Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Ternyata Dia Sultan


Altea terbangun kala mendengar ponselnya berdering. "Siapa sih... Altea meraih ponselnya yang terletak di meja.


"Ia halo.... suara Altea terdengar serak khas baru bangun tidur


"Maaf nak ,apa ibu mengganggu?


"Tidak, ini siapa ya? Altea bertanya sambil mengumpulkan kesadarannya.


"Ini saya mamanya Matteo, apa kamu ingat nak? Ratna bertanya dengan nada halus.


"Ahh maaf iya saya ingat, ada apa tante, apa Matteo baik baik saja? Altea spontan melayangkan pertanyaan.


"Ia nak dia baik, Bisakah tante meminta waktumu sebentar? kita bertemu di cafe Swift dijalan garu, ibu tunggu ya nak. "


Tut.. tut.. Tut ..


Altea kemudian turun dari tempat tidur dan membuka jendela, matanya membulat sempurna melihat matahari sudah terang .


Ia segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Kenapa ibu tidak membangunkan ku" Altea menggerutu sambil menggosok giginya.


Dia kemudian keluar dari kamar dan mendapati Ilham duduk sambil menikmati teh diruang tamu " ayah... ibu kemana?


"Ke pasar sebentar ,ada apa nak?


"ich kenapa aku tidak dibangunkan...


Altea menampilkan wajah kesalnya, Maklum ini adalah hari Minggu biasanya Altea akan ikut belanja bahan masakan ke pasar tradisional bersama ibunya.


Ketika pergi ke pasar bersama ibunya dia juga selalu menikmati sate dan martabak yang ada di pasar tradisional itu.


Dia tidak mau melewatkan dua makanan kesukaan yang sepertinya sudah menjadi candunya dihari Minggu.


"Tadi ibu mu mau membangunkan mu,tapi dia tidak tega melihat mu tidur seperti mayat hidup" Ilham kembali menyeruput tehnya sambil tertawa kecil.


"A a a ayah !!! Altea memukul mukul lengan Ilham dengan lembut. Ilham hanya tertawa kecil menyaksikan anak gadisnya itu.


"Hari ini kamu tidak bekerja bukan? Ilham kembali bertanya.


"tidak ayah, tapi.... Altea menggantung kalimatnya. "Tapi apa nak? Ilham menengadah melihat wajah putrinya sambil mengelus dengan sayang. "Ibu Matteo mengajakku bertemu" Altea mengerucutkan bibirnya.


Bersamaan dengan itu Sofi masuk dan menenteng keranjang dan plastik kresek yang berisi bahan makanan.


Ilham spontan membantu istrinya itu mengangkat ke dapur. Sofi mendekati Altea yang duduk di kursi dengan wajah masam.


Dia menyadari jika anak gadisnya itu sedang merajuk. "Ikut ibu ke dapur, ibu membeli sate dari tempat biasa untukmu" seketika Altea menampilkan senyumnya yang mengembang.


Altea dengan langkah girang langsung mengobrak abrik keranjang belanjaan ibunya untuk mencari bungkusan makanan kesukaannya. "Ini dia "


Altea mengambil piring dan membuka bungkusan itu kemudian dia menyantapnya dengan lahap.


Sofi dan Ilham hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan putrinya itu. Namun mereka senang Altea bertumbuh dengan adanya .


Sebagai orang tua mereka senang melihat putrinya begitu bahagia karena hal sederhana.


Tidak bisa dipungkiri jika Altea menuruni sifat sederhana ibunya.


Kebahagiaan Sofi dia tidak perlu dengan hal yang spesial cukup dengan cara sederhana dia sangat menikmatinya, dan hal itu turun kepada Altea gadis cantik dan berhati polos yang selalu mereka banggakan.


"Ibu , ayah apa setelah ini aku bisa keluar menemui ibu Matteo? Altea bertanya sambil memasukkan suapan terakhir kedalam mulutnya.


"Memangnya ada apa nak? Sofi bertanya sambil mengupas kentang menggunakan pisau cutter.


Altea kemudian memberi tahu bahwa baru saja ibu Matteo menelponnya dan meminta bertemu. Dia juga menceritakan pertama kali dia mengenal ibu Matteo di kampus.


Mendengar hal itu Sofi dan Ilham membiarkan putrinya pergi menemui Ratna. "Kamu bisa pergi setelah sarapan " Ilham berbicara dengan nada santai.


"Apa ayah tidak melihat piring ini kosong? Altea menunjukkan piring kosong kepada ayahnya.


"Makan sate juga adalah sarapan ayah, dan aku sudah melakukannya" Altea kemudian melanjutkan kalimatnya.


Ilham kembali tersenyum melihat putrinya itu sangat pandai mencari alasan. "Iya sudah sana jangan lupa pulang tepat waktu ya" Sofi menimpali dan memperingati Altea sebelum putrinya itu masuk ke kamar. "Siap bos !!!


Altea mengganti pakaiannya dan memoles sedikit wajah nya dengan bedak.


Kemudian dia memakai kaos oblong putih dipadukan dengan rok jeans selutut. Rambut gelombangnya dia biarkan menggerai.


"Ayah ,ibu aku pamit " Altea mengeraskan suaranya agar kedua orang tuanya mendengar dari dapur "Ia hati hati" .


Sebelum keluar dari pintu dia meraih sepatu pansus warna hitam dan mengenakannya untuk melapisi kaki mungil dan putih milik nya.


Dengan menaiki angkutan umum dia tiba di depan cafe yang dimaksud oleh Ratna ibu Matteo.


sedang menjaga pintu untuk memastikan jika dia tidak salah alamat.


Altea mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan untuk mencari sosok Ratna ibu Matteo. "Apa aku salah alamat,Disini sepi sekali" . Altea membatin.


Altea kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi nomor ponsel Ratna. Belum sempat dia menekan call Ratna sudah datang dari belakangnya. "Kamu sudah sampai nak?


Altea membalikkan badannya dan tersenyum ramah kemudian dia mengulurkan tangannya seraya memberikan salam kepada Ratna.


"Kita duduk di sana ayo... Ratna menunjuk VIP room di ujung kiri. Altea hanya mengangguk malu sambil mengekor dibelakang Ratna.


"Kamu mau pesan apa nak? Ratna menyodorkan daftar menu ke depan Altea.


"Tante kenapa kita tidak duduk disitu saja? kalau di ruangan privat kek gini pasti beda harga, biasanya lebih mahal" ucap Altea sambil menutup buku daftar menu dihadapannya.


Altea memang mengetahui jika diruang VIP lebih mahal ketimbang meja biasa atau ruangan biasa. Karena dia juga bekerja di restoran ternama jadi dia hapal betul pengelompokan variasi harga di restoran atau cafe.


Ratna hanya tersenyum mendengar penuturan polos anak gadis yang sedang menampilkan wajah imutnya itu.


"Maaf nona cafe ini milik nyonya Ratna, jadi tidak ada harga yang harus dibayarkan" ucap salah seorang pelayan yang berdiri di dekat mereka menunggu menu apa yang hendak mereka pesan.


Altea hanya menganggap dan menundukkan kepalanya dia tersipu malu "ternyata dia sultan"batin Altea.


Kemudian Altea melirik pelayan itu sejenak "Aku pesan ini aja kak " dia menunjuk salah satu menu chicken finger dan milk shake.


"Baik nona pesanan anda akan datang 5 menit lagi silahkan ditunggu " pelayan itu kemudian berlalu.


Setelah menunggu sekitar 5 menit ,pelayan datang dan meletakkan menu pesanan dihadapan Ratna dan Altea.


Mereka menikmati makanan itu sambil membuka obrolan manis.


"Apa tante mengganggu mu nak? Ratna bertanya.


"Tidak tante, setiap hari minggu aku tidak bekerja" Altea menjelaskan dengan malu malu.


"Selain cantik, polos,dan baik hati ternyata dirimu juga pekerja keras " Ratna hanya membatin dalam hatinya . Tempo lalu dia bertemu Altea di kampus ,awalnya Ratna beranggapan jika Altea adalah mahasiswa.


Namum sekarang anggapan itu mungkin sudah berbeda.


"Memangnya Tante perlu apa sampai menyuruh saya datang kesini? Altea bertanya to the poin.


"Apa tante tidak bisa menemui orang spesial?"


uhuk uhuk uhuk... Altea tersedak mendengar kalimat Ratna , secepat mungkin dia menenggak air mineral yang tersedia di meja.


"kamu makan pelan pelan ya" Ratna tersenyum kemudian mengelus tangan Altea dengan lembut.


"Tante kenapa ngomong gitu sih" Altea kembali menikmati makanannya. "itu yang tante lihat "


Ratna menjawab santai sambil memasukkan makanan kedalam mulutnya.


"Memangnya tante lihat apa?


"Tante tidak bisa mengatakan apa apa, tapi tante hanya merasa jika dirimu bisa mempengaruhi anak saya"


Ratna memutar ingatannya ketika menemui Matteo di apartemen, bagaimana Matteo mencekal tangannya dan bagaimana perubahan raut wajah Matteo ketika Ratna menarik Altea dalam pembicaraan mereka.


Sontak Altea terkejut ,dirinya merasa dipojokkan.


"Aku tidak pernah mempengaruhi Matteo tante, dia sendiri yang sering datang membantu saya, dan soal dia menginap itu juga keputusan dia sendiri. Aku ,ayah dan ibu tidak pernah memaksa Matteo " Altea berusaha membela diri dengan mengungkapkan kembali kebenaran.


"Kamu ngomong apa sayang? Ratna tertawa kecil sambil menyeruput minumannya.


"Lalu aku harus bagaimana? Aku sudah memenuhi permintaan tante untuk tidak menjauhi Matteo karena keburukannya" Altea menunduk karena dirinya tidak percaya diri berbicara terbuka dengan Ratna.


"Tidak cukup sampai disitu nak" Ratna kembali mengelus tangan Altea dengan lembut. "Tante berharap kamu bisa menularkan hal positif" Ratna mengucapkan kalimatnya disertai dengan raut wajah sendu.


Altea hanya menatap lekat wajah sendu Ratna, dia kembali melihat wajah penuh guratan kesedihan yang mewakilkan perasaan wanita paruh baya itu.


"Besar harapan tante kamu bisa mengubah sikap Matteo nak, tante juga menduga jika kamu menyukai putra saya" Ratna menatap lekat kepada Altea dan kemudian menarik senyumnya .


"Tidak ! aku tidak menyukainya tante salah" Altea mengerucutkan bibirnya merasa tidak terima.


"Siapa juga yang menyukai pria menyebalkan seperti itu" batin Altea.


Bersambung......


Episode selanjutnya segera...