
Hari ini Altea kembali kedalam rutinitas sehari hari, setelah selesai dengan sarapan pagi dia segera menyambar tas dan jaket miliknya.
"Ibu, ayah aku pamit....
"Ia hati hati dijalan ya nak" Sofi mengecup pucuk kepala Altea berkali kali, dia masih berdiri melihat punggung Altea menghilang bersamaan dengan tertutupnya pintu tersebut. Entah perasaan apa dia merasa berat melepaskan putrinya pagi ini.
"Ayah berangkat bu.... Ilham menyambar helm dan mengenakannya. "Hati hati ayah"
Ditempat lain Matteo sedang melajukan mobilnya ke kantor tempat dia bekerja, ia juga mengirim pesan singkat kepada Altea bahwa siang nanti dia akan menjemput Altea makan siang, Namum ditolak oleh Altea karena hari ini dia akan menyelesaikan tugas bersama dengan temannya.
Akhirnya Matteo memutuskan untuk menemui Altea sore hari setelah pulang kerja, awalnya Altea sempat menolak karena dia tau Matteo akan menanyakan jawaban perihal pertanyaannya di pinggir danau semalam.
Namun pada akhirnya dia pun menyetujui karena dia merasa tidak enak untuk menghindar.
Memang seharusnya sih begitu lebih baik terus terang tentang apapun dari pada menghindar.
Di kampus.
"Nanti kerja kelompok di cafe belakang ,kamu bawa materi habis itu kita bisa bagi tugas ,oh iya ini nomor ponsel ku kita lanjut nanti" Ucap salah seorang mahasiswi sambil menyodorkan nomor ponsel miliknya.
"Oke baiklah" Altea pun menerima nomor ponsel itu dan memindahkannya ke galery kontak.
Ini adalah pertama kali Altea kerja kelompok setelah lulus SMA bersama orang orang baru yang tentunya mempunyai kemampuan yang berbeda.
Tiga bulan kuliah membuat dirinya semakin tahu jika banyak sekali materi yang masih belum bisa dia pahami.
Dunia perkuliahan memang dunia di mana setiap mahasiswa bisa dengan bebas memilih kehidupan yang mereka mau.
Di sinilah setiap individu dituntut untuk dapat mempertanggung jawabkan setiap keputusan yang diambil.
Maka dari itu Altea memutuskan pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku sebagai pemandu dia nanti, setidaknya dia bisa mengimbangi kemampuan presentasi team nya.
Setelah menelusuri baris per baris setiap lemari akhirnya Altea menemukan buku yang menurutnya cocok dengan materi yang sedang mereka diskusikan.
Saat hendak keluar dia mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya, dengan rasa penasaran dia mengintip dari balik lemari seketika hatinya menahan gemuruh yang begitu bergejolak "Pria itu? Apa dia kuliah disini juga ?.
Sebenarnya Alex juga menyadari jika Altea sedang mengintip dibalik lemari namun dia pura pura tidak tau menahu soal itu.
beberapa jam kemudian Altea telah selesai dengan diskusi kelompoknya, tampak masing masing team satu persatu meninggalkan meja.
Dia melirik jam di pergelangan tangannya sudah pukul 17.00, dia pun menghubungi Matteo bahwa dia baru saja selesai dengan diskusi kelompoknya.
"Baiklah aku akan ke sana sebentar lagi jangan kemana mana" ujar Matteo melalui sambungan teleponnya.
Sedangkan Matteo baru saja keluar dari ruangannya namun langkahnya berhenti karena menyadari bahwa Clarish mantan pacarnya keluar juga dari ruangan Daniel.
"Aku pulang duluan " Ucap Daniel meninggalkan Clarish dan Matteo yang masih bertatapan.
"Bolehkah kita bicara sebentar? tawar Clarish
"Aku buru buru " Matteo melangkah namun Clarish langsung agresif memeluk Matteo.
"Maafkan aku, kau begitu berubah sekarang" ucap Clarish sambil bergelayut manja di lengan Matteo.
"Banyak hal yang mau aku ceritakan, ayolah dengarkan aku dulu" Clarish menarik tangan Matteo dan kemudian mereka duduk di sofa.
"Aku bukan mengkhianati mu,tapi waktu itu Mario menjebak ku" Ungkap Clarish membuka percakapan.
Matteo masih bergeming, seolah meminta agar Clarish menjelaskan lebih lanjut. "Dia memang licik sekali, dia bekerja sama dengan Alexander membalas dendam padamu lewat aku" ucap Altea lirih menandakan dirinya menyesal.
"Tolong maafkan aku , aku sangat mencintaimu Matteo" Clarish menyeka air matanya.
"Apa dengan minta maaf seperti ini membuat semuanya kembali? " Matteo tersenyum menyeringai.
"Aku tidak sadar telah dimanfaatkan kan oleh mereka, tolong maafkan aku" lirih Clarish.
"Tidak ada alasanku untuk memaafkan seorang wanita pembunuh ! " catat itu baik baik.
Clarish masih berusaha menahan lengan Matteo namun Matteo mengabaikannya.
Di tempat lain Altea memutuskan pulang setelah melihat jam sudah pukul 19.00 ,menurutnya dia terlalu lama menunggu Matteo, dia melewati jalanan belakang kampus agar dia bisa menjangkau angkutan umum.
Dia berjalan dengan cepat menelusuri jalanan area kampus yang mulai sepi, bukan mulai lagi tapi memang sudah sangat sepi.
"Altea ..... apa kau mengingatku?
"Mau apa kau? Altea kembali menghadapi ketakutan yang begitu luar biasa melihat sosok manusia yang dia lihat tadi siang.
"Kenapa kau ketakutan? aku tidak bermaksud jahat, " Alex semakin mendekat refleks Altea mundur.
"Jangan mendekat !!! Altea berteriak
"Silahkan berteriak tidak akan ada yang mendengar suaramu! ucap Alex dengan seringai liciknya
Tubuh Altea membentur tembok, " Apa mau mu? " air mata Altea mulai turun mengingat kejadian sebulan lalu dimana pria yang dihadapannya ini nyaris memperkosanya.
"Aku mau kamu! " Alex mulai semakin mendekat .
Altea kemudian berlari untuk meminta pertolongan tapi Alex segera menangkap tubuh Altea dan langsung menciumi wajah Altea dengan penuh *****.
Tangan kekar alex mulai menelusuri punggung Altea dan dengan sekali tarikan jaket Altea terlepas dan menyisakan kaos leher V yang membalut tubuhnya.
Altea terus menangis sambil meronta , tas Altea sudah terlempar kemana mana, tapi samar samar dering ponsel miliknya masih terdengar.
Alex beberapa kali mendaratkan tamparan di pipi Altea karena gadis itu masih meronta membuat Alex kesulitan untuk menjalankan aksinya.
Sampai akhirnya.....
Matteo datang langsung menarik dan menghajar Alex tanpa ampun. Dia terus memukuli wajah Alex hingga rahang pria itu robek. "Apa mau mu sialan!
Dengan pukulan Matteo berkali kali membuat pria itu terkapar tak berdaya.
"Hentikan bos kau bisa membuatnya mati! " Gio dan Guntur berusaha menarik Matteo agar menghentikan aksinya.
Sampai akhirnya polisi datang dan insiden itu berakhir dengan Alexander yang sudah sekarat dibawa oleh polisi kedalam mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit.
Matteo kemudian mendekati Altea yang sudah acak-acakan sambil menekuk kedua lututnya.
"Maafkan aku" saat tangan Matteo hendak meraih tubuh Altea, gadis itu beringsut ketakutan.
Mendengar samar samar Isak tangis Altea dibalik tekuk lutut nya sesak dan sakit meliputi perasaan Matteo sekarang.
" Altea ini aku Matteo ! "
Altea sama sekali tidak menyahut. Dia masih menyembunyikan wajah dengan suara sesenggukan yang masih terdengar pilu.
Akhirnya Matteo melepas jasnya dan membalut tubuh Altea kemudian membawa gadis itu kedalam pelukannya.
Air mata Matteo lolos begitu saja ketika merasakan detak jantung Altea yang tidak beraturan, itu menandakan jika gadis itu sedang menghadapi ketakutan luar biasa sekarang.
"Aku disini, jangan takut" Matteo membisikkan kata kata agar Altea tenang.
Tangan Matteo mengelus pucuk kepala gadis itu " Aku disini Al tenang lah" Matteo menahan sesak di dadanya kala masih merasakan tubuh Altea yang bergetar.
Gio dan semua anggota geng hanya diam tertegun melihat Matteo, mengeluarkan air mata, itu menandakan jika ketua mereka sedang rapuh.
"Sebaiknya kita bawa Altea ke rumah sakit bos" Ucap Gio.
Matteo akhirnya mengangkat tubuh Altea kedalam mobil. Didalam mobil Matteo terus mendekap gadis itu dengan erat, tampak jiwa rapuh Matteo muncul.
Gagal sudah dia melindungi Altea, dia menyesali dirinya yang meminta Altea menunggu, dia menyesali dirinya begitu egois, dia sangat menyesal telah membuang waktu dengan penjelasan Clarish yang menyebabkan Altea lama menunggu hingga insiden horor ini hampir terjadi..
Jika sebentar lagi saja Matteo terlambat tiba ditempat maka semuanya selesai.
Bersambung.