Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Mari saling terbuka


Altea duduk di depan meja rias dan menyisir rambut. Kemudian dia memoles sedikit wajahnya dengan sapuan bedak dan sedikit blush on.


Sesuai anjuran sang ibu mertua bahwa malam ini mereka akan menghadiri acara ulangtahun perusahaan. Maka dari itu Altea tidak mau mempermalukan mertuanya didepan orang karena penampilannya terlihat kusam dan lusuh.


Lanjut dengan wajahnya Altea juga menyapukan bronzer di area dahi, pipi, dan hidung agar terlihat lebih fresh. Tidak lupa Altea mengoleskan lipstick di area bibir untuk memberikan kesan smooth.


Semenjak Ratna sering menasehatinya, Altea mulai memposisikan dirinya sebagai bagian dari keluarga Mahaprana.


"Halo bidadari ku " Altea terlonjak ketika mendengar suara bariton mengejutkannya.


"Matteo kau.. kau sudah pulang ? " altea melirik-lirik kiri-kanan untuk mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuhnya karena dia sedang memakai tanktop dan celana short.


"Kau sedang menggodaku ya " melepaskan jasnya Matteo mendekati altea yang sedang kebingungan, terlihat wajah Mateo sudah dipenuhi dengan senyuman devil.


Baru saja Matteo membuka pintu kamar sudah disuguhkan dengan pemandangan istrinya yang begitu menggoda. Melihat Altea seperti ini membuat jiwa jiwa kenormalannya muncul.


"Auch...."


Matteo sudah merangkul pinggang altea dengan senyum licik penuh arti, tatapan buas yang begitu mengintimidasi membuat Altea merasa sedang berada didalam zona bahaya.


Dan benar saja dugaannya, Matteo mulai menyusuri leher putih altea dengan hembusan nafas yang begitu menggoda. Tidak menghiraukan Altea yang sudah meronta ronta.


Dia memang tidak akan bisa lagi melarang Matteo menyentuh nya.


"Kau bau sekali !!! " Altea mendorong tubuh Matteo dengan keras. Tidak ada cara lain untuk menghentikan aksi nakal Matteo yang mulai hidup.


"Apa ! bau ? " Matteo langsung menajamkan indera penciumannya . "Tidak ada hum... hum. aku tidak bau sayang "


"Sebaiknya kau mandi dulu, aku tidak nyaman dengan aroma tubuh mu " Memutar otak agar mendapatkan kebebasan. Karena meronta tidak lagi bisa menghentikan Matteo.


Matteo langsung mendengus kesal, Dengan langkah gontai penuh kesal dia melepas dekapannya kemudian dia berbalik menuju toilet.


Rasanya dia begitu lemas tidak bisa langsung menikmati santapan lezat yang sudah tersedia menyambut kedatangannya.


Beberapa hari tidak bertemu membuat Matteo benar benar begitu merindukan Altea.


Melihat Matteo sudah masuk kedalam kamar mandi Altea bernafas lega. buru buru dia menyelesaikan ritual make up nya. Kemudian segera meraih paper bag untuk memakai gaunnya.


"Sayang kau sudah menyiapkan kencan manis untuk suami mu ya ? " Mata Matteo berbinar melihat Altea cantik menggunakan gaun.


"Kencan? " Altea mengerutkan keningnya.


"Terimakasih sayang, aku tidak sabar " Matteo memeluk Altea dari belakang.


Paham apa maksud Mateo seketika Altea teringat dengan pembicaraannya dengan clarish mantan pacar Matteo. Merasakan sesak di dada, sekuat tenaga menahan gemuruh yang mulai bergejolak di dalam hatinya.


"Lepas... cepat ganti baju mu sebentar lagi mama pasti akan datang menjemput kita " Altea melepaskan tangan Matteo yang melilit di perutnya.


"Mama ???? " seketika Matteo tersadar untuk apa altea berdandan cantik seperti ini. Tubuh Matteo kembali lemas.


Melangkah menuju Ranjang kosong dia segera menelungkup wajahnya.


"Aku malas sekali " Gerutu Matteo kesal memukul mukul ranjang kosong dengan tangan, kaki Matteo juga ikut ikutan menendang nendang udara, seperti anak kecil yang sedang merajuk.


Melihat itu Altea sudah bisa menebak apa yang membuat suaminya kesal. Melupakan kejadian tentang Clarish, dia mendekati suaminya yang sedang merajuk. Biar bagaimana pun juga, dia mencintai Mateo.


Awalnya dia memang berniat membahas itu kepada suaminya saat Matteo pulang. Namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat selain waktu yang mepet dia juga tidak mau salah kaprah.


Mengelus rambut suaminya, Altea mendaratkan kecupan manis di dahi Matteo, dan si empunya seperti biasa langsung luluh.


"Ayo ganti baju mu nanti kita terlambat " Berusaha untuk bersikap netral tidak menyangkutkan masalah apa pun.


Mood ku harus selalu baik apa pun ceritanya. wanita hamil itu menanamkan tekat dalam dirinya.


"Aku merindukan mu tapi kau melarang aku memeluk mu " Wajah Matteo terlihat lebih mellow. Membuat Altea merasa bersalah. Merentangkan tangannya kemudian membawa Matteo kedalam pelukannya. "Maafkan aku " ucap Altea disela sela dekapannya.


"Apa ulang tahun perusahaan papa lebih penting daripada aku " pertanyaan Matteo penuh sindiran.


"Bukan begitu" menangkup kedua pipi Matteo kemudian memberikan ciuman bertubi-tubi.


"Lalu aku dicueki begitu ?" Tidak selesai menyindir, Matteo kembali meluapkan kekesalannya.


Altea hanya tersenyum kecil, lalu mengacak rambut Matteo dengan gemas. Pasalnya wajah Matteo begitu menggelikan jika sedang main Rajuk rajukan seperti ini.


Jauh berbeda ketika pria itu serius atau sedang emosi. Jika Matteo sedang emosi mana berani dia menyentuh Matteo. Menatap wajah sangarnya saja sudah membuat nyali siapapun termasuk Altea menciut.


"Kenapa kita sekarang jadi terbalik ya ? dulu aku yang sering kesal melihatmu " Altea Terkekeh.


"Kau sudah sadar ternyata ...." Matteo menciumi wajah Altea dengan perasaan hangat. Walau sedang kesal, tapi dia tidak bisa tahan berlama lama mengacuhkan Istrinya.


Matteo hanya merajuk sedikit aja, Bukan seperti Altea yang tahan berbulan-bulan merajuk menahan kesal entah apa maunya. Wanita memang beda. huh meresahkan.


Matteo menatap wajah Altea dengan intens. "Jangan jauhi aku, jika ada masalah berbagilah denganku, aku mau kita saling terbuka. Jangan tutupi apa pun dari aku "


Seolah tau jika Altea sedang menyembunyikan sesuatu. Ralat, sedang memikirkan sesuatu.


Menyatukan keningnya dengan kening Altea Matteo berbisik " Mari saling terbuka " Lirih Matteo, kemudian membawa Altea kedalam pelukannya.


"Jika kita terus seperti ini aku rasa kita tiba di acara ulang tahun perusahaan papa setelah acaranya selesai " sindir Altea karena Matteo belum juga melepaskan dekapannya.


"Baiklah Ayo... " ya ya ya... kau adalah tuan putri yang harus aku turuti kemauannya. Matteo melepaskan handuk yang melilit di pinggangnya kemudian mengambil kemeja dan setelan jasnya.


"Apa saat kau menghubungiku tadi posisimu masih diluar negeri " Altea membantu Matteo mengancingkan kemeja.


"Tidak sayang " Meraih jas dan mengenakannya.


"Lalu ? " Dahi Altea berkerut.


"Aku sudah tiba bandara sejak pagi tapi aku tidak langsung pulang karena..... " Tampak Matteo mengatur deru nafasnya.


"Karena apa ? " penasaran.


"Gio masuk rumah sakit " Suara Matteo terdengar berat menahan rasa yang bergejolak didalam dadanya. Satu tangannya membuka pintu mobil agar Altea masuk.


"Lalu bagaimana keadaannya? " Altea mulai panik.


"Dia kritis " Ucap Matteo memegang pelipisnya dengan tangan kiri dan tangan kanannya menghandle setir mobil.


"Apa dia masuk rumah sakit karena... "


"Tidak sayang" sanggah Matteo dia tau apa yang ada dipikiran istrinya.


"Dia masuk rumah sakit karena kecelakaan " ucap Matteo datar.


"Dia sedang dalam perjalanan menjemput ku pagi tadi, aku juga lama menunggunya hingga pihak kepolisian mengabari aku, dan aku terpaksa ke kantor untuk menghadiri rapat yang seharusnya di handle oleh Mike. Karena Mike sudah duluan ke rumah sakit untuk mengurus Gio maka dari itu aku tidak langsung menemui mu "


Matteo menjelaskan dengan detail agar istrinya tidak berpikir jika Gio kritis karena bertengkar di arena seperti masa lalu dirinya yang sering keluar masuk rumah sakit.


"Aku hanya berpikir itu bukan murni kecelakaan " sanggah Matteo .


"Kenapa begitu ? "


"Entahlah aku melihat ada kejanggalan namun aku sudah meminta bantuan Ibra dan Daniel untuk menyelidiki semuanya "


"Aku jadi cemas denganmu " lirih Altea menatap Matteo.


Tangan kiri Matteo langsung mengelus rambut Altea seolah menyalurkan ketenangan agar istrinya tidak cemas. "Jangan seperti itu ini semua sudah takdir " .


"Tapi...


"Tidak ada tapi tapian... Cukup kamu selalu ada untukku, jangan mencemaskan aku. " Matteo menekan tombol untuk mengambil karcis parkir karena mereka sudah tiba.


"Ayo sayang..." Matteo menggandeng tangan Altea menuju pintu lift.


Bersambung