Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Penjelasan Ibra


Pagi ini cerita diawali dengan Altea yang terbangun dari tidurnya, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.30.


Dia pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah keluar dari kamar mandi tampak Ratna ibu Matteo sedang mengobrol dengan salah seorang perawat yang sedang mengganti kantong infus Matteo.


Dia melihat Matteo sejenak tidak ada perubahan dari tadi malam yang terakhir dia lihat.


Tangan Matteo yang sengaja dia letakkan di bagian perut masih tetap di sana. Itu menandakan bahwa tadi malam Matteo sama sekali tidak bergerak.


"Tante, aku pulang dulu... hari ini ke kampus Nanti aku akan kembali lagi , aku janji"


"Baiklah Altea, terimakasih sudah menemani tante semalam " Ratna tersenyum


Altea meraih ponselnya dan memesan driver online. Setelah tiba di lobby rumah sakit tampak para perawat sedang berlalu lalang untuk bergantian shift.


Dia akhirnya tiba dirumah, dan mendapati ibu dan ayahnya sedang sarapan pagi.


"Bagaimana keadaan Matteo nak?


Sofi bertanya sambil mengisi piring Altea dengan lauk dan nasi.


"Dia belum sadar Bu " Ucap Altea sambil memasukkan suapan pertamanya kedalam mulut.


"Belum sadar ? bagaimana bisa ? Ilham yang penasaran langsung ikut nimbrung.


"Mana ku tahu, katanya dia mabuk habis itu dia tidak sadarkan diri sampai sekarang" Altea kembali menyantap sarapan paginya.


"Dia dirawat dimana sayang? , mana tau ibu bisa menjenguknya nanti" Sofi berkata sambil menyeruput air putih hangat.


Altea sejenak berhenti, dan menatap ayah dan ibunya secara bergantian. "Apa ayah dan ibu tau jika Matteo bukan orang sembarangan " kalimat itu lolos begitu saja dari mulut Altea.


"Benarkah? Sofi menatap curiga.


"Aku hanya menduga saja, soalnya kemarin aku ketemu kakeknya ,papanya ,mamanya juga " Tampak Altea bercerita dengan wajah santai.


"oh.. kamu hanya menduga ....


"Entahlah, yang jelas jika ibu mau menjenguknya jangan sekarang, soalnya dia masih asik dalam tidur pulas nya" ucap Altea sambil berdiri. "Nanti saja kalau dia sudah sadar" tambahnya lagi.


Sebelum berangkat ke kampus Altea mendapat pesan dari ibu Wulan selaku pengawas Altea bahwa ini Altea tidak perlu datang bekerja beberapa hari dan dianggap hadir.


Altea yang membaca pesan itu langsung terkejut bukan main. Altea tidak lagi mengulang untuk membaca pesan itu.


Sepulang dari kampus dia bergegas menaiki angkutan umum dan berhenti didepan restoran tempat dia bekerja.


Dengan langkah gegabah dia menjumpai Wulan di ruangannya. "Bisakah aku masuk Bu?


"Kenapa kamu datang , apa kamu tidak membaca pesan yang saya kirim?


"Bolehkah ibu jelaskan isi pesan ibu, saya tidak merasa melakukan kesalahan" Altea langsung bertanya to the poin.


"Kalau itu kamu tanyakan bapak Ibra, Ibu hanya menjalankan perintah" Ucap ibu Wulan.


Altea langsung menaiki tangga dan bersiap menghadap ke lantai 3 tempat dimana ruangan Ibra berada.


Mengetok pintu kemudian masuk, tidak ada lagu rasa takut yang biasa nya menempel didalam hati Altea.


Dalam keadaan genting seperti ini dia bisa mengalahkan rasa canggung dan rasa takut itu.


"Selamat siang pak, bisakah bapak jelaskan mengapa saya tidak bekerja bisa lagi disini?


"Bapak sendiri yang meminta saya semalam ikut bapak ke rumah sakit dan meninggalkan pekerjaan, tetap kenapa sekarang bapak memecat saya ? Apa bapak sengaja menjebak saya ? "


Altea mencecar Ibra dengan banyak pertanyaan dan pernyataan, suaranya naik satu oktaf dari biasanya.


"Kamu duduklah dulu" Ibra menyarankan


"Saya tidak perlu duduk, saya mau mendengar alasan bapak memecat saya" Altea menekankan kalimatnya sambil memandang Ibra tanpa berkedip.


Tatapan tajam yang Altea lempar, ternyata bisa menghipnotis seorang Ibra pemain wanita. Biasanya dia yang akan menghipnotis wanita dengan tatapan nya.


Ibra diam sejenak sambil menikmati tatapan Altea, namum buru buru dia mengembalikan kesadarannya dan fokus.


"Apa bapak sengaja menjebak saya ?


Altea kembali menekankan kalimatnya.


Altea akhirnya duduk, rasanya dia perlu tau alasan Ibra yang mengambil keputusan sepihak.


"Siapa yang memecat mu? memangnya pengawas mu mengatakan apa ?


"Isi pesan ibu Wulan menyuruh saya agar tidak perlu datang bekerja dan dianggap hadir" Altea masih berbicara dengan suaranya yang mulai dia kondisikan.


"Lalu siapa yang memecat mu? Ibra tertawa kecil. "Saya memang sengaja meminta pengawas mu untuk memintamu tidak datang tapi bukan berarti memecat mu" Ibra menambah kalimatnya.


"Tapi...


"Saya juga meminta supervisor menyiapkan man power penggantimu sementara, agar namamu tetap dianggap hadir " Ibra langsung memotong kalimat Altea.


"Lalu saya tidak bekerja, sama saja saya dipecat dan digantikan" Altea semakin emosi.


"Kamu dianggap hadir, dan gaji mu tetap kamu terima" Ibra kemudian menjawab keluhan Altea.


"Bagaimana bisa saya menerima gaji jika saya tidak bekerja?" Altea semakin dibuat pusing.


"Apa kamu lupa jika saya pemilik restoran ini? Jadi semua bisa saya atur, kamu cukup menjenguk Matteo dirumah sakit itu akan menggantikan hari kerja mu " Ibra menutup laptop miliknya dan menatap Altea yang masih berdiri mencerna kalimatnya.


"Matteo sahabat ku, dia membutuhkan mu saya harap kamu mengerti" Ibra meraih jasnya


"Apa sepertinya bapak memindahkan tugas saya ? Altea bertanya dengan polos


"Anggap seperti itu, tapi ini tugas spesial dari saya" Ibra menepuk bahu Altea dan meninggalkan Altea sendirian di ruangannya.


Tampak Ibra melajukan mobilnya keluar dari parkiran VIP restoran.


Dengan langkah pelan Altea menghentikan angkutan umum dan segera menuju rumah sakit. Dirinya benar benar pusing dengan keadaan yang sedang dia hadapi sekarang.


Sesampainya dirumah sakit Altea mengetuk pintu ruangan Matteo, namun dirinya begitu terkejut jika didalam ruangan itu hanya ada David papa Matteo.


"selamat, ahh selamat siang om, maaf " Altea menyapa David dengan gugup. Awalnya dia mengira jika Ratna yang ada di sana rupanya dugaannya salah.


"Selamat siang, kamu Altea bukan? David mengingat pertemuan pertamanya dengan Altea . "Iya om, gimana keadaan Matteo?


"Seperti yang kamu lihat dia masih belum sadarkan diri" David menjelaskan .


"Oh begitu, mengapa om sendirian? "


"Saya tidak sendirian, kan sekarang ada kamu disini" David mencoba berseloroh karena menyadari jika Altea sedang gugup.


Altea hanya tertawa kecil sambil malu malu.


"Maksud saya tante Ratna dimana?


"Oh Ratna ke rumah sakit Bina kasih, Apa kamu ingat kakek Matteo juga dirawat di sana" David memberitahu bahwa istrinya sedang pergi.


"oh begitu, Apa saya menggangu om?


"Sama sekali tidak, silahkan kamu duduk dulu, jika kamu lapar kamu bisa memakan makan itu" David menunjukkan kotak makan di atas nakas.


"Tidak om, saya sudah makan terimakasih"


David hanya menganggukkan kepala sambil menarik senyumnya sedikit .


Altea kemudian duduk ditepi ranjang Matteo, Berada dalam satu ruangan berdua dengan David membuat perasaan canggung dan segan seolah menyatu.


Dia berharap semoga ada seseorang yang datang kedalam ruangan Matteo agar dia tidak canggung seperti ini.


Tak berapa lama pintu terbuka....


Bersambung....


Kira kira siapa yang datang.


jawabannya ada di episode selanjutnya.


Episode selanjutnya segera saya liris


Bantu like dan komen