"Sebaiknya kalian istirahat saja, kasihan menantuku, dia sudah kelelahan " Ucap Ratna memandang sendu Altea.
"Aku akan mengantar Altea , eh kakak ipar ke kamar " Ucap Diva tersenyum manis sambil memperbaiki nama panggilan kepada Altea.
Aurel istri Juna Mahaprana seketika mengepalkan tangannya kala melihat Ratna dan Diva begitu perhatian kepada Altea. Ditambah lagi keadaan Altea yang sedang mengandung membuat posisi Altea selangkah lebih dipedulikan dari pada dirinya.
Jangan harap dirimu menang disini , aku menantu paling besar dan aku yang berkuasa kau tidak pantas masuk kedalam keluarga ini.
"Aku dan Altea sudah punya tempat tinggal, kami akan pulang sebentar lagi " ucap Matteo tiba tiba.
"Mau kau bawa kemana istrimu? papa mengizinkan mu keluar malam ini, tapi tidak dengan istri mu dia tetap disini " Tegas David memandang Matteo dengan tatapan tajam.
"Pa..... " Ratna datang sambil memegang tangan suaminya. Dia tau jika putra keduanya dan suaminya masihlah seperti dulu.
Matteo hanya mendengus kesal melihat sang ayah yang selalu bersikap semaunya.
"Tidurlah malam ini disini, jangan buat keadaan semakin riuh " ucap Juna pelan sambil menepuk pundak Matteo. Dia segera berlalu ke kamar di ikuti oleh Aurel istrinya.
"Aku antar kakak ipar ke kamar dulu ya mah " Diva segera meraih tangan Altea dan menuntunnya menaiki anak tangga.
Altea hanya diam tanpa bersuara sedikit pun ,rasa sedih dan canggung berada dikediaman keluarga besar Mahaprana. Meskipun sebelumnya dia sudah pernah menginjakkan kaki di sana tapi kali ini dengan status berbeda.
"Kamu istirahat disini, ini kamarmu dan kak Matteo " Diva membuka pintu dan mempersilahkan Altea masuk.
Altea mengedarkan pandangannya ke segala arah, tampilan kamar begitu minimalis dan tertata rapi. Dia juga melihat gambar gambar nuansa beladiri menandakan jika pemilik kamar itu adalah laki laki. Tidak terdapat banyak barang atau pernak pernik, hanya ada dua buah lemari dan satu tempat tidur dilengkapi dengan nakas.
"Bolehkah aku tidur dikamar lain ? " Altea berharap dirinya jangan sampai bersinggungan dengan Matteo. Rasa benci dan tidak nyaman masih membekas di dalam hatinya sampai sekarang.
"Aku akan tanyakan sama mama sebentar" Diva berlalu dan segera menemui Ratna.
"Ada apa sayang ? " Ratna mendekati Altea yang masih berdiri didepan pintu sambil memegang ujung gaunnya yang menjuntai kelantai.
"Bolehkah aku istirahat di kamar lain tante" tanya Altea ragu ragu.
"Panggil mama sayang " Ratna menyentil hidung Altea. " Ma boleh aku tidur ...."
"Ayo Mama bantu untuk melepas gaun mu " Ratna menarik tangan Altea dengan senyum. Sebisa mungkin dia menciptakan suasana yang nyaman untuk Altea. Selain dia adalah wanita
Setelah berhasil melepas gaun putih itu , Altea segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
"Mama tinggal ya nak, kamu harus istirahat kasihan anak mu " Ratna melirik perut rata Altea.
"Tunggu ma, apa aku masih bisa melanjutkan kuliah ku besok ?" Altea berharap dirinya masih bisa tetap kuliah dan meraih impiannya.
"kalau soal itu bicaralah dengan Matteo suami mu sayang, suamimu masih dibawah dengan papa ada hal penting yang harus mereka bicarakan, mama tinggal dulu ya" Ratna berlalu dan menutup pintu dengan perlahan.
Aku masih tidak percaya dengan semua ini. Andai waktu bisa diputar kembali aku akan memilih untuk tidak mengenal mu sama sekali.
Altea berjalan kearah tirai yang menutupi kaca , menyibak tirai tersebut Altea terperangah dengan keindahan pemandangan malam. Dia juga melihat sebuah bangunan berukuran sedang tidak jauh dari tempat dia berpijak,tampak di sana ada banyak orang lalu lalang. "Rumah siapa itu ? gumam Altea.
Bersamaan dengan itu Matteo masuk kedalam kamar, dan melihat Altea sedang berdiri didepan tirai, menyadari seseorang masuk Altea spontan menoleh kebelakang dan mendapati Matteo, sontak jantungnya deg degan karena merasa ketakutan.
"Al, kenapa belum istirahat? tanya Matteo sambil mendekat.
Altea refleks mundur, dia hanya diam dan menatap wajah Matteo dengan penuh kebencian.
"Kamu harus istirahat ini sudah jam tidur " ucap Matteo datar mencoba membuat Altea nyaman atas kehadirannya.
"Aku tidak bisa tidur disini " Altea berbicara tanpa menoleh ke arah Matteo. "Aku mau pulang" lirih Altea menahan air matanya.
"Al, untuk malam ini kita tidur disini besok kita akan ke rumah mu " ucap Matteo.
"Aku mau keluar sebentar, kamu istirahat " Matteo melangkah keluar meninggalkan Altea ayang masih diam. Dari balik pintu Matteo masih menoleh seakan langkahnya berat meninggalkan Altea walau hanya sekejap.
Setelah melihat Matteo keluar ada perasaan lega didalam hati Altea, setidaknya rasa takutnya berakhir. Meskipun mereka sudah resmi menikah tapi rasa takut dan benci Altea tidak berkurang sama sekali. Karena merasa begitu lelah akhirnya dia melangkah ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya.
Sementara sudah Matteo berjalan menuruni anak tangga menuju pintu keluar yang masih belum tertutup. Dia melewati David ayahnya begitu saja .
Tidak berubah ! batin David.
Matteo melajukan mobilnya ke suatu tempat.
"Bagaimana ? tanya Matteo kepada Gio.
"Ini bos " Gio memberikan sertifikat rumah kepada Matteo. " pelayan yang dirimu minta sudah ada " Ucap Gio sambil membuka pintu sebuah rumah dan mempersilahkan Matteo masuk.
"Gimana bos ? " Tanya Gio meminta pendapat Matteo.
"Lumayan"
"Baiklah, pastikan besok sudah bisa ditempati "Ucap Matteo sambil melangkahkan keluar
Matteo kembali pulang setelah meninjau sebuah rumah minimalis.
Setibanya di kediaman orangtuanya dia langsung bergegas menuju kamarnya tempat dimana Altea istirahat.
Ceklek pintu terbuka..
Matteo menangkap Altea yang sudah tertidur pulas, mendekati wanita itu dia melihat wajah cantik Altea dipenuhi dengan kedamaian.
Senyum tersungging di bibir Matteo tapi itu hanya sebentar setelah itu dia kembali menatap wajah lugu itu dengan sendu.
Apakah aku harus bahagia sudah memiliki mu
atau aku sedih dengan sikap dinginmu untuk ku ?
Istirahatlah, besok pagi dirimu akan bangun bersama dengan mentari menyambut hari baru bersama dengan diriku, Aku mencintai mu Al .
Matteo memberanikan diri menyentuh jemari Altea kemudian mengecup dengan lembut.
Bersambung....