
Disebuah gedung lebih tepatnya di Manchester yang berlokasi di bagian tengah-selatan Inggris Barat Laut, yang dibatasi oleh Daratan.
Seorang pria sedang teliti memperhatikan petinggi perusahaan cabang yang sedang mempresentasikan hasil kinerja yang dia ubah selama satu Minggu. Terlihat dia beberapa kali menyeruput teh hijau hangat karena cuaca di Manchester dingin.
Setelah selesai dengan rapat dan pertemuan pertamanya dia segera kembali ke hotel miliknya yang terletak di pinggiran kota.
Di sana Mike dan Gio sudah menunggu Matteo.
Mike mendekati Matteo sambil memancarkan senyum sumringah yang begitu hangat.
"Saham perusahaan melonjak naik dan menduduki posisi ke ketiga setelah bangkit dari zona degradasi " imbuh Mike sambil memperlihatkan kurva dengan garis yang naik turun, akan tetapi terlihat lebih stabil dari seminggu lalu.
Perusahaan Orion company mulai kembali stabil setelah Matteo dengan segala logika dan kejeniusannya langsung merombak sistem dan mekanisme. Perusahaan yang dulunya digadang gadang akan hancur lebur sekarang jauh lebih baik.
"Apa ada lagi yang harus saya selesaikan " Tanya Matteo datar.
"Tidak ada , akan tetapi perluasan area akan dilaksanakan sesuai perintah anda " tutur Mike.
"Kalau itu aku serahkan padamu dan Gio " ucap Matteo sambil melirik Gio yang masih berdiri.
"Baik . Ini statistik baru perusahaan " Mike memberikan informasi lewat aplikasi dari mobile.
"kepala divisi dan tiga orang lagi sudah ditahan atas kasus penggelapan uang perusahaan, dan tiga hari lagi mereka akan di proses di Indonesia " ucap Mike.
"Lanjutkan tugas mu untuk memperbaiki kerusakan yang mereka buat, awasi gerakan yang lain dan laporkan kepadaku" Matteo berdiri dan segera mengemasi barang barang nya.
"Bos apa kita pulang hari ini ?? "
"Iya "
Aku merindukan Altea. senyum manis menghiasi wajah Matteo.
"Tapi bos apa tidak sebaiknya kita undur saja, aku sudah membeli tiket menonton One Championship " ucap Gio dengan tatapan kecewa.
"ck ya sudah kau nikmati Manchester sampai besok , aku menunggumu di kantor " Matteo memakai jaket hoodie nya.
"Apa bos tidak ingin jalan jalan dulu " tanya Gio
"Apa kau lupa aku sudah beristri mereka prioritas ku sekarang " Ketus Matteo.
Mereka yang dia maksud adalah Altea dan calon bayi mereka.
Sepertinya Altea berhasil membuat Harimau jantan yang selalu kelaparan akan benar benar berubah .
"ya ya ya terimakasih aku pulang bersama mu saja kalau begitu " Gio tidak mau menikmati Manchester tanpa Matteo rasanya dia begitu segan dengan pria misterius yang mulai berubah itu.
"Terserah Padamu " Ketus Matteo.
Sebelum berangkat ke bandara mereka bertiga mampir ke pusat perbelanjaan di Manchester City Center.
Pusat kota yang dipenuhi dengan pusat perbelanjaan. Area ini juga merupakan perpaduan yang pas antara toko-toko high-street, independent stores, butik desainer papan atas, hingga outlet barang-barang vintage. Yang lebih menyenangkan, area ini cukup mudah dijelajahi dengan berjalan kaki. mereka bisa menemukan Harvey Nicolds, Selfridges, dan berakhir di pintu masuk Arndale Centre – yang merupakan lokasi berbelanja lain yang juga akan membuat semua orang terpana.
Berjalan menyusuri toko branded Matteo menoleh kepada kedua manusia yang mengikutinya. "Apa yang cocok dengan Altea ? "
"Maaf Altea itu siapa " Tanya Mike dengan polos.
"Istriku " Matteo menoleh dengan tatapan tajam.
Seketika Mike menelan ludahnya dengan bersusah payah. Apa ada wanita yang tidak takut dengan mu? . Gumam Mike didalam hati.
Dia mengingat tiga hari yang lalu Matteo memporak porandakan fasilitas di kantor cabang dan membuat semua karyawan wanita dan kepala bidang terdiam beringsut.
"Jawab ! , apa yang cocok untuk istriku ? " Matteo menekan kata istriku.
"Anda bisa membeli tas atau pakaian untuk istri anda, karena saja juga seperti itu kepada istri saya " ucap Mike memberi ide.
Ternyata dia sudah beristri
"Dia tidak suka barang seperti itu " gumam pelan tapi masih bisa terdengar oleh Mike dan Gio. Matteo sibuk mengedarkan pandangannya.
"Beli perhiasan aja " Gio menunjuk sebuah toko perhiasan melalui sorot matanya. "huh ide bagus" Matteo segera melangkah menuju toko.
"Excuse me, give me the most beautiful jewelry here" ( Permisi, berikan aku perhiasan terbaik yang ada disini ". Matteo mengetuk meja dengan telunjuknya.
Penjual memperlihatkan jejeran perhiasan satu set dengan nilai fantastis.
"Ini mana cocok untuk Altea , leher Altea kan kecil dan putih " ucap Matteo memegang perhiasan berwarna gold sambil membayangkan leher Altea dengan senyum manis. Mata Matteo masih fokus memilih milih perhiasan yang cocok.
"yang ini saja, dia akan semakin cantik menggunakan ini " gumam Matteo, matanya tertuju dengan perhiasan mewah yang terlihat sederhana. Senyum mengembang membingkai permukaan wajah datar Matteo membayangkan Altea memakai perhiasan pilihannya.
Mike dan Gio saling memandang seolah tidak yakin dengan pria dingin yang mereka saksikan hari ini terlihat lebih banyak bicara. Pria itu bersikap layaknya manusia biasa ketimbang hari hari yang telah berlalu.
"Beli juga untuk istrimu " Matteo membalikkan badannya melirik Mike yang sedang sibuk dengan pikirannya. " Tidak , saya rasa tidak perlu " tolak Mike.
"aku melihat yang itu juga menarik " Matteo menunjuk perhiasan dibalik kaca dengan tampilan elegan.
"Tidak usah, anda tidak perlu repot " tolak Mike lagi.
Melihat tatapan membunuh dari Matteo seketika nyali Mike menciut "Baik aku akan memilih salah satu " Mike mengalah karena merasakan sinyal berbahaya telah mengancam.
Ingat Mike dia itu yang mulia Matteo Mahaprana bukan kakek Raymund yang gampang kalian taklukkan hahaha . Begitu isi pikiran Gio yang menahan tawanya di belakang Mike karena merasa terhibur melihat wajah pucat pria itu.
Setelah dirasa selesai Mike menyelesaikan pembayaran dan segera menghampiri Matteo dan Gio yang sudah menunggu di mobil.
Siang hari pesawat yang mereka tumpangi lepas landas menuju daratan Indonesia. Mike dengan setia mendampingi Matteo karena belum sepenuhnya tau tentang kepribadian pria itu takutnya dia teledor sedikit bisa bisa jabatannya melayang seperti petinggi yang baru saja ditendang oleh Matteo dari cabang perusahaan.
Berbeda dengan Gio yang tampaknya lebih santai karena sudah hapal dengan pria yang pernah menolong nyawanya itu.
Didalam pesawat Matteo membuka ponselnya dan melihat foto Altea, senyum tersungging di bibirnya. Aku merindukan mu Al.
Satu minggu tidak bertemu serasa satu tahun bagi Matteo, dia mengingat bagaimana tersiksanya dia jauh dari wanita cantik yang sudah sah menjadi istrinya itu.
Di lain tempat lebih tepatnya di kediaman orang tua Altea,tampak gadis itu sedang curhat dengan ibunya.
"Nak... Kau tidak boleh seperti ini terus, hidup terus berlanjut kau sudah dewasa bangun hadapi semuanya " Sofi membelai rambut Altea dengan perasaan sedih. Wanita hamil itu sedang membaringkan tubuhnya di pangkuan sang ibu, bulir bulir bening perlahan menetes dari pelupuk matanya.
"Aku tidak menyangka perjalanan ku serumit ini Bu. Jika membunuh bukan dosa sudah dari kemarin ku gugurkan bayi ini"
Altea terisak kecil mengingat bagaimana dia berjuang bekerja selama 3 tahun untuk mengumpul modal kuliah.
"Apa yang kamu katakan nak !!! " Sofi yang mendengar curhatan Altea terkejut bukan main. Selain tidak bisa menerima Matteo ternyata Altea juga belum bisa menerima kehadiran bayi mungil tidak berdosa yang mulai hidup didalam rahimnya.
"Gugurkan saja nak, ayah mendukung mu... " Ilham yang baru saja pulang dari bengkel tak sengaja mendengar obrolan istri dan putrinya.
Sontak Altea bangun, dia melihat wajah ayahnya dingin dengan aura mistis yang penuh arti. "Ayah.... " Altea menunduk meremas ujung bajunya.
"Gugurkan saja nak, penjara masih longgar " Sindiran santai Ilham bagaikan tamparan keras untuk Altea. Suara dingin penuh makna itu terdengar seperti ancaman mematikan.
"Aku mau istirahat " Altea segera berdiri dan masuk kedalam kamar. Mengunci pintu lalu tubuhnya melorot ke lantai. Air mata yang tadinya hanya menetes kini mengalir dengan deras.
"Ini semua karena kau " Sorot mata Altea tertuju ke arah boneka beruang warna pink yang terbaring diatas tempat tidur, boneka itu adalah barang pemberian Matteo dua hari sebelum Matteo memerkosanya.
"Ayah tidak pernah seperti ini dengan ku " Altea terisak kecil, berusaha menahan suara tangisnya agar tidak terdengar oleh kedua orangtuanya.
Sementara kedua orangtuanya hanya diam saling memandang. "Ayah kita harus bisa menjadi penyemangat untuk putri kita " Sofi membelai lengan suaminya.
Satu jam kemudian terdengar suara pintu diketuk, ternyata yang mengetuk adalah Diva.
"Hai pak Bu apa kakak ipar nya ada ??? , maksud saya Altea " ucap diva cengengesan.
"Ada nak masuk saja " Sofi mempersilahkan Diva masuk.
Ternyata kedatangan Diva adalah meminta Altea menginap dirumah kediaman Mahaprana atas permintaan sang tuan rumah yaitu David Mahaprana. Dan Altea juga menyetujuinya, melihat putrinya dijemput oleh diva ada rasa hangat melingkupi perasaan Sofi.
.
.
.
"Sejak kapan Matteo berangkat ke luar negeri nak ? " Disela makan malam David membuka obrolan santai dengan Altea. Mereka semua sedang menikmati makan malam di kediaman Mahaprana.
"Sudah satu Minggu om" Ucap Altea .
"Om ?" David menekankan katanya sambil tersenyum.
"ahh sudah satu minggu pa maaf " Belum terbiasa dengan keluarga barunya membuat Altea sedikit gugup dan segan.
"Kau merindukannya ? " Selidik David bercanda.
"Papa ada ada saja " Altea tertawa kecil.
"Telepon dia agar segera menyelesaikan urusannya di sana, takutnya dia lupa sudah punya istri dan calon anak " David terkekeh geli melontarkan candaannya "Anak muda zaman sekarang harus sering di ingatkan " tambahnya lagi.
"Apa semacam Amnesia begitu " kekeh Diva membalas candaan David.
"Hahahaha "
Ratna dan Diva tertawa kecil mendengar obrolan hangat mertua dan menantu itu.
Ratna sadar bukan cuma putranya saja yang nyaman dengan Altea, akan tetapi suami dinginnya juga nyaman.
David bukan tipe pria yang suka bercanda, Apalagi ketika di meja makan paling pantang baginya mendengar orang berbicara sambil makan, mungkin karena terbiasa serius dengan urusan perusahaan membuat jiwanya terbentuk dengan pembawaan lebih dingin.
Akan tetapi sikap dinginnya terlihat mencair ketika bersama Altea, dia bahkan tidak segan segan bercanda dengan menantunya meskipun disaksikan oleh beberapa pasang mata yakni Juna dan Aurel.
Pandangan Altea tak sengaja melihat juna memberikan air putih kepada Aurel. "terimakasih sayang " ucap Aurel menerima air putih dari tangan Juna.
Terlihat sederhana tapi bisa membuat Altea tersentuh. Sejenak dia mengingat Matteo yang begitu perhatian padanya, bahkan Matteo selalu menciptakan suasana yang nyaman untuk Altea.
Aku merindukan mu batin Altea tanpa sadar.
Hai reader sepertinya mereka berdua saling merindukan 😂.
Tinggalkan like dan komentar kalian.