
"Cantik apa dirimu sudah makan? " Disela sela perbincangan mereka Ratna menanyakan apakah Altea sudah makan atau belum.
Mungkin ini hanya basa basi tapi yang jelas ini adalah bentuk perhatian kecil yang diberikan Ratna kepada Altea.
Altea hanya mengangguk sambil tersenyum ramah. "Ah Altea, kamu disini dulu yah, Tante mau ke luar membeli makanan " Ratna memegang pundak kiri Altea.
"Makanan untuk apa tante ?"
"Matteo tidak mau makan dari tadi siang , mungkin karena Matteo tidak terbiasa makan makanan rumah sakit" Ratna senyum sambil berdiri.
Mendengar itu Altea melihat nampan berisi bubur diatas meja ,tampak dari tampilannya makanan itu tidak tersentuh sama sekali.
"Mengapa kamu tidak makan?" Tanya Altea.
"Aku tidak selera" ujar Matteo.
Altea paham jika seseorang sedang sakit sudah jelas ***** makan pasti berkurang. Hal itu juga dialami oleh Ilham ayahnya , ketika dirumah sakit dia dan ibunya harus bersusah payah memaksa agar Ilham makan.
Altea kemudian mendekatkan nampan dan mengambil mangkok berisi bubur putih
"Kau harus makan" ucap Altea sambil membuka penutup mangkok itu.
Melihat Altea membuka penutup bubur senyum mengembang terpampang di wajah Matteo. "Apa dia akan menyuapi aku makan? "
Seketika dia refleks bangun dan membenarkan posisinya. Rasanya Matteo tidak sabar menerima suapan demi suapan dari tangan Altea.
"Ini kamu makan " Altea menyodorkan mangkok berisi bubur itu ke tangan Matteo, dia juga tidak lupa mencelupkan sendok kedalam bubur.
Matteo yang melihat itu seketika lemas bukan main, dia sudah membayangkan tangan mungil Altea akan menyuapinya.
Namun dia tidak kehabisan akal, dia mencoba mencari alasan agar Altea menyuapinya tanpa paksaan.
"Tanganku tidak bisa banyak bergerak, nanti darahnya naik, selama aku sakit mama menyuapi aku makan " Ucap Matteo dengan lirih sambil menunjukkan selang infus yang menancap di tangan kanannya.
Mendengar suara lirih Matteo seketika Ibra dan Gio saling memandang dengan tatapan sulit diartikan.
"Seorang gangster " Batin Ibra sambil menggelengkan kepalanya. Dia hapal betul sahabat nya itu, bersikap manja dan lebay rasanya bukan tipe seorang Matteo.
Hati kecil Altea merasa jika selang infus bukanlah alasan untuk tidak makan, namun ketika Altea melihat ada darah di dalam selang infus Matteo , akhirnya dia menganggap jika itu alasan masuk akal.
Sambil menghembuskan nafasnya dia meraih mangkok dari tangan Matteo " Buka mulutmu". Perintah Altea bagaikan sihir bagi sistem kerja otak Matteo.
Dengan cepat Matteo membuka mulutnya dan menerima suapan pertama, dengan pelan lidah Matteo meresapi rasa bubur putih yang hanya dicampurkan dengan garam.
Jika dia bisa berkomentar rasa bubur itu sangatlah tidak enak. Namun setelah memandang wajah Altea seketika rasa asin yang ada didalam bubur itu berubah menjadi manis.
"Kau lama sekali menelan" Gerutu Altea karena Matteo lama membuka mulut.
"Tenggorokan ku susah menelan makanan" Matteo berucap dengan nada rendah dan menatap bola mata Altea dengan sendu.
Mendengar suara lembut Matteo seketika Gio dan anggota geng yang sedang asik bermain game menghentikan aktivitas mereka.
Mereka terperangah dengan sendunya suara Matteo, mereka saling memandang serasa tidak yakin jika Matteo bisa berbicara lembut bahkan terdengar lirih seperti itu.
Sebenarnya Matteo sengaja berlama lama menelan bubur yang ada didalam mulutnya, agar dia bisa menikmati cantiknya wajah Altea dibumbui dengan perhatian yang tulus rasanya membuat Matteo sedang terbang ke awan.
Didalam hati Matteo berterimakasih kepada Gio yang secara tidak langsung membantunya mendapat perhatian Altea.
Darah yang ada di selang infus Matteo adalah ulah kejahilan Gio beberapa jam yang lalu. Dan Matteo menjadikan darah itu alasan yang masuk akal.
"Aku mau lagi, aku masih lapar" ucap Matteo yang melihat bubur didalam mangkok sudah habis. Altea kebingungan dia menekan bel untuk memanggil petugas ahli gizi agar mengantar bubur putih.
"Bukankah tadi kau tidak lapar?" Ibra yang tadinya hanya diam kemudian membuka suara.
"Siapa yang bilang aku tidak lapar, aku hanya tidak selera makan" sangkal Matteo
"Itu sama saja " sahut Ibra.
"Itu beda, aku tidak selera makan bukan berati aku tidak lapar" Matteo menegaskan kalimatnya sambil mengalihkan pandangannya kearah lain seolah merajuk.
"Fix lah, dirimu sedang jatuh cinta "batin Ibra.
Bersamaan dengan itu Ratna datang sambil membawa styrofoam didalam plastik kresek,hendak memberikannya kepada Matteo.
"Sudah Tante tapi dia masih lapar"
"Masih lapar? Ratna memperjelas kalimat Altea .
"Iya aku sudah menekan bel, tapi tampaknya perawat belum datang" Altea melirik pintu yang masih tertutup.
"Iya sudah makan yang ini saja , Tante sengaja beli untuk Matteo dan juga untuk mu" Ratna menyodorkan plastik kresek itu ke tangan Altea.
Altea kemudian membuka styrofoam itu namun isinya bukanlah bubur tapi nasi + ayam goreng.
Altea lalu mengambil sendok ,tapi dia kesulitan untuk memotong ayam menggunakan sendok itu.
"Kamu pakai tangan saja tidak apa apa" Ucap Matteo karena melihat Altea kesulitan. Lebih tepatnya dia memang ingin memakan makanan dari tangan Altea.
Akhirnya Altea menyucikan tangannya di wastafel agar dia bisa menyuap Matteo menggunakan jarinya.
Ibra, Gio dan anggota geng lainnya hanya geleng geleng kepala melihat Matteo.
Berbeda dengan Matteo dia bersikap santai dan menikmati makanan dari tangan Altea. Masa bodoh lah jika ini menjadi aib nya pokoknya semua hal ketika bersama Altea adalah spesial buat nya.
Ratna yang melihat Altea menyuapi putranya dengan menggunakan tangan sangat terkejut.
Matteo dikenal sangat menjaga kebersihan makanan yang masuk kedalam tubuhnya.
Sambil menatap Matteo sejenak dia tersenyum, Ratna menyadari dengan kehadiran Altea banyak mengubah mood putra bungsunya itu.
Sampai akhirnya Altea menyelesaikan kegiatannya menyuapi Matteo.
"Apa dirimu masih merasa lapar? aku akan pesankan makanan lagi" Ucap Ibra dengan nada menyindir.
"Diam lo sialan ! " Umpat Matteo dengan tatapan tajamnya.
" Aku serius, aku akan menyuapi mu jika kau masih lapar " Ibra semakin menggoda Matteo.
"Siapa yang mau makan dari tangan kotor mu itu brengsek !! " Matteo menegaskan kalimatnya, mode original Matteo kembali muncul.
Jam menunjukkan pukul 21.00 WIB. Alarm rumah sakit terdengar untuk mengakhiri jam kunjung keluarga pasien.
Altea akhirnya pamit, dia juga tidak mau pulang terlalu malam mengingat kejadian yang menimpanya beberapa hari yang lalu.
"Kau bisa pulang denganku" Ucap Gio sambil memakai jaket hitamnya, karena mereka juga hendak pulang.
"Tidak usah,Aku naik taksi saja" Altea menolak mentah mentah, dia masih trauma dengan insiden horor yang masih terngiang di kepalanya.
Gio akhirnya tidak memaksa, biar bagaimana pun itu adalah hak Altea. Dia hanya berbaik hati menawarkan, jika Altea menolak dia hanya bisa menerima.
"Tante pulang saja, aku yang menjaga Matteo disini" ucap Ibra .
"Apa dirimu tidak keberatan nak? " ucap Ratna memastikan.
"Tante seperti baru mengenal aku saja" ujar Ibra santai.
"Iya sudah kalau begitu, Altea kamu pulang dengan tante saja nak ayo" Ratna menarik tangan Altea.
Semua anggota geng satu persatu menautkan kepalan tangannya kepada Matteo sambil berpamitan. "Lekas sembuh bos!!!" ucap Guntur
Didalam ruangan tersisa lah Matteo dan Ibra setelah yang lain pulang.
"Kau mencintai Altea bukan?
Ibra menghidupkan pemantik rokoknya dan menghirup asap rokok dengan dalam.
"Apa yang kau katakan" Matteo memperbaiki posisi tubuhnya.
"Tapi aku tidak yakin jika Altea mencintai mu" Ucap Ibra tanpa sensor.
"Apa kau tau jika Altea baik kepada semua orang termasuk samaku" Ibra menambahkan kalimatnya.
Bersambung....
maaf jika ceritaku agak membosankan. Ikuti terus ya..