
Altea sedang mendapat penanganan langsung dari Instalasi gawat darurat rumah sakit setempat.
"Kenapa kalian bisa lalai mengawasi Altea?"
Tatapan membunuh mampu membuat semua anggota gengnya merinding ketakutan.
Sudah bisa dipastikan malam ini akan ada insiden pertumpahan darah. Antara mereka dengan Matteo.
Tidak mungkin Matteo melepas mereka begitu saja yang sudah lalai menjaga Altea.
"Maaf, kami pikir Altea sudah pulang"
"Apa kau pikir maaf mu itu penting ha !! Matteo berdiri mencengkeram kerah baju Gio dan melayangkan pukulan sadis di wajah pria itu.
Tidak ada yang berani membuka suara ,masing masing dari mereka hanya menatap nanar ruangan tempat Altea ditangani, berharap tidak terjadi apa apa dengan gadis cantik itu.
"Keluarga pasien ?
"Saya sendiri dok, gimana keadaan Altea?
"Keadaan pasien cukup baik, tidak ada yang perlu di khawatirkan, hanya saja tubuhnya masih lemas dan nampak dia sedikit syok" tutur salah satu dokter.
"Apa saya boleh masuk ?
"Silahkan, saya permisi"
Tanpa menunggu dokter menyelesaikan ucapannya Matteo sudah mendorong pintu dan menyibak tirai yang menutupi ruang periksa.
Matteo mendekati Altea yang sedang menekuk lututnya , wajahnya terlihat sembab dan sedikit memucat namun tidak mengurangi aura kecantikan gadis itu.
"Altea, Maafkan aku" Matteo hendak meraih pundak Altea namun niatnya tidak jadi karena mendapat tatapan tajam dari empunya.
"Apa kau sengaja menjebak ku? Suara isak mengiringi setiap kalimatnya.
"Tidak seperti itu Al, dengarkan aku dulu...
Altea mengingat kejadian sebulan lalu dimana saat itu David selaku ayah Matteo meminta Alexander untuk mengantarkan Altea pulang, namun Alex malah melakukan percobaan pemerkosaan kepada Altea.
Sekarang Akibat menunggu Matteo yang tidak kunjung datang membuat dirinya hampir saja menjadi korban orang yang sama. Ini adalah kedua kalinya Altea diperlakukan tidak senonoh oleh Alexander, Altea dengan segala akan logikanya mengaitkan kedua hal itu adalah unsur kesengajaan.
Dan jangan tanya wajah dan perasaan Matteo sekarang, pria itu bahkan berlutut dihadapan Altea karena merasa bersalah.
Jiwa dan perasaannya semakin ter iris dengan anggapan Altea bahwa ini unsur kesengajaan.
Berlutut bukanlah tipe Matteo dia manusia yang selalu menjaga image dan harga diri, Apa kata orang jika melihat seonggok Matteo berlutut dihadapan wanita ?
Tapi masa bodoh dengan harga diri demi cinta Altea dia bahkan rela melakukan apa pun termasuk merendahkan diri sekalipun dihadapan gadis itu.
"Bunuh aku jika hal itu benar Al" Matteo meletakkan tangannya dilantai sambil menumpukan lutut untuk menopang berat nya beban yang dia pukul sekarang.
Melihat Altea dalam keadaan seperti ini membuat dirinya harus menerima kenyataan jika dialah yang patut disalahkan disini.
"Maafkan aku Al" entah udah berapa kali kata kalimat menyedihkan itu keluar dari bibir Matteo, tapi apa boleh buat memang hanya itulah yang bisa dia katakan sekarang.
.
.
.
"Ada apa ini ?? Suara Ilham menggema di ruangan IGD membuat jantung Matteo semakin tidak beraturan.
"Apa yang terjadi nak? Sofi memeluk erat tubuh Altea yang masih dibungkus hangat oleh jas Matteo. "Katakan apa yang terjadi nak? Sofi mencecar pertanyaan kepada Altea.
"Apa yang kau lakukan dengan putriku?
"Sekarang kau paham mengapa Ayah memintamu menjauhi Pria ini bukan? " Ilham menatap sendu Altea yang masih terisak di pelukan sang ibu.
"Keluar dari sini,jangan pernah muncul di hadapanku " Seketika Matteo menelan ludahnya dengan kasar, jantung yang sedari tadi bertugas memompa darah didalam tubuhnya tiba tiba serentak mogok.
Kalimat itu datar namun sadis dan mematikan. Untuk pertama kali Ilham terang terangan mengusir Matteo bak seekor hewan.
Bersamaan dengan itu pihak kepolisian juga datang dan langsung memborgol tangan Matteo sebagai tersangka kasus penganiayaan terhadap Alexander.
Belum selesai dengan perasaan hancur akibat kalimat mematikan Ilham, sekarang semakin hancur karena tuduhan pihak kepolisian benar adanya.
Matteo tidak melawan, dia pasrah memberikan kedua tangannya. Sebelum dibawa keluar bola mata Matteo masih beradu pandang dengan tatapan sendu Altea.
"Ingat! urusan saya dengan anda belum selesai" Kalimat formal terakhir Ilham sebelum menyaksikan punggung Matteo hilang dibalik pintu.
"Ayah... " Ilham merentangkan kedua tangannya dan membawa putri semata wayangnya itu kedalam pelukan hangat penuh sayang.
"Katakan jika dirimu tidak dilecehkan nak" Suara Ilham terdengar begitu berat menahan sesak di dadanya. Dirinya benar benar tidak siap mendengar jika putrinya menjadi korban pemerkosaan.
"Tidak ayah, keberuntungan masih berpihak denganku " Altea menyeka air mata yang masih setia mengalir seolah tidak ada hentinya.
Ilham semakin mempererat lilitan kedua tangannya agar menciptakan kenyamanan untuk putri semata wayang nya itu.
Sofi tak kalah dalam memberikan kasih sayang kepada Altea dia menciumi kepala dan tangan gadis itu, setelah merasa tenang Altea menghadiahkan kecupan di pipi ayah dan ibunya, dan acara berpelukan terjadi lagi.
"Ayo pulang Bu... aku tidak mau berlama lama disini" rengek Altea.
"Ayo nak ,sini ayah bantu" Ilham menggendong tubuh Altea bak seorang baby . "Ayah turunkan ,aku malu" Altea menyembunyikan wajahnya didepan dada sang ayah.
Meskipun dirinya tertawa kecil ,tapi yakinlah perasaan Ilham masih bergemuruh. Hanya saja dia harus terlihat lebih kuat dihadapan putrinya.
Dari depan lobby rumah sakit ,Ilham masih melihat Matteo beserta gengnya satu persatu mulai memasuki mobil tahanan polisi.
Sama hal nya dengan Sofi dia memandang nanar punggung Matteo yang sedang bersandar di dalam mobil. " Katakan kau tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini nak" .
Sofi dan Ilham memang belum tau kebenaran pasti dalam insiden yang hampir menimpa putri mereka. Dan apa pun kebenaran nya tidak terlalu penting untuk saat ini.
Setelah tiba dirumah, Sofi membantu Altea mengganti pakaian setelah selesai mandi.
Dia kemudian memperhatikan setiap inci tubuh Altea , tidak ada tanda tanda kekerasan atau bekas diatas permukaan kulit Altea.
Hanya ada bekas merah yang masih membekas di pipi kiri Altea mungkin akibat tamparan Alexander.
Bisa dia pastikan jika Altea masihlah anak gadisnya yang begitu suci.
"Ibu jangan melihatku seperti itu, aku tau apa isi pikiran ibu, tanpa Matteo datang pun aku pasti bisa melindungi diriku tadi " Altea tersenyum sambil menampilkan deretan giginya agar sang ibu tenang.
Mendengar Altea menyinggung nama Matteo datang Sofi seolah mendapat harapan jika Matteo tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian itu. "Semoga aku tidak kecewa nak"
Sofi dan Ilham memang sengaja untuk tidak bertanya langsung kepada Altea malam ini,karena itu akan membebani pikiran Altea.
Mereka berencana menanyakan secara rinci setelah Altea siap untuk bercerita.
"Apa ibu tau ,aku bahkan memukul wajah laki laki brengsek itu berkali kali" Altea memamerkan kepalan tangannya kepada Sofi bahwa dia bukan wanita lemah.
Sekilas senyum Sofi membuat hati Altea kembali menghangat.
"Kamu harus istirahat sayang" mengecup dahi gadis itu kemudian menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Altea.
"Ibu keluar ya nak, semoga mimpi indah sayang" Mematikan lampu dan menutup pintu kamar Altea dengan nafas lega.
BERSAMBUNG.....