
Pagi ini cerita diawali dengan Matteo yang sedang menyetir mobil, dari penampilannya bisa ditebak bahwa Matteo hendak berangkat kerja.
Dia melirik jam dia pergelangan tangannya, sambil tersenyum kemudian memutar arah laju mobilnya hendak ke rumah Altea dia berencana untuk menjemput gadis itu secara diam diam.
Setelah tiba di halaman rumah Altea, dia mendapat info dari Sofi yang tak lain adalah ibu kandung Altea bahwa putrinya baru saja pergi dengan Rafael ke bandara.
Mendengar Altea pergi ke bandara dengan Rafael, dengan spontan Matteo mengepalkan tangannya. Kemudian buru buru pamit dan segera menyusul Altea ke bandara.
Di dalam mobil Matteo melampiaskan kemarahannya dengan memukul setir mobil sesekali umpatan kasar lolos dari mulutnya.
"Aku akan menghabisi mu sialan! "
"Bagaimana bisa Altea pergi dengan Rafael ?"
Matteo hanya membatin dalam hatinya sambil berjibaku dengan padatnya lalu lintas.
Flash back On
Setelah mengantar Altea pulang , Rafael melajukan mobilnya ke kantor. Namun, matanya memicing melihat dompet Altea tertinggal di kursi mobilnya.
Awalnya Rafael hendak memutar balik mobilnya dan mengembalikan dompet itu namun dia mendapat telepon dari sekretarisnya dan mengharuskan dia segera ke kantor.
Akhirnya Rafael memutuskan untuk mengembalikan dompet Altea setelah dia pulang dari kantor.
Malam itu Altea merogoh tas untuk mengambil ponselnya dia berencana memasang alarm di ponsel nya agar dia bisa bangun cepat lalu pergi ke rumah Feren karena dia berjanji akan mengantar Feren ke bandara, disaat itu juga dia menyadari jika dompetnya tidak ada.
Dia sudah tau jika dompetnya ketinggalan di mobil Rafael. Maka dari itu dia berencana menghubungi Rafael besok untuk memastikan.
Altea menyetel alarm di ponselnya namun dia lupa untuk menyetel mode berdering , itu artinya jika alarm menyala tidak akan terdengar karena mode ponselnya silent.
Setelah Rafael pulang dari kantor dia melihat jam yang melingkar di tangannya sudah pukul 23.00 , akhirnya dia kembali memutuskan untuk menemui Altea besok pagi.
Pagi harinya Altea bangun dengan cepat dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00 itu artinya dia sudah terlambat 1 jam dari waktu yang dia perkirakan.
Segera dia bergegas ke kamar mandi dan buru buru keluar rencananya dia akan langsung ke bandara.
Bersamaan dengan itu dia melihat mobil Rafael ada didepan rumahnya
" kakak kesini? tanya Altea terkejut.
"Iya aku mau mengembalikan dompetmu, kau lupa membawanya " Rafael menyodorkan dompet milik Altea.
"Baiklah terimakasih kak, maaf aku buru buru " Altea memasukkan dompetnya kedalam tas dan segera pergi.
Melihat Altea buru buru ,Rafael menawarkan tumpangan tapi Altea menolak karena dia mau ke bandara. Rafael juga tidak keberatan mengantar Altea ke bandara.
Setelah melalui perdebatan kecil akhirnya Altea mengalah lagi.
Flashback off
Ditempat lain
Altea sudah tiba di bandara, bersama dengan Rafael .Dia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk mencari keberadaan Feren sahabatnya.
Karena keadaan bandara tampak ramai dia kesulitan untuk menemukan Feren. "Coba kamu hubungi dia " ucap Rafael.
Akhirnya Altea mengambil ponsel dari tasnya kemudian mencoba menghubungi Feren. Namun tidak ada jawaban. "Tidak diangkat" ucap Feren merasa frustasi .
"Kemana tujuan penerbangan nya? " tanya Rafael.
"Katanya ke Medan " ucap Altea sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Akhirnya Rafael bertanya kepada salah seorang petugas bandara. "Maaf pak pesawat untuk penerbangan ke Medan sudah take off pukul 09.00 " ucap salah seorang petugas.
Akhirnya Altea mengetahui jika pesawat yang ditumpangi oleh sahabatnya Feren sudah berangkat 10 menit sebelum mereka tiba bersama Rafael di bandara.
Altea kemudian berjalan ke sudut bandara , dari kaca dia memandangi landasan pacu tempat pesawat yang ditumpangi Feren lepas landas.
Rasa sedih dan rasa bersalah menghinggapi dirinya, semalam dia berjanji akan mengantar sahabatnya itu ke bandara dan ternyata dia terlambat bangun.
Altea tidak tahan membendung air mata sedihnya dengan perasaan yang halus yang dia miliki. Tak terasa tetesan air mata lolos dari mata indah nya.
Melihat Altea menangis Rafael tidak tega dia mendekati gadis itu dan menghapus air matanya, ingin rasanya dia mendekap Altea tapi dia masih berpikir jauh.
.
.
Bersamaan dengan itu Matteo sudah tiba di bandara dia menggunakan ponselnya melacak GPS Altea.
Matteo dengan kemarahannya langsung masuk dan mengabaikan proses pemeriksaan security bandara.
Dia berjalan lurus dan menyingkirkan beberapa pengunjung bandara yang sedang melintas di depannya. Seperti biasa dia sulit menahan emosi.
Emosinya sudah meledak ledak mulai dari depan rumah Altea, diperjalanan dia bahkan menerobos lampu merah dan mengakibatkan salah satu pengendara sepeda motor menjadi korban keserakahannya.
Dari jauh dia melihat Rafael memegang pipi Altea. Kilatan amarah dan emosi yang tidak tertahan tergambar jelas di wajah Matteo.
Matteo berjalan semakin dekat, dia melihat jika Altea sedang menangis. Seketika andrenalin Matteo memuncak.
Dia mengepalkan kedua tangannya.
"Kau apakan Altea sialan! "
Seketika Rafael dan Altea secara bersamaan menoleh ke sumber suara.
Altea melihat jelas wajah sangar Matteo yang begitu mengerikan. Tampak tatapan Matteo begitu tajam menghujam.
Belum sempat Altea menjawab Matteo sudah membabi buta menghajar Rafael dengan pukulan sadis.
" Bangun kau sialan ! Ucap Matteo menarik kerah baju baju Rafael.
Altea berusaha menarik tangan Matteo dan menghentikannya tapi kekutan tangan Altea tidak sebanding dengan tenaga Matteo.
Sampai akhirnya para petugas bandara berhasil menghentikan pertengkaran kedua insan manusia yang tidak tahu malu itu.
Tampak Matteo masih meronta akibat emosinya belum sepenuhnya tersalurkan.
Beberapa petugas memapah Rafael dan mendudukkan pria itu disebuah ruangan.
Setelah dirasa aman para petugas kembali melepas pegangan mereka dan membiarkan Matteo duduk di kursi yang tidak jauh dari ruangan dimana Rafael dan Altea berada.
"Kau keterlaluan !! Ucap Altea memandang tajam kepada Matteo kemudian dia berlari kecil menyusul Rafael.
Matteo melihat kepalan tangannya yang menyisakan darah. Kemudian dia mengusap wajahnya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Beberapa saat kemudian tampak Altea dan Rafael keluar dari ruangan itu. Altea memegang lengan Rafael seolah memapahnya.
Melihat itu Matteo langsung berdiri tapi dia tidak punya keberanian mendekat kepada Altea.
Untuk saat ini dia hanya membiarkan Altea membawa Rafael, tapi dari jauh dia tetap mengekor.
Setelah mereka tiba di parkiran Altea hendak membuka pintu mobil Rafael.
"Aku tidak apa apa kamu jangan khawatir" Ucap Rafael sambil melepas pegangan Altea.
Menyadari jika Rafael melepaskan tangannya Altea langsung menatap Rafael.
"Maaf karena aku kakak jadi seperti ini" ucap Altea lirih.
"Kamu jangan minta maaf, ini bukan salah mu" ucap Rafael sambil tersenyum.
.
.
Matteo kemudian mendekat dan menghampiri Altea.
"Ayo pulang sekarang ! " Matteo menarik tangan Altea dengan kasar.
"Lepaskan aku, lepaskan! " Altea memberontak
"Kau pulang denganku, biarkan sialan itu sendiri" Ucap Matteo sambil memandang sinis Rafael.
"Aku tidak mau, lepaskan aku" Altea menjerit dan berusaha melepaskan tautan Matteo.
"AKU BILANG PULANG CHELSEA ALTEA!! " Matteo menaikkan dua oktaf suaranya.
"Aku tidak mau ! , memangnya kau siapa berhak mengatur aku, berhentilah mengurusi urusanku ! " ucap Altea sambil mengeluarkan air matanya, dia yang dari tadi menahan emosinya akhirnya meluap juga.
Melihat Altea seperti ini membuat Rafael tidak tega ,namun dia tidak dapat berbuat banyak.
Dia tau jika Matteo sedang cemburu buta, maka dari itu dia tidak mau memperkeruh suasana.
Seketika Altea berbalik meninggalkan Rafael dan Matteo di parkiran dia segera pergi namun Matteo mengejarnya " Dengarkan aku dulu " ucap Matteo menahan tangan Altea namun ditepis kasar oleh Altea.
"Altea hei ! " Matteo berhasil menahan tubuh Altea "Dengarkan aku dulu, aku antar kamu pulang " Matteo masih berusaha membujuk Altea.
"Lepaskan! Atau aku teriak ! " ucap Altea dengan nada mengancam.
Matteo akhirnya melepaskan pegangannya, Altea segera menjauh dan memanggil taksi, sebelum Altea masuk kedalam taksi dia berbalik menatap Matteo "Kau mengerikan" ucap Altea lalu segera masuk kedalam mobil.
Didalam taksi Altea menangis sendu hingga membuat supir taksi kebingungan, Altea tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini. Dia juga tidak tau untuk siapa dia menangis.
.
.
Matteo mendekati Rafael yang masih berdiri di samping mobilnya. Dia memang sengaja tidak langsung pergi untuk memastikan keadaan Altea.
"Jauhi Altea" Ucap Matteo datar.
"memangnya kau siapa menyuruhku menjauhinya?" Rafael tersenyum penuh arti.
"Kecuali kau mau mati " Imbuh Matteo.
"Aku rela mati untuk Altea " Ucap Rafael santai namun penuh arti.
"Aku tidak mau ada orang yang menyakiti wanita yang aku cintai " Matteo menekankan kata cinta didalam ucapannya.
"Kau membuat dia menangis , dan kau bilang itu cinta? " Rafael terkekeh sejenak.
"Apa mau mu sialan! " Matteo menatap tajam Rafael.
"Pulanglah, kau butuh istirahat ! " Rafael menepuk pundak Matteo, kemudian dia masuk kedalam mobilnya dan segera meninggalkan Matteo.
Didalam mobil dia menghubungi Altea berkali kali untuk memastikan keadaan gadis itu namun dia tidak mendapat jawaban.
Apa yang terjadi selanjutnya ?
jawabannya ada di episode selanjutnya ya reader..
Bantu like dan komen yah...
🤗