
Cerita berlanjut....
Sudah satu Minggu Aurel tinggal di kediaman orangtuanya. Wanita itu mencoba tetap kuat atas apa yang dia hadapi dalam drama rumah tangganya dengan Juna. Dia memilih tinggal sementara dirumah kediaman orangtuanya untuk membentuk ulang lipatan kesedihan yang dia alami.
Juna sudah beberapa kali menghubungi telepon rumah keluarga Aurel namun dia tidak berniat untuk berbicara dengan Juna. Aurel selalu meminta asisten rumah tangannya mengatakan jika Aurel sedang keluar atau tidur atau apalah alasan yang dia rasa masuk akal agar
sebisa mungkin dia menghindar.
Sore ini telepon rumah kembali berdering.
Suara Juna sudah terdengar dari seberang sana. "Halo... "
"Halo... "
"Halo "
Tidak ada jawaban. Padahal gagang telpon sudah menempel di telinga Aurel. Namun wanita itu enggan untuk mengeluarkan suara. Dia membiarkan lawan bicaranya terus bersuara tanpa dia menjawab.
Telepon itu akhirnya terputus...
Aurel terpuntur ke dinding. Mendengar suara Juna terbesit rasa rindu yang mendalam. Dia sedih sekarang. Dalam diamnya kepada Juna tersimpan banyak hal yang tidak bisa di jelaskan. Dan kembali lagi dia menangis. Ada rasa yang tidak bisa digambarkan. Namun sepertinya dia sulit untuk mendapatkan rasa percaya diri. Dia sudah lelah. tapi apakah dia sudah menyerah bertahan di samping Juna ? .Pria yang selalu bersikap dingin dan cuek padanya.
Wanita itu sudah melorot ke lantai. Kedua kakinya seolah tidak sanggup berdiri menopang tubuhnya. Juna atau Matteo adalah impiannya dari dulu. Menikah dengan salah satu anak dari pengusaha terpandang dan menjadi seorang pewaris Mahaprana Group adalah impian Aurel dari dulu. Dia rela melakukan apa saja agar bisa duduk di pelaminan bersama Juna atau salah satu putra dari Mahaprana. Dan sekarang impiannya sudah tercapai tapi semua jauh dari harapannya.
.
.
.
Menjelang sore hari terdengar bell rumah berbunyi nyaring. Saat itu Aurel sedang rebahan dan merenung di kamarnya. Tidak ada yang tau apa yang sedang di pikirkan gadis cantik itu. Namun terlihat dia sedang tidak baik baik saja. Seisi rumah khawatir dengan kondisi wanita itu.
Bahkan kedua orangtuanya buru buru pulang dari luar negeri setelah mengetahui jika Aurel pulang kerumah dan setiap hari termenung.
Sang ibu sudah berunglangkali bertanya ada apa namun Aurel hanya menjawab dia rindu rumah. Rindu papa mama. Namun sang ibu juga tidak sebodoh itu. Dia tau pasti ada masalah yang di hadapi putrinya.
Sang ayah berpesan kepada ibu agar membiarkan Aurel dengan sendirinya bercerita. Alasan karena mungkin Aurel butuh waktu.
Sang ibu menurut. Setiap pagi dia selalu mengetok kamar Aurel dan melihat keadaan gadis itu. Ibu lega ketika Aurel mau merequest sarapan pagi untuknya. Setidaknya anak gadis itu mau makan.
Bel rumah sekali lagi berbunyi.
Bibi asisten buru buru mematikan kompornya dan segera membuka pintu.
"Selamat sore tuan. Ada yang bisa saya bantu? " Bibi pelayan sudah mengetahui jika pria itu adalah Juna suami dari nona mudanya.
"Aurel ada Bu? "
"Ada tuan silahkan. Non Aurel ada di kamarnya. " Bibi sudah melebarkan pintu agar Juna masuk. " Sepatunya di pakai saja tuan. Tidak perlu di lepas ".
"Baiklah. Terimakasih bu. Boleh antarkan saya ke kamar Aurel ? " Ini adalah pertama kali Juna menginjak rumah mertuanya sejak mereka menikah. Bayangkan! Menikah sudah setahun tapi pria itu baru saja menginjak kaki dirumah mertuanya. padahal jarak rumah kediaman orangtua aurel tidak terlalu jauh. Bisa dibilang mereka masih satu kota regional.
Bibi mengantar Juna sampai di depan kamar Aurel.
"Silahkan tuan. saya pamit dulu " bibi menunduk sopan.
"Terimakasih Bu ".
Sebelum mengetok pintu Juna menarik nafas terlebih dahulu.
Suara ketokan pintu terdengar. Aurel yang sedang rebahan menyamping menoleh sebentar. "Masuk ". Dia yakin itu adalah sang ibu atau bibi asisten. Dia kembali menyamping tanpa penasaran siapa yang datang.
Juna masuk kemudian mengedarkan pandangannya menyapu seluruh desain kamar Aurel. Nuansa pink dan beberapa karakter wanita menghiasai dinding. Ada meja rias lengkap dengan peralatan make up wanita . Dari desain kamar bisa dipastikan bahwa penghuni kamar itu adalah wanita yang feminim.
Juna mendudukkan bokongnya diatas tempat tidur Aurel hingga menimbulkan suara grek !. Aurel tidak terusik sama sekali. Akhirnya Juna memberanikan diri bersuara.
"Apa aku boleh tidur diatas tempat tidurmu ? "
Deg ! Mata Aurel seketika membulat. Tubuhnya membeku. Dia mengenal siapa pemilik suara itu. Pelan pelan dia memutar tubuhnya memastikan jika dia tidak salah dengar.
Aurel terlonjak kaget. Ternyata dia tidak salah dengar. "Ka.. kamu kesini? " Gadis itu bertanya dengan nada gelagapan. Dia terkejut. Mengapa Juna ada disini .
"Aku bertanya kenapa kamu malah bertanya balik?. " Ucap Juna sedikit menarik senyum tipis. "Boleh tidak ? " Juna sudah melepaskan sepatunya dan menaikkan satu kaki untuk bersiap naik keatas tempat tidur.
"ya... iya naiklah.." Aurel menggeser tubuhnya memberikan tempat kepada Juna. Pria itu meraih bantal dan membaringkan tubuhnya. Matanya dia pejamkan sebentar. Jujur saat ini Juna tidak tau mau membuka pembicaraan dari mana.
"Apa kau marah padaku ? " pertanyaan paling bodoh yang pernah keluar dari bibi Juna.
"Tidak... "
"Lalu " . Juna sudah membuka mata. Dia melirik Aurel sebentar. Wanita itu sudah berdiri dan melangkah mendekati jendela. Menatap pepohonan dari kaca.
"Aku tidak marah padamu kok." Aurel berusaha untuk tetap terlihat tegar. Dia sengaja membelakangi juna. tidak melihat Juna berbicara.
"Aku tidak marah kepada siapa pun".
Juna akhirnya tidak jadi berbaring. Tapi matanya fokus melihat punggung Aurel.
"Lalu kenapa tidak memberi tahu jika kau kemari " .
"Memangnya penting aku memberi tahu mu?. Selama ini juga kita tidak tahu menahu urusan masing masing kan"
Duar! kata kata Aurel sukses membuat Juna membeku. Kata kata itu bagaikan pukulan sadis untuk Juna. Namun sikap Juna yang cool tidak memperlihatkan jika pria itu sedang linglung.
"Apa yang aku lakukan dan apa yang terjadi padamu kita memang tidak pernah saling berbagi kan.. Jadi untuk apa aku harus memberi tahumu " lanjut lagi. Dia mulai merasa sesak di dadanya. Sakit. Hatinya sakit sekarang.
"Diriku saja bukanlah siapa siapa untukmu". Lirih Aurel . Air mata Aurel ternyata tidak tau diri. Jatuh tidak pada tempatnya. Aurel sudah sekuat tenaga untuk menahan diri. Namun ternyata air matanya menetes juga.
Juna tidak bergeming. Dia seolah kehilangan kesadaran dan juga kehilangan kata kata.Dia terdiam sekarang. Tidak tau harus bagaimana.
"Dulu aku pernah mendengar, kata orang cinta akan tumbuh sendirinya. Namun sepertinya itu tidak berlaku untuk kita. " Gadis itu menunduk sebentar kemudian menegakkan kepalanya lagi. Terdengar Isak kecil dari bibir Aurel.
Aurel masih tetap pada posisinya. Juna juga sama. Pria itu duduk melihat nanar kepada Aurel.
Juna membenarkan ucapan Aurel dalam hatinya. Dulu dia sempat menyatakan untuk mempertimbangkan pernikahannya dengan Aurel karena Juna tidak mencintai Aurel. Lebih tepatnya Juna memang tidak pernah memikirkan bagian percintaan. Dia selalu memfokuskan diri menyelesaikan pendidikan dan karir masa depannya.
Saat perjodohan itu datang. Juna tidak menerima langsung. Dia masih berfikir. Hingga suatu saat sang ibu mengatakan bahwa cinta akan tumbuh sendirinya. Saat itu besar harapan kedua orangtuanya dan kedua orangtua Aurel putra putri mereka menikah.
Karena tidak mau mengecewakan kedua orangtuanya dia akhirnya menerima pernikahan itu tanpa ikatan cinta.
Aurel dan Juna menikah dengan durasi waktu yang cukup lama. Mereka menjalani proses kehidupan yang rumit.
Aurel selalu memberikan cinta untuk Juna melalui sikapnya.
Namun sepertinya Juna tidak luluh dengan sikap Aurel. Hatinya seolah tidak terketuk untuk bisa menerima Aurel.
Hal itu terlihat dari sikap dingin Juna kepada Aurel.
"Aku tau kau tidak akan pernah mencintai aku. Maka dari itu aku ingin belajar untuk bisa hidup tanpa cinta dari mu. Belajar jauh darimu ". Aurel menggigit bibirnya. Dia tak kuasa menahan air matanya .
Juna kembali membenarkan ucapan Aurel. Jika bisa jujur, sampai saat ini pria itu belum mencintai Aurel. Dan Aurel tau itu. Itulah alasan Aurel belajar menjauh.
Bersambung