
Merasa perutnya mulai mengisap Altea membuka mata dan perlahan menyibak selimut yang menutupi tubuhnya..
"Apa ini !!!! "Altea ternganga, menutup mulutnya menggunakan tangan karena melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. "aaaaa !!!! "
Dan ternyata teriakan Altea membuat Matteo refleks bangun.
"Kenapa ?? apa yang terjadi " Matteo yang sedang istirahat untuk memulihkan tenaganya yang sudah terkuras terkejut mendengar teriakan Altea, karena panik Matteo menarik selimut yang membungkus tubuh Altea untuk memeriksa kondisi wanita itu.
"Apa yang terjadi sayang ? " Matteo mengulang pertanyaannya sambil terus memeriksa tubuh Altea.
"Tidak ada " lirih Altea merasa malu. Buru buru menarik selimut yang disingkap oleh matteo untuk menutupi seluruh tubuhnya karena ingatannya sudah mulai kembali.
Matteo hanya tersenyum kecil melihat tingkah istrinya dia tau jika Altea sedang menahan malu.
Memakai boxernya Matteo mengisi air hangat didalam bath up dan menuang sedikit aromaterapi. Setelah itu ia kembali kedalam kamar, Altea yang melihat Matteo kembali langsung menutup wajahnya dengan selimut yang mengundang tawa dari Matteo.
"Kenapa wajah jelek mu ditutupi ? " goda Matteo seraya menarik selimut.
"Jangan!!! " Altea menepis tangan matteo, dia tidak bisa membayangkan jika Matteo menarik selimut itu maka terpampang lah tubuh polosnya .
Tidak !! tidak!!
"Kenapa ? " Matteo duduk
"Aku malu.." lirih Altea lagi lagi dia menyembunyikan wajahnya.
Matteo tersenyum tipis namun didalam hati dia tertawa terbahak-bahak. "Ayolah aku akan membantumu membersihkan tubuh mu " Matteo mulai mendekatkan tangannya.
"Ini sudah malam, dan kau juga harus makan bukan? " Matteo langsung mengangkat tubuh Altea dan meletakkannya di dalam bath up.
Matteo keluar dan memungut pakaiannya dan pakaian Altea yang berserak di lantai. Setelah itu dia masuk kembali kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri bersama Altea.
"Aku bisa sendiri " Altea keluar dari bath up dan menghidupkan keran shower untuk membilas seluruh tubuhnya.
"Mana bajuku ? " Altea keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di tubuhnya.
"Sudah aku masukkan ke situ" menunjuk box tempat baju kotor.
"Lalu aku pakai apa ?? kalau bajuku sudah kamu masukkan kesitu" Dahi Altea berkerut.
"Kau tidak usah pakai baju " Matteo mengedipkan matanya dengan seringai licik.
"Tidak tidak !!!! aku pakai saja bajuku yang tadi " Altea sudah berjalan menuju box.
"Jangan!! Aku sudah meminta petugas mengantarkan baju untuk mu tunggu saja " Matteo mengangkat tubuh Altea dan mendudukkannya di atas meja.
"Lagian kamu sih..bajuku itu kan masih bersih kenapa kamu masukkan kesitu " gerutu Altea. Pandangannya tidak luput dari perut six pack Matteo dan juga otot otot kekar milik pria itu yang tampak ****.
Matteo tidak menjawab dia membuka lemari untuk mengambil pakaiannya.
Mendengar bel berbunyi Matteo keluar dan mendapati ternyata seseorang yang dia suruh sudah datang memberikan paperbag.
Beralih kepada Altea dia menurunkan wanita itu dari atas meja dan membatu Altea memakai satu persatu pakaian.
"Kita akan tidur disini ??? "
"Tidak " Jawab Matteo singkat.
"Kenapa ? "
Menyentil hidung mancung Altea "Aku sudah bilang bukan, sejak malam itu aku tidak pernah menginjakkan kaki disini ".
"Dan bukan tidak mungkin selama 3 bulan tempat ini berdebu atau berjamur. " mengecup pipi Altea.
"Oh begitu " Altea mengangguk paham, alasan matteo sekaligus menjadi jawaban mengapa pria itu memasukkan bajunya kedalam box pakaian kotor.
"Ayo " Matteo menarik tangan Altea .
"Kita mau kemana ? "
"Jangan banyak bertanya " Setelah memastikan pintu apartemennya sudah tertutup aman, Matteo menggandeng tangan Altea menuju lantai 30.
.
.
"Ini apartemen mu juga ? " Altea mulai banyak bercoleteh.
"Iya " jawab Matteo singkat. Matteo menarik tangan Altea menuju meja makan. "Duduklah kau sudah lapar bukan "
"Siapa yang menyiapkan semua ini " Tanya Altea berbinar melihat banyak menu kesukaannya sudah tersedia diatas meja.
"Aku lah... siapa lagi " menarik kursi agar Altea duduk.
"Kamu ??? " Dahi Altea berkerut. "Kapan ?
"Tadi.. aku menyihirnya " Goda Matteo.
"Mana ada begitu " Altea mulai mengisi piringnya. Rasanya perutnya semakin mengisap karena mencium aroma masakan yang mengundang selera.
"Pelan pelan makannya " Matteo mengusap sisa makanan di ujung bibir istrinya menggunakan tisu.
"uhm.. " Altea memamerkan deretan gigi, dengan makanan memenuhi mulutnya.
.
.
.
"Aku tidak bisa menggambarkan betapa bahagianya aku sekarang " matteo dan Altea sudah berada di dalam kamar. Bersandar di heardboard tempat tidur. "Aku bahagia karena kamu "
"Kenapa aku? " altea membenamkan kepalanya di dada bidang Matteo, pria itu mengelus rambut Altea sambil memberi kecupan kecupan kecil di pucuk kepala wanita itu.
"Bagi dunia ini kau mungkin satu orang, tapi bagi satu orang kau adalah dunia " Meraih tangan Altea dan mengecup nya "dan satu orang itu adalah aku"
"Kenapa tidak sekalian kau bilang aku adalah mataharimu, bulan mu, bintang mu hahahah... " bukannya menanggapi, Altea malah mencibir sekaligus tertawa karena menurutnya ucapan Matteo terlalu lebay.
"Kau ya.... !! " Matteo yang sedang serius langsung tergelak. Tangannya langsung menggelitik perut Altea hingga wanita itu tertawa terpingkal diatas tempat tidur.
"Hentikan nanti si baby tidak jadi tidur " Altea duduk mengusap perutnya.
"Sabar ya nak papa mu memang gak ada akhlak " Sindir Altea yang langsung disambut mata bulat Matteo yang ingin melompat keluar.
"Kenapa kamu bicara seperti itu! " Matteo kesal tidak terima, seraya mendekat.
"Karena kamu sudah menggangu tidur si baby " cibir Altea masih mengelus perutnya.
"Kemarilah.. " Matteo meletakkan bantal agar Altea berbaring. Tangan Matteo kemudian mengusap perut istrinya. "maafkan papa sudah mengganggumu tidurmu, istirahatlah baby.." mengecup perut Altea berkali kali.
Tangan Altea mengelus rambut Matteo.
"Kamu telah mengganti mimpi buruk ku dengan mimpi indah, kekhawatiran ku dengan kebahagiaan, dan ketakutan ku dengan cinta."
Matteo yang mendengar suara lembut istrinya langsung menengadah. Membawa istrinya kedalam pelukan hangat. "Maaf aku pernah jadi mimpi buruk dan ketakutan mu".
"Aku memang tidak akan bisa mengembalikan semua seperti dulu, namun aku akan mengganti semua rasa sakit mu menjadi kebahagiaan untukmu, untukku dan anak kita " Janji Matteo mewakili perasaannya.
"Tidak apa apa, Tunjukkan jika dirimu mencintai kami " Altea menarik tangan Matteo dan meletakkan diatas perutnya.
Tidak banyak yang diharapkan Altea kedepannya dari pernikahannya dengan Matteo. Dia hanya berharap Matteo benar benar meninggalkan masa lalunya yang buruk, dan menjalani hidup yang lebih baik bersama dirinya dan calon anak mereka.
Altea mengingat kembali bagaimana dirinya bangkit dari keterpurukan setelah kejadian naas itu. Bahkan tangisan saja tidak bisa menggambarkan betapa terpuruknya dia saat itu.
Yang lebih membuat dia tersiksa adalah penyesalan. Dia begitu menyesal karena merasa kasihan kepada Matteo malam itu, padahal pria itu sudah mengusirnya namun dia tidak tega.
"Aku mencintai kalian berdua sayang " Menarik lembut Altea kedalam pelukannya.
"Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan " Matteo mengeratkan pelukannya.
"Istirahatlah sayang.... Besok kita akan bercerita lagi ,banyak hal yang perlu aku ketahui dari bibirmu " Sebelum memejamkan matanya Matteo masih menyempatkan diri untuk menyesap bibir Altea dengan perasaan hangat.
Altea tersenyum, dia memejamkan matanya dan masuk kedalam alam mimpi.
Bersambung....
Tetap tinggalkan jejak ya reader...
🤗👌