
Altea sudah bersiap kembali kedalam aktivitasnya seperti biasa ,sang ayah juga memutuskan untuk menambah pengawasan ketat kepada putrinya, dia berpesan agar Altea lebih hati hati dan tidak dibenarkan pulang diatas jam 5 sore.
"Aku pamit ayah ,ibu" Altea mencium tangan ayah dan ibunya bergantian.
"Nak ingat ibu tidak mau terjadi apa apa lagi denganmu, patuhi apa yang dikatakan ayah" Pesan Sofi sebelum memberikan izin kepada putrinya berangkat ke kampus.
"Siap ibu negara ! " Altea meletakkan deretan jari tangan diatas alis layaknya peserta upacara yang memberikan penghormatan kepada sang saka merah putih ketika lagu Indonesia raya dikumandangkan.
Sofi kemudian mengacak rambut gelombang Altea diiringi dengan senyuman manis.
"Ya sudah aku pamit yah " Altea menggendong tas ransel miliknya diatas punggung dan memegang sebuah buku panjang.
Didalam angkutan umum dia memanfaatkan waktu untuk bertukar pesan dengan Feren sahabatnya yang sudah tinggal di Medan.
Sampai akhirnya angkutan yang dia tumpangi berhenti di depan kampus, dari jauh dia melihat Gio dan para anggota geng sedang bercengkerama.
"Bagaimana keadaan mu Al " Gio mendekati altea
"Aku baik,maaf karena aku kalian harus dibawa ke kantor polisi " Ucap Altea sambil menyelipkan senyum kaku dibibir nya.
"Kami semua turut prihatin dengan apa yang kamu alami kemarin, tapi kamu tenang aja Alex tidak akan mengganggumu lagi soalnya ada kita kita yang siap melindungi mu, iya gak bro?? ucap Guntur
"Yoi " serempak para pemuda itu menjawab sambil memberikan senyum hangat.
"kalau butuh bantuan jangan sungkan dong" tutur salah satu dari mereka.
"baiklah terimakasih, kalau begitu aku permisi dulu" Altea berlalu sambil menundukkan kepalanya.
Altea memasuki ruangan, ketika dia hendak duduk banyak mata yang menyorot Altea dengan tatapan tidak suka dan ada juga yang simpati dengan gadis itu.
Setelah kasus tersebut tercium oleh media,rektor universitas selaku pimpinan tertinggi langsung memberikan surat edaran agar memperketat pengawasan kepada seluruh mahasiswa dan untuk sementara meniadakan jadwal kegiatan diatas jam 6 sore.
"Gara gara seorang mahasiswa cantik di ruangan kita ini senior Alex harus koma dirumah sakit, puas loh !!! " ucap salah seorang mahasiswi yang kemungkinan adalah penggemar Alexander.
"Palingan dia memang sengaja menggoda senior Alex dasar buaya betina !
Sahut mahasiswa lainnya
Desas desus itu masih terus terdengar hingga jam mata kuliah berakhir.
Altea hanya menebalkan muka dan menutup rapat telinga nya agar kalimat kalimat negatif itu tidak masuk kedalam perasaannya.
Aku tidak boleh terpancing , intinya sabar. Altea.
Kini gadis itu sudah menuruni satu persatu anak tangga, dirinya benar benar ingin berlalu dari tempat itu. Altea juga manusia biasa ,jika dirinya terus di bully seperti itu bisa bisa dia juga tidak sanggup mengontrol emosinya.
Maka dari itu dia memilih untuk menghindar.
Masih di lingkungan kampus menuju halte ,Altea menoleh ke belakang karena mendengar suara familiar melintas di telinganya.
"Apa kamu mau pulang?
"Iya, jawab Altea dingin.
"Apa sehina ini diriku dihadapan mu hingga kau tidak mau menoleh sedikitpun?" Matteo melihat Altea mengalihkan pandangannya seolah menghindar.
"Aku harus segera pulang,maaf " Altea mendorong tubuh Matteo agar memberinya jalan, tapi Matteo sama sekali tidak bergerak.
"Kau membelaku di pengadilan kemarin, tapi kenapa sekarang kau tidak mau mendengarkan aku? " Matteo
"Aku tidak membela mu, aku hanya mengatakan kebenaran " Altea tidak mau jika sampai Matteo merasa dibela.
"Lalu apa alasan mu menjauhiku jika kebenarannya sudah kamu ungkapkan sendiri" Sebenarnya Matteo tau alasan Altea menjauh, namum dia ingin memastikan.
"Aku hanya melindungi diriku" ucap Altea lirih, dia kembali dingin dan tidak menoleh sedikit pun kepada Matteo.
"Aku mencintaimu Al, aku yang akan melindungi mu aku janji" Matteo memberanikan diri menyentuh jemari Altea kemudian dengan perlahan menarik tangan Altea ke pelukannya, Entah mengapa Altea sama sekali tidak menolak.
Matteo mengeratkan dekapannya sambil merasakan detak jantung Altea yang membuat jiwa dan raganya tenang.
"Aku mencintai mu Al, Matteo berbisik disela sela dekapannya.
Sadar atau tidak Altea kemudian perlahan membalas pelukan Matteo dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria yang sedang berjuang mendapatkan cintanya itu.
Mendapat balasan seperti ini membuat si empunya pinggang serasa mendapat semangat baru yang berlipat ganda. Seolah dukungan yang dicarinya sudah didepan mata.
Acara berpelukan itu menciptakan rasanya nyaman antara satu sama lain. "Jangan jauhi aku, aku menyayangimu Al" Matteo tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mengucapkan kalimat yang mewakili isi perasaanya.
Terimakasih telah mau membalas pelukanku ,aku anggap ini adalah bentuk jika kau mau membuka hati untuk ku. "Aku mencintai mu Al" .
Perlahan Altea menurunkan tangannya dari pinggang Matteo dan mendorong pelan tubuh pria itu agar melepas pelukannya.
"Kenapa langsung selesai" gerutu Matteo pelan namun masih bisa didengar oleh Altea.
"Nanti dilihat orang" Altea mengedarkan pandangannya untuk memastikan tidak ada orang yang melihat acara berpelukan disiang bolong itu.
Aku pasti sudah gila membalas pelukan pria itu, aaaa malunya aku .
"Jadi kalau tidak dilihat orang apa aku masih bisa memelukmu lagi?" Matteo menyelipkan senyum kecil.
"Anggap saja itu tidak pernah terjadi, maaf aku harus pulang" ucap Altea tanpa ekspresi.
"Tapi kan sudah terjadi" ucap Matteo polos.
sambil mengekor Altea yang melangkah buru buru. Altea sama sekali tidak menggubris kalimat Matteo dia semakin mempercepat langkahnya hingga tiba di halte.
"Al aku antar kamu pulang tunggu disini" tanpa menunggu jawaban, Matteo sudah lebih dulu pergi ke parkiran untuk mengambil mobilnya.
Ketika Matteo hendak memberhentikan mobilnya di depan Altea dia melihat mobil Rafael berhenti terlebih dahulu. Tampak Rafael keluar dengan setelan kerjanya.
"Kamu disini Altea?
"Iya kak,kakak kok disini? tanya Altea sambil menyipitkan matanya menghindari cahaya matahari yang silau.
"Iya ,aku sengaja menjemputmu ada yang mau aku bicarakan, kamu ada waktu ? Tanya Rafael sambil melihat ke kiri dan ke kanan.
"Maaf kak aku harus pulang, ayah dan ibu sudah menunggu dirumah" tutur Altea sopan.
"Aku mau bicara dengan orangtuamu juga" Rafael tersenyum manis sambil menunggu reaksi Altea. "Ayo.... Rafael mengulurkan tangannya.
"Dia pulang bersamaku" Matteo datang dan menyilang uluran tangan Rafael kemudian berusaha meraih jamari Altea.
"Aku pulang sendiri saja" Altea menggerutu kemudian berlalu dan segera masuk kedalam taksi.
.
.
.
Matteo kemudian memandang Rafael dengan tatapan membunuh, tampak dari raut wajahnya seolah mengatakan gara gara kau aku jadi batal pulang dengan Altea.
Padahal tadi dirinya begitu bersemangat akhirnya bisa mengantar Altea pulang, namun semangat itu hilang begitu saja.
Berbeda dengan Rafael yang tampak lebih tenang.
"Ada rencana apa kau datang ke pengadilan dan mendukungku ? Matteo memandang Rafael dengan sinis
"Tidak ada" Rafael.
Matteo berdecak kesal namun kembali menoleh sambil tersenyum menyeringai "Aku tidak percaya"
"Aku tidak mendukungmu, Altea yang memintaku datang sebagai saksi atas kejadian yang hampir saja menimpanya bulan lalu, dan aku tidak bisa menolak " Tutur Rafael
"Lalu untuk apa kau datang kemari? Rafael masih tersenyum sinis.
" Bukan urusan mu" Rafael berlalu kedalam mobilnya.
Sekuat tenaga Matteo menahan emosi yang hampir saja meledak melihat pria itu.
Setelah melihat mobil Rafael sudah pergi dia melayangkan satu pukulan ke tembok pembatas untuk meluapkan kekesalannya. kemudian dia mengatur reaksi emosionalnya perlahan.
BERSAMBUNG.......