Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Sate Padang


Pukul 10 pagi Matteo membuka matanya perlahan karena mendengar suara ponselnya yang berdering. Dengan posisi mata yang masih tertutup dia menempelkan benda pipih itu ditelinga. "Ada apa ?


"Mama meminta mu kemari" ucap Juna kemudian mematikan ponselnya sepihak.


Matteo yang masih merasa mengantuk luar biasa tidak mau ambil pusing, dengan gerakan cepat dia menarik selimut dan membungkus tubuhnya. Mungkin karena efek pertengkarannya tadi subuh dengan Altea membuat Matteo sangat mengantuk.


Namun seketika dia teringat dengan Altea, perlahan membuka matanya kembali dan segera pergi ke kamar yang terletak di sebelahnya. Sebelum membuka pintu Matteo menyunggingkan senyum nya sedikit mengingat bagaimana tadi malam dia berdebat dengan Altea persoalan tidur, Matteo ingin Altea tidur disampingnya sedangkan Altea ingin tidur terpisah dikamar kecil yang di ujung ruangan.


Dan akhirnya pertengkaran mereka berakhir dengan kesepakatan Altea tidur dikamar sebelahnya. Karena ukuran kamar itu jauh lebih luas dari kamar pilihan Altea.


Ceklek... Matteo membuka pintu dan mendapati Altea masih tidur menyamping sambil memeluk bantal guling. Dengan perlahan Matteo menyibak anak rambut gelombang Altea "Kamu manis kalau damai seperti ini " .


Matteo menatap lekat wajah cantik Altea kemudian tatapan berhenti melihat bibir mungil Altea yang masih tertutup rapat. Ingin sekali Matteo membenamkan bibirnya di permukaan bibir ranum Altea namun dia takut itu akan membangunkan si empunya.


Ada rasa senang didalam hati Matteo menyadari jika gadis yang sangat dia kagumi dan cintai sudah sah menjadi istrinya sekarang akan tetapi dia juga menyadari perjuangannya mendapatkan Altea tidak sampai disini.


Ponsel Matteo berdering kembali ,dengan cepat matteo segera keluar takutnya Altea terganggunya dengan suara deringan itu.


"Sudah dimana ?


"Aku masih dirumah " jawab Matteo santai


"Segera kemari ini darurat !"


"Iya " balas Matteo malas.


Sebelum melangkah keluar Matteo menemui bibi yang menjadi pelayan dirumah nya.


"Bibi tolong perhatikan Altea sebentar, jika ada apa apa hubungi aku segera pastikan dia makan dan istirahat yang cukup "


"Baik " Wanita paruh baya itu mengangguk.


Matteo segera melajukan mobilnya ke kediaman orangtuanya untuk menemui kakaknya.


Di ruang tengah Juna dan Ratna sudah menunggu Matteo.


"Apa Altea baik baik saja nak? Ratna membuka percakapan kepada putra sulungnya.


"Baik" jawab singkat Matteo.


"Ada apa memanggilku kemari ? " Tanya Matteo malas, tatapannya mengarah kepada Juna kakaknya .


"Mama yang ingin bicara dengan mu " ucap Juna datar.


"Mama mohon nak, tanda tangani surat kepemilikan perusahaan kakek sebelum jatuh ke tangan orang kepercayaan kakek mu yang sudah berkhianat" Desah Ratna sambil meraih tangan Matteo.


Matteo hanya mendengus malas, "Aku belum selesai memikirkan itu " jawab Matteo santai.


Mengeratkan genggamannya Ratna kembali memohon " Nak dengarkan mama sebentar, nama kakek mu sudah tidak ada lagi di perusahaan jika kamu menunda untuk menandatangi surat itu mama yakin perusahaan kakek mu tidak akan tertolong itu satu satunya nama yang dimiliki keturunan Orion " lirih Ratna.


"Kenapa tidak kakak saja " jawab Matteo malas.


"Kakek mu sudah menulis nama mu disurat pengalihan, Untuk sementara yang mengurus perusahaan adalah orang kepercayaan kakek dan itu langsung dibubuhi tanda tangan diatas materai " Lirih Ratna.


"Namaku ? " tanya Matteo memperjelas.


Dia berpikir jika pengalihan haruslah disepakati bersama namun ternyata sang kakek sudah lepas tangan tanpa meminta persetujuan apa pun dari Matteo.


"Iya nak, mama dan papa tidak ada hak untuk mengambil keputusan apa pun lagi. Ketiga orang kepercayaan kakek mu seolah sudah mendapatkan tahta mereka , karena perusahaan tidak atas nama siapa siapa sekarang" ucap Ratna gusar.


"Kenapa harus seperti itu " gerutu Matteo


"Cukup kamu tanda tangan saja , setidaknya pemegang perusahaan itu sudah jelas atas nama mu dan itu akan membantu ayah untuk menyingkirkan mereka satu persatu" David yang kebetulan mendengar obrolan mereka langsung buka suara untuk meyakinkan Matteo.


Matteo semakin kesal kala melihat ayahnya ikut mendukung Ratna dan Raymund dalam pembicaraan mereka. "Aku akan pikirkan lagi " Matteo berdiri hendak pulang.


David hanya geleng geleng kepala melihat putranya yang seolah tidak perduli.


"Berikan ini kepada Altea sengaja mama masak untuk dia " Ratna yang melihat putranya hendak menghilang dibalik pintu segera menahannya.


"Apa ini ?


"Itu baik untuk kehamilannya " ucap Ratna .


"Baiklah aku pulang " ucap Matteo datar seperti biasa.


"Katakan padanya nanti mama mau ke sana " Teriak Ratna setelah Matteo melangkah lebih jauh menuju mobilnya.


"iya " ucap Matteo malas.


Setibanya dirumah Matteo langsung berjalan mendekati Altea yang sedang duduk di sofa.


"Altea... Ini untuk mu " Matteo meletakkan bungkusan berisi makanan didepan Altea. "Dari mama " imbuh nya lagi.


Awalnya Altea hanya diam tanpa menoleh tapi mendengar kata mama dia langsung menoleh dan meraih bungkusan itu kemudian membukanya. Altea tersenyum kecil melihat isi bungkusan itu "sate padang " desah Altea pelan namun masih bisa didengarkan oleh Matteo. Sate itu mengingatkannya tentang kegiatannya setiap hari Minggu. Ada rasa rindu untuk hari harinya yang dulu.


Perlahan dia melirik Matteo seolah meminta jawaban atas makanan itu.


"Apa kamu hanya akan memandangi tampa berniat memakannya ? " Tanya Matteo.


Altea langsung pergi ke dapur untuk mengambil sendok dan piring rasanya dia tidak sabar untuk menikmati makanan favorit nya itu. Meletakkan bungkusan sate diatas piring perlahan tangannya mengambil satu lidi berisi potongan daging dan memasukkannya kedalam mulut, namun tiba tiba Altea meletakkan lidi itu kembali dan segera berlari ke toilet dapur sambil menutup mulutnya.


Aroma daging dan aroma bawang goreng yang terkandung di dalamnya membuat perutnya merasa mual.


Hoek.... Hoek.. Hoek....


Altea memuntahkan seluruh isi perutnya tanpa sisa, padahal satu jam yang lalu baru saja dia mengonsumsi makanan khusus ibu hamil yang disiapkan oleh Bu asih sang pelayan.


Matteo yang melihat Altea muntah langsung merasa panik dan cemas, segera dia menyusul Altea ke toilet dan berjongkok membantu memijit tengkuk Altea, rasanya dia tersiksa melihat Altea yang sering muntah.


Altea segera berdiri setelah dirasa lebih baik.


"Kita ke dokter saja " Matteo segera meraih kunci mobil. "Aku tidak apa apa " jawab Altea.


"Tidak apa apa ??? kamu muntah seperti ini dan kamu bilang tidak apa apa ?? " jawab Matteo kesal.


"Iya aku baik baik saja " Altea yang merasa lemas kembali duduk di sofa.


"Kamu yakin ?? " tatap Matteo tajam


"Iya "


"Aku gak mau makan itu" ucap Altea dengan raut wajah sedih. Bagaimana tidak sedih lidahnya menginginkan makanan itu sekarang akan tetapi perutnya menolak.


Melihat wajah cantik Altea yang sedih Matteo tidak tega. "Apa kamu sudah makan tadi ? " tanya Matteo sambil mendudukkan bokongnya.


Altea hanya mengangguk lalu dia menunduk sambil melihat bungkusan sate itu, kuah kental dan daging yang tertusuk seolah memanggil manggil Altea agar segera menyantapnya.


"Aku mau makan kek gitu, tapi... " Altea menggantung kalimatnya.


"Tapi apa ??? " Tanya Matteo penasaran.


"Aku mau makan sate yang di pasar tradisional langganan ku " ucap Altea sedih.


"Memangnya apa bedanya?" Matteo heran


"Tidak ada " jawab Altea singkat.


"Ya sudah aku akan membelinya sekarang " Matteo berdiri dan meraih kunci mobil. "Aku ikut " ucap Altea sambil berdiri.


"Untuk apa kamu ikut? istirahat lah disini aku akan cepat " Ucap Matteo.


"Tapi aku mau ikut " suara Altea lirih, matanya mulai berkaca-kaca .


"Kamu baru saja muntah tubuhnya pasti lelah Al, kamu disini ya " bujuk Matteo lembut.


"Aku mau ikut " rengek Altea , dia mulai mendekat kearah Matteo sambil menggigit kukunya dan menggerakkan sebelah kakinya bak anak kecil yang sedang memohon kepada ibunya agar membeli mainan baru.


"Mau ikut " rengek Altea lagi kali ini dengan sorot matanya memohon.


Matteo hanya menghela nafasnya dengan kasar. "Ayo " ucap Matteo singkat. Dia tidak mau memperpanjang perdebatannya dengan Altea. Sebenarnya dalam hati dia masih bersyukur Altea mau berbicara dengannya sekarang.


Setelah perjalanan yang hampir 30 menit mereka tiba di depan pasar tradisional yang di maksud oleh Altea. Maklum karena ini adalah hari Minggu jadi jalanan tampak lebih longgar ketimbang hari kerja.


"Kamu disini saja biar aku yang beli" Matteo sudah siap dengan dompet ditangannya. "disebelah mana penjualnya ?" tanya memastikan.


"tapi aku ikut" rengek Altea.


"Al di sana itu ramainya bukan main nanti kamu kewalahan aku saja yang turun" Matteo yang melihat keadaan pasar begitu ramai pengunjung membuat dirinya ragu untuk memenuhi kemauan Altea untuk ikut, belum lagi kondisi jalanan yang berlumpur dan bau menyengat khas pasar tradisional.


"Aku ikutlah " rengek Altea lagi.


"Kau tidak ikut kedalam atau tidak dibeli sama sekali ! " suara Matteo terdengar meninggi kesabarannya mulai habis melihat Altea yang bersikukuh ikut.


"Iyalah " Ucap Altea lirih dan pasrah namun di pelupuk matanya sudah mulai terkumpul cairan bening, sekali saja dia berkedip cairan itu akan tumpah. Dia menyandarkan tubuhnya yang mulai bergetar menahan tangis dan menoleh kearah lain.


Melihat wajah sedih Altea rasanya Matteo tidak tega, dia kembali menghela nafasnya. Sepertinya dia harus lebih sabar menghadapi Altea yang semakin hari semakin berubah dari pertama kali dia kenal.


"Baiklah , kali ini aku mengizinkan mu ikut tapi lain kali tidak" ucap Matteo sambil menarik nafas


Seketika wajah Altea langsung berbinar. Dia segera membuka seat belt di tubuhnya.


Altea tampak begitu antusias dengan pemandangan riuh di dalam pasar. "Penjualnya di dalam sana " tunjukkan Altea mengarah ke jajaran kios yang berhimpitan .


Matteo membulatkan matanya melihat arah yang ditunjuk oleh Altea pasalnya tempat itu begitu ramai dan padat. Banyaknya pedagang dan pembeli yang lalu lalang membuat suasana pasar begitu riuh.


"Kamu yakin " tanya Matteo dengan ekspresi aneh. Dirinya bergidik ngeri melihat suasana itu. Altea menganggukkan kepalanya dengan senyum sumringah. "Ayo " Altea menarik tangan Matteo tanpa mempedulikan ekspresi pria itu saat ini.


Tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Altea, dia juga mewaspadai sesuatu yang buruk terjadi dengan Altea mengingat semalam dan tadi wanita muntah, maka dari itu dia tidak mau mengambil resiko. Dengan terpaksa dia mengikuti kemauan Altea.


"Hai pak " sapa Altea bahagia kepada lelaki tua penjual sate langganannya. " Eh non ,makin cantik aja ... duduk non " ucap lelaki tua itu.


"Mau makan disini atau dibungkus non " tanya lelaki tua.


"Makan disini aja pak "


Altea memilih duduk di pojok dekat kipas angin karena merasa begitu gerah. Matteo juga merasakan hal yang sama dia perlahan membuka jaket nya.


Setelah pesanan mereka datang Altea seperti biasa langsung menyantap makanan itu dengan lahap.


Dia masih Altea yang aku kenal rupanya!


Batin Matteo menelan salivanya melihat mulut Altea yang sibuk menguyah potongan daging.


"Aku tidak muntah " Senyum mengembang menghiasi wajahnya setelah menghabiskan satu porsi sate porsi jumbo.


"Aku mau lagi " ucap Altea sambil tersenyum kaku melirik Matteo.


Altea kembali memanggil lelaki tua untuk membuatkan porsi baru untuknya. " mau satu lagi pak" teriak Altea.


"baik non"


Panggilan itu terulang lagi dan lagi , hingga Altea menghabiskan 5 porsi sate padang ukuran jumbo. Jangan tanya bagaimana ekspresi wajah Matteo sekarang. Matanya melototi daun pisang yang kosong diatas piring yang terletak diatas meja.


Lima porsi ? Batin Matteo menelan ludahnya berkali kali. Dia memang pernah melihat Altea makan lahap ketika dirinya sering datang ke rumah Altea dulu. Akan tetapi rasanya tidak manusiawi jika tubuh mungil Altea bisa menampung makanan sebanyak tadi.


"Ayo pulang " Ucap Altea sambil membuka dompetnya.


"Berapa pak ? " teriaknya dengan keras.


"120 ribu non " ucap lelaki tua itu.


Matteo langsung berdiri mendekati lelaki tua penjual sate itu. " Ini pak " Matteo memberikan 5 lembar uang seratus ribuan.


"Ini banyak sekali nak " protes lelaki tua itu.


"Tidak apa apa pak ambil saja " ucap Matteo datar.


Dia kemudian beralih kepada Altea yang kesulitan berdiri, mungkin efek kekenyangan.


BERSAMBUNG....


Hai reader terimakasih buat like dan komen kalian.


Akan tetapi jangan berhenti sampai disitu saja ya. tetap dukung aku selalu.


Tekankan kalian lah dulu like di kanan bawah itu, habis itu tinggalin komen kalian biar aku bisa revisi karyaku kedepannya.


Thank you and see you in the next time season !


👍👍👍👌👌🤗🤗