
Ruang tengah keluarga Mahaprana sedang menegang. Dirga Mahaprana dan istrinya Sherin mendatangi kediaman David dengan kobaran api emosi.
Bagaimana tidak putranya Alexander Mahaprana harus berjuang melawan koma dirumah sakit setelah mendapat perlakuan kasar dari Matteo Mahaprana anak kandung dari kakaknya sendiri.
Nama Chelsea Altea Maulana juga menjadi ikon perbincangan yang membuat suasana tegang menjadi semakin rumit.
Dikabarkan jika gadis itu adalah penyebab Matteo saling serang dan mengakibatkan Alexander harus berjuang melawan koma dirumah sakit.
"Jangan coba coba mengubur kesalahan putra kakak dengan kekuasaan yang kakak miliki! Karena aku tidak akan tinggal diam ! " Tegas Dirga sambil menunjuk wajah David tanpa hormat.
"Semua ini harus dijalani secara adil di pengadilan! tanpa membawa kekuasaan! , nama suami saya juga masih melekat di wasiat,jangan coba coba membeli hukum "
Sherin istri Dirga juga tak kalah mengibarkan bendera perang .
"Matteo memang sudah kelewatan, lihatlah diluar, siapa yang tidak mengenal anak itu? bahkan tidak terhitung sudah berapa nyawa yang hampir merenggang di tangannya sendiri" Dirga tersenyum menyeringai.
David hanya menahan geramnya karena dia juga mengakui jika sang putra adalah manusia yang penuh emosi dan gampang meledak.
Dia tidak bisa membantah ucapan Dirga Mahaprana karena memang itu benar adanya. Tidak terhitung lagi berapa orang yang sudah terkapar akibat kebrutalan Matteo.
Jika melihat sisi kehidupan putranya sekarang bukan tidak mungkin Matteo memang melakukan hal itu kepada Alex dan jika kasus ini sampai di pengadilan besar kemungkinan Matteo akan mendekap di jeruji besi. Untuk sekarang dia tidak bisa membela putranya itu.
"Aku tidak akan memberikan toleransi sedikit pun karena ini menyangkut nyawa anak saya" Sherin masih mengobarkan api api kebencian.
"Kakak harus tegas , Alexander juga adalah bagian Mahaprana sama dengan putramu ,
Tegakkan keadilan kak !!! Tegakkan !!!!! "
Suara Dirga menggema memenuhi seluruh ruangan.
"Mama, kakak ma gimana dengan kakak.." "Suara diva terbata menahan Isak tangisnya.
"semua akan baik baik saja sayang" Ratna menggenggam tangan Diva.
"Kita selesaikan semua di pengadilan" Suara david terdengar tegas dengan keputusannya yang sudah bulat.
"Pa ....... " Altea memandang David seolah tidak setuju.
"Yang salah memang harus dihukum, dan jika terbukti putra saya salah maka dia wajib menjalankan hukumannya" David mengakhiri kalimatnya sambil meninggalkan ruang tengah.
"Aku tunggu keadilan kakak ! " Dirga tersenyum menyeringai seakan kata katanya itu adalah ancaman.
"Kami permisi kakak ipar, sampai ketemu di pengadilan " Sherin menekankan kata pengadilan dan melengos pergi.
.
.
.
"Aku gagal jadi orang tua , sangat sangat gagal " merebahkan tubuh diatas sofa sambil memejamkan mata.
Sebagai putra tertua dirinya harus dipaksa adil dengan putra kandung dan keponakan yang sama sama menyandang nama Mahaprana.
.
.
.
.
Di pengadilan
Matteo dan gio duduk sebagai tersangka. setelah pihak kepolisian menyelidiki jika kedua orang ini yang menonjol saat kejadian, sedangkan 9 anggota gengnya dilepaskan.
Altea juga hadir sebagai saksi dia juga membawa serta Rafael mendampinginya bersama dengan Ilham dan Sofi ibunya.
Sementara di kanan mereka ada Dirga Mahaprana dan istrinya Sherin bersama dengan pengacara.
Di sana juga hadir David Mahaprana dan Ratna Devitta Orion.
"jika tindakan ku salah aku siap dihukum" Matteo sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat sepupunya hampir merenggang nyawa.
Dia duduk dengan tenang dan pasrah, namun jangan tanya pandangan nya kemana,sudah jelaslah mengarah kepada sosok gadis cantik yang selalu mengisi hatinya.
Raut wajah Matteo sama sekali tidak bisa terbaca.
Melihat ayah dan ibunya dari jarak jauh semakin membuat jiwanya kembali bergemuruh. Ternyata orang tuanya sama sekali tidak mendukungnya.
"Kakak ... kami harus bagaimana kak" Diva
.
.
Persidangan semakin menegang ketika para pengacara menyampaikan hal hal yang setuju dan keberatan mereka.
"Baiklah saksi terakhir kami persilahkan saudari memaparkan apa yang terjadi " ucap Hakim.
Matteo sama sekali tidak bergeming, dia hanya berharap jika Altea mengatakan yang sebenarnya.
"Malam itu aku dan Matteo berencana ketemu, tapi dia datang terlambat maka dari itu aku pulang, saat itu juga Alex datang dan melecehkan aku" Altea bergetar saat mengingat kejadian horor itu.
Matanya tidak luput dari Matteo, orang yang sudah mengakui perasaannya dan juga orang yang memintanya memilih dua pilihan bertunangan atau menikah.
Jika saja dirimu tidak datang maka hancur sudah kehidupanku, aku memang membencimu tapi aku tidak menghilangkan kebenaran yang sebenarnya terjadi.
Seharusnya aku juga mengucapkan terimakasih saat itu. Altea.
"Dan Matteo datang menolongku dengan memukul Alex, ini bukan pertama kali dia mencoba melecehkan aku" Altea menuturkan semua kejadian yang hampir menimpanya satu bulan lalu, dia juga menyeret nama Rafael untuk meyakinkan hakim.
Ruang persidangan semakin tegang ketika Rafael angkat bicara.
"Saat itu aku mengikuti mobil beliau dan mendapati jika beliau hendak memerkosa Altea dan saya juga memukulnya"
"Kenapa manusi bangsat ini membelaku? , Matteo
David dan Ratna terkejut bukan main ternyata disini Altea bukan hanya sebagai saksi tapi juga korban.
Belum selesai keterkejutannya mengetahui Altea adalah korban, sekarang semakin sempurna setelah mengetahui jika ini bukan kali pertama Alex bersikap kurang ajar.
Rasa sedih kembali meliputi perasaan Sofi dan Ilham, bagaimana tidak ternyata anak perempuan mereka menyimpan sesuatu yang hal yang jauh dari perkiraan mereka.
Ini masuk dalam daftar hal paling menyedihkan sepanjang hidupnya.
Setelah melewati banyak tahap tahap dan akhirnya hakim memutuskan Matteo dan gio tidak bersalah.
.
.
"Tidak !! ini tidak bisa dibiarkan , putra saya sudah hampir merenggang nyawa dan kau melepaskan tersangka begitu saja ?
"Berapa kau dibayar oleh kedua manusia ini?
Menunjuk David dan Ratna yang mulai bernafas tenang.
Sherin tidak terima Matteo bebas begitu saja dengan vonis tidak bersalah.
Ruang persidangan mulai sepi...
"Tatap tante nak.... " Ratna menangkup kedua pipi Altea dengan empati, dia juga tidak bisa membendung air matanya .
Dirinya benar benar terluka setelah mengetahui jika gadis polos yang begitu lugu itu hampir saja menjadi korban pemerkosaan keponakannya sendiri.
Gadis yang sudah mulai mencuri perhatiannya, Gadis yang sudah menjadi pilihan ayahnya, dan gadis yang sangat dicintai putranya sendiri.Baginya Altea adalah sosok wanita yang berbeda.
"Lihat tante sayang, kenapa kau tidak pernah bercerita nak?" Ratna memeluk tubuh gadis itu dengan antusias.
Yang dipeluk hanya menahan Isak tangis sambil mengigit bibirnya agar suaranya tidak keluar.
"Kenapa kau tidak memberitahu Matteo atau tante nak ?? kenapa sayang? " Ratna masih memegang pipi Altea dengan sayang.
Sementara Matteo hanya bisa menatap wanita yang dia cintai dari jarak jauh, ingin sekali dia mendekap tubuh Altea sekarang.
Sebelum pandangannya beralih dia melihat Rafael mendekat kearah Altea dan ibunya,sepertinya mereka sedang bertegur sapa.
Mengapa kau membawa dia Al, jangan bilang kau mencintainya, Aku mohon jangan Al.
Matteo menyadari hubungannya dengan Rafael tidak baik, tapi melihat Rafael membelanya di persidangan menjadikan hal itu menjadi tanda tanya yang begitu besar.
Apa tujuan mu membela ku?
BERSAMBUNG.....