Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Positif Hamil


Sudah sebulan kejadian itu berlalu, Altea juga sudah mulai menerima jika dirinya bukan lagi seorang gadis suci . Meskipun berat Altea masih bisa melalui 31 hari dengan penuh perjuangan melawan rasa sakit dan trauma yang dideritanya. Dengan tidak melihat Matteo atau Ibra muncul dihadapannya sudah mengobati sedikit rasa takut dan trauma gadis itu.


Pagi hari Altea menyibak selimut karena merasakan sesuatu bergejolak hebat di dalam perutnya, segera wanita itu bergegas ke kamar mandi.


Hoek .... Hoek... Hoek....


Sambil berjongkok Altea mengeluarkan seluruh isi perutnya kedalam closed, seluruh tubuhnya terasa lemas dan tidak berdaya. Setelah itu dia membasuh mulutnya dengan air mengalir ketika sedang menggosok gigi dia kembali merasa mual dan pusing karena mencium aroma mint yang berasal dari pasta gigi tersebut.


Hoek... Hoek....


Altea kembali mengeluarkan isi perutnya, namun dia melihat tidak ada sisa makanan yang keluar melain hanya cairan bening yang berlumur dengan air ludahnya. Akhirnya dia memutuskan menggosok gigi tanpa pasta.


Setelah selesai dia segera menghampiri kedua orangtuanya yang sudah duduk di meja makan.


"Pagi ayah ,ibu"


"Wajahmu pucat sekali, kau sakit nak ? " Sofi menempelkan telapak tangannya di kening Altea namun dia tidak merasakan suhu badan putrinya itu panas.


"Tidak Bu, aku rasa asam lambungku naik soalnya semalam itu aku makan rujak kedondong " tepis Altea mengingat dirinya yang memakan banyak rujak kedondong di kampus bersama dengan temannya.


"Ya ampun nak, kenapa makan makanan seperti itu " ucap Sofi tanpa menaruh curiga sedikit pun karena memang Altea mempunyai lambung yang sensitif terhadap makanan apalagi jika makanan itu asam.


"Jangan sembarang mengonsumsi makanan nak, kau ingat asam lambung mu yang sering naik bukan? " Ilham menatap Altea dengan wajah sedih.


"Tidak apa apa ayah, aku sudah memuntahkannya tadi " tutur Altea dengan senyum manisnya.


"Ya sudah setelah sarapan ,kau minum ini yah " Sofi meletakkan tablet kecil diatas wadah. "Baik Bu "


Setelah menyelesaikan sarapannya Altea segera berangkat ke kampus menaiki taksi. Sebenarnya dia merasa rugi menjadikan taksi sebagai alat transportasinya karena harga yang harus dia bayar hampir tiga kali lipat dari tarif angkutan umum, tatapi dia tidak punya pilihan lain. Terakhir kali dia menaiki angkutan umum entah mengapa dirinya begitu lemas dan mual ,terpaksa dia turun di tengah jalan waktu itu. Mulai dari sanalah dia tidak lagi menaiki angkutan umum.


Setibanya di kampus Altea segera duduk di tangga sambil menenggak air putihnya yang masih hangat. " wajah mu pucat sekali ,sakit kau nak ? " ucap salah seorang dosen yang tak sengaja melihat Altea.


"Iya pak, asam lambungku naik" Balas Altea dengan senyum kecut.


"Kita ke unit kesehatan mau ? " Tawar sang dosen .


"Hehehe tidak usah pak, aku sudah minum obat " ucap Altea


"Yakin tidak mau ? " tanya sang dosen memastikan.


Altea menganggukkan kepalanya "aku baik baik saja kok pak " ucap Altea dengan wajah malu malu. " Baiklah saya tinggal kalau begitu"


Setelah selesai mengikuti mata kuliah , Altea memutuskan pergi ke minimarket terdekat untuk membeli pasta gigi tanpa aroma mint dan beberapa perlengkapan lainnya.


Saat hendak melangkah keluar dari minimarket kepalanya terasa begitu berat dan pusing dia sempat berpegangan dengan pinggiran mobil seseorang dan akhirnya "Brukkkkkk.....


Altea pingsan dan tergelatak begitu saja.


Seorang lelaki yang melihat Altea pingsan langsung membopong tubuh Altea dan memasukkannya kedalam mobil. Dia adalah Juna Mahaprana kakak dari Matteo yang juga hendak ke minimarket untuk membeli sesuatu.


"Lebih cepat lagi Tom!!!!! " Juna berteriak agar Tommy sekretarisnya melajukan mobil dengan cepat menuju rumah sakit.


"Hei , kau baik baik saja bukan ? " Juna menepuk nepuk pipi pucat Altea seraya menyadarkan gadis itu.


Setibanya dirumah sakit Bina kasih, Tommy sekretaris Juna berteriak memanggil perawat , dengan cepat perawat langsung membaringkan Altea diatas brankar dan membawanya ke IGD.


Juna berjalan mondar mandir menunggu dokter selesai memeriksa Altea.


Mungkin karena kebetulan atau memang ada alasan tertentu , Matteo juga berada di sana dan melihat sang kakak dari kejauhan.


Entah apa niat lain Matteo mendatangi rumah sakit itu entahlah, nanti akan terjawab sendiri.


Melihat kakaknya mondar mandir di depan IGD membuat Matteo memberanikan diri untuk menyapa sang kakak. " Siapa yang sakit ? "


"Aku menelpon mu tadi tapi nomormu tidak bisa dihubungi " Ucap Juna datar seperti biasa, dia memang tidak tau apa apa tentang adiknya dan Altea.


"Memangnya ada apa menghubungiku ? " tanya Matteo penuh curiga.


"Aku tanpa sengaja melihat Altea pingsan di depan minimarket, dan membawanya kesini, aku sudah menghubungi mama dan diva karena aku tidak punya nomor ponsel keluarga Altea " tutur Matteo.


"Apa !!!! Matteo bertanya seolah memastikan jika pendengarannya tidak salah. Rasa rapuh kembali menjalari seluruh tubuhnya.


Bersamaan dengan itu mereka menoleh kebelakang karena mendengar suara kegaduhan sang ibu dan Diva adiknya.


"Ada apa dengan Altea ? "


"Apa dia baik baik saja ?


"Bagaimana bisa dia pingsan nak ?


Ratna memberondong Juna dengan banyak pertanyaan. " ma... bertanya satu satu dong " ucap diva sambil memperbaiki helaian rambutnya yang sudah acak acakan akibat berjalan tergesa.


"Tadi....... " Sebelum Juna mengucapkan kalimatnya tampak pintu terbuka dan menampilkan sosok dokter yang baru saja selesai menangani Altea.


"Bagaimana keadaan Altea dok, ? " tanya Ratna dengan antusias.


"Kondisi pasien lemas mungkin efek dari kelelahan akan tetapi saya menduga ada faktor lain yang membuat tubuhnya lemas... " tutur dokter. Sejenak beliau melepaskan kacamata yang bertengger di pangkal hidungnya.


"Faktor apa dok, Dia baik baik saja bukan ? " tanya Ratna yang mulai merasa resah.


"Katakan lebih lanjut" ucap Juna yang mulai menatap curiga .


" Melalui pemeriksaan sederhana yang kamu lakukan , saya menduga pasien sedang hamil muda"


Jedar !!!!!! bagaikan disambar petir disiang bolong begitulah perasaan Matteo sekarang setelah mendengar penuturan sang dokter, sekuat mungkin dia menopang tubuhnya yang mulai terhuyung.


Hal yang sama dirasakan oleh Ratna dan Diva suara mereka seolah tercegat tenggorokan.


"Hamil??? tanya Ratna dengan ragu ragu.


"iya nyonya, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan diagnosa awal kami" ucap dokter kembali mengenakan kacamatanya.


"Lakukan pemeriksaan mu lebih lanjut" tegas Juna.


"Baik kalau begitu saya permisi " dokter segera pergi.


"Bagaimana bisa Altea hamil , dia kan tidak punya kekasih, lagi pula dia begitu lugu dan polos" Ucap diva sambil memandang wajah ibu dan kakaknya bergantian.


Suasana begitu tegang didepan ruang IGD tersebut.


"Sebaiknya mama hubungi keluarganya" tutur Juna .


"Mama tidak punya nomor ponsel keluarganya nak " ucap Ratna dengan suara gemetar sambil melirik putranya Matteo yang sudah mematung tanpa ekspresi.


Matteo sama sekali tidak bisa berkata kata, dia bahkan memandangi pintu ruangan yang masih tertutup dengan tatapan kosong. Pikirannya berkecamuk dengan apa yang terjadi satu bulan yang lalu.


"Ini tas nona itu , cobalah anda cek sendiri mana tau didalam tas itu ada ponsel beliau" ucap Tommy sekretaris juna sambil menyerahkan tote bag Altea .


Bersambung.......


...Hai reader ! jangan bosan ya.. cerita masih berlanjut 🤗. tetap dukung aku melalui like, komen dan vote kalian....


Terimakasih semuanya !!!


Sampai bertemu di episode selanjutnya.✋🤗🤗