
Altea berjalan dengan cepat melewati lorong arena sambil mengeratkan jaket yang ia kenakan. Dia tidak mempedulikan Matteo yang dari tadi mengejarnya.
Sebenarnya dia tidak ingin menemui Matteo saat ini, dia begitu murka melihat pria itu yang seenak nya memukul Rafael di bandara, padahal Rafael tidak tau apa apa ,bahkan Rafael lah yang sudah membantunya.
Namun mendengar permintaan Ibra dua jam yang lalu membuat Altea mengesampingkan amarahnya. Melalui penjelasan singkat Ibra akhirnya dia tau sedikit mengenai pribadi Matteo.
"Altea dengarkan aku sebentar" ucap Matteo yang berhasil menahan tangan Altea.
Sejenak Altea menghentikan langkahnya,
"Aku tidak habis pikir dengan mu! Ucap Altea lirih.
Tampak Matteo menyeka darah segar yang mengalir di pelipis kirinya menggunakan siku tangannya.
Niat awal Altea hanya bertujuan menarik Matteo keluar dari ring, setelah itu dia pulang sesuai yang dikatakan oleh Ibra, setidaknya dia sudah membantu Ibra pria yang pernah menjadi atasan atau bosnya untuk mengehentikan Matteo.
Namun melihat kondisi Matteo seperti ini membuat Altea tidak tega. Dia melihat jelas wajah Matteo babak belur, serta kedua tangan Matteo terluka parah mungkin akibat banyaknya serangan yang dia lakukan untuk lawan mainnya di atas ring.
"Maafkan aku tadi pagi" ucap Matteo memandang Altea.
"pulang lah, kamu butuh istirahat" ucap Altea berbalik, di benar benar menghindar kontak mata dengan Matteo.
"Aku akan pulang setelah kau memaafkan ku"Matteo memegang pergelangan kakinya karena merasa keram hebat.
"Kau tidak bersalah denganku, kau bersalah dengan Rafael, jadi sampaikan maaf mu untuknya " Ucap Altea seraya berbalik ,matanya kemudian menangkap Matteo yang menunduk memegang pergelangan kaki.
"Kalau itu tidak akan pernah terjadi ! " tegas Matteo kemudian menegakkan tubuhnya sambil meringis menahan sakit di sekujur tubuh yang mulai terasa.
Ingin rasanya Altea meluapkan kekesalannya kepada Matteo saat ini juga karena melihat pria itu sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun atas ulahnya.
Tapi melihat keadaan Matteo yang begitu memprihatinkan perlahan Altea bisa meredam amarahnya.
Altea menelisik wajah Matteo yang terlihat lebam dan beberapa sudut wajahnya mulai membengkak. Itu masih di area wajah ,dia belum melihat sekujur tubuh Matteo.
Dengan rasa kemanusiaan yang tinggi dia mulai mendekati Matteo. "Sebaiknya kau harus pulang" , ucap Altea sambil meraih tangan anak muda itu serta mengalungkan dilehernya.
Bersamaan dengan itu Daniel dan Ibra baru saja keluar dari arena. "Bantu aku mencarikan taksi " Altea menaikkan volume suara agar Daniel dan Ibra mendekat.
"Bawa kedalam mobilku saja,biar aku yang antar dia pulang" ucap Ibra datar.
"Bawa ke rumah sakit saja" Ucap Daniel.
"Aku baik baik saja ,tidak usah" Matteo menolak ide Daniel.
"Kau tinggal pilih ke rumah sakit atau langsung ke rumah Tuhan di surga ?" Daniel menggoda Matteo.
"hah jangan gila, neraka saja belum tentu mau menerimanya apalagi surga " Ibra menimpali godaan Daniel.
"Apa kau sedang berpura pura lemas? tadi kau belum seperti ini " Ucap Ibra menatap curiga.
Dia mengingat betapa brutalnya Matteo diatas ring, ketika dia turun menghampiri Altea juga nampak dia baik baik saja.
"Selain jago fighting dia juga jago akting " Daniel tidak kalah menjahili Matteo.
Tampak Matteo tidak menanggapi godaan kedua sahabatnya, itu artinya sekarang keadaanya benar benar lemas.
"Kau ikutlah " Ibra menyadarkan Altea yang sibuk memperhatikan Matteo.
Altea kemudian duduk di samping Matteo, sesekali dia melirik anak muda itu untuk memastikan keadaannya.
"Apa aku menghubungi kelurganya saja ?
Suara Altea memecah keheningan didalam mobil.
"Ide bagus " Daniel membenarkan ucapan Altea.
"Kau mau nyari mati? ,kau tau kan om David akan marah besar, bisa bisa nanti ancaman untuk membubarkan Arena benar benar terjadi bodoh" Ibra melayangkan protes.
"Maksudnya gimana ? Altea yang tidak mengerti langsung bertanya.
"Sebaiknya urungkan niat mu, nanti kita mendapat masalah besar" ucap Daniel.
"Masalah besar gimana ? Altea semakin penasaran.
Sejenak Ibra dan Daniel saling memandangi, akhirnya mereka sadar jika Altea belum sepenuhnya tau masalah pribadi dan kehidupan Matteo.
"Melihat keadaan pasien kami sarankan menjalani perawatan intensif sementara, pasien mengalami benturan keras di bagian dada dan pergelangan kaki, diagnosa pertama saya dia sedang mengalami patah tulang di bagian tulang rusuk, tapi sebentar lagi kami akan melakukan rontgen untuk memastikan apakah ada patah tulang atau kerusakan organ lainnya." ucap dokter yang menangani Matteo.
"Patah tulang? " Daniel menghela nafasnya dan memandang Ibra seolah meminta pendapat.
"Lakukan yang terbaik dok" hanya kalimat itu yang dapat keluar dari bibir Ibra.
"Pantas saja dia lemas, Oalah beban beban!! " Ibra memegang keningnya dan menepuk pelan seakan dia sedang pusing.
"Apa kami bisa masuk dok? Altea kemudian membuka suara.
"Silahkan ,saya tinggal dulu" ucap dokter.
Altea kemudian menyibak tirai yang menutupi area perawatan Matteo, mereka melihat Matteo tidur dengan bertelanjang dada, tampak alat kesehatan menempel di permukaan kulit serta jarum suntik yang menancap di tangan kanan Matteo.
"Selain berlangganan di arena dan di klub, dia juga sudah mulai berlangganan BPJS" ucap Ibra sambil mendudukkan bokongnya di kursi..
"Itu sudah dari dulu" timpal Daniel.
"Matteo serius langganan BPJS ??" Altea dengan polos memastikan karena dia tidak percaya sekelas Matteo menggunakan jasa BPJS.
Ibra dan Daniel kembali saling memandang, mereka sadar jika Altea adalah gadis lugu dia juga polos .
"Sebaiknya aku membayar administrasi dulu" Daniel memilih pergi.
"Membayar administrasi? tapi dia kan pakai BPJS" celutuk Altea dengan raut wajah bingung.
"APA POLOS DAN BODOH ITU BERBEDA TIPIS ?? Batin Ibra.
Beberapa saat kemudian tampak beberapa perawat membawa Matteo kedalam lift, " dia mau di bawa kemana? Altea panik.
"Dia akan menjalani pemeriksaan lanjutan mbak " Ujar salah satu perawat.
Altea hanya mengikuti kemana Matteo dibawa oleh perawat, dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. "Harusnya aku sudah dirumah jam segini" . Altea mengingat pesan Sofi sebelum dia pergi.
Dia berjalan mondar mandir menunggu Ibra dan Daniel menyelesaikan administrasi Matteo.
Rencananya dia akan pulang setelah mereka datang, "Kenapa lama sekali" Altea menggerutu.
Tidak lama kemudian, yang ditunggu akhirnya datang. "Maaf aku harus pulang, mama dan papa sedang menungguku, aku titip Matteo kepada kalian berdua " ucap Daniel .
Akhirnya Altea menerima kenyataan bahwa malam ini dirinya harus menjaga Matteo sendiri karena Ibra juga meminta izin.
Dengan berat hati Altea akhirnya menghubungi kedua orang tuanya. "Ayah, aku sedang dirumah sakit, Matteo kembali dirawat kemungkinan aku pulang besok pagi" ucap Altea melalui sambungan telepon
"Matteo kenapa ?
"Dia kecelakaan ayah " Altea terpaksa berbohong, dia tidak mungkin memberi tahu kejadian yang sebenarnya. Bisa bisa ayahnya malah memaksa Altea pulang.
"Memangnya orang tuanya dimana?
"Belum datang ayah, mungkin besok " ucap Altea.
"Baiklah ayah ke sana sekarang, katakan dimana ruangannya " ucap Ilham dari telepon.
Mendengar ayahnya akan datang, ada rasa takut dan keraguan didalam hatinya, tapi dia tidak dapat menolak biar bagaimana pun ayahnya pasti sedang mengkhawatirkannya juga.
"Lantai 15 ruang 1505 ayah"
"Baik nanti ayah hubungi kamu lagi " Tut...
Ilham mematikan sambungan telepon, dia segera menemui Sofi dan memberitahu jika dia akan pergi ke rumah sakit.
Ilham memang sedang mengkhawatirkan Altea, namun mendengar Matteo kecelakaan dirinya terdorong ingin melihat keadaan anak itu.
Ilham memang menyarankan putrinya menjauhi Matteo tapi sebagai orang tua dia juga merasa empati atas kejadian yang di alami Matteo.
Bersambung...
Hai reader..
Tetap bantu like dan komen ya.
🤗