Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Morning Sickness


Pagi hari Altea membuka mata dan mendapati Matteo tidur disampingnya , secepat kilat Altea beringsut menjauh karena merasa takut dengan pria itu. Mengapa dia disini ? gumam Altea sambil menyibak selimut dan segera berjalan ke kamar mandi karena merasakan ada sesuatu yang bergejolak di dalam perutnya.


Hoek.... Hoek... Hoek....


Altea memuntahkan isi perutnya kedalam closed kemudian dia berusaha berdiri untuk membasuh mulut nya ke wastafel, saat hendak berdiri rasa gejolak itu kembali hadir secepat mungkin dia berjongkok dilantai sambil menundukkan kembali kepalanya kedalam closed dan memuntahkan seluruh isi perutnya.


Matteo yang mendengar suara riuh dari dalam kamar mandi segera memeriksa dan mendapati Altea sedang berjongkok dan muntah hebat, perlahan Matteo memijat tengkuk Altea dengan perasaan prihatin. Belajar dari apa yang dia alami selama ini Matteo tau rasanya muntah hebat seperti itu karena dia juga sering muntah akibat mengonsumsi alkohol.


Merasa ada sesuatu yang menyentuh tengkuknya Altea sejenak menoleh dan mendapati Matteo lah yang melakukan itu, ingin rasanya dia menjauh tapi tubuhnya yang lemas dan kepalanya pusing membuat dirinya tidak bertenaga menolak pijatan Matteo.


"Apa sudah lebih baik Al?"


Altea hanya mengangguk seraya berdiri, Matteo membantu Altea berdiri dan menekan tombol flush closed agar muntahan Altea hilang bersama aliran air.


"Lepaskan aku" Altea mendorong pelan tubuh Matteo agar pria itu menjauh.


"Kamu sedang tidak baik, aku akan membantumu " ucap Matteo.


"Aku tidak butuh bantuan mu ! " gertak altea merasa tidak suka.


Matteo hanya diam dan mengikuti kemauan istrinya karena dia tau Altea masih membencinya. Perlahan Matteo melepas tautan tangannya dari lengan Altea dan membiarkan Altea berjalan sendiri menuju tempat tidur namun dia masih berjaga dibelakang Altea, tetapi belum sempat Altea duduk sempurna kepalanya kembali pusing dan tatapannya melayang tubuhnya kembali melemas. Matteo dengan sigap menangkup tubuh Altea agar tidak membentur ke lantai.


"Kenapa ada orang yang begitu keras kepala !" Matteo yang melihat keadaan Altea semakin buruk akhirnya kesal juga. Segera Matteo memanggil supir pribadi keluarganya dan menyuruhnya menyiapkan mobil .


Matteo membopong tubuh Altea yang masih lemas. Saat hendak berjalan Ratna melihat Matteo menuruni anak tangga sambil menggendong tubuh Altea, dia pun segera menyusul. " Ada apa dengannya ?"


Tanpa menjawab pertanyaan sang ibu Matteo segera membawa Altea menuju rumah sakit. " lebih cepat lagi !!! " Gertak Matteo kepada supir pribadi keluarganya karena dia begitu khawatir melihat wajah pucat istrinya dengan tatapan lemah.


Mobil mereka berhenti di depan rumah sakit milik Mahaprana, Matteo yang sudah panik langsung membopong tubuh Altea menuju IGD.


"Apa kalian hanya melihat ku saja tanpa berniat menolongku sialan !!! " Matteo berteriak didepan IGD karena melihat para dokter dan perawat sibuk memandanginya.


Perawat dan dokter segera berhamburan dengan sigap membantu Matteo menidurkan Altea di atas brankar. " Sebaiknya anda keluar dulu tuan kami akan memeriksa keadaan pasien" .


"Bagaimana...." Ratna mendekati Matteo yang terlihat mondar mandir bagaikan setrika listrik didepan IGD.


"Masih di periksa mah"


"Apa yang terjadi dengannya nak ? " tanya Ratna dengan guratan khawatir.


"Tadi dia muntah hebat perlahan dia lemas " tutur Matteo tanpa melihat kearah ibunya. Matanya tetap fokus ke arah pintu dimana istrinya ditangani.


Beberapa menit kemudian dokter keluar, Matteo segera berdiri dan menghampiri dokter " bagaimana keadaan Altea ?? "


"Tidak ada apa apa pasien hanya .... "


"Apa ? lemas dan muntah hebat seperti itu kau bilang tidak ada apa apa, ..... Apa maksud mu? "


Belum juga dokter menyelesaikan ucapannya Matteo sudah memotong pembicaraan dokter karena merasa tidak sabar.


"Dengarkan penjelasan dokter dulu nak " Ratna paham kegelisahan yang dialami putranya.


"Pasien baik baik saja, muntah di pagi hari adalah hal umun yang dialami beberapa ibu hamil. Itu namanya morning sickness dimana mual muntah yang terjadi saat awal kehamilan. Meski disebut morning sickness kondisi ini tidak hanya terjadi pada pagi hari, tetapi juga pada siang, sore, atau malam hari. Kebanyakan ibu hamil mengalami gejala itu pada trimester pertama kehamilan." Tutur sang dokter.


"Maka dari itu kami sarankan pasien tetap menjaga stamina dan kebugaran tubuhnya, jangan sampai kelelahan " imbuh sang dokter.


"Trimester? berarti tiga bulan bukan ??????


Matteo membulatkan kedua matanya mendengar jika Altea akan muntah muntah selama tiga bulan. "Aku membawanya kesini agar kau mengobatinya" .


"Itu tidak ada obatnya, kita hanya bisa mengatasi karena itu gejala alami , jika pasien mual seperti tadi anda bisa memberinya minuman herbal itu ampuh " ucap dokter.


"Usahakan untuk sementara waktu pasien jangan sampai kelelahan " imbuhnya lagi


"Baik dokter terimakasih " ucap Ratna.


"Kalau begitu saya permisi nyonya " Dokter berlalu sambil menggelengkan kepalanya. Dia memang sudah tau jiwa Matteo seperti apa.


"Apa pula alami, semua rasa sakit bisa diobati disini , itulah fungsi rumah sakit ini bilang saja dirimu tidak tau cara mengobati " Gerutu Matteo sambil membuka pintu ruang IGD.


Dia juga pernah hamil dan merasakan apa yang dirasakan oleh menantu barunya. Dan reaksi Matteo sama seperti reaksi David suaminya dulu ketika dia mual seperti Altea.


Matteo langsung berjalan mendekati Altea yang masih berbaring diatas brankar. Rasa khawatir Matteo sedikit pudar setelah melihat wajah Altea jauh lebih segar sekarang. "Apa yang kamu rasakan ?


"Masih pusing ?


"Bagian mana yang sakit ?


Matteo mencecar pertanyaan kepada Altea sambil mendudukkan bokongnya di kursi sebelah. Altea hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku harus pulang ini nanti aku terlambat ke kampus " Altea bangun dan mendudukkan tubuhnya.


"Jangan... kau harus istirahat dulu sampai sembuh total " cegah Matteo.


"Aku sudah baik , aku harus ke kampus "


Altea berusaha menurunkan kakinya ke lantai. Namun belum sempat mendarat di lantai dia kembali merasa kepalanya berdenyut membuat tubuhnya terhuyung.


"Tidak bisakah kau mendengarkan aku sekali saja !" Suara Matteo naik satu oktaf karena merasa kesal melihat Altea yang begitu keras kepala. Ingin rasanya dia membenturkan kepalanya ke dinding melihat altea yang masih memikirkan kuliah.


"Tapi.... "


"sayang kau harus istirahat dulu urusan kampus itu nanti ya " Ratna mencegah Altea dengan lembut. Altea hanya menganggukkan kepalanya sambil memandang matteo kesal.


Lihat ekspresi keras kepalanya, dia masih bisa menatapku dengan tatapan aneh seperti itu. Jika kepalanya dibenturkan ke aspal sana aku rasa aspal itu yang hancur . batin Matteo membalas tatapan Altea dengan senyum devilnya.


"Sebaiknya kamu makan dulu sayang" Ratna melihat ahli gizi sudah datang dan menyerahkan nampan, segera Ratna menerima nampan itu dan membukanya dengan perlahan.


"Aku makan sendiri aja tante "


"mama.... " Ratna memperbaiki nama panggilannya.


"Ah iya mama" ucap Altea sambil cengengesan. Dia memang belum terbiasa menyebut panggilan itu untuk Ratna.


Beberapa saat kemudian setelah dirasa baik dokter pun akhirnya memperbolehkan Altea pulang. Matteo sigap langsung menggendong tubuh Altea kedalam mobil tanpa mempedulikan ocehan Altea yang menggerutu kesal karena dia malu digendong. Sedangkan Ratna hanya tersenyum tipis melihat tindakan putranya yang semakin lama semakin perhatian.


Matteo melajukan mobilnya ke arah lain setelah melihat Ratna ibunya sudah mendahului mereka. Didalam mobil tidak ada percakapan diantara mereka. Altea memilih berbaring sambil memainkan ponselnya untuk melihat grup chat satu kelompok nya di kampus.


Perjalanan mereka berhenti di depan sebuah rumah. Matteo turun terlebih dahulu dan membuka pintu untuk Altea. " Aku bisa jalan sendiri" Tegas Altea saat melihat Matteo ingin menggendongnya.


"Iya sudah... ayo ... "


"Kita kenapa kesini? " tanya Altea menyadari tempat itu asing baginya. "Ini rumah siapa " Tanya Altea penasaran.


"Rumah kita .... " jawab Matteo santai.


"Kita ???? " tanya Altea memperjelas.


"Apa kamu akan berdiri disitu saja ? "Matteo melihat Altea masih berdiri di samping pintu mobil. " Atau mau aku gendong? " Matteo mendekat.


"Ti tidak aku bisa jalan sendiri " Altea kemudian berjalan dengan perlahan. Matteo yang melihat tingkah Altea hanya menarik senyumnya sedikit.


Matteo masuk ke dalam rumah dan Altea mengekor di belakang dengan langkah takut takut, mereka kemudian bertemu dengan seorang wanita paruh baya. "Tuan dan nyonya kamarnya sudah siap ditempati silahkan di cek lagi ,jika ada kekurangan saya ada di taman belakang " ucap wanita paruh baya itu.


"Baik bibi terimakasih " ucap Matteo.


Sebelum Matteo melangkah dia mendengar suara ponselnya berdering, ternyata yang menelepon adalah Raymund kakeknya.


Raymund meminta Matteo agar menemuinya di kediamannya. Awalnya di menolak akan tetapi mendengar suara Raymund lirih dan penuh permohonan, akhirnya dia memutuskan untuk menemui sang kakek.


"Al aku harus menemui kakek sekarang ,kamu istirahat aku akan kembali secepatnya " ucap Matteo.


"Bibi aku titip Altea" Matteo bergegas menemui sang kakek.


BERSAMBUNG...