
Sudah tiga hari Altea dan Matteo tinggal di kediaman Mahaprana atas permintaan sang papa. Selama tiga hari itu juga Altea mendapatkan banyak cinta dan kasih sayang dari semua orang dari kediaman Mahaprana.
Dan setiap hari juga David selalu datang melihat Thiago sebelum bayi mungil itu tidur. Selain Matteo, pria paruh baya itu juga tidak mau melewatkan kesempatan walau hanya untuk menyapa cucunya.
Altea senang bisa memiliki keluarga yang begitu baik.
Melihat sisi pandang perbedaan kehidupan sudah jelas Altea tidak satu level dengan keluarga mahaprana.
Akan tetapi dia mendapatkan kasih sayang yang begitu luar biasa.
Altea menilai kebaikan hati dan kelembutan ayah dan ibu mertuanya dituruni oleh Matteo suaminya dan juga kedua iparnya Juna dan Diva.
Mereka tidak pernah melihat latar belakang kehidupan Altea. Satu hal yang membuat altea merasa selalu nyaman.
Sore ini altea sedang memberikan Asi kepada Thiago, sambil memegang botol susu dia menggoda Thiago karena bayi itu minum dengan rakus.
Saat sedang menggoda Thiago terdengar ketukan pintu kamar.
"Masuk " Altea melihat kearah pintu siapa yang datang. Ternyata Aurel kakak iparnya yang datang.
Aurel dan Juna sudah menikah satu tahun akan tetapi Juna dan Aurel sepakat tetap tinggal dirumah kediaman Mahaprana agar bisa menemani David dan Ratna, tidak seperti Matteo yang memilih tinggal dirumah sendiri.
"Apa baby Thiago lagi tidur ?? " Ucapnya setengah suara kakinya melangkah mendekat.
"Tidak kak... dia sedang minum susu ". Mempersilahkan Aurel masuk. Dia sedikit menggeser tubuhnya agar Aurel mendapatkan tempat duduk.
"Oh.... kau sedang mengisi perutmu ternyata, Minum yang banyak supaya kau cepat besar..." Aurel menyentil hidung mungil Thiago. Bayi itu menatap Aurel kemudian samar samar bibirnya tersenyum.
"Kau bisa tersenyum rupanya.." Aurel menggoda Thiago, sambil memainkan perut mungil bayi itu. Perutnya yang geli membuat Thiago tertawa.
Beberapa hari ini mereka meyakini jika baby Thiago adalah titisan David yang dingin dan sulit untuk tertawa.
Namun baru saja bayi itu tertawa. Altea selalu terpana melihat perkembangan putranya. Hari demi hari dia sudah membayangkan bagaimana nanti dia akan tumbuh besar. Akh... Altea sudah tidak sabar untuk menunggu waktu.
"Hah... kau juga bisa tertawa " Aurel dan Altea semakin gemas. Mereka berdua juga ikut tertawa. Setelah tertawa bayi itu menggeliat sebentar.
"Apa dia sudah mandi Al?. "
"Sudah kak... baru saja aku selesai memandikannya".
"Pantas saja kau wangi rupanya sudah mandi juga ". Ucap Aurel kembali menggelitik lembut perut Thiago. Bayi itu tertawa lagi.
Aurel terus menggoda Thiago. Bayi itu kadang tertawa kadang juga dia hanya senyum. Mata jernihnya menatap Aurel.
Timbul rasa ingin memiliki anak dalam hati Aurel. Namun dia buru buru menepis semua itu. Mustahil pikirnya.
"Al.... " Beralih kepada Altea, Aurel menggenggam tangan wanita itu.
eh ... apa ini.. kenapa kak Aurel menggenggam tangan ku.
"Ada apa kak ? " Altea sudah mengerutkan keningnya.
"Apa selama ini ada sifatku yang membuatmu tidak nyaman?". Aurel masih menggenggam tangan Altea.
"Maaf kalau aku pernah membuatmu tidak nyaman. Aku minta maaf Al "
"Kakak kenapa? " . Altea tidak merasa Aurel pernah membuatnya tidak nyaman.
"Kenapa kakak minta maaf ? ". Altea semakin bingung. Dari sekian banyak orang Aurel termasuk wanita yang disenangi Altea.
Mungkin karena kepolosannya Altea tidak menyadari jika Aurel kerap kali bersikap tidak terhormat kepada Altea.
"Aku minta maaf Al.. aku sering tidak respect dengan mu. sekarang Aku sadar jika kita adalah saudara yang tidak bisa dipisahkan. Tidak seharusnya aku iri melihat kebahagiaan mu. "
Aurel sadar jika selama ini dia selalu bersifat serakah hingga timbul rasa iri ketika melihat Altea bahagia. Padahal Altea adalah wanita polos yang tidak tau apa apa.
Iri denganku ?
Tidak layak sebenarnya dia iri melihat kebahagiaan adiknya sendiri. Toh kebagian sudah diatur oleh yang kuasa bukan?
Mungkin yang dia lihat adalah kebahagiaan Altea saja tanpa tau penderitaan yang dialami wanita itu.
"Aku tidak pernah melihat kakak tidak respect dengan ku. " Altea terkejut mendengar kakak iparnya iri melihatnya.
Kalau Aurel tidak jujur, Altea juga tidak akan tau soal kakak iparnya yang iri melihatnya.
Selama ini Altea selalu berpikir positif. Dia tidak pernah sadar jika Aurel iri dengannya. Buru buru dia mengelus tangan Aurel dengan senyuman agar keterkejutannya tidak terlihat.
"Aku selalu nyaman dengan kakak. Bagiku kak Aurel itu sudah seperti kakak kandungku " Ucapnya penuh penekanan.
"Aku sayang sama kakak... "
Aurel semakin tersentuh dan merasa bersalah. Selain polos ,Altea ternyata memilik hati yang tulus dan lembut.
Sekarang dia tau kenapa wanita itu disenangi banyak orang. Dan kenapa wanita itu selalu diperlakukan baik ditengah keluarga.
"Terimakasih Al. kakak juga sayang sama kamu " Aurel memeluk Altea dengan lembut. Tampak wanita itu sudah menerima Altea dengan segenap hatinya.
Dilihatnya thiago yang menggerakkan tangannya. Bayi itu memegang jempol Aurel. Secepat mungkin Aurel meraih ponsel dari sakunya dan memotret tangan Thiago sedang menggenggam jarinya.
Di media sosial dia menggunggah foto itu.
"We love you baby @Thiago" Tidak lupa Aurel memberikan emotikon Kiss love.
Unggahan Aurel langsung ramai di perbincangkan oleh geng geng sosialitanya. ribuan like dan komentar membanjiri akunnya.
Aurel tidak membalas komentar mereka.
"Apa kakak tidak berencana hamil ? "
Pertanyaan Altea hanya dibalas tawa getir oleh aurel. Dia sama sekali tidak berniat menjawab.
"Entahlah " Ucapnya. Dia sibuk bermain main dengan thiago.
Altea tidak tahu menahu tentang rumah tangga kakak iparnya. Altea hanya mengangguk mendengar jawaban Aurel. Dia tidak bertanya lebih jauh lagi.
"Apa aku boleh menitip Thiago sebentar kak. Aku mau mandi dulu ".
"Iya sudah aku akan menjaganya. ". Altea berlalu ke kamar mandi.
Melihat Altea sudah berlalu Aurel mencoba untuk menimang Thiago. Entah mengapa terbesit rasa haru dihatinya ketika tangan thiago mencoba meraih wajah Aurel.
Walau masih kaku dia akhirnya bisa menimang Thiago.
"Kau sudah pulang nak ? "
Ratna menautkan pipinya kepada Juna.
"Sudah ma.. Aku mandi dulu " Juna sudah berlalu.
Ratna masuk kedalam kamar yang ditempati Altea. Dia juga melihat Aurel menimang Thiago. Ada rasa yang tidak bisa digambarkan dari pandangannya. Dia segera menghampiri Aurel.
"Apa dia tidur ? "
"Mama disini? " Aurel menengadah. "sepertinya dia tidak mengantuk ma " ucap Aurel memperlihatkan bola mata Thiago yang membulat.
"Mommy nya kemana ? " Tanya Ratna lagi.
"Altea lagi mandi ma. " Menunjuk kamar mandi melalui sorot matanya.
"Apa kamu tidak berencana hamil nak ?. Sudah bisa hamil kamu ini. Biar rumah ini ramai anak anak". Ratna meletakkan nampan berisi susu hangat diatas nakas. Susu itu untuk Altea.
"Kamu jangan menggunakan pil kontrasepsi sayang. Kamu sudah bisa hamil. Mama lihat kamu sudah pintar menimang bayi " Goda Ratna mengerlingkan matanya.
Aurel menarik senyumnya dalam hati dia tertawa miris. Hamil ? pil kontrasepsi ?. Haha kenapa aku jadi tersiksa mendengar semua itu ya. Begitu hati kecil Aurel berkata.
"Aku...
"Mama disini? " Altea baru saja keluar dari kamar mandi sudah memakai piyamanya. Rambutnya dia gulung menggunakan handuk.
Pembicaraan Aurel dan Ratna akhirnya tidak berlanjut.
"Iya mama kesini sambil melihat cucu mama..."
Ratna melilit tangan kirinya di pinggang Aurel dan satu tangannya membelai pipi lembut Thiago.
Mendapat perlakuan seperti ini semakin menimbulkan rasa rindu di hati aurel ingin memiliki anak seperti Altea.
Sore sudah semakin larut. Senja datang menyambut. Ratna dan Aurel keluar dari kamar dimana Thiago berada karena Matteo sudah datang. Pria itu baru saja dari kantor untuk menyelesaikan beberapa berkas yang mendesak. Matteo buru buru menutup semua aktivitasnya dikantor agar segera pulang. Rasanya dia begitu merindukan anak dan istrinya walaupun baru ditinggal beberapa jam.
"Anak Daddy kenapa belum tidur ? "
"ini masih sore Daddy... Sebaiknya Daddy mandi dulu biar wangi". Altea menirukan suara anak kecil.
Matteo hanya mendengus kesal. Tadi begitu membuka pintu kamar dia langsung merebahkan diri disamping Thiago.
Akhirnya dia segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya.
Setelah selesai mandi Matteo datang menghampiri istri dan anaknya yang sedang bermain-main. Kedua kaki dan tangan thiago sudah sangat aktif bergerak padahal usianya baru satu Minggu.
Setelah selesai bermain main dengan anaknya, Matteo menghampiri Altea yang sedang duduk menyisir rambut. "Sayang.... kita sudah bisa pulang ya... Aku sudah berpamitan dengan papa tadi " .
Altea menghela nafas sejenak. Sudah dari kemarin Matteo merengek minta pulang namun Altea tidak mau. Alasannya karena dia tidak enak hati sama mama dan papa.
"Ya sudah aku berpamitan dengan mama dulu " ucap Altea. Mau bagaimana pun juga mereka memang sudah memiliki rumah sendiri dan keluarga sendiri. Lagi pula Altea tidak mau terlalu banyak membantah kepada suaminya.
Setelah adegan berpamitan selesai. Matteo beserta anak dan istrinya sudah berada didalam mobil.
Mobil melaju menuju kawasan perumahan elit di pinggiran kota.
"Kenapa berhenti ? " Tanya altea bingung. Dia menyadari tempat itu asing.
"Sebentar sayang" . Matteo melepas seat belt ditubuhnya kemudian dia mengitari mobilnya dan membuka pintu untuk Altea.
"Ayo sayang". Matteo membantu Altea turun dari mobil. Wanita itu menurut.
"Ini rumah baru kita bersama anak anak kita " Matteo membuka pintu rumah kediaman baru mereka. Sebelum masuk ada pita yang harus digunting dulu. "Ayo " Matteo meraih sebelah tangan Altea dan mereka menggunting pinta tersebut.
Mata Altea membulat terpana melihat seluruh ruangan. Sorot matanya seolah meminta penjelasan tentang rumah itu.
"Rumah yang kita tempati dulu terlalu kecil. Nanti anak anak kita tidak bebas bermain. Jadi aku mendesain yang lebih besar. Apa kau suka? " Meraih pinggang Altea mendaratkan kecupan manis di dahi wanita itu.
"Suka... " Ucapnya. Matanya masih sibuk melihat isi ruangan.
Rumah itu luas dan terkesan mewah. Hanya dua lantai tetapi desainnya klasik dan elegan. Setiap sudut ruangan selalu ada barang antik melengkapi kesempurnaan isi ruangan.
Matteo juga sudah menyiapkan beberapa pelayan untuk membantu Altea. Tadi pelayan itu sudah menyapa Altea.
"Ayo kita lihat kamar kita ". Matteo menuntun Altea menaiki anak tangga. Mereka tiba di dalam kamar yang luas.
"Ini tempat Thiago tidur setiap malam. Dan ini tempat tidur kita " ucap Matteo menunjukkan seluruh isi kamar. Kamar itu sudah di isi dengan semua perlengkapan bayi.
Pakaian Altea dan Matteo juga sudah tersedia.
"Nanti kalau dia sudah bisa tidur sendiri dia akan tidur di kamar sebelah" Ucap Matteo.
Kapan dia menyiapkan semua ini ?
"Kenapa pisah ? ". Altea melihat tempat tidur Thiago terpisah dari tempat tidur mereka. Memang hanya terpisah beberapa centimeter saja.
"Supaya aku bisa selalu memelukmu setiap malam " Matteo tersenyum lebar. "Aku merindukan mu" bibir Matteo sudah menempel di bahu Altea dan meninggalkan gigitan kecil.
"Jangan macam macam... ini baru hari ke 7 " ucap Altea.
"Iya iya aku tau"
Altea menidurkan Thiago diatas tempat tidur khusus. Kemudian dia menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh mungil thiago.
Matteo berada di balkon kamar menikmati pemandangan. Tadi dia sudah membantu Altea memberikan asi kepada Thiago.
"Aku mencintaimu" Altea memeluk Matteo dari belakang.
Senyum tersungging dibibir Matteo melihat Altea sudah mulai menempel dengannya. "Aku juga mencintaimu sayang ".
Matteo membalikkan badannya kemudian menikmati lembut jari Altea memeluknya.
Sambil berpelukan Matteo menceritakan tentang rumah baru itu. "Aku sudah mendesainnya satu hari setelah kita menikah. Semoga kita nyaman tinggal disini " .
*Terimakasih tuhan sudah memberikan aku
suami sempurna seperti ini.
Aku sangat mencintainya*
Bersambung....