
Malam semakin larut, Matteo melajukan mobilnya tanpa tau arah tujuan, saat ini dia tidak merasa frustasi.
Setelah mendengar jawaban dari gadis yang dia cintai entah mengapa semakin membuat jiwanya tidak tenang.
Akhirnya Matteo memilih melajukan mobil ke klub malam yang menjadi candunya , sepertinya dia perlu menenangkan dirinya.
Setelah tiba di sana ,dia duduk di sofa paling pojok dengan tatapan kosong.
Para waitres silih berganti menawari jenis minuman tapi semua ditolak oleh Matteo.
Beberapa wanita juga mencoba merayu Matteo namun nampaknya pria itu tidak tertarik.
Dentuman musik DJ yang begitu terdengar nyaring membuat semua penghuni klub menari nari menikmati malam indah.
Sampai tiba tiba matanya menangkap sepasang kekasih sedang bercumbu ganas diatas sofa yang berseberangan dengan nya.
Jika biasanya ketika Matteo berada di posisi sulit seperti ini ,dia bisa dengan gampang melupakan semua itu dengan alkohol.
Namun sepertinya malam ini semua itu tidak berlaku, rasanya kepala Matteo semakin berdenyut mendengar suara riuh didalam klub, belum lagi pemandangan menjijikkan seakan membuat dirinya semakin terpuruk.
Dia kembali berdiri dan meraih kunci mobil yang sempat dia letakkan dimeja.
Namun di depan pintu keluar dia berpapasan dengan Ibra, "Tumben langsung pulang " Ibra merogoh sakunya seakan mencari sesuatu.
"Tidak urusanmu"
"Hei ada apa ,muka mu ketat sekali" Ibra ikut masuk kedalam mobil Matteo.
"Keluar!
"Ayolah men ada apa ? " Ibra melilitkan seat belt ditubuhnya seakan menegaskan jika dia tidak mau keluar.
"kenapa kau tidak mencari hiburan mu saja di klub dan jangan menggangguku" gerutu Matteo sambil melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Hiburan yang dimaksud Matteo adalah wanita wanita yang siap tidur dengan Ibra.
"Untuk apa aku mencari hiburan lagi,sementara melihat mu saja sudah membuatku terhibur" Kekeh Ibra.
Tiba tiba Matteo menginjak rem secara mendadak agar mobilnya berhenti "Kau masih pria normal kan? " Matteo menatap curiga kepada Ibra.
"Apa maksudmu sialan!
"Jangan aneh aneh ,aku tidak akan segan segan melempar mu keluar saat kau berani menggoda iman ku" Matteo melepas pijakan remnya.
"Aku penikmat belah duren, bukan penikmat kepala ular kobra " Ibra tersenyum licik.
Matteo hanya memutar bola mata malas sambil menyandarkan punggung dan menikmati jalan dengan tenang.
"Tidak biasanya kau pulang tanpa menikmati Alkohol" Gumam Ibra yang masih didengar oleh Matteo.
"Aku tidak butuh itu sekarang "
"Tapi kau butuh Altea " Ibra menatap Matteo sambil menampilkan seringai liciknya.
"Tidak juga, dia sudah menolak ku" rasanya Matteo berat mengatakan ini kepada orang lain.
"hahahaha, " Ibra tertawa lepas
Matteo langsung menatap tajam kepada Ibra yang berani menertawainya.
"Rupanya sudah ada yang menyatakan cinta" Ibra menutup mulutnya seolah menahan tawa.
"Jika sekali lagi kau bercanda jangan salahkan aku melempar mu keluar" ancam Matteo
"Oke oke....kenapa bisa?
Ibra menatap lekat seakan mengoreksi wajah kusut Matteo secara detail.
"Altea bilang bukan perkara mudah mencintaiku dia butuh waktu, mungkin karena dia melihat aku buruk" Matteo menepikan mobilnya dan mengusap wajahnya dengan perlahan.
"Itu namanya bukan di tolak bodoh !
Ibra menggerakkan kakinya.
"Lalu ?
"Sekarang aku tanya kenapa kau mencintainya ? ,padahal diluar sana banyak wanita yang mengejar mu tapi kenapa harus Altea ? "
"Karena dia wanita yang baik,lugu,dan polos" Matteo memejamkan matanya sejenak.
"Dari mana kau tahu dia baik,lugu,dan polos? Ibra masih berusaha menggali isi pikiran Matteo.
"Karena aku melihatnya langsung, Altea berbeda dengan wanita biasa " Matteo kembali membuka matanya sejenak.
"Nah itu... " Ibra tertawa kecil.
"Jika kau mencintai Altea karena kau melihat kebaikan dalam dirinya, maka begitu jugalah sebaliknya dia mungkin akan mencintaimu jika dia melihat langsung kebaikan dalam dirimu, Tapi itu semua punya proses, itulah waktu yang dimaksud Altea kurasa, Kau paham maksudku?
Ibra meraih sebungkus kacang goreng dan memakannya satu persatu. "Dia belum yakin mencintai mu karena yang dia lihat masih keburukan mu" Ibra kembali menambahkan kalimatnya.
"Apa itu artinya dia tidak tulus mencintaiku" Matteo menyanggah.
"Apa kau bodoh? Cinta akan hadir sendirinya jika dia merasa nyaman dengan mu,jadi buatlah dia nyaman dengan mu" ucap Ibra sambil memakan kacang satu persatu dan menghasilkan suara krekot.
Sejenak Matteo merenungi kalimat Ibra, dia kemudian menganggukkan kepalanya seolah mengerti.
Karena sama seperti yang dia alami, perasaan yang nyaman dengan Altea akhirnya menimbulkan rasa cinta yang begitu dalam.
"Baiklah... " Matteo kembali menghidupkan mesin mobilnya hingga sampai di depan apartemen.
"Apa kau ingin ikut turun?
"Tidak ! ucap Ibra sambil memasukkan semua kacang dari bungkusnya kedalam mulutnya, kemudian dia menepukkan kedua tangannya agar kotoran hilang.
"Lalu kau mau tidur di parkiran ini?
"Pinjamkan aku mobilmu, besok aku kembalikan. Mobilku ketinggalan di klub" ucap Ibra sambil menenggak air mineral.
"tidak, tidak.... Matteo dengan tegas menolak.
"Kenapa, kau pelit sekali"
"Aku tidak mau ada wanita menduduki mobilku, hanya Altea wanita yang berhak duduk disitu" tegas Matteo sambil menunjuk kursi sampingnya yang sedang ditempati Ibra.
"Lalu aku ke klub naik apa?
"itu bukan urusanku, siapa yang menyuruh kau ikut denganku?.
Ibra hanya mendengus kesal sambil melepas salt belt nya dan segera keluar. "Bagaimana Altea mencintaimu jika kau jahat seperti ini" gerutu Ibra .
"Jangan bawa bawa nama Altea" Matteo menutup pintu mobilnya dan menguncinya dari tombol.
Matteo melangkah masuk kedalam lift tanpa memperdulikan Ibra yang mematung di depan apartemen.
Setelah membersihkan diri dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, kemudian dia kembali kedalam memory beberapa jam yang lalu.
"Apa aku harus berubah agar kau mencintaiku?
Matteo memaksa suara hatinya membantu otaknya agar mengirim sinyal positif kedalam logika.
Lucunya logika Matteo berkata jika dia berubah pun belum tentu Altea akan mencintainya. Karena dia punya saingan yang memiliki segalanya, kebaikan, harta dan tahta.
Dia sadar, dengan segala keburukannya tidaklah mudah untuk seorang wanita baik seperti Altea membuka hati untuknya.
.
.
.
Tapi hati kecilnya mengirim sinyal kepada otak Matteo agar mengingat apa yang dikatakan Ibra.
"Jika kau mencintai Altea karena kau melihat kebaikan dalam dirinya, maka begitu jugalah sebaliknya dia mungkin akan mencintaimu jika dia melihat langsung kebaikan dalam dirimu,
"Dia belum yakin mencintai mu karena yang dia lihat masih keburukan mu"
Kalimat ini sejenak mengisi pikiran Matteo.
Nah disinilah Matteo menghadapi dilema yang sesungguhnya.
Tidak yakin dengan dirinya bisa berubah lebih baik, kalau pun dia bisa berubah Altea belum tentu mencintainya. Karena Altea tidak mengatakan janji untuk mencintai Matteo.
Setelah lama berpikir akhirnya dia memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Walau pun matanya susah terpejam dia tetap membaringkan tubuhnya.
"Selamat malam Altea " Matteo bergumam halus sambil membayangkan wajah cantik Altea.
Bersambung....
Hai reader maaf telat up...
tolong di maklumi ya..
soalnya aku kerja juga ....
Bantu like dan komen
🤗