Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Pulang dari rumah sakit


Pagi ini diawali dengan Matteo yang terbangun dari tidurnya, dia mengedarkan pandangan ke segala arah namun tidak menemukan siapa siapa didalam ruangannya.


"Kemana Ibra "


Dia duduk dan memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, "Pagi sayang.... " Ratna datang dan menyapa Matteo sambil membuka gerai gorden agar sinar ultraviolet menembus kedalam ruangan Matteo.


"Sejak kapan mama disini? Tanya Matteo


"Baru saja, begitu dokter memberitahu bahwa pagi ini kamu sudah bisa pulang, mama langsung kesini sayang" Ratna mengusap rambut Matteo dengan sayang.


"Lalu Ibra kemana?


"Dia sedang diruang administrasi "


Tidak menunggu lama Ibra masuk bersama David , Matteo yang tadinya bersemangat pulang tiba tiba merasa terbebani melihat ayahnya.


"Sayang, dengarkan mama sebentar" Ratna menangkup kedua pipi Matteo .


"Ada apa ma?


"Lihat mama kalau bicara"


"Buruan ah" Matteo berdecak kesal.


"Sampai keadaan mu benar benar pulih kamu tinggal dirumah biar mama sama papa bisa memantau mu" ungkap Ratna dengan nada memohon.


"Lebih tepatnya papa tidak memberimu izin tinggal diluar " Dengan tegas David memperbaiki kalimat istrinya.


Matteo memalingkan wajahnya seolah dia sama sekali tidak tertarik dengan topik itu.


"Papa tidak mau mendengar bantahan , dan papa harap kamu paham" David menatap Matteo dengan tatapan yang tidak terbaca.


"Selama kau masih lajang dan belum menikah kehidupan mu masih tanggung jawab kami dan papa tidak mengizinkan mu bekerja di perusahaan Daniel" David menambahkan kalimatnya karena melihat Matteo seolah tidak perduli, dia juga mengatakan itu karena berpikir aspek pribadi Daniel dan Ibra sangat mempengaruhi putranya.


"Tanggung jawab seperti apa yang papa maksud?" Matteo tersenyum sinis namum pandangannya tetap berpaling.


"Tidak ada yang berhak mengatur kehidupanku, toh aku bisa hidup mandiri diluar bukan?" sanggah Matteo kembali.


Matteo mengingat bagaimana selama tiga bulan ini dia tidak mendapat fasilitas apapun dari ayahnya namun berkat kerja kerasnya dia masih bisa bertahan hidup.


"Mau jadi apa kamu diluar sana hah? mau mempermalukan papa? " David berusaha menahan emosinya.


"Aku bekerja di perusahaan Daniel, lalu apa masalahnya, aku tidak mencuri atau mengemis " Matteo berusaha setenang mungkin.


"Perusahaan Daniel bekerja sama dengan perusahaan papa, lalu bagaimana jika klien papa mengetahui bahwa putra David Smith berkerja di perusahaan orang lain ,mau saya letakkan dimana harga diri saya?" David menaikkan suaranya satu oktaf.


"Itu urusan papa ,bukan urusan ku" Matteo berucap datar sambil melangkahkan kakinya.


David hanya menahan geramnya karena ini bukan pertama kali Matteo bersikap acuh dengannya.


"sayang, tenang ya " Ratna mengelus punggung suaminya.


"Mama dan papa tidak memberimu izin tinggal di apartemen mu itu Matteo" Ratna dengan derai air mata menahan tangan Matteo.


Ingin rasanya Matteo mendekap tubuh mamanya, sejujurnya dia tidak sanggup melihat wanita yang sudah melahirkannya mengeluarkan air mata.


"Mama lepaskan " Matteo menarik halus tangan Ratna yang melingkar di lengannya, sambil mengenakan jaket dia keluar dari ruang rawat inap tempat pemulihannya selama seminggu.


Ratna hanya menatap punggung Matteo yang perlahan menghilang dari balik pintu.


David kemudian mendekap tubuh istrinya sambil memapah keluar .


Sementara Matteo berniat pagi ini akan kembali bekerja setelah mengabari Daniel.


.


.


.


Di tempat lain Altea sedang berangkat ke kampusnya namun di tengah jalan dia melihat geng motor sedang ngebut disepanjang jalan.


Beberapa menit kemudian angkutan umum yang dia tumpangi berhenti di depan kampus Altea turun bersamaan dengan mahasiswa lainnya.


Namun matanya menangkap geng motor yang sedang ngebut di jalanan tadi, berhenti juga di depan kampusnya, dan ternyata geng motor tersebut adalah Gio dan kawan kawannya.


"Ternyata mereka kuliah disini juga " Batin Altea.


Gio dan anggota geng lainnya sebenarnya sudah tau jika Altea kuliah di kampus yang sama dengan mereka.


Mereka juga mendapat tugas dari Matteo sang ketua geng mereka untuk mengawasi Altea selama di kampus.


Setelah menyelesaikan mata kuliah nya Altea pergi ke kantin dan mendatangi salah satu stand jualan Boba. " Bu pesan 1 ya" Altea membuka dompetnya untuk mengambil uang.


"Hai Altea..... " Gio menyapa Altea.


"Hai sedang apa kamu disini? " Altea pura pura tidak tahu jika Gio dan geng nya juga kuliah di kampus yang sama dengannya.


"Nongkrong bersama anak anak" Ucap Gio sambil menunjuk salah satu meja yang dihuni oleh gengnya.


"Sudah ,dia sudah pulang tadi pagi" jawab Gio.


"Baguslah kalau begitu, apa kamu mau Boba? " Altea menawarkan Gio.


"Boleh " ucap Gio singkat.


"Bu tambah satu lagi ya " ucap Altea meninggikan suaranya agar penjual mendengar. "Baik non".


Setelah pesanan mereka datang Altea memberikan satu Boba kepada Gio tak lupa dia juga menusukkan sedotan kedalam Boba sebelum menyerahkannya kenangan Gio.


"Kalau begitu aku duluan pulang ya " ucap Altea sambil menusuk sedotan kedalam Boba miliknya.


"Apa aku perlu mengantar mu? "


"Tidak , aku sama kawan kok" Altea menolak halus.


"Baiklah terimakasih traktiran mu, hati hati dijalan" ucap Gio.


Altea hanya menganggukkan kepalanya dan segera pergi. Mendengar jika Matteo sudah pulang dari rumah sakit dia berencana kembali bekerja ke restoran milik Ibra.


Setelah melewati koridor kampus Altea menoleh ke kanan saat mendengar suara menyapanya.


"Kak Rafael, sedang apa disini?


"Aku mau ke rumah mu melihat keadaan pak Ilham" Rafael mengatakan niatnya.


Awalnya Altea berencana akan kembali bekerja mulai hari ini, tapi karena Rafael menjemputnya rasanya dia tidak bisa menolak.


"Lalu kenapa kesini? ayah kan dirumah" sahut Altea sambil menarik senyum lucunya.


"Aku segan datang sendiri, maka dari itu aku ke seni terlebih dahulu menjemput mu" sahut Rafael.


Altea sudah tidak bisa berkata kata dan akhirnya dia mengalah. "Ayo" Rafael membukakan pintu mobilnya dan mempersilahkan Altea masuk.


Gio yang melihat Altea masuk kedalam mobil seseorang segera mengambil ponselnya dari sakunya dan membidik dengan kamera kemudian mengirim gambar itu kepada Matteo.


.


.


.


Matteo mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangan nya melihat foto yang dikirim Gio tangan kanannya.


"Sialan!


"Kau kenapa ?" Daniel datang dan mendudukkan bokongnya di sofa ruangan Matteo. "Tidak apa apa " Matteo mengalihkan pandangannya.


"Benarkah? " Daniel menelisik kebohongan didalam bola mata Matteo. "Katakan jika ini ada hubungannya dengan Altea" Daniel langsung paham .


"Pria brengsek itu mendekati Altea lagi" Matteo terlihat emosi mengucapkan kalimatnya.


"Lalu apa masalahnya? Tanya Daniel memancing Matteo.


"Kau bertanya apa masalahnya ? Altea tidak boleh dekat dengan siapa pun, aku tidak membiarkannya" Tegas Matteo.


"Apa hak mu melarang dia dekat dengan lelaki lain? Kau bukan pacarnya, dia bahkan tidak tau jika kau menyukainya " Daniel mengangkat kakinya dan menyandarkan punggungnya.


"Tapi dia menyukaiku buktinya dia menyuapiku makan dirumah sakit semalam" dengan rasa percaya diri Matteo mengatakan jika Altea menyukainya.


"Berarti Altea juga menyukai Rafael karena dia juga menyuapi Rafael makan dirumahnya ketika kamu memukulinya" Daniel tertawa meledek.


"Darimana kamu tahu? Matteo menatap curiga kepada Daniel.


Daniel menceritakan bagaimana Ibra menyuruhnya mencari tahu indentitas Rafael.


Tempo hari Ibra memang mendatangi Daniel ke kantornya dan menceritakan Matteo yang menyukai seorang wanita yang tak lain adalah karyawannya sendiri.


Dia juga menceritakan Altea adalah penyebab Matteo frustasi sehingga mabuk parah dan berakhir masuk rumah sakit.


Akhirnya Matteo mengetahui bahwa Rafael adalah sepupu Daniel


"Apakah dia sama dengan mu? Matteo tersenyum sinis menatap Daniel.


"Tidak, aku tidak ada apa apanya dibanding dia"


Daniel tertawa seakan menertawakan kehidupannya.


Awalnya Rafael adalah salah satu kandidat untuk meneruskan perusahaan yang sekarang dipimpin oleh Daniel.


Tapi Rafael menolak karena dia adalah Ahli waris selaku cucu satu satunya dari pihak kakek ayah ibunya.


Mendengar itu jelas saja Matteo lemas dan cemas, jika saja sisi kehidupan Rafael sama dengan Daniel masih ada kemungkinan dia bisa bersaing.


Dirinya bahkan semakin frustasi mengetahui lelaki yang dekat dengan Altea adalah seorang ahli waris dan berkepribadian yang baik.


Bersambung.....