
Pagi hari Matteo perlahan membuka matanya dia terkejut bukan main mendapati dirinya tidak memakai sehelai benang pun. Kepala pria itu masih pusing,terlihat ketika dia mulai duduk dan memijat pangkal hidungnya.
Matteo berusaha mengumpulkan semua kesadarannya untuk menjawab kenapa dia tidak memakai sehelai benang pun, namun tampaknya pria itu tidak berhasil mengingat kejadian yang sudah berlalu beberapa jam yang lalu.
Dia merasa tidak nyaman dengan sekujur tubuhnya yang terasa lengket, akhirnya dia segera berlalu ke kamar mandir untuk membersihkan diri. Merendamkan dirinya di bath up dengan aroma terapi ternyata mampu membantu pikirannya kembali refresh meskipun tidak seutuhnya.
Setelah selesai dia mengenakan pakaiannya satu per satu. Matanya memicing melihat jaket warna purple yang tergeletak di sudut ruangannya. "Jaket Altea ???
Kemudian dia berbalik melihat ranjang kosong miliknya yang sudah berantakan,perlahan menyibak selimut matanya membulat sempurna melihat bercak noda berceceran diatas sprei putih dia sejenak memandang lekat noda itu. Meskipun sudah mengering tapi warna itu masih terlihat merah segar dan dia meyakini jika itu adalah darah.
Belum selesai pandangan nya dengan darah kini dia menemukan sebuah ponsel android dengan casing karet berlogo Barcelona terletak di ujung ranjang miliknya, dengan hati hati Matteo menekan tombol power dan matanya membulat sempurna melihat wallpaper ponsel itu adalah foto Altea.
Kemudian dia keluar dari kamar dan memasuki ruangan khusus untuk melihat cctv.
Perlahan dia memutar ulang siaran itu dan menemukan apa yang dia cari. "Tidak !! "
"Ini mimpi bukan? " Matteo berjalan mundur dari layar komputer tersebut ,rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Didalam video itu memang tidak merekam full kejadian setelah Matteo menggendong Altea ke kamar, karena didalam kamarnya tidak ada cctv.
"Aku memperkosa Altea ? "
"Ada apa dengan diriku"
Matteo yang sudah lemas mendudukkan bokongnya di sofa, matanya kembali memicing melihat mangkok dan kain putih diatas meja.
"Lalu dimana Altea ???? "
Matteo mengusap wajahnya dengan kasar. Dia benar benar bingung dan linglung sekarang.
Dia meraih ponsel miliknya dan menghubungi Ibra rasanya dia belum sepenuhnya percaya melihat kenyataan yang baru saja dia lihat.
ting tong...... Bel berbunyi.
"Ada apa memanggil ku kemari ? "
"Oh iya ini" Ibra melempar cek dengan nominal 5 milyar kepangkuan Matteo.
"Apa ini ?
"Mana ku tahu, Gio yang memberikannya padaku semalam, katanya itu hasil pertarungan mu mengalahkan Max " ucap Ibra santai.
"Aku butuh penjelasan mu !! " Matteo menatap serius kepada Ibra .
"Penjelasan ? Apanya yang dijelaskan ? " tanya Ibra bingung sambil mengunyah permen karet di mulutnya dan membuat gumpalan balon kecil.
"Siapa yang mengantar aku semalam kesini? "
Matteo sebenarnya sudah tau tapi rasanya dia tidak percaya.
"Mana kutahu " Ibra menggerakkan bahunya. tapi sejenak dia menelisik bola mata Matteo yang sulit diartikan. "Memangnya kenapa ? " tanya Ibra ragu ragu.
"Aku memperkosa Altea " suara Matteo terdengar berat seolah tidak sanggup mengeluarkan intonasinya.
"Kau yang salah bicara atau aku yang salah mendengar ? " Ibra bertanya dengan nada datar. Rasanya dia tidak percaya dengan ucapan Matteo. Dia mengingat semalam Matteo menarik Altea pulang tapi dia tidak menyangkan jika Matteo malah membawa Altea ke apartemen miliknya dan memperkosa gadis itu.
"Aku tidak mengingat apa apa , aku hanya mengingat jika Altea mengantarku kesini itu saja " Ucap Matteo menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Lalu dari mana kau tau jika dirimu memperkosa dia ? " Ibra mengeluarkan permen karet dari mulutnya dan membuang kedalam tong sampah, dia dipaksa fokus mencerna kalimat yang keluar dari mulut Matteo.
"Cctv dan dikamar aku menemukan...... "
"Menemukan apa ?? " Ibra menaikkan volume suaranya.
"Bercak darah dan jaket Altea didalam kamarku " ucap Ibra lirih.
"Bagaimana bisa kau melakukannya bodoh ???
Ibra tidak habis pikir dengan sahabat nya itu.
Ibra masuk kedalam daftar pemain wanita ,namun sejauh ini dia tidak pernah merusak seorang gadis. Dia hanya bercinta dengan wanita yang memang notabenenya mau , jadi percintaan itu dilakukan suka sama suka.
"Aku sudah bilang bukan, aku tidak ingat apa apa sama sekali !! terakhir aku merasakan panas di sekujur tubuhku dan Altea berniat mengompres ku " Matteo menunjukkan wadah dengan kain putih yang terletak diatas meja.
Aku rasa ada yang tidak beres dengan hal ini !
"Apa kau tau aku juga bersalah disini?
ungkap Ibra dengan nada datar.
"Bersalah ?
"iya , aku yang meminta Altea datang ke arena untuk menghentikan mu tapi aku tidak memprediksi hal ini akan terjadi " Ibra menyesali dirinya telah memohon kepada Altea.
"Kenapa kau melakukan itu sialan !!!
Matteo langsung berdiri dan menarik kerah baju Ibra dan melayangkan pukulan di wajah lelaki itu. "Siapa yang menyuruhmu meminta Altea datang ? "
"Aku hanya berusaha menghentikan aksi bodoh mu diatas ring, kau sudah berjanji kepada Altea buat berubah bukan ???? suara Ibra terdengar meninggi.
"Aku tidak pernah mengurusi urusan mu sialan !!! dan berhenti mengurusi urusan ku dengan Altea !!! " Matteo kembali melayangkan pukulan di bagian perut Ibra.
.
.
.
Di tempat lain Altea sudah berada di dalam taksi menuju kampus. Hari ini adalah hari pertamanya mengikuti ujian semester.
Selama perjalanan ke kampus ingatannya masih di penuhi oleh kejadian yang menimpa dirinya, tak terasa cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk mata gadis itu.
Hari ini benar benar berat ia lalui, ingin rasanya dia mengurung dirinya dikamar agar tenaganya kembali terkumpul namun ujian yang akan berlangsung memaksa dirinya harus pergi ke kampus.
Selama ujian berlangsung Altea bersusah payah memfokuskan diri agar bisa menyelesaikan ujiannya dengan baik.
Sampai akhirnya jam mata kuliah berakhir, Altea memasukkan peralatannya kedalam tas dan segera meninggalkan ruangan.
Dia segera menuruni anak tangga dan berjalan ke pinggiran jalan untuk menghentikan angkutan umum. Namun, sebuah mobil hitam berhenti di depan Altea.
"Altea, bisakah kita bicara ? " Ibra mendekati Altea, namun Altea refleks mundur.
Dia langsung menatap tajam Ibra dengan mata sipitnya yang sudah membengkak.
"Baiklah.. " Ibra berhenti ketika menyadari jika Altea sedang ketakutan.
"Aku dan Matteo berniat menemui mu di rumahmu , tapi kamu tidak ada makanya kami kemari, bolehkah kita bicara sebentar ? " Bujuk Ibra dengan nada memohon.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, aku sudah tau jika Anda yang merencanakan semua ini, pergilah aku tidak mau melihat anda disini" Matteo menggunakan bahasa formal untuk menunjukkan ketidaksukaannya.
"Altea aku mohon, Matteo ingin menemui mu ini semua tidak seperti yang kamu inginkan" Ibra yang tidak sabar memajukan langkahnya namun Altea kembali mundur.
"Aku tidak mau menemuinya!! dan aku tidak mau menemui mu !!! , pergilah aku jijik melihat kalian" Altea kembali terisak menahan sesak didalam hatinya.
"Dengarkan penjelasan aku dulu Altea " Ibra kembali memohon.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan, semua sudah hilang dan tidak akan kembali lagi "
"Kalian semua jahat !!!!
Altea berbalik dan segera masuk kedalam taksi. Rasanya dia jijik melihat wajah Ibra sekarang. Biar bagaimana pun lelaki itulah yang menghubungi Altea semalam dan memohon agar datang menghentikan Matteo dan akhirnya dia menerima kejadian pahit malam itu.
BERSAMBUNG.....
hai reader bantu like dan komen yah🤗❤️❤️