
Pagi hari Matteo bersiap untuk pulang ke rumah kediamannya bersama istri.
"Kenapa langsung pulang sayang, apa kamu tidak rindu gitu sama mama papa , kamu jarang loh kemari nak..." Ratna bercoleteh dengan raut wajah kesal, tangannya masih memegang lengan Matteo seolah tidak rela berpisah.
Sudah lama dia merindukan putra bungsunya kembali ke rumah. Bahkan saat dimasa lajang Matteo pun dia kerap kali tidak menampakkan batang hidungnya. Matteo memang selalu disibukkan dengan kegiatannya yang tidak berguna.
"Ma udahlah.... Aku sudah menikah dan punya keluarga sendiri lagi pula aku harus kerja." Menghela nafas panjang kemudian dia melepaskan tangannya dari lengan Matteo.
"Ayo sayang ... " Meraih tangan Altea yang sedang duduk di sofa dengan senyum manis. "perlu aku gendong ? " tidak sabar karena Altea belum juga bergerak.
"Ah tidak aku bisa jalan sendiri "
"Ma.. kami pulang dulu, sampaikan pamit kami sama papa " Altea menautkan pipinya kepada Ratna.
"iya cantik nanti mama sampaikan, kamu harus sering sering kesini... agar Matteo juga ikut kesini " Bisik Ratna .
Dia seperti menemukan cara baru agar bisa selalu bertemu dengan putra bungsunya yaitu dengan mengundang Altea datang kerumahnya. Jika Altea datang kedalam kediamannya otomatis Matteo juga ikut.
"Iya " Altea paham dengan apa yang dimaksud oleh ibu Mertuanya. Seraya membawa tas Altea keluar menyusul Matteo yang sudah terlebih dahulu untuk menghidupkan mobil.
"Terimakasih nak.." Ratna melepaskan genggaman tangannya dari Altea setelah tiba didepan pintu.
Matteo yang sedang dilanda asmara terus mengembangkan senyum di wajahnya. Didalam perjalanan dia terus menggenggam jemari Altea dengan perasaan bahagia. Tidak ada yang bisa mengukur kebahagiaannya sekarang.
"Matteo apa hari kamu kerja ? " Rasanya Altea juga masih ingin berlama lama dirumah mertuanya. Dia begitu nyaman karena ada Aurel kakak iparnya dan juga diva. Altea senang bisa saling bertukar cerita dengan mereka. akan tetapi karena suaminya memaksa pulang mau tidak mau dia harus menurut.
"Panggil aku sayang!!! " Mengecup punggung tangan Altea. Rasanya dia tidak suka jika Altea tidak memberikan embel embel untuknya.
"Iya iya.... " Mendengus kesal kemudian memutarkan tubuhnya. "sayang apa hari ini kamu kerja? "
"iya sayang... hari ini aku kerja" Matteo menghentikan laju mobilnya karena melihat lampu merah. "Nanti aku akan menjemput mu untuk makan siang di kampus mu, hari ini kamu ke kampus bukan ? "
"Tidak!! tidak usah Aku mau pergi ke mall sama kak Aurel dan diva , kami sudah ada janji " Altea memang sudah berjanji pergi jalan jalan ke mall bersama dengan diva karena Aurel juga minta ikut akhirnya mereka memutuskan pergi bertiga. Mengingat kemarin jalan jalan mereka berantakan karena Diva harus menemui dosen pembimbingnya.
"Tidak bisa! " tegas Matteo. Mendengar Altea akan pergi jalan bersama Aurel kakak iparnya membuat Matteo langsung menolak. Insiden Aurel yang menyuruh istrinya membawa barang belanjaan masih terngiang di kepala matteo sampai sekarang. Rasa marah dan tidak terima karena Matteo menilai kakak iparnya seperti memperlakukan Altea bak orang asing.
"Kenapa ? aku tidak akan memakai uang mu aku pake uang milikku " Altea berpikir bahwa Matteo melarangnya karena uang.
Mendengar Altea menyinggung uang sontak membuat Matteo terkejut. "Aku sudah bilang bukan gunakan kartu yang sudah aku berikan! "
"Habiskan jika kamu sanggup !! " Jangankan uang sekecil itu, jiwa raga Matteo saja sudah milik Altea seutuhnya.
Kadang Matteo tidak habis pikir kenapa Altea begitu sulit menerima pemberiannya. tempo hari dia memeriksa mutasi pemakaian ke empat kartu yang dia berikan kepada istrinya, dia hanya bisa menggeleng karena Altea memang sama sekali belum menggunakannya. Polos sih bisa tapi jangan keterlaluan juga begitu pikir Matteo.
"Tapi kenapa kamu melarang ku jalan jalan ! " Altea sudah mulai merajuk. Tampak wanita itu mendudukkan kepalanya .
"siapa yang melarang mu jalan jalan? . Tidak ada sayang !! "
"Jadi boleh tidak aku pergi nanti " Mulai melirik Matteo dengan tatapan berbinar. Sudah lama dia sibuk mengurung diri dirumah.
"Boleh tapi jalan jalan denganku , aku akan pulang cepat nanti.. " Matteo tidak mau ada hal hal lain terjadi lagi kepada istrinya.
"Tapi aku sudah ada janji sama diva dan kak Aurel " Gerutu merasa tidak enak.
"Aku akan bilang sama mama agar menggantikan mu "
"Biarkan saja mereka pergi bertiga dan kita pergi berdua, aku akan menjemputmu nanti siang di kampusmu " Dengan santai Matteo memberikan ide.
...----------------...
Siang hari seperti janjinya Matteo sudah menunggu Altea didepan kampus, tidak lupa senyum itu masih mengembang sempurna.
"Apa kamu sudah lama menungguku " Altea buru buru masuk kedalam mobil Matteo.
"Sudah " jawab Matteo singkat.
"Maaf " lirih Altea merasa bersalah.
"Tidak apa apa sayang, menunggumu selama berbulan bulan saja aku sanggup, apalagi menunggu hanya satu jam " goda Matteo menghidupkan mesin mobilnya.
Altea hanya memutar bola mata malas, dalam hati membenarkan ucapan suaminya.
Setelah tiba di dalam mall, Altea dan Matteo memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. "mau makan dimana sayang ? " Matteo menggenggam tangan Altea seolah takut kehilangan.
"Mau makan dimana pun aku oke oke aja " Celutuk Altea.
Setelah selesai makan siang, Altea memutuskan untuk membeli beberapa dress.
karena menyadari pakaian yang di punya sudah mulai terasa sesak karena seiring bertambah besarnya janin didalam perutnya.
"Berikan padaku " Matteo melihat Altea kesulitan memegang beberapa pakaian yang sudah dia pilih. "tidak usah aku bisa membawa sendiri "
"Belajarlah untuk tidak menolak sayang... " Tanpa basa basi Matteo langsung menyambar pakaian dari tangan istrinya.
"cantik sekali ..." gumam Altea melirik pakaian yang terpajang di patung. "Kalau suka beli sayang " suara Matteo terdengar dari belakang.
"Tidak akan muat.." Ucapnya namun tatapannya tidak beralih.
"Kenapa tidak muat "
"Aku mana bisa lagi memakai pakaian seperti itu, akan terasa sesak nanti karena sebentar lagi perutku pasti akan semakin besar "
Matteo hanya bisa menghela nafas beratnya sambil melirik perut Altea yang memang sudah mulai menonjol. "Beli saja nanti kamu bisa pakai setelah anak kita lahir " Matteo tidak tega melihat istrinya seperti menginginkan pakaian itu. Akhirnya matteo memanggil karyawan untuk menurunkan pakaian itu dan memasukkan kedalam troli.
"Sayang maafkan aku.." Matteo membuka suara setelah mereka sudah didalam mobil.
"Maaf untuk apa ? "
"Karena aku kamu jadi tidak bebas berpakaian"
Altea tersenyum, dia tau kenapa Matteo mengatakan seperti itu.
"Jangan minta maaf, itu memang sudah derita wanita hamil " Altea bermaksud menenangkan Matteo.
"Hei bukan seperti itu ... " Altea yang sedang menyeruput Boba seketika melepaskan kan sedotan dari bibirnya menyadari ada yang kurang tepat di dalam kalimatnya.
"itu sudah menjadi bumbu pemanis setiap wanita hamil agar senantiasa pintar memilih pakaian untuk kenyamanan si baby juga " Altea tersenyum kecil. "jangan merasa bersalah,aku juga sudah bahagia dia ada " Mengelus perutnya yang mulai membulat.
.
.
.
"Kita mau kemana sayang ? " Altea mengerutkan keningnya melihat arah laju mobil seperti berbeda.
"Ke suatu tempat " Matteo menoleh sambil tersenyum kemudian dia fokus ke jalanan.
"Suatu tempat ? kemana ?" Altea penasaran.
"Yang jelas aku tidak akan membawa mu ke dalam neraka " tertawa. "Ayo sudah sampai " Matteo turun terlebih dahulu, kemudian membuka pintu untuk Altea.
"Untuk apa kita Apartemen mu ???" Altea sudah mengenali tempat dimana mereka berhenti.
"Sudah ayo... " Menekan tombol panah atas agar lift terbuka.
Menempelkan kartu akses agar apartemennya terbuka. Melihat pintu terbuka seketika membuat Altea mematung, bulu bulu kuduknya mulai merinding. Bayangan bayangan ketika Matteo memerkosanya perlahan melintas kembali dibenak Altea.
Matteo paham mengapa Altea membeku. "Jika kamu membayangkan hal buruk itu lagi percayalah itu hanya akan menyiksa pikiranmu" Menarik lembut tangan Altea agar masuk bersamanya.
Matanya menyapu semua sudut apartemen , keadaannya masih sama seperti terakhir kali dia tinggal,ketika dia memutuskan untuk mengunci permanen ruangan itu.
Matteo berjalan membuka tirai yang menutup jendela agar cahaya matahari masuk. "Lihatlah semua masih sama" ucap Matteo menatap Altea.
Altea melihat jelas ada wadah berisi air yang sudah keruh berada diatas meja. Dia meyakini jika itu adalah wadah yang dia siapkan untuk mengompres wajah Matteo tiga bulan lalu.
Matteo perlahan membuka kamarnya dan menyalakan lampu. Pandangan menyapu semua sudut ruangan. " Masih sama juga "gumamnya.
"Kamu sedang apa ? " Altea melihat Matteo berdiri berkacak pinggang didepan pintu, perlahan dia mendekat.
Matteo tidak menjawab , dia masuk kedalam kamar dan melihat ranjang tempat dimana dulu dia memerkosa Altea. Meskipun itu diluar kesadarannya namun samar samar teriakan Altea masih terngiang di telinganya. Menyibak sedikit selimut Matteo melihat bercak darah itu masih ada.
"Kemarilah... " Tangan kekar Matteo terulur.
Altea semakin bertambah beku menyadari tempat itu.
mengapa Matteo membawaku kesini.
"Aku mau menghapus kenangan buruk ditempat ini " Lirih Matteo seolah tau isi pikiran Altea.
"Maafkan aku yang sudah membuatmu sampai di titik ini " Matteo menggenggam erat tangan mungil Altea.
"Semenjak malam itu aku tidak pernah menginjakkan kaki lagi disini, bayanganmu terus menghantui pikiranku dan membuatku tersiksa".
"Maafkan aku Al , aku sangat mencintaimu " Matteo sudah duduk diatas ranjang dan menepuk sebelahnya agar Altea duduk. Dan wanita itu juga menurut. "Selama kamu tidak memberiku maaf aku akan terus dihantui rasa takut dan rasa bersalah " Menatap lekat wajah Altea.
"Tanpa kamu minta pun aku sudah memaafkan mu.. buktinya aku sudah mencintai mu" Altea memaksakan wajahnya tersenyum untuk menghilangkan rasa takutnya. Dia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi karena melihat Matteo seperti terpukul mengenang malam itu.
"Benarkah??? " Matteo menangkup wajah Altea dan kening mereka bertautan. "Aku sangat mencintaimu mu Al " Bisik Matteo. Perlahan tangannya menarik tubuh Altea agar duduk di pangkuannya.
"Aku juga mencintaimu Matteo " lirih Altea.
Matteo yang sudah merasa dicintai mengecup manja bibir Altea.
Entah karena terbawa suasana atau memang mereka berdua saling menginginkan. Kecupan itu berlanjut menjadi ciuman.
Matteo mencium bibir Altea dengan lembut dan Altea mulai membuka mulutnya kemudian belajar membalas ciuman Matteo. Karena merasa mendapat sinyal Matteo Semakin memperdalam ciumannya nya. Ciuman yang tadinya lembut berubah menjadi ciuman panas.
Tangan Matteo langsung menyibak dress yang menutupi tubuh Altea dan mulai menjajah aset aset berharga yang menempel ditubuh wanita itu.
Menikmati sentuhan lembut Matteo Altea memejamkan matanya , dia pasrah tangan Matteo sudah bergerilya kemana mana . Tidak ada penolakan lagi, toh juga dia sudah mencintai pria itu.
Matteo mulai menyambungkan koneksi dibawah sana hingga membuat Altea melenguh. "ah.... ".
Merasakan kembali ada sesuatu menembus gawang pertahanannya dibawah sana , Altea hanya bisa pasrah.
Melalui penyatuan tubuh, Matteo menyalurkan semua rasa cinta dan rindu yang terpendam selama ini kepada Altea.
Erangan erangan merdu kembali lolos dari bibir Altea mengikuti irama yang diciptakan Matteo. "Uhh.... "
Senyum tersungging dibibir Matteo melihat istrinya menikmati penyatuan mereka.
Suara lenguhan dan erangan kecil memecahkan keheningan didalam kamar itu.
Sambil mengatur irama Matteo menciumi seluruh tubuh Altea hingga membuat wanita itu mendesah.
Merasa dirinya sudah berada di puncak, Matteo mengatur irama agar lebih cepat lagi. Melepaskan tembakan manja ke dalam rahim Altea, dan berakhirlah dengan erangan panjang Matteo dan membawa Altea terbang ke langit ketujuh hingga menembus angkasa dan mendapatkan kenikmatan yang begitu dahsyat.
"Terimakasih" Matteo mendaratkan kecupan manis di dahi Altea kemudian menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh polos Altea yang sudah lemas tak berdaya.
Kemudian dia menjatuhkan tubuhnya yang juga tidak bertenaga lagi kesamping Altea dan membawa wanita itu kedalam pelukan hangatnya.
Rasa sakit dan sesak, yang dulu kerap kali ia rasakan akibat Altea belum menerimanya, sekarang berubah menjadi kenikmatan yang tiada tara.
Bersambung....
Hai reader untuk adegan ini aku kurang pandai merangkai kata kata. Intinya ini hanya fantasiku saja. Silahkan berimajinasi sendiri.
Jika terlalu vulgar boleh komen dibawah, dan aku akan merevisinya nanti.
Tetap bantu like dan komen oke !!!..
👌🤗🤗🤗