
Suasana riuh terdengar disepanjang jalan raya. Setiap insan manusia sedang memulai aktivitas mereka.
Sebagian ada yang berangkat bekerja sambil membonceng anak anaknya ke sekolah untuk mengantar buah hati ke depan gerbang kesuksesan menuju masa depan.
Klakson mobil saling sahut menyahut. Itu tandanya banyak diantara mereka yang sedang mengejar waktu.
Seorang pria paruh baya baru saja tiba di depan ruko sederhana yang terletak dipinggir jalan.
Sepeda motor miliknya dia parkirkan di samping ruko.
Pria itu memasukkan kunci kedalam gembok dan memutarnya.
Pintu terbuka. Tampaklah pemandangan peralatan bengkel tersusun dimana mana.
Siswa yang sedang PKL di bengkelnya langsung sigap mengambil tugas masing masing.
Ada yang langsung menyusun ban mobil di depan.
ada juga yang sudah bersiap untuk mengerjakan pekerjaan yang belum selesai semalam.
Ada juga diantara mereka izin sarapan terlebih dahulu karena mungkin dari rumah tadi tidak sempat. Ilham memaklumi itu.
Baginya semangat anak anak muda perlu.
Kalau bekerja dalam perut kosong tidak akan bisa konsentrasi penuh.
Sekitar 30 menit kemudian. Bengkel sudah siap beroperasi. Anak anak juga sudah mulai mengambil kesibukan masing-masing.
Ilham juga sudah bersiap untuk memulai pekerjaannya untuk membimbing anak anak muda itu mendapatkan ilmu yang cukup untuk bekal ujian praktek mereka nantinya.
Sebanyak 7 orang siswa tersebut memiliki kemampuan yang berbeda.
Ada yang gampang mengerti ada juga yang lambat.
Ilham selalu sabar mendidik mereka.
Dia cukup senang anak anak itu mau menikmati proses belajar mereka.
Baginya tidak ada manusia yang langsung pintar. Semua butuh proses.
Proses lambat dan cepat itu hal biasa .
Yang penting kita mau belajar dan belajar.
Mobil sudah terparkir. Pengemudi datang memberi tahu keluhan mobilnya mogok.
Ilham langsung sigap memeriksa keadaan mesin mobil.
Anak anak spontan mengerumuni. Ilham tidak lagi memberitahu dari A - Z. Hanya memberitahu garis besarnya saja anak anak sudah mulai terbiasa.
Mereka langsung bergerak mengambil dongkrak. untuk mengangkat ban mobil agar mempermudah inspeksi bagian kolong kendaraan.
Ada juga yang langsung mendinginkan mesin.
Ilham menikmati pemandangan semangat anak anak muda itu.
Sambil memberi arahan dan petunjuk disitulah materi tersebut disampaikan.
"Terimakasih " Pengemudi mobil sudah berlalu membawa mobilnya keluar dari bengkel.
Anak anak merasa lega kinerja mereka sudah mulai bisa diandalkan walau belum maksimal.
Jam makan siang tiba. Ilham memberikan jeda istirahat bergantian untuk memulihkan tenaga anak anak.
Sebuah mobil Alphard hitam berhenti. Dua orang berpakaian rapi datang sambil menenteng bungkusan di dalam kantong plastik.
"Ada yang bisa kami bantu ? " Salah satu anak anak memberanikan diri untuk bertanya.
Pria itu memberikan kantongan plastik kepada anak PKL. "Itu makan siang untuk kalian " ujarnya.
"Kami ?? " Tanya mereka serempak. Matanya sudah menelisik isi bungkusan plastik itu. Aroma makanan sudah mulai tercium.
Ilham datang dari belakang sambil membawa gelas berisi air putih. Dilihatnya anak anak sedang berbicara dengan seseorang.
"Apa bapak atas nama Ilham Maulana ? "
"Saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu? "
Ilham meletakkan gelas. matanya fokus melihat siapa yang datang ini. Tatapannya sedikit berbeda . Pikir ilham.
"Jika berkenan ikutlah dengan kami "
Ilham mengerutkan keningnya. Matanya tertuju kepada anak anak yang sedang memakan makanan pemberian pria yang tidak tau entah berasal dari antah berantah mana.
"Bisa jelaskan mengapa saya harus ikut dengan kalian? " . Sudah mulai memasang tampang bertanya tanya. Ilham tidak terkejut tapi penasaran.
"Ikutlah dengan kami hanya sebentar. Nanti kami beritahukan tujuan kami " kedua pria itu bersikap sopan santun.
Salah satu dari mereka sudah membuka pintu mobil mempersilahkan Ilham masuk.
Anak anak masih sibuk menyantap makan siang yang menurut mereka mewah. Biasanya mereka hanya membawa bontot dari rumah atau membeli nasi di warteg.
Kali ini mereka seolah dapat undian.
Makan gratis dengan varian rasa mantap. Diusapnya perut yang mulai kenyang.
Tidak lupa menyeruput air putih sebanyak banyaknya untuk menghilangkan pedas asin gurih yang masih lengket diarea lidah.
"Bapak titip bengkel sebentar. Jika ada perlu hubungi segera " Anak anak menganggukkan kepala. Mereka menikmati minuman segar. Kipas angin mereka dekatkan agar suhu lebih bersahabat.
Terik matahari sudah menguras keringat mereka sedari tadi. Suhu di kota tersebut memang lebih panas.
Mungkin efek musim kemarau.
"Silahkan .... " Ilham sudah masuk. Pria yang membukakan pintu menundukkan kepala kemudian menutupnya.
Didalam mobil Ilham masih belum bisa menebak dimana mereka berhenti. Ah sulit ditebak. Kedua pria itu juga enggan membuka suara.
Namun, entah mengapa Ilham tidak merasa ada gelagat mencurigakan.
Mobil berhenti disebuah bangunan berkaca yang masih tertutup oleh gerai tirai peach. Bangunan itu tampak masih tertutup. Tidak ada tanda tanda aktivitas disana.
Terlihat halamannya kecil namun tempatnya strategis.
"Ini kuncinya pak. Bengkel ini sudah bisa bapak operasikan mulai sekarang" Pria itu memberikan kunci.
Ilham tidak langsung menerima. "Maksudnya apa ini ? " semakin besar rasa penasarannya.
"Bisa berikan penjelasan padaku ?? " Tegasnya dengan suara penuh tanda tanya.
Ilham sama sekali tidak mau memalingkan tatapannya dari kedua pria itu.
Masih menunggu jawaban atas pertanyaannya.
"Bengkel ini untuk bapak. Ini hadiah dari tuan Matteo. Beliau tidak bisa datang memberikan langsung kepada bapak karena ada pekerjaan mendesak yang harus beliau selesaikan hari ini"
Mendengar nama Matteo , pria paruh baya itu menghela nafasnya. Dipandanginya kedua pria yang memakai jas hitam itu.
Ilham yakin mereka bukan orang sembarangan.
Tempo hari Matteo membeli sebuah rumah yang minimalis tapi terkesan modern. Rumah itu dia serahkan kepada mertuanya. Namun Ilham menolak dengan cepat.
Bukan tidak mau menghargai tapi dia merasa itu berlebihan sekali.
Matteo juga meminta agar Ilham jangan lagi bekerja ke bengkel. Dia sudah meminta Mike untuk mengirim sejumlah uang untuk menjamin kehidupan mertuanya.
Dan itu langsung ditolak mentah oleh ilham.
Dia tetap menjaga harga dirinya.
Dan ternyata Matteo belum menyerah.
Tidak ada pilihan lain akhirnya Matteo memutuskan untuk memberikan sebuah bengkel otomotif besar dengan fasilitas lengkap.
Tidak tanggung-tanggung Matteo juga mendatangkan beberapa tenaga ahli otomotif untuk mendukung kinerja bengkel kedepannya.
Harapan Matteo hanya satu semoga bisa membantu dan menyenangkan hati mertuanya.
"Tidak perlu seperti ini nak. Bapak tidak membutuhkan semua itu " Ilham sudah berada didalam ruangan Matteo.
Pria itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat siapa Matteo sebenarnya. Presdir Orion company.
Ilham hanya pernah mendengar nama perusahaan Orion. Tapi tidak menyangka jika ternyata Matteo pemiliknya setelah serah terima dari Raymund.
Tadi Ilham enggan untuk turun dari mobil setelah melihat gedung pencakar langit tempat dimana mereka berhenti.
Walau enggan dia masih memberanikan diri untuk bertanya kepada kedua pria yang mendampingi. Namun pria itu tidak banyak bicara.
Pria paruh baya itu bersikeras untuk menemui Matteo.
Baginya ini hal penting yang harus dibicarakan.
Matteo juga tidak menolak untuk bertemu.
Dia meminta kedua pria yang menjadi jajarannya mengantar Ilham kedalam ruangannya.
"Ayah"
"Altea memanggilmu dengan sebutan itu. Maka aku juga demikian. aku akan memanggilmu dengan sebutan Ayah. " Matteo duduk di samping Ilham.
Dia sudah menebak jika Ilham tidak akan mudah menerima pemberiannya.
Dari Ilham juga dia tau dari mana sifat Altea berasal.
Bukan gengsi tapi harga diri. Itulah yang selalu dijaga oleh Ilham. Hal itu menurun kepada Altea dan Albert juga.
"Ini berlebihan. Bapak tidak bisa menerima ini "
Senyum Matteo tidak surut. Dengan perasaan hangat dia mendekatkan segelas teh kedepan Ilham.
"Bukankah aku anak mu sekarang ? ". Raut wajah Ilham masih belum berubah.
"Aku dan Altea akan bahagia melihat orang tua kami bahagia juga " .
"Altea pernah bercerita tentang mu. Aku sedikit cemburu. Terimakasih sudah merawat Altea dari kecil. dan terimakasih sudah memberikan Altea untukku"
"Bengkel itu untuk bapak"
"Tapi nak ...
"Jika bapak menganggap aku dan Altea anakmu setidaknya terimalah. Toh bapak sendiri juga yang akan merintis itu dari awal nantinya "
Matteo berusaha meyakinkan Ilham. Huh sikap mu sama dengan Altea. Selalu menolak.
Jangan terlalu gengsi kenapa wahai ayah mertua.
"Aku akan mengantar ayah pulang. Mulai besok bengkel itu sudah beroperasi nanti Mike akan membantu ayah "
"Tidak nak..Ayah pulang sendiri. lanjutkan pekerjaan mu. Maaf sudah menggangu mu "
Meski demikian Matteo tetap mengantar Ilham pulang. Disepanjang perjalanan mereka terlibat obrolan santai. Sepertinya sudah mulai lebih akrab.
Mobil telah berhenti. Ilham melihat dari kaca
disana juga sudah ada Mike dan beberapa orang membantu memindahkan barang barang penting untuk dibawa ke bengkel baru. Anak anak sudah tidak sabar untuk melihat bengkel baru tempat mereka nanti belajar.
Tadi Mike sudah menjelaskan tentang kepindahan mereka.
"Terimakasih nak... "
Ada rasa senang didalam hatinya.
Bengkel besar itu akan beroperasi mulai besok. Hari ini Ilham dan anak anak PKL sibuk mengenali area baru mereka.
Bersambung...