
Ibra menghentikan mobilnya didepan rumah orang tua Altea. "Terimakasih banyak pak, apa bapak tidak mampir dahulu ?.
Seperti biasa Altea selalu memberikan penawaran dengan siapa saja yang mengantarnya agar singgah terlebih dahulu.
Mungkin itu adalah kalimat sederhana namun, Itu adalah adab yang ditanamkan oleh kedua orangtuanya kepada Altea. "Entah itu teman, sahabat, keluarga atau orang yang tidak dikenal tawarkan lah dia masuk ke rumah jika dia bersedia masuk maka buatkan teh atau tawarkan makan terlebih dahulu." Orang tua Altea selalu mengatakan ini kepada kedua anaknya baik Albert maupun Altea.
Ibra hanya tersenyum "Terimakasih lain kali saja " hanya kata ini yang keluar dari bibir Ibra.
"Baiklah pak " Altea menundukkan kepalanya dengan sopan dan meraih pintu mobil, belum sempat Altea membuka pintu dia melihat ayahnya berdiri didepan teras rumahnya sambil memandang kearahnya.
Seketika Altea menelan ludahnya kasar, dia kembali menoleh kearah Ibra, "Pak apa bapak bisa membantu saya?
Ibra hanya terdiam dan memandang Altea "untuk? Ibra bertanya sambil menyipitkan matanya merasa bingung dengan wanita yang disampingnya.
"katakan pada ayah saya siapa bapak, supaya ayah saya tidak berburuk sangka" Dengan wajah memelas Altea mencoba minta tolong,entah keberanian dari mana Altea mengatakan itu kepada Ibra.
Ibra langsung melepaskan salt belt nya dan keluar dari pintu mobil , tanpa mendengarkan penjelasan Altea lagi dia sudah paham maksud Altea.
"Malam pak , saya Ibra kebetulan tadi saya mau pulang maka saya sekalian mengantar Altea pulang " Ibra menjelaskan dengan sopan kepada Ilham.
"Ini pak Ibra yah, pemilik restoran tempat Altea bekerja" Altea menjelaskan.
"Masuklah terlebih dahulu nak, kita minum teh didalam" dengan tatapan dingin dan tajam Ilham masih dengan sopan mengajak Ibra masuk kedalam rumahnya
Namun Ibra menolak karena ini sudah larut malam dia ingin secepatnya istirahat.
Ilham mengangguk dan mengatakan terimakasih karena telah mengantar Altea pulang.
Apa ayahnya begitu kejam ?
Ibra bermonolog dengan dirinya sendiri.
Ibra menginjak pedal gas nya ke club setelah mendapat info bahwa Matteo ada di sana.
"Apa kau tau aku jatuh cinta dengan seorang gadis di restoran ku? Ibra membuka obrolan ketika dia sudah duduk berhadapan dengan Matteo.
"Lalu? Matteo hanya menjawab Ibra dengan tatapan malas.
"mungkin sebentar lagi dia akan jatuh ke pelukan ku.... Ibra dengan santai menjelaskan kepada Matteo dengan senyum menyeringai.
" Itu bukan urusanku " Matteo masih dengan tatapan malas
"memang, tapi sepertinya kita menyukai wanita yang sama dan sepertinya wanita itu juga menyukaiku" Ibra menekankan kalimat wanita yang sama untuk memancing reaksi Matteo.
"Apa maksud mu???? tadi Altea bilang jika dia sudah punya pacar, tidak mungkin dia menyukai mu " Matteo langsung mendongak dan menatap tajam Ibra seperti tajamnya mata pisau.
"Apa kau tau tadi ayahnya memintaku masuk ke rumah? Mungkin Ayahnya berharap aku jadi menantunya "
Ibra masih dengan santai memancing emosi Matteo agar melihat apakah Matteo hanya mengagumi Altea atau lebih.
Matteo semakin tajam memandang Ibra dengan tatapan membunuhnya.
"Mungkin dia akan menjadi mangsaku selanjutnya, karena dia terlihat lugu dan polos.
Senyum menyeringai terpampang di wajah Ibra
Matteo langsung berdiri dan menarik kerah baju Ibra dan mendorong Ibra ke sudut ruangan dengan tatapan membunuh.
"Hentikan omong kosong mu sialan! siapa pun yang menyakiti Altea akan ku bunuh tanpa sisa tidak ada pengecualian ! "
Matteo ingin melayangkan pukulan di wajah Ibra , seperti biasa dia akan sulit mengontrol emosinya.
Sebisa mungkin Ibra mengelak dengan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Matteo yang melihat Ibra mengangkat tangan kemudian melepaskan cengkeramannya.
"Apa kau tau? Altea takut denganmu ketika kau mengeluarkan sikap mu seperti ini?
Ibra masih belum selesai memancing emosi sahabatnya itu.
"Apa mau mau mu sialan! Matteo menggertak kan giginya sambil menatap Ibra dengan tatapan membunuh.
Apa dia sering menolak karena takut denganku? Matteo membatin dalam hati.
"Aku curiga kau sudah jatuh cinta dengannya..
Ibra kembali membuka pembicaraan.
"Aku sudah bilang bukan jika aku hanya mengaguminya?
"Lalu kenapa kau emosi ketika aku ingin mendapatkannya?
Ibra masih dengan mode jahilnya.
Dengan sekuat tenaga Matteo menahan amarah sambil menggertak kan gigi geraham nya " Karena lelaki sialan seperti mu tidak pantas untuk Altea! Matteo meninggikan suaranya .
"Memangnya kau sudah pantas untuknya?
Ibra berjalan keluar sambil meraih kunci mobil yang dia letakkan sebelumnya di meja.
Namun,dengan cepat Matteo meraih kunci itu dan melemparnya ke sembarang arah .
"katakan apa yang sudah kau lakukan dengan Altea tadi ! Matteo masih dipenuhi rasa emosi.
Matteo hapal betul sifat Ibra sama dengan sifat Daniel yang suka meniduri wanita untuk kesenangan nya. Pikirannya sudah menerka apa jadinya jika Altea masuk kedalam perangkap neraka Ibra.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan tadi makanya dia ketakutan ? Senyum licik menghiasi wajahnya, Ibra seakan lupa tujuannya bahwa dia hanya berniat menjahili Matteo.
Matteo memutar kembali ingatannya ketika dia menarik paksa tangan Atea ketika dia mencoba menjauh darinya. "Aku tidak sengaja" kalimat inilah yang mampu dikeluarkan Matteo.
"Aku mengajaknya pulang namun dia menolak ku, aku hanya berusaha membujuknya " malas sekali rasanya Matteo mengingat kembali memori nya ketika Altea menolak diantar olehnya.
"Kenapa dia menolak mu dan menerima tawaranku untuk diantar? Ibra masih tidak mau menyelesaikan perdebatannya dengan Matteo
"Apa kau sedang membandingkan kau dengan aku??? Matteo kembali menatap tajam Ibra
"Aku tidak membandingkan mu, Aku hanya menebak jika dia menolak ajakanmu karena ada alasan.. Ibra mencoba membuka pikiran Matteo.
"Alasannya karena dia dijemput pacarnya !
ketus Matteo sambil mendudukkan kembali bokongnya di kursi.
"Aku rasa bukan itu, saat aku mengantarnya sampai ke depan rumahnya dia memintaku keluar menemui ayahnya untuk menghindari salah paham" Ibra kembali mendudukkan bokongnya di kursi karena dia merasa Matteo sudah meredam emosinya.
"Aku sudah mengenalnya dan ayahnya!
Matteo kembali menceritakan dengan tenang bagaimana pertama kali dia kenal dengan Ilham ketika dia mabuk dan Altea membawa Matteo dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Aku rasa kau perlu berkaca! Ibra kembali membuka suara sambil tertawa mengejek kearah Matteo.
Matteo kembali melayangkan tatapan tajam nya.
"Tariklah kesimpulan mu sendiri mengapa Altea menjauh dari mu. Ibra kembali berdiri dan mengedarkan pandangannya untuk mencari kunci yang sudah dilempar oleh Matteo entah kemana.
"Apa maksud mu? Matteo kembali melayangkan pertanyaan.
"apa kau bodoh? kau menunjukkan sikap mu yang buruk dihadapan orangtuanya sudah pasti orangtuanya menyuruh Altea menjauhi mu "
Seketika kepala Matteo berdenyut seakan sudah mendapat jawaban kenapa Altea akhir akhir ini menjauhinya.
"selesaikan urusanmu dengannya"
Satu kalimat yang diucapkan oleh Ibra sebelum dia pergi meninggalkan Matteo diruang VIP.
Bersambung....
kira kira gimana lanjutannya ya...
Bantu like dan komen😌