
Altea sudah berada di dalam taksi, dia kemudian menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan sambil membayangkan hal gila yang baru saja ia lakukan yaitu memeluk laki laki.
Dia memelukku tanpa izin, dan bodohnya aku malah mau membalas pelukan itu aaaaaaa ....
Setelah dirinya tiba dirumah dia melihat sang ibu sudah menunggu.
"Ibu ..... " Altea mencium tangan sofi kemudian segera duduk di meja makan, "apa tidak sebaiknya anak ibu membersihkan diri dulu ?" goda Sofi yang melihat Altea begitu antusias mencubit ayam bawang masakannya yang sudah tersedia di atas meja makan.
"Bersihkan diri nanti saja Bu, aku masih wangi kok" Altea mencium ketiaknya secara bergantian untuk meyakinkan ibunya.
"Ya barangkali tadi di kampus atau di angkutan umum dirimu tak sengaja bersentuhan dengan orang lain, bisa jadi kuman mereka menempel di kulit mu, kan kita tidak tahu" ucap Sofi sambil mengisi air putih kedalam gelas.
Bersentuhan ?????
"Iya juga ya... " gumam Altea
Dia kembali teringat satu jam yang lalu dia dipeluk oleh Matteo, lebih tepatnya mereka berpelukan. "Aku bersihin diri dulu kalau gitu" Altea segera berlalu ke kamar mandi.
Melepas semua pakaiannya dan mengguyur seluruh tubuhnya dibawah shower.
Menuang banyak shampo keatas telapak tangan dan menghasilkan busa yang melimpah.
Aku tidak mau kuman kuman pria itu menempel di tubuhku, eh kuman??
apa pria itu ada kumannya? , Aku rasa kuman saja tidak berani menempel ditubuhnya hihihi.
Altea membayangkan wajah sangar mengerikan Matteo ketika marah.
Apa wajah semua orang akan tampak mengerikan jika sedang marah?
Sambil menggosok bagian tubuhnya dia menghadap ke cermin dan mempraktekkan wajahnya sedang berakting marah. "Ternyata wajahku juga mengerikan ketika marah hihihi.
"Waktunya makan" Altea bergumam sambil meraih piring berisi nasi yang sudah disiapkan sang ibu.
"kenapa lama ? Sofi bahkan harus menuang kembali nasi kedalam rice cooker karena sudah dingin akibat terlalu lama menunggu Altea.
"Aku keramas Bu" Altea
"Untuk apa keramas siang begini nak ?" Sofi bertanya sambil melihat Altea melilit rambut menggunakan handuk. "Aku tidak mau membiarkan kuman kuman bersarang di tubuhku" gumam Altea sambil memamerkan raut wajah jijik.
"Baiklah semoga kumannya mati" ucap Sofi menanggapi putrinya.
Altea menikmati ayam bawang masakan ibu yang begitu membangkitkan selera. Tekstur daging ayam yang empuk berpadu dengan rasa bawang yang dikolaborasikan menggunakan bumbu sederhana membuat aroma dan cita rasa benar benar memanjakan lidah Altea.
"Perfect" ucap Altea sambil menyatukan ujung ibu jari dan ujung jari telunjuk membentuk huru "O" 👌.
"Kamu suka ? Sofi tersenyum puas melihat Altea dengan lahap menghabiskan makanan hidangannya.
"Suka kali malah " Ucap Altea sambil menenggak air putih.
"Oh iya gimana kuliah mu tadi nak? Sofi membuka obrolan kembali. Dia menyadari jika putrinya masih syok dengan kejadian tiga hari yang lalu.
"Baik dan berjalan lancar Bu" Altea bangkit dari meja dan memindahkan piring kotor kedalam wastafel.
Mendengar kata baik dari bibir Altea membuat perasaanya sebagai seorang ibu kembali tenang setelah beberapa jam yang lalu dia gelisah mengkhawatirkan putrinya itu.
"Apa saja yang kamu lakukan hari ini di kampus nak? Sofi menarik tangan Altea dan menuntunnya duduk di sofa kemudian sang ibu meraih remote menekan power on.
Altea langsung mengambil alih remote dari tangan ibu untuk mengganti siaran di televisi dia mencari siaran yang dia sukai sebelum Sofi menoleh ke layar televisi.
Altea sudah hapal kebiasaan ibunya yang suka sekali menonton sinetron yang ditayangkan di indosiar.
Terkadang sang ibu terlihat depresi karena kesal melihat tokok tokoh antagonis yang membuat adegan semakin menegang, belum lagi film tersebut dibintangi oleh tokoh protagonis yang baik tapi bodoh,membuat darah Sofi mendidih.
"Tadi aku ketemu Matteo di kampus" ucap Altea sambil menyembunyikan remote televisi dibelakang punggungnya.
Mendengar kata Matteo, sang ibu langsung menoleh. "Matteo menemui mu?
"Iya"
"Lalu apa yang kalian bicarakan nak?
"Tidak ada dia hanya bertanya kenapa aku membelanya di pengadilan kemarin" Altea meraih bantal kecil dan meletakkannya diatas pangkuan.
" Lalu apa balasan mu nak? Sofi bertanya antusias.
"aku bilang jika aku hanya mengatakan kebenaran malam itu bukan membelanya" ucap Altea sambil menaikkan kedua bahunya.
"Lalu apa lagi nak?" Sofi
"Tidak ada hanya itu saja, dia mau mengantar aku pulang tapi aku menolak " Altea terpaksa berbohong tidak mungkin dia memberitahu sang ibu bahwa dirinya sempat berpelukan dengan pria itu. Bisa bisa urusanku semakin rumit.
"Kamu meninggalkannya begitu saja nak? " tanya Sofi dengan nada begitu dramatis dan sulit dipahami.
Altea hanya menganggukkan kepalanya dengan semangat, untuk menyatakan jika dia akan menjauhi Matteo sesuai kemauan sang ayah.
Bersamaan dengan itu Ilham datang.
Melihat suaminya ikut duduk seketika dia teringat dengan perlakuan suaminya kepada Matteo dirumah sakit dua hari lalu.
Dan akhirnya dia menyimpulkan jika putrinya mulai terpengaruh dari tindakan dan perkataan sang suami.
"Kita semua pasti berharap orang lain berperilaku sesuai dengan yang kita mau atau kita harapkan, tapi itu bukan alasan yang tepat membuat diri kita bersikap tidak hormat nak " dia melirik suami dan putrinya bergantian seolah menyatakan jika kalimatnya barusan berlaku untuk mereka semua.
"Yang dikatakan ibumu benar..... " Sambung Ilham membenarkan ucapan sang istri, sebenarnya Iham sudah ada dirumah sejak pembahasan mengenai Matteo.
"Tidak seharusnya ayah langsung mengusir Matteo waktu itu" Setelah mengetahui kebenaran yang terungkap Ilham merasa bersalah kepada Matteo.
"Dan ini adalah pelajaran untuk mu nak, ketika seseorang melakukan kesalahan maka berikan dia kesempatan untuk menjelaskan semuanya ,sehingga dirimu bisa menarik kesimpulan" Ilham membelai rambut Altea.
Dia mengingat bagaimana dia memperlakukan Matteo dirumah sakit tempo hari, mengusir dan mengancam pria itu, tanpa sadar tindakannya itu membuat Matteo merasa rendah diri.
"Mulailah dari diri kita sendiri nak, tetap jaga konsistensi pribadi agar mengahasilkan nilai yang baik dimata orang" ucap Sofi .
"Jangan menjauhi seseorang karena buruk, tapi bentengi dirimu dengan sikap baik siapa tau lambat laun mereka bisa mencontoh sikapmu dan membawa perubahan dalam diri mereka dan ini berlaku untuk Matteo juga "
Ucap Ilham memperbaiki saran yang sudah terlanjur dia pesankan untuk Altea menjauhi Matteo.
Ilham menyadari dibalik keburukan seseorang pasti ada kebaikan, minimal ada alasan orang tersebut berperilaku buruk.
"Tidak ada manusia yang sempurna " Imbuh Ilham kembali.
"Apa itu artinya aku bertugas membawa perubahan untuk Matteo ? tanya Altea polos kemudian sang ibu mengangguk.
"aku sudah seperti caleg yang membuat misi Perubahan " gerutu Altea dengan nada manja.
Sebagai orang tua mereka selalu siap dalam mendukung perkembangan emosional anak anaknya agar bertumbuh dengan baik.
Dalam hal ini ,Altea langsung memetik inti berharga dari nasehat kedua orangtuanya, dia benar-benar bersyukur memiliki kedua orang tuanya yang saling melengkapi, Ibu yang tulus, pengertian dan cerdas, Serta memiliki ayah yang tegas dan bijaksana.
Kedua orangtunya selalu kompak bekerja sama dalam mengambil sebuah keputusan ketika menyikapi suatu masalah, dan itu membuat Altea nyaman berbagi masalah dengan kedua orangtunya.
Obrolan singkat mereka berakhir setelah Sofi meminta sang suami agar makan siang terlebih dahulu, sementara Altea memilih pergi kebelakang rumah untuk menambahkan pupuk organik kedalam pot tanaman strawberry miliknya.
BERSAMBUNG........