
"Maafkan aku membuat putri anda berada di jalur yang rumit dan kompleks seperti ini " ucap Matteo yang berada dibelakang Ilham.
Masih di lingkungan rumah sakit ,Matteo memang sengaja memberanikan diri bertatap muka dengan Ilham meskipun dia sudah menebak anak semarah apa Ilham melihat wajahnya sekarang.
Mendengar suara Matteo dari belakang Ilham manarik senyum getir yang tidak terlihat. Sekuat tenaga dia menahan gemuruh didalam hatinya. Ingin rasanya dia menghajar pria itu karena sudah membuat mereka berada di dalam lingkaran masalah.
"Tidak ada yang perlu di maafkan, semua sudah terjadi. aku hanya meminta pertanggungjawaban mu " Ilham berbalik dan menatap wajah Matteo, pria yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai menantunya.
Bagi Ilham Matteo adalah sosok anak muda yang sulit diartikan jiwa dan pemikirannya, meskipun penilaiannya buruk terhadap Matteo namun dia bisa melihat ada sisi lain didalam diri Matteo yang perlu dia pelajari dengan perlahan. Melihat Matteo berani datang seperti ini saja sudah membuat Ilham semakin mempertimbangkan sisi lain pria itu.
"Restuilah aku dengan putri mu , jangan minta dia menjauhi ku lagi " Matteo menunduk mengingat bagaimana Ilham pernah mengusir Matteo dari rumah sakit, meskipun sudah berlalu namun rasa sakit itu masih membekas di hati Matteo.
Ilham hanya menepuk pundak Matteo seakan menyatakan jika dia merestui dirinya dengan Altea. Setelah itu dia berlalu meninggalkan Matteo begitu saja.
.
.
.
.
Keesokan harinya di kediaman David Mahaprana ,tampak Altea sudah berada di depan cermin memandang wajah yang mulai dirias oleh penata rias pengantin. "Aku tidak menyangka secepat ini " dalam hati Altea masih tidak percaya bahwa beberapa jam lagi dia akan menikah.
Setelah selesai dirias seorang wanita paruh baya membantu Altea mengenakan gaun putih sederhana namun terlihat lebih elegan. Gaun itu sengaja di pesan oleh Ratna ibu Matteo dari butik milik keluarga Orion.
Altea dengan perasaan ragu ragu mengenakan gaun putih itu ,setelah selesai dia melihat dirinya dari pantulan cermin, ada rasa senang didalam hati dengan penampilan nya yang berbeda hari ini .Namun sejenak kesedihan kembali meliputi perasaannya mengingat bahwa dia akan menikah dengan Matteo, pria yang paling dia benci sekarang.
"Apakah sudah siap? " Sofi perlahan mengintip dari balik pintu. Dia melihat Altea sedang membelakangi nya.
"Gaun mu cantik sekali nak ? " Sofi menghampiri anak perempuannya yang sudah tampil begitu anggun dengan balutan gaun putih sederhana.
"Bukan gaunnya yang cantik Tante, tapi Altea yang cantik. Kalau gaun itu aku yang memakai belum tentu secantik itu" Ucap Diva terkekeh manis,kebetulan juga dia ada di sana , dia memang sengaja ditugaskan oleh Ratna untuk menemani Altea.
Mereka sejenak terkekeh kecil, Diva memang sangat menginginkan pernikahan kakaknya dengan Altea, tapi juga dia tidak pernah menyangka jika pernikahan akan terlaksana karena sesuatu hal yang memaksa.
"Baiklah sebaiknya kita segera turun saja" Sofi dan Diva menggandeng tangan Altea menuruni anak tangga menuju taman belakang yang sudah dijadikan sebagai tempat berlangsungnya acara pernikahan mereka.
Dari kejauhan dia melihat tulisan di atas bunga bunga "HAPPY WEDDING MATTEO & ALTEA "
Dia mengedarkan pandangan ke segala arah dan melihat orang yang hadir disana adalah orang orang terdekat saja, acara itu memang dilaksanakan tertutup dan sederhana sesuai keinginan Altea sendiri.
Tampak di kursi bagian kiri ada 10 orang pria yang dia kenal adalah geng Matteo di arena MMA dan juga sebagai seniornya di kampus, sejajar dengan itu Ibra dan Daniel juga ada di sana mereka memang sengaja diundang oleh Matteo.
Pandangannya mengarah kepada sosok Matteo yang sudah berdiri bersama dua orang pria yaitu David dengan Raymund kakek dari Matteo.
Dia juga melihat sang ayah berdiri dengan balutan jas hitam dengan pembawaan begitu berkharisma, tidak ada senyuman di wajah Ilham, tatapan dan ekspresinya sangat sulit diartikan.
Saat tengah berjalan beriringan dengan Sofi, Matteo terperangah ketika melihat penampilan Altea, dia memang mengakui dan memuji kecantikan natural Altea, dan kecantikan itu semakin bertambah ketika dirinya menggunakan gaun putih dengan riasan sederhana.
Prosesi pernikahan tiba , Wali dari masing masing pengantin maju untuk mendampingi.
David mendampingi Matteo, sedangkan Altea didampingi oleh Ilham sang ayah.
Matteo seketika merasakan jantungnya berpacu dengan cepat, karena ini adalah pengalaman pertamanya, dengan lantang dia mengucapkan janji suci dihadapan Tuhan sebagai ikatan pernikahannya dengan wanita yang sangat dia cintai dan sedang mengandung anaknya yaitu Altea. Setelah kalimat Matteo selesai tanpa sadar cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Altea. Perasaannya tidak karuan menerima jika pria yang disampingnya itu beberapa menit lagi akan resmi sebagai suaminya.
Setelah itu penghulu mengarahkan Matteo dan Altea agar saling menyematkan cincin pernikahan. Dengan perlahan Matteo memasukkan cincin berwarna silver dengan hiasan sebiji diamond di jari manis Altea.
Altea juga perlahan menyentuh tangan kekar Matteo dengan jantung yang berdegup kencang, berusaha menghilangkan ragu ragu didalam hatinya akhirnya dia berhasil memasukkan cincin pernikahan itu dijari manis Matteo.
"Baik, sekarang sambutlah Chelsea Altea maulana sebagai Istrimu, dan Terimalah sambutan Matteo Avhdio Mahaprana sebagai suamimu " penghulu mengakhiri prosesi pernikahan tanda pengantin itu resmi sebagai suami dan istri. Matteo kemudian membuka tile yang menutup wajah Altea dan mengecup kening wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu.
Masing masing dari mereka secara bergantian memberi ucapan selamat.
"Selamat atas pernikahan kalian " Ibra mengulurkan tangan kepada Matteo.
"Terimakasih " .
"Selamat atas pernikahan mu ,akhirnya gadis cantik itu batal menjadi kakak ipar ku " Daniel mengulurkan tangannya sambil menggoda Matteo.
"Tutup mulut mu sialan " ketus Matteo.
"Hahahaha... " Daniel tertawa sambil mendekati Altea.
Ratna mendekati Matteo dan Altea yang masih berdiri menerima ucapan selamat dari orang orang yang hadir dalam acara itu. Dia merentangkan kedua tangannya seraya menyambut Altea menjadi bagian dari keluarga Mahaprana. " selamat atas pernikahan kalian sayang" Ratna membelai punggung menantu barunya itu.
"Terimakasih Tante " ucap Altea sambil tersenyum.
"Panggil mama seperti suami mu memanggil aku " Ratna tersenyum manis.
Suami ? Altea merinding mendengar kata suami yang keluar dari ucapan Ratna, kata itu masih lah sangat asing di telinganya sekarang.
Terimakasih mama " ucap Altea dengan kaku sambil tersenyum kecut.
"Halo kakak ipar " Diva ikut ikutan menggoda Altea dengan senyum manis menampilkan deretan giginya.
"Ich ... " Altea mendengus dingin.
Setelah selesai dengan acara pemberian ucapan selamat, pasangan pengantin duduk berdampingan sambil menunggu acara selesai.
"Apa kaki mu pegal ? " tanya Matteo melihat Altea yang gelisah
"Tidak " ketus Altea.
"Butuh sesuatu ? "
"Tidak juga .... " Jawab Altea malas.
Matteo menyadari jika Altea belum sepenuhnya menerima pernikahan itu namun Matteo tetap menunjukkan rasa sayang dan cinta kepada Altea meskipun Altea menghindar darinya.
Setelah acara selesai para tamu dan undangan satu persatu meninggalkan kediaman Mahaprana.
Sofi dan Ilham saling melirik kemudian dengan perlahan mendekati Altea yang termenung, tidak ada senyum atau guratan kebahagiaan di wajah anak perempuannya itu layaknya pasangan pengantin biasa. Wajah Altea hanya datar tanpa ekspresi, kalaupun dia tersenyum itu hanya terpaksa.
Sebenarnya Sofi paham dengan perasaan dan posisi putri semata wayangnya itu.
Menikah muda bukanlah sesuatu hal yang gampang, apalagi menikah karena desakan kehamilan seperti ini sudah pastilah sangat berat untuk Altea.
Di usia Altea yang baru menginjak 22 tahun seharusnya masa dimana dia bersenang senang dengan teman sebayanya untuk menghabiskan masa muda mereka.
Apalagi Altea setelah lulus SMA dia tidak seperti teman sebayanya yang sibuk memilih kampus atau kegiatan mereka masing masing .
Altea sendiri langsung terjun ke dunia lapangan kerja dan berjuang sendiri melewati batu loncatan nya untuk mencari modal kuliah.
Kala itu memang kakaknya Albert sedang kuliah di semester akhir, mau tidak mau dia harus memilih menganggur terlebih dahulu karena faktor ekonomi kedua orangtuanya.
Namun dia tidak pernah patah semangat, meskipun terlahir dari keluarga sederhana dia juga memiliki mimpi dan cita cita. Bermodal Ijazah SMA nya dia mulai bekerja dan menabung, saat dirasa cukup dia melanjutkan batu loncatan nya untuk segera kuliah dan meraih cita citanya.
Namun takdir berkata lain ,baru saja dia memulai perjuangannya untuk meraih impian dia harus menerima kenyataan pahit atas kehamilannya dan menyebabkan dirinya terpaksa menikah.
"Ayah dan Ibu pulang dulu " Ilham membuka suara sambil menatap wajah Altea.
"Kok ayah dan ibu saja ? lalu aku ??? " Tanya Altea sambil mengedipkan matanya.
"Aku juga mau pulang ayah , Bu " ucap Altea merengek.
"Nak, apa kau lupa jika dirimu sudah menikah. "
Ucap Sofi tersenyum geli.
"Memangnya apa masalahnya, apa ibu melarang aku pulang begitu ? " Tanya Altea polos.
"Nak, kau sudah menikah... Ibu dan ayah akan senang jika kamu datang ke rumah, tapi harus ada izin dari Matteo suami mu " ucap Sofi berusaha memberikan pengertian.
"Ich " Altea menghentakkan kakinya seolah tidak terima. "Sudah ya nak ibu dan ayah pulang dulu kami masih harus memantau nenek mu " Ucap Sofi.
"Jika ada apa apa hubungi ayah segera ! " Ilham menekankan kalimatnya dan menatap Altea dengan raut wajah sulit dijelaskan.
"Jangan merasa sendiri, ada ayah dan ibu selalu disisi mu " Tak terasa Ilham menitikkan air mata sambil merangkul tubuh kemudian mengecup dahi Altea. "Baru saja aku mengajarimu berjalan bersama ku tapi tak terasa sekarang anak gadisku sudah menikah ". ucap Ilham sambil menyeka air matanya.
Sofi yang melihat kerapuhan jiwa suaminya hanya menahan sedih, kemudian dia ikut memeluk Altea. Mereka melepaskan pelukannya dari Altea setelah melihat Matteo datang. " Aku titip Altea pada mu " Ilham menepuk pundak Matteo.
"Baik pak"
BERSAMBUNG.....
Hai reader, bantu like dan komen 👍🤗