
Altea kini sudah berada di dalam mobil bersama Matteo, permintaan sang kakek membuat kedua insan itu enggan membuka topik pembicaraan. Rasa canggung yang sudah perlahan hilang malah kembali lagi dengan ukuran lebih besar. Ini ibarat kita sudah mulai move on malah kembali lagi hold on.
"Kenapa harus aku ? Pertanyaan penuh arti yang mengeram didalam hati akhirnya berhasil keluar.
"Jangan memaksakan dirimu untuk itu" memangnya apa lagi yang bisa diucapkan, untuk saat ini menetralkan keadaan jauh lebih penting daripada melanjutkan analisis bodoh itu.
"Apa alasan kakek mengatakan itu? Altea meremas ujung roknya agar kalimatnya jangan sampai memojokkan lawan bicara.
"Aku tidak pernah menduga akan hal ini, tapi aku yakin kakek tidak sembarang membuat sebuah keputusan" jika bisa jujur dia juga merasakan hal yang sama dengan Altea.
"Aku tidak tahu senang atau tidak dengan permintaan kakek Al, tapi jika aku boleh egois aku juga berharap bisa menikahi mu.
"Aku masih kuliah, dan kita tidak saling mencintai bagaimana mungkin kita bisa menikah?
"Bukankah dirimu yang bilang bahwa cinta akan tumbuh dengan sendirinya? Matteo Menepikan mobil.
"Lalu kamu menerima pernikahan ini? Altea menoleh sejenak. "aku tidak yakin dengan diriku, dan aku tidak yakin dengan semua ini" Altea menunduk rasanya dia mulai kehabisan kata kata.
"Menikahlah Dengan ku Chelsea Altea " Sorot mata memohon mewakili perasaan Matteo dari dalam hati.
"Maaf, aku harus egois...
"Demi Kakek ! Matteo menekankan kalimatnya sambil memandang wajah Altea.
"jika ini kita lakukan untuk kakek ini hanya akan menyakiti diri kita masing masing", aku belum yakin mencintaimu dan kamu tau itu.
Entah dari mana Altea bisa berbicara dewasa seperti ini.
"Kau memang tidak mencintaiku, tapi aku tidak akan berhenti berjuang mendapatkan cinta darimu" ucap Matteo sambil memejamkan matanya.
"Aku juga manusia biasa Al, butuh waktu untuk buat aku untuk bisa benar benar keluar dari zona nyaman yang tidak kamu sukai" Matteo menundukkan kepalanya. Kemudian dia keluar dari mobil.
"Kamu jangan tegang seperti itu" Matteo menyentil hidung Altea sambil tertawa kecil, kemudian melangkahkan kakinya ke pinggiran danau buatan yang tidak jauh dari pinggir jalan.
Aku tau kau tidak mencintaiku, dan ini berat untukmu, tapi haruskah aku juga mengatakan jika ini berat untuk ku?
Aku tidak mau kalah sebelum berjuang Al
Matteo mendudukkan bokongnya diatas rumput liar, mengambil batu kerikil dan melempar batu itu kedalam danau hingga menghasilkan suara percikan air.
"Apa kamu akan berdiri disitu saja ?
"Untuk apa kita kesini? Altea melangkah dan berhenti di samping Matteo.
Matteo masih meneruskan kegiatannya melempar satu persatu kerikil kedalam danau.
" Kamu memang tidak akan memahami seberapa lekatnya kebiasaan buruk itu menempel dalam diriku, Tapi aku juga tidak lupa dengan komitmenku sendiri Al"
Matteo menarik tangan Altea agar gadis itu juga duduk disampingnya nya.
"apa kamu benar benar mau berubah? pertanyaan Altea mengundang senyum kecut dari bibir Matteo. "Aku sedang berada di proses itu, mudah mudahan tercapai" Dengan santai Matteo melepas jaketnya dan menyelimuti kaki jenjang Altea.
"Kamu tidak akan bertengkar lagi? Altea melirik Matteo yang masih belum bisa diketahui isi pikirannya sama sekali. " Jika itu yang kamu mau Al" .
"Kamu tidak akan mabuk mabuk dan gampang marah marah lagi ? Altea bertanya layaknya anak kecil polos yang minta keyakinan dari ibunya.
"Aku tidak bisa berjanji banyak Al, karena aku juga manusia biasa , tapi sebisa mungkin aku akan menjaga komitmen itu"
Kedua insan itu nyaman berbicara santai di bibir pantai, tidak ada tanda tanda ketegangan seperti ketika bicara di dalam mobil. Sepertinya alam sangat mempengaruhi inspirasi seseorang.
"Kita langsung menikah atau tunangan terlebih dahulu?" setelah vakum beberapa menit Matteo kembali ke topik pembicaraan yang menjadi inti didalam cerita ini.
"Aku.. aku... "
"Aku tunggu jawaban mu besok Al, aku tidak memaksa mu menjawab itu sekarang" Matteo menyadari jika Altea belum terangsang dengan metode yang baru saja dia mainkan.
Altea hanya menganggukkan kepalanya.
"Mengapa dirimu tiba tiba ingin menemui ku tadi? Matteo membuka topik baru agar komunikasi tetap lancar.
"Aku mau mengembalikan ini" Altea menyodorkan paperbag warna putih.
Melihat itu Matteo menyipitkan kedua matanya,
"Apa ini??
"Kado yang kamu berikan semalam sore " Altea menunduk .
"Memangnya kenapa?
"Apa kau gila memberikan itu padaku" Altea melayangkan protes sambil mengerucutkan bibir ranum nya.
Matteo yang penasaran langsung meraba isi paperbag dan matanya semakin menyipit mencari apa kesalahannya .
"Maaf, aku tidak bisa menerima itu"
"Kamu tidak menyukainya? Aku tidak pandai memilih apa yang disukai wanita" Matteo terkekeh.
"Jika kamu tidak keberatan aku akan menggantinya dengan yang lain, yang kamu suka tentunya" Matteo meletakkan paperbag itu di samping Altea.
"Aku suka tapi itu sangat berlebihan"
"Apanya yang berlebihan ? Matteo kadang pintar membaca pikiran seseorang tapi kalau isi pikiran Altea malah sebaliknya.
"Apa kau gila membeli barang semahal itu" Altea mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah malas.
"Hahahaha aku pikir entah apa , kalau dirimu tidak suka buang aja kan selesai " Matteo malah tertawa sambil menelentangkan kedua kakinya karena merasa keram akibat terlalu lama di tekuk.
Apa dia malah tertawa seolah tidak bersalah ,hei anak muda apa kau tau uang sebanyak itu adalah hasil aku menabung selama setahun.
"Apa kau tau uang sebanyak itu adalah hasil aku menabung selama setahun? " Altea merasa tidak terima dengan seenaknya pria itu menyuruhnya membuang uang.
"Lalu mau mu gimana ?
"Aku tidak akan membuangnya, apa kau pikir aku setega itu " Altea tidak mau menoleh sedikit pun.
"Ya sudah kalau kau tidak tega , simpan saja anggaplah kau membelinya dengan uang mu"
Bagi Matteo uang segitu tidak ada masalah, Meskipun dia tidak lagi mendapat fasilitas mewah dari sang ayah, namun omset pribadinya masihlah tetap berjalan.
Namun berbeda dengan Altea, baginya itu berlebihan sekali, jangankan berpuluh juta sedangkan membeli sesuatu dengan uang ratusan dia bahkan berpikir dua kali,bukan karena tidak mampu namun juga dia selalu mengedepankan yang penting.
Altea juga merasa tidak enak hati menerima hadiah semalam itu dari Matteo. Dia tetap menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Ini sudah jam makan siang, sebaiknya kita makan siang dulu" Matteo berdiri terlebih dahulu, kemudian membantu Altea bangkit bersamanya.
Setelah menyelesaikan makan siang,Altea dan Matteo kini sudah berada di mobil. "Apa kau mau mengunjungi suatu tempat? Rasa nyaman membuat Matteo enggan langsung mengantar Altea pulang.
"Tempat ?
"Iya, jalan jalan gitu " Matteo melingkarkan seat belt ditubuhnya.
"Tidak, kita pulang saja....
"Baiklah "
Aku akan jalani dengan bertahap Al, aku akan membuatmu nyaman di sampingku, seperti aku nyaman di sampingmu, Aku mencintai mu.
Bersambung....
.