
Jam menunjukkan pukul 1 dini hari , Altea yang merasa tenggorokannya kering perlahan membuka mata ia berusaha mengumpulkan kesadarannya agar terkumpul penuh.
Matanya memicing ketika menyadari jika dirinya berada ditempat lain , perlahan mengedarkan pandangan dan menangkap Matteo yang tidur lelap disampingnya, sontak Altea terkejut bukan main.
Kenapa aku ada disini? dan kenapa juga dia ada bersama ku aaaaaaa.....
Dengan gerakan cepat Altea langsung beringsut menjauh. Dia melirik ke sana kemari untuk mencari pintu keluar. Melihat wajah Matteo yang sedang tidur saja bisa mengingatkan dirinya tentang kejadian menyakitkan diantara mereka.
Berjalan tergesa menuju pintu akan tetapi Altea tak sengaja tersandung ujung meja membuat benda diatas meja tersebut terjatuh dan menimbulkan suara . Prang!!!!
Penerangan didalam kamar memang agak sedikit redup karena Matteo hanya menghidupkan lampu lampu tidur saja karena dirinya terbiasa dengan tidur cahaya remang.
"Ada apa ? " Apa yang terjadi " Matteo yang terkejut mendengar suara spontan terbangun dan langsung menghidupkan lampu utama untuk melihat sekitaran kamar. dan mendapati Altea sedang berjongkok meraih benda yang berserak di lantai.
Melihat Matteo bangun dia langsung berdiri sambil menelan salivanya melihat Matteo bertelanjang dada akan tetapi matanya masih tidak luput dari benda yang baru saja berserak di lantai akibat kecerobohannya. "Kenapa kamu bangun Altea ? butuh sesuatu? tanya Matteo sambil memunguti satu persatu benda dilantai dan meletakkannya diatas meja.
"Butuh sesuatu ? " tanya Matteo mendekat, namun Altea mundur sambil menggelengkan kepalanya, tubuhnya bergetar menahan ketakutan , memory ketika Matteo memerkosanya masih begitu setia menghantui pikirannya ditambah lagi Matteo yang sedang bertelanjang dada dan memperlihatkan otot kekar milik Matteo .
"Lalu kenapa bangun?" Matteo masih berusaha menjangkau Altea.
Altea semakin beringsut dengan perlahan lahan dan kembali menyandung siku ranjang dan membuat tubuhnya oleng Matteo langsung berjalan cepat untuk menahan tubuh Altea .
"Auwwchh" Pekik Altea dengan suara kecil.
"Kenapa kau keras kepala ha ! " Matteo menaikkan suaranya karena kesabarannya mulai habis. Dengan cepat dia berjongkok dan mendudukkan Altea diatas ranjang.
"Bisakah kau lebih dewasa !!
"Sedikit lagi saja kau mundur tubuhmu akan terjatuh kelantai dan membahayakan kehamilan mu " bentak Matteo meluapkan kekesalannya ditengah malam. Dia mengingat tadi pagi Altea juga hampir saja terjatuh dirumah sakit akibat kecerobohannya dan hal itu terjadi lagi sekarang.
"Memangnya kenapa kalau aku terjatuh ?
"memangnya kenapa kalau kehamilan ku dalam bahaya ?
"Apa peduli mu ha ! " Altea tak kala menaikkan volume suaranya karena merasa tidak terima Matteo membentaknya.
Mendengar itu Matteo juga tidak tinggal diam dia kembali mendekatkan wajahnya ke arah Altea "Itu Anakku ! dan aku peduli dengan dirimu dan anakku! " tegas Matteo namun volume suaranya sudah turun.
"Tidak usah sok perduli denganku ! " sorot mata tajam Altea kembali berapi-api.
"Aku bahkan tidak sudi mengandung anak darimu ! " Air mata Altea perlahan keluar membasahi pipi manis yang dulu selalu ceria. "Aku muak melihat mu " Altea segera berlari keluar dari kamar itu dan menuruni satu persatu anak tangga.
Matteo hanya dia mencerna kalimat yang keluar dari bibir sang istri.
Aku bahkan tidak sudi mengandung anak darimu! dari semua kekesalan Altea hanya kalimat inilah yang terngiang memenuhi pikiran Matteo.
Dengan cepat Altea membuka pintu utama dan berlari keluar menembus hujan deras yang mengguyur seluruh kota.
Altea terus berjalan menyusuri jalan besar tanpa tau arah tujuannya. Ditengah hujan dia terisak-isak dengan baju yang sudah basah kuyup. Dirinya bahkan berjalan dengan kaki telanjang sambil memeluk kedua sikunya menahan dinginnya air hujan.
"Kenapa harus aku yang menanggung semua ini hiks hiks" Altea menangisi keadaan dirinya sendiri ,tatapannya mengarah ke depan mengikuti jalan yang hanya diterangi oleh lampu jalan. sayup sayup terdengar suara rintikan hujan .
"Ayah ibu...Aku mau pulang " lirih Altea ditengah-tengah isak tangis yang mengiringi perjalanannya. "Ayah... jemput aku " lirih Altea lagi.
Entah mengapa saat ini hatinya tiba tiba tidak bersahabat. Padahal ucapan Matteo tadi tidaklah begitu sakit, dia hanya menaikkan volume suaranya karena kesal namun Altea seperti mendapat luapan kemarahan dari Matteo dan mengambil keputusan untuk keluar begitu saja tanpa peduli air hujan yang membasahi seluruh tubuhnya. Mungkin karena dirinya masih membenci Matteo atau apalah alasannya yang jelas suasana perasaanya begitu sulit ditebak.
Matteo yang baru saja tersadar dari lamunannya langsung berlari untuk mengambil kunci mobil setelah melihat pintu utama terbuka lebar , sudah bisa dia pastikan jika Altea berlari ke keluar menembus hujan.
Menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi matteo sambil mengedarkan pandangan menyapu jalanan yang sangat sepi berharap dengan cepat menemukan Altea, dia juga melirik jam sudah pukul 01.30 itu artinya Altea keluar dari rumah sudah hampir 30 menit.
"argh " Matteo memukul setir mobil dengan keras.
Setelah melewati beberapa jalan besar di tengah kota yang sepi, pandangan Matteo menangkap sosok Altea yang sedang berjalan tertatih di atas trotoar sambil memeluk kedua siku tangan nya. Dengan cepat Matteo menghentikan laju mobilnya dan segera keluar mengejar Altea.
"Lepaskan aku !! " teriak Altea berontak sambil terus berjalan tanpa mempedulikan Matteo.
Matteo terus berusaha membujuk Altea ditengah hujan yang semakin deras "Tidak usah peduli dengan ku , kau bukan siapa siapa ku !! " pekik Altea terus berusaha melepaskan diri dari pegangan Matteo.
"Aku suami mu Altea ! , maka dari itu aku peduli dengan mu!! " Tegas Matteo menunjuk dirinya setelah berusaha menghentikan langkah Altea.
"Kalau begitu ceraikan aku sekarang juga agar kau berhenti mempedulikan aku !!! " Altea berteriak sambil menangis menahan sesak di dadanya.
"AKU TIDAK AKAN MENCERAIKAN MU CHELSEA ALTEA !!!!!! " Teriak Matteo dengan keras mengalahkan suara dentuman petir yang menyambar nyambar.
"Hiks hiks hiks .....
Altea hanya menangis sambil meremas kedua tangannya yang sudah mengeriput karena air hujan begitu dingin menembus kulit hingga ke tulang tulang Altea.
"Masuk !!!" pekik Matteo telunjuknya mengarah ke mobilnya yang terparkir.
"Aku tidak mau !! Aku mau pulang ke rumah ayah dan ibuku " lirih Altea memalingkan wajahnya menahan sakit di kakinya yang terluka akibat bergesekan dengan permukaan aspal.
Matteo yang sudah habis kesabaran langsung menggendong tubuh Altea dengan kasar lalu mendudukkan wanita yang sedang hamil itu didalam mobil tanpa perduli teriakan Altea yang masih belum selesai meluapkan emosinya.
Didalam mobil Altea hanya terisak kecil sambil meremas kedua tangannya. Sesekali matanya menoleh kedua telapak kaki yang luka dan perih karena terkena air.
"Kenapa seperti anak anak ? tidak bisakah kau lebih dewasa sedikit lagi ? " Matteo membuka suara sambil meraih handuk kecil dari dalam dasboard mobilnya, lalu memberikan kepada Altea.
"Lama lama kesabaran ku bisa habis melihat tingkahmu seperti tadi !"
"Kalau begitu ceraikan saja aku " oceh Altea sambil menyeka air matanya.
"Jangan membahas perpisahan disini atau aku akan menceburkan mobil ini kedalam danau sana dan kita berdua mati sama sama !!! " Ancam Matteo dengan tatapan tajam untuk menyudahi perdebatan nya dengan Altea mengenai perceraian.
Altea mematung mendengar ancaman Matteo dia memiringkan tubuhnya untuk menghindari AC mobil. Tubuhnya yang kedinginan karena basah kuyup semakin menggigil karena AC mobil menyentuh kulit nya.
Melihat Altea memiringkan tubuhnya ,Matteo segera mematikan AC mobil. Getaran kecil yang dia lihat dari tubuh Altea menandakan jika wanita itu sedang menggigil kedinginan dan itu membuat Matteo semakin bertambah cemas, akhirnya dia menambah laju kecepatan mobil agar segera tiba dirumah.
Setibanya di halaman rumah Matteo langsung menggendong tubuh Altea yang basah kuyup bak seorang baby. "Jangan bergerak !!! " titah Matteo karena Altea meronta minta diturunkan.
Membawa Altea kedalam kamar mandi kemudian meletakkan tubuh Altea diatas bath up dan mengisinya dengan air panas. "Kutunggu 2 menit ! " Matteo segera keluar kemudian mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi sebelah karena dia juga basah kuyup.
Beberapa saat kemudian Altea keluar dari bath up karena mulai merasa tubuhnya sudah kembali hangat setelah berendam air panas sekitar lima menit, matanya memicing karena hanya menemukan handuk kecil tergantung, dia semakin kesal karena Matteo tidak mengantarnya ke kamar yang dia tempati tadi siang, padahal dia sudah memindahkan baju yang disiapkan pelayan ke sana.
Tidak ada pilihan lain selain memakai handuk kecil itu ,Altea membuka pintu dengan perlahan dan mengeluarkan kepalanya untuk memastikan kamar itu kosong, kemudian dia berjalan mengendap menuju lemari untuk mengambil apa saja yang bisa menutupi tubuhnya sementara.
Hal yang tidak terduga terjadi ,Matteo yang sudah berjalan menuju kamar perlahan membuka pintu dan melihat Altea membelakanginya tampak tangan Altea sedang mengacak acak isi lemari seolah mencari sesuatu. Seketika Matteo menelan ludahnya dengan kasar, bola matanya membulat tanpa berkedip melihat bagian tubuh mulus Altea.
Handuk kecil yang melilit tubuh Altea tampak tertarik ketika Altea hendak berjinjit, Kaki jenjang dan lekuk tubuh Altea tercetak jelas belum lagi geraian rambut basah Altea semakin menampilkan aura seksi menggoda.Matteo sama sekali tidak berkedip dirinya hanya mematung di depan pintu yang setengah terbuka sambil menelan ludahnya berkali kali.
Biar bagaimana pun Matteo juga pria dewasa yang normal, meski dia bukan seperti Daniel dan Ibra yang suka menjajah wanita ,namun jika dihadapkan dengan pemandangan seperti ini sudah pastilah membangkitkan gairah kejantanannya.
Melihat Altea yang masuk kembali kedalam kamar mandi membuat Matteo bernafas lega, setidaknya ujiannya melihat tubuh Altea berakhir.
Kenapa langsung bereaksi dengan cepat ?
Matteo merasakan sesuatu menegang dibalik celana training yang dia pakai.
Jangan buat aku susah di pagi subuh seperti ini kumohon ! Sambil melangkah mundur.
Matteo bingung sendiri , dirinya sudah biasa melihat lekuk tubuh wanita di klub malam tapi jarang mengundang reaksi kejantanan nya muncul.
"Kenapa cepat sekali bangun!! desah Matteo setelah tiba didalam kamar mandi ujung ruangan karena merasakan celana masih terasa sesak." cepat tidur aku masih harus menyelesaikan masalahku dengan Altea !" desah Matteo frustasi sambil memandang langit langit .
Bersambung......