Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Altea sakit part (3)


Sedangkan Gio dan anggota gengnya jangan tanya bagaimana lebarnya mulut mereka yang menganggap melihat ketua gengstar itu berjalan dengan santai sambil menggandeng boneka beruang warna pink.


Berbeda dengan Matteo dia berjalan santai dengan senyum mengembang menghiasi pekarangan wajahnya.


Para dokter dan perawat yang melihat hal itu tentu merasa aneh, ini adalah pertama kalinya Matteo datang ke rumah sakit itu dengan tenang.


Biasanya meskipun dalam keadaan dirawat atau sakit Matteo akan memporak-porandakan seisi rumah sakit tanpa terkecuali hingga membuat repot seluruh makhluk penghuni rumah sakit mulai dari satpam, perawat, dokter , direktur ,bahkan jajaran penting rumah sakit.


Hingga kadang sang ayah selaku pemilik rumah sakit harus turun tangan atau menurunkan orang orang khusus untuk menangani putranya. Namun kali ini berbeda, Matteo tampak lebih bersahabat dan berkharisma. Tidak ada wajah sangar yang berbahaya seperti biasanya.


Sejak kapan makhluk predator ini jinak ?


Batin direktur utama rumah sakit yang tanpa sengaja melihat Matteo dengan sabar menunggu lift dengan boneka di tangannya.


Tunggu! apa itu ? boneka ?


Berbagai pertanyaan menghiasi pikiran mereka, tapi tidak ada yang berani membuka suara. Bisa bisa pria yang dianggap predator jinak itu kembali ganas seperti biasa.


"Wah mommy lihat om itu, bonekanya besar aku sukaaa " ucap salah satu anak kecil yang sedang menunggu lift bersama ibunya.


Anak kecil itu kemudian berjalan mendekati Matteo dan menyentuh kaki boneka yang sedang menggantung. "Cantik sekali "


Matteo menyentil kunciran rambut anak kecil itu sambil tersenyum tipis. "Om tampan sekali hihihi " ucap anak kecil itu kemudian langsung bersembunyi sambil cengengesan di balik kaki sang ibu.


"Mau om belikan boneka untuk mu? tanya Matteo menunduk.


"Ma mau.... " anak kecil itu malu malu mengeluarkan suaranya sambil mengintip kemudian bersembunyi lagi.


"Namamu siapa? dan katakan kamu mau kemana ?


"Namaku Mivel aku mau jenguk nenekku"


"Boleh om tau siapa nama nenek mu?


Anak kecil itu menoleh kepada ibu seolah meminta jawaban, " Nenek Sarah " ibu muda itu tersenyum.


"Nama nenekku , nenek Sarah om " Anak kecil itu masih malu malu.


"Baiklah om akan kirimkan boneka untuk mu, tapi nanti " Matteo menyentil hidung mungil anak kecil itu, dan akhirnya mereka masuk kedalam lift.


Didalam lift Matteo mengetikkan pesan singkat melalui pesan WhatsApp kepada Gio.


"Antar boneka ukuran sedang ke kamar pasien bernama Nenek Sarah" terkirim.


.


.


"Pacarnya benar benar beruntung dapat kekasih yang romantis seperti itu, jadi iri...."


"Udah tampan, seksi, romantis lagi...."


Bisikan bisikan para wanita terdengar disepanjang koridor rumah sakit karena tak sengaja melihat Matteo dengan boneka raksasa ditangannya.


Namun dia hanya diam dan tidak menanggapi hal itu, sesekali senyum tipis tersungging di wajah pria itu. Biar bagaimana pun dia juga manusia biasa, dan hal wajar jika ada rasa senang ketika mendapat pujian seperti itu.


.


.


.


Ceklek pintu terbuka....


Altea dan sofi sangat terkejut melihat penampakan sosok boneka raksasa masuk tapi sekejap keterkejutan mereka hilang ketika melihat siapa pembawa boneka itu.


"Ini untuk mu Al....." Matteo memberikan boneka itu ke pangkuan Altea. "Chelsea Altea " Matteo memanggil halus nama gadis itu karena melihat tidak ada pergerakan.


"Apa ini? kenapa kamu memberikan ini padaku? " Wajah Altea dipenuhi rasa tidak terima.


Matteo ingat beberapa menit yang lalu wajah Altea murung karena sang ibu tidak membawa bonekanya, maka dari itu dia berinisiatif membelikan Altea boneka.


Altea mengerutkan keningnya sebentar


" ta..tapi bukan ini.... , aku mau boneka ku yang dirumah " Protes Altea sambil meletakkan boneka tersebut ke ranjang kosong disampingnya.


"Sudah sudah... Nak untuk malam ini kamu peluk ini dulu yah, besok ibu minta ayah menjemput boneka milik mu yah " ujar Sofi dengan sorot mata penuh permohonan.


"Tapi ini besar sekali dan gak akan muat disini" Altea menunjuk ranjang miliknya. "bisa bisa nanti bonekanya yang bobo disini dan aku dilantai" Altea menggerutu meluapkan ketidaksukaannya.


Dia sudah membayangkan nanti malam tidurnya tidak nyaman dan bebas jika dirinya harus berbagi ranjang dengan boneka raksasa itu.


Bed elektrik rumah sakit memang berukuran kecil yang hanya menampung satu orang pasien saja jadi wajar tidak akan muat.


"Oh itu , tunggu sebentar " melihat itu Matteo langsung paham, dia merogoh sakunya dan mengambil benda pipih kemudian mengirim pesan kepada seseorang.


"Tambahkan tempat tidur di kamar 0120, kutunggu 1 menit!! "


Satu menit kemudian dua orang office boy mengetuk pintu sambil mendorong bed elektrik. "permisi tuan ,nyoya ... bed nya kami letakkan dimana ? .


"Rapatkan ketempat tidur nona cantik itu " Matteo menunjuk Altea sambil tersenyum penuh arti.


Melihat itu Altea semakin pusing, dia benar benar kehabisan kata kata untuk berbicara.


Dia kemudian melirik ibunya dalam hati berkata lihat manusia aneh itu apa dua tidak punya urusan lain selain mengurusi hidupku ku, tapi sang ibu hanya tersenyum kecil.


"Baik, kami permisi tuan ,nyonya.... " kedua office boy itu segera keluar setelah menyelesaikan urusannya.


"Selain tukang berantem dan tukang emosi ternyata kau juga tukang mengurusi hidup ku ! umpat Altea.


"Ah Bu, aku pamit pulang dulu besok aku kemari lagi " Matteo pamit kepada Sofi kemudian tersenyum manis kepada Altea yang masih menampilkan wajah kesalnya.


"Aku pikir kau akan bobo disini, makanya memesan bed tambahan " gerutu Altea melayangkan nada sindiran.


"Jika kau mau aku akan dengan senang hati " Matteo mendekati Altea dengan senyum menyeringai.


" Tidak tidak!!!!, kalau kau bobo disini lalu dia dimana? Altea menunjuk boneka yang duduk disampingnya ,kemudian dengan cepat menarik boneka tersebut dan menidurkannya di bed pasien yang baru untuk menghalangi Matteo .


"Itu gampang !! Matteo kembali merogoh saku tanya dan mengambil ponsel.


"Kumohon jangan gila !!! Altea menaikkan volume suaranya satu oktaf karena merasa kesal melihat Matteo yang seenak jidatnya.


Sedangkan Sofi hanya menahan tawa melihat kedua orang dewasa itu berdebat.


"Baiklah , aku pulang dulu untuk sekarang aku tidak bisa bobo disini tapi lain kali aku usahakan " Matteo tersenyum penuh arti.


"Siapa juga yang mau berlama lama disini" Gerutu Altea sambil memalingkan wajahnya.


"Bu aku pamit, salam sama bapak "


"Baik nak, kamu hati hati dijalan"


Matteo kemudian keluar lalu menutup pintu dengan pelan. "Selamat istirahat Chelsea Altea " gumam Matteo.


Altea kemudian menendang nendang boneka raksasa itu sampai mentok kepinggir untuk meluapkan rasa kesalnya.


"Nak tidak boleh seperti itu, hargai pemberian orang lain " Sofi kembali mendekatkan boneka raksasa yang menjadi sumber perdebatan kedua orang dewasa itu sambil mengelus rambut Altea dengan sayang.


Altea hanya mendengus jengkel, tapi tangannya perlahan memeluk boneka tersebut sambil membaringkan tubuhnya menikmati belaian tangan Sofi , perlahan matanya menyipit dan kemudian terlelap dengan nyenyak.


Sedangkan Matteo kini dia sudah berada di dalam mobil. Senyum tersungging dibibir Matteo mengingat wajah cantik Altea ketika cemberut.


"Kau sangat menggemaskan jika merajuk seperti itu"


BERSAMBUNG......