Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Takut Kehilangan


"Ada perlu apa sampai kakek menyuruh ku kemari " Matteo mendudukkan bokongnya di samping sang kakek .


"Apa harus ada alasan agar bisa bertemu denganmu boy?"


"Harus !!! " Dengus Matteo kesal sambil melepas jaketnya.


"Ini " Raymund menyerahkan amplob coklat berisi berkas kepada Matteo.


"Ini apa ? tanya Matteo sambil memicingkan matanya. "Surat pengalihan hak dan kepemilikan ? " Tanya Matteo memperjelas.


"Iya.. kakek sudah memutuskan untuk mengalihkan kepemilikan perusahaan ke tangan mu " Ucap Raymund dengan tegas.


Matteo terkekeh kecil. "Aku sudah berulang kali mengatakan bahwa aku tidak membutuhkan ini" Matteo menyingkirkan semua berkas tersebut. Entah mengapa dia sama sekali tidak tertarik menjadi pemimpin seperti yang di inginkan oleh kakeknya dan juga ayahnya.


"Ingat boy kau sudah menikah, menikah dadakan lebih tepatnya " kekeh Raymund seolah menyindir. "mau kau kasi makan apa anak dan istrimu kelak jika kau tidak memulainya sekarang ? "


"Aku sanggup memberi istriku makan tua bangka, pikirkan saja dirimu dan ajal mu yang sudah dekat " Matteo terkekeh menjahili sang kakek sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Ini yang terakhir kakek memberimu kesempatan " Raymund menoleh lekat kepada cucunya. "Kakek tau kau masih sibuk dengan dunia luar mu " Raymund menghela nafas sejenak. Dunia luar yang dia maksud adalah Arena MMA, klub malam, dan mabuk mabukan yang masih menjadi candu bagi Matteo.


"Tapi ingatlah waktumu tidak banyak lagi berikan fasilitas yang terbaik untuk istri dan calon anak mu " tutur Raymund.


Raymund sebenarnya tau jika Matteo mempunyai omset pribadi yang masih dirahasiakan dari keluarga, hanya orang tertentu yang tau dari mana omset pribadi Matteo. Akan tetapi dia begitu berharap jika Matteo mau memimpin perusahaan miliknya karena dia tau jika Matteo memiliki kemampuan dan kejeniusan yang baik.


"Saham yang kamu warisi di perusahaan ayahmu tidak akan cukup menjamin masa depan anak anak mu, kamu mau anak anak mu kelak berebut harta warisan dengan anak kakak mu Juna ??? " Raymund menatap lekat wajah Matteo dengan tatapan penuh arti.


Mendengar kata berebut warisan, logika Matteo kembali hidup dia memutar ingatannya dengan persoalan ayahnya yang selalu memaksa dirinya dan kakaknya harus menjadi pemimpin yang hebat untuk memimpin perusahaan Mahaprana agar perusahaan itu tidak jatuh ke tangan para sepupunya yang selalu mengincar kedudukan.


Dia juga mengingat momen kecil ketika dia masih berada di bangku SMA ayahnya dan pamannya selalu bertengkar hebat mengenai perusahaan dan itulah penyebab hubungan kekeluargaan mereka sedikit retak dan mengakibatkan pertalian darah kurang mengalir dengan baik. Hal itu juga berimbas kepada mereka anak anaknya.


"Kakek memberi mu waktu dalam satu bulan ini , pikirkan semuanya dengan baik demi cicit ku " Raymund menepuk pundak Matteo dan segera bangkit kembali ke dalam kamar dan istirahat, kesehatannya yang sudah menurun memang memaksa dirinya harus istirahat penuh. Perusaahan hanya diurus oleh beberapa orang kepercayaan Raymund saja.


Matteo tidak menandatangi surat pengalihan hak dan kepemilikan itu namun dia menyimpannya dan segera bergegas keluar untuk melihat Altea. Dia memang masih khawatir dengan kondisi tubuh Altea ditambah lagi wanita itu sedang mengandung anaknya sudah pastilah dirinya harus ekstra menjaga kesehatan sang istri.


Didalam perjalanan ponselnya kembali berdering ternyata yang menghubungi adalah Daniel. Dia meminta Matteo agar menemuinya di kantor , dan Matteo juga menyetujui.


.


.


.


"Ada apa menghubungiku kemari " ucap Matteo.


"Gio dan anak anak melamar magang disini " ucap Daniel sambil menutup laptop miliknya " bagaimana menurutmu ? " . Anak anak yang dimaksud Daniel adalah anggota geng Matteo di arena.


"Apa masalahnya " Matteo mengerutkan keningnya.


"Bukan masalah, untuk sementara posisimu masihlah sekretaris meskipun sudah sebulan dirimu menghilang " Selama Matteo menenangkan diri setelah kejadian pemerkosaan itu dia sama sekali tidak bekerja dan membuat Daniel harus merekrut sekretaris sementara.


"Lalu ? tanya Matteo.


"Aku hanya berpikir untuk memindahkan posisimu ke bagian khusus dan Gio atau anak anak lainnya bisa menggantikan posisimu " Ucap Daniel. " karena aku tidak mungkin menempatkan mereka begitu saja tanpa ada perhitungan dariku " .


Meskipun Daniel bukan bagian dari geng Matteo akan tetapi karena persahabatan mereka membuat dirinya tetap peduli dengan Geng Matteo lebih tepatnya masa depan anak anak itu.


"Aku juga sedang dalam perhitungan" Matteo menghela nafas.


"Kenapa ?


"Ayah bersikeras memintaku segera duduk di perusahaan" Matteo mengingat bagaimana David berbicara tegas kepadanya setelah acara pernikahan mereka selesai. "sementara kakek Raymund menyerahkan kepemilikan perusahaannya untukku " ucap Matteo sambil memijat keningnya " mereka semua beralasan karena aku punya tanggungjawab terhadap kehamilan Altea".


Daniel menganggukkan kepalanya seolah mengerti. "Mana yang kamu pilih ?


"Aku tidak tau, kau tau bukan aku tidak butuh semua itu " ucap Matteo.


"Sebaiknya kamu pertimbangkan, omset yang kamu miliki sekarang itu belum tentu bisa... " Kalimat Daniel terhenti ketika mendengar ketokan pintu


tok.. tok.. tok....


"Maaf pak ada tamu ingin menemui bapak " ucap seorang pria yang menjadi sekretaris sementara Daniel. " suruh masuk saja "


Ternyata tamu itu adalah Rafael yang memang sengaja menemui Daniel dengan urusan kerjasama antara perusahaan yang mereka pimpin.


Pandangan Matteo dan Rafael bertemu , keduanya duduk dengan tatapan membunuh. Matteo sejenak melirik Daniel dengan tatapan tajam, Daniel yang menyadari kejanggalan keduanya hanya merutuki kesalahannya menghubungi Matteo tanpa melihat jam pertemuannya dengan Rafael.


Kenapa aku tidak kepikiran dengan kedua manusia ini . Batin Daniel.


"Saya kesini hanya memberikan ini " Rafael menyerahkan dokumen ke depan Daniel tapi sorot matanya tetap mengarah kepada Matteo.


"Untuk pembahasan kita lebih lanjut, kita selesaikan besok " ucap Rafael.


Rafael kemudian berdiri bersiap untuk pergi namun ponselnya terjatuh tepat di atas meja. Pandangan Matteo beralih melihat layar ponsel Rafael dengan wallpaper foto Altea. Melihat itu andrenalin Matteo memuncak. Namun sekuat tenaga dia menahan emosinya agar tidak meledak.


"Saya permisi dulu " Rafael berlalu begitu saja tanpa berniat menyapa Matteo yang menahan geram.


Apa mau mu sialan ! Dia sudah menjadi milikku pun tapi kau masih berani mengejarnya. Geram Matteo sambil melajukan mobilnya.


Diperjalanan pulang lagi lagi ponsel Matteo berdering dan melihat kakaknya Juna menghubunginya.


"Ada apa kak?


" Kesini segera ada hal penting yang harus kita bahas"


Tut... Tut... Tut... Juna mematikan sambungan telepon sepihak.


Dengan kesal Matteo akhirnya menemui Juna di kantor Mahaprana, di sana sudah ada Ratna ibunya dengan derai air mata.


"Ada apa memanggilku kesini" tanya Matteo datar tanpa ekspresi sambil melirik ibunya yang menyeka air mata.


"Perusahaan kakek Raymund sedang di ambang kebangkrutan, orang kepercayaan kakek melakukan korupsi besar besaran hingga saham Orion berada di zona degradasi " Juna menunjukkan kurva disebuah layar.


"Data dan dokumen Orion Company dibajak habis habisan, dalam waktu dekat perusahaan kakek mu bisa beralih ke tangan orang lain yang sedang bergerak maju " Ucap Ratna menyeka Air matanya.


Seketika Matteo mengepalkan kedua tangannya mengingat wajah sendu kakek nya tadi pagi.


"Apa kakek tau semua ini?


tanya Matteo dingin.


" Tidak nak, mama tidak mau membebani pikiran kakek mu, yang tau semua ini hanya papa dan kalian saja, papa juga sedang berusaha mempertahankan perusahaan kakek " ucap Ratna.


"Kakek menyerahkan pengalihan hak dan kepemilikan saham Orion Company kepadaku tadi pagi " Ucap Matteo bingung.


"Aku rasa kau punya tanggungjawab penuh mengatasi ini semua" ucap Juna .


"Tapi aku tidak menerimanya " Telak Matteo sinis.


Juna dan Ratna seketika saling memandang, memang mereka tau seperti apa jiwa Matteo dari dulu memang dia tidak mengincar apa apa , entah karena dia sudah kenyang dengan harta atau memang tidak perduli sama sekali intinya dia tidak mau repot dengan perusahaan.


"Kalian harus turut membantu ayah menangani itu semua sebelum terlambat " Ratna menatap kedua putranya bergantian.


Juna melirik Matteo seolah meminta adiknya membuka suara.


"Aku akan pikirkan" Ucap Matteo.


Mereka bertiga berbincang bincang sambil menyusun rencana untuk mempertahankan perusahaan Orion hingga hari sudah mulai gelap.


"Altea sendirian aku harus menemuinya " Matteo bergegas pergi.


Setibanya dirumah Matteo langsung berjalan cepat menuju lantai dua tempat dimana kamar mereka dan Altea berada, setelah membuka pintu dia tidak menemui Altea di sana.


"Maaf tuan , nyonya tidak mau tidur satu kamar dengan tuan" ucap wanita paruh baya yang bertugas sebagai pelayan.


"Lalu dimana Altea ? " Matteo langsung melayangkan tatapan mata penuh kekhawatiran.


"Nyonya ada di kamar itu " wanita paruh baya itu menunjuk kamar kecil yang berada di sudut ruangan.


"Di sana ??? tanya Matteo dengan nada datar menahan emosi.


"Iya tuan , nyonya memilih istirahat disitu dia tidak mau dikamar lain tadi saya sudah membujuknya " ucap pelayan dengan takut takut.


"Baiklah terimakasih" Matteo segera pergi mendekati kamar kecil itu, perlahan membuka pintu dan mendapati Altea tidur meringkuk seperti bayi didalam rahim. Matteo mendekati Altea dan mengelus pipi mulus wanita yang sedang mengandung itu.


"Aku tidak menyangka penyatuan kita akan berakhir seperti ini, tapi aku akan memperjuangkan dirimu dan anakku , aku janji " Matteo menggenggam tangan Altea dan mengecupnya.


Dia mengedarkan pandangannya menyapu sudut kamar yang begitu sempit. Menatap lekat wajah Altea dia semakin dihantui rasa bersalah.


Maafkan aku telah membuatmu sampai di titik ini


Mengingat wallpaper Rafael tadi siang, bisa ditebak jika lelaki itu masih mengejar altea. Matteo berjongkok dan membelai pipi Altea dengan lembut, rasa gelisah dan takut kehilangan begitu menghantuinya.


Meskipun mereka sudah menikah tetapi dia bisa merasakan jika Altea belum menerima pernikahan itu bahkan altea selalu menjauhinya karena rasa benci Altea semakin bertambah.


Apakah kamu akan memilih dia suatu saat nanti?


Perlahan mengangkat tubuh Altea dan memindahkan wanita itu ke kamar mereka yang jauh lebih luas. Dia tidak mau wanita yang dia cintai tidur di dalam kamar sempit seperti itu. Perlahan meletakkan tubuh Altea dan menarik selimut hingga menutupi setengah tubuh istrinya , sedangkan Altea sama sekali tidak bergerak seolah tidak terganggu sedikit pun .


Dia kemudian bertanya kepada pelayan apakah Altea sudah makan atau belum.


"Sudah tuan " mendengar jawaban pelayan Matteo kembali lagi ke kamar dan segera membersihkan diri .


Setelah itu dia segera menyusul Altea keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping wanita yang sedang mengeluarkan dengkuran halus itu.


BERSAMBUNG...


hai reader . Bantu like dan vote yah 👍🤗