Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Baku Hantam


Jam menunjukkan pukul 22.00 Wib. Altea menghentikan kendaraan umum dan duduk bersama penumpang lainnya.


Selang beberapa menit, angkutan yang mereka tumpangi lambat laun mengurangi kecepatan lajunya, lalu berhenti karena macet. Tampak supir angkutan itu keluar dan kemudian masuk lagi.


Altea menengadah melihat macet sepanjang jalan. "Didepan ada apa ya pak?.


"Maaf non , didepan ada anak anak muda yang sedang bertengkar" supir angkutan umum menjelaskan kepada Altea. Sejenak Altea menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Altea kemudian melihat ada minimarket tidak jauh dari tempat angkutan umum yang dia tumpangi berhenti. "Sebaiknya aku ke minimarket dulu".


Altea membuka dompet dan mengambil selembar uang sepuluh ribu.


"Kalau begitu saya turun disini saja pak". Setelah membayar ongkos dia turun dari angkutan umum.


Mata Altea yang fokus berjalan ke minimarket tak sengaja menangkap plat motor ninja hitam yang terparkir pas didepan minimarket. "sepertinya aku kenal ".


Altea penasaran, kemudian dia berjalan membelah kerumunan wartawan dan para pejalan kaki yang sedang mengerumuni dua insan manusia penyebab kemacetan itu.


"Kak Matteo" Altea membatin, namun dirinya hanya diam tak bergeming.


Untuk kedua kalinya dia melihat Matteo sedang baku hantam.


.


.


Terlihat Matteo dengan sekuat tenaga masih berusaha melepaskan diri dari kungkungan pihak keamanan. "Lepaskan aku sialan ! Akan ku bunuh manusia laknat itu" Matteo meronta sambil menunjuk Alex melalui sorot mata tajamnya.


"Kau yang harus dibunuh bajingan! Anak terbuang sepertimu tidak layak hidup di bumi" Alex membalas ucapan Matteo sambil menyingkirkan darah segar yang keluar dari ujung bibirnya.


"Kau anak yang tidak dianggap! buktinya kau diusir dari rumah mu ,Jangan bilang kau juga adalah anak pungut Mahaprana !"


Alex kembali melemparkan kata kata penuh kobaran kebencian yang begitu menyeruak sambil tertawa licik.


Mendengar Alex menghina harga dirinya, Matteo tidak mau tinggal diam , dia membabi buta menghajar pihak keamanan yang sedang menahan tubuhnya.


Bukan Matteo namanya jika tidak berhasil melepaskan diri, seketika pihak keamanan sudah terkapar di aspal.


Matteo semakin mendekat, dengan kaki kekarnya yang dilapisi sepatu sport ,dia menghantam wajah Alex berkali kali.


Alex juga tidak mau kalah, dirinya bangkit dan membalas pukulan Matteo.


Aksi baku hantam yang tadinya sudah reda, seketika kembali lagi bergemuruh.


"Matteo hentikan !!! Altea datang dan menahan tangan Matteo.


Deg .....


Jantung Matteo berdegup kencang mendengar suara merdu yang dikenalinya " Altea ! " Matteo menatap wajah Altea sejenak .


"Oh apa dia adalah wanita mu? " Alex bangkit kembali sambil memamerkan menyeringai licik.


"Hai cantik " Alex menyentil dagu mungil Altea seraya menggodanya.


"Singkirkan tangan kotor mu itu , brengsek !


Matteo mengepalkan tangannya hendak melayangkan pukulan, namun tangannya ditahan oleh Altea.


Bersamaan dengan itu Gio dan teman temannya datang dengan motor ninja masing masing dan membubarkan kerumunan manusia yang sedang menyaksikan adegan kekerasan itu.


Para wartawan tak henti hentinya meliput insiden itu.


Alex kemudian dibawa salah seorang petugas , dan Matteo menarik tangan Altea agar menjauh dari kerumunan wartawan.


"Kamu sedang apa disini? Matteo bertanya sambil memandang Altea dengan sorot mata tajam. Dirinya belum bisa menetralkan emosinya yang sudah dipuncak.


"A... aku mau ke minimarket "


"Lalu?


"aku tak sengaja melihat motor mu" Altea menunjuk motor Matteo yang terparkir.


"Apa kau sedang mengikuti ku?


"Tidak"


Altea menjawab sambil menunduk ,Tubuhnya bergetar melihat penampilan dan wajah Matteo. Jika kemarin dia melihat Matteo dengan gagah , maka kali ini dia di ingatkan kembali tentang kejadian di arena.


Altea melihat darah di kepalan tangan Matteo, rambut Matteo yang biasanya tertata rapi sekarang acak acakan dan sedikit menutupi mata kirinya.


Getaran tubuh Altea bertambah ketika matanya tak sengaja bertemu dengan manik biru Matteo . Dia menyadari jika Matteo masih emosi.


Perlahan lahan Altea memundurkan langkah kakinya karena merasa ketakutan.


"lepas..Lepaskan tanganku " Suara Altea terbata bata.


"Aku antar kamu pulang ! Ayo ,Matteo kembali menarik tangan Altea.


"Tidak, aku pulang sendiri


"Tidak usah aku bisa jalan sendiri...


Altea sedikit meronta agar Matteo melepaskan tangannya.


"Aku antar kamu pulang Chelsea Altea !


Rahang Matteo mengeras. Dirinya kembali emosi karena Altea selalu saja menolak untuk diantar.


"Aku antar kamu pulang ! " Matteo menekan dan mengulang kalimat nya sambil memegang kedua pundak Altea dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Altea. Altea merinding ketika merasakan deru nafas Matteo berhembus di wajahnya.


"Tapi kau sedang terluka" Altea mencoba mencari alasan.


"Aku baik baik saja ,ayo!


"Apa kau marah? Altea bertanya dengan lirih.


"Tidak ...


"Tapi bagaimana dengan teman teman mu itu?


Altea menunjuk Gio dan teman temannya yang kebetulan masih di sana menyaksikan perdebatan ketua mereka dengan Altea.


"Kau masih bisa memikirkan orang lain, tanpa kau sadar jika kau juga sedang dalam bahaya hah !" Matteo membentak Altea karena kesabarannya sudah mulai habis.


Dirinya sebenarnya menyadari jika Altea sedang ketakutan melihatnya, namun dia lebih memikirkan keselamatan gadis itu.


Matteo sadar jika Altea dalam keadaan bahaya. Sudah bisa dia tebak jika Alex akan mengincar Altea juga untuk balas dendam kepadanya.


Maka dari itu dia memilih berdebat dengan Altea dari pada menanggung resiko keselamatan gadis itu.


Matteo tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti gadis yang dia kagumi itu, atau dia cintai ? entahlah hanya dia dan Tuhan yang tau.


.


.


"Mereka juga akan ikut mengantarmu "


Matteo kemudian naik keatas motornya disusul oleh Altea.


Gio selaku tangan kanan Matteo meminta gengnya mengikuti ketua mereka itu. Dirinya bukan ragu dengan kemampuan Matteo, namun begitulah sumpah mereka akan selalu setia satu sama lain.


.


.


Mereka berhenti didepan rumah Altea, "Sebaiknya kalian langsung pergi saja " Altea berucap, sambil membuka helm di kepalanya.


Altea tidak mau menambah masalah baru, dia sudah pulang larut malam tanpa memberi kabar kepada kedua orangtunya, jika sampai ayahnya juga melihat Matteo dan gengnya bisa semakin rumit urusannya.


Matteo juga paham dengan gadis itu yang mengusirnya secara halus. "Baiklah kami permisi" dengan berat hati Matteo mencoba bersikap tenang.


"Tidak baik mengusir tamu, Ayah tidak pernah mengajarimu hal seperti itu "


Suara bas milik Ilham terdengar dari belakang.


Deg... deg... deg...


Altea terdiam begitu juga dengan Matteo. Wajah sangar penuh emosi yang dimiliki Matteo tadi seketika surut.


Ilham sebenarnya melihat Matteo baku hantam di jalanan tadi, karena dia dan istrinya juga kebetulan baru saja pulang dari yayasan panti asuhan untuk memberikan sedekah.


Awalnya dia ingin datang melerai tapi niatnya dia urungkan ketika melihat anak gadisnya juga ada disitu. Dia kemudian menyuruh istrinya pulang duluan dan dia mengamati gerak gerik Matteo dari jauh.


"Masuklah dulu....


Seperti sihir, perkataan Ilham langsung dituruti oleh Matteo, dia juga meminta Gio dan gengnya masuk.


Awalnya geng nya menolak ,tapi melihat sorot mata Matteo yang tajam bak mata pisau akhirnya mereka semua menuruti.


Mereka tidak mau mengecewakan Matteo selaku ketua. Lebih tepatnya mereka memang patuh dan setia kepada Matteo.


Matteo masuk dan di ikuti oleh Gio dan yang lainnya, "Duduk" Ilham mempersilahkan mereka duduk.


Keheningan sejenak tercipta, masing masing dari anggota geng itu saling menatap, namun Gio hanya menaikkan kedua bahunya.


Altea dengan gugup langsung masuk ke kamar dan menutup pintu rapat rapat tanpa mempedulikan Matteo yang akan di sidang oleh ayahnya.


Dia duduk untuk mengatur deru nafasnya.


"Mengapa semakin rumit ichh" dia menendang keranjang kain kotor karena merasa kesal.


Bersambung .....


Bantu like dan komen ya 🤗❤️