Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Tidak berhak cemburu


Matteo melihat Altea yang membantu Rafael turun dari bed pasien ada rasa tidak suka tergambar di wajahnya.


Pandangan Altea dan Matteo sempat bertemu, namun buru buru Altea mengalihkan pandangannya.


Altea berjalan ke bagian kasir untuk membayar tagihan penanganan Rafael, dia membuka dompetnya, untung saja dia sempat mengambil uang cash dari mesin ATM bersama Matteo tadi.


Altea kembali menghampiri Rafael yang kepalanya sudah dibalut perban. Dia memapah pria itu.


Saat melewati Matteo di kursi tunggu, tiba tiba dia menahan tangan Altea sejenak seakan ingin mengatakan sesuatu, namun ditepis oleh Altea.


Setelah memastikan Rafael sudah masuk ke mobil, Altea berbalik menatap Matteo,pandangan mereka kembali bertemu, Matteo kemudian berjalan mendekat namum buru buru Altea masuk kedalam mobil Rafael seakan menghindar.


"Altea buka pintunya" Matteo mengetuk kaca mobil Rafael namun dihiraukan oleh Altea.


"Jalan saja kak.... Altea meminta Rafael melajukan mobilnya dan meninggalkan Matteo di depan klinik.


Mateo mengamuk dan memporak porandakan fasilitas umum yang ada di sekitarnya. Dirinya benar benar tidak bisa menahan emosi yang bertahta didalam pikirannya.


Kemudian dia melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, sesekali dia membanting setir mobilnya dengan kuat untuk meluapkan kekesalannya.


Dirinya sejenak mengingat penampilan polos Altea ketika pertama kali bertemu, entah sejak kapan rasa tertarik itu hadir yang jelas Matteo cemburu sekarang.


Dia juga memutar ingatannya ketika makan siang berdua dengan Altea beberapa jam yang lalu, dia melihat wajah cantik dan sendu Altea yang membuat hatinya begitu damai dan tenang.


Rencananya Matteo akan membujuk Altea berjalan jalan sebentar sebelum sore datang. Dia juga berencana menghabiskan hari ini dengan Altea.


Namun semua rencana itu bubar tanpa sisa, jika saja Matteo bisa menahan emosinya ketika melihat Altea dan Rafael mungkin keadaannya tidak seperti sekarang.


Bisa saja dia mengajak Altea dengan lembut dan bertanya baik baik siapa sebenarnya laki laki itu.


Namun emosi Matteo langsung berkuasa, dia tidak bisa mengendalikan dirinya.


Akibat dari emosi Matteo ,Rafael yang tidak berdosa menjadi korban keserakahannya dan jelas saja itu membuat Altea semakin kecewa dan mengundang rasa takut itu hadir lagi.


Matteo tiba di apartemen miliknya, kemudian membuka pintu dengan kasar meraih lemari pendingin dan menenggak beberapa botol minuman keras.


Seperti biasa dia akan meluapkan emosinya dengan menenggak minuman keras untuk menenangkan pikirannya.


Setelah beberapa saat, Ibra masuk dan mendapati sahabatnya itu sedang berkutat dengan minuman keras ditangannya.


"Kau kenapa ? Ibra duduk dihadapan Matteo sambil menuang wine kedalam gelasnya, dia melihat jelas bagaimana berantakannya sahabatnya itu sekarang.


"Keluar !


"Tidak mau , Ibra malah menyandarkan tubuhnya dan menyaksikan sahabatnya itu menenggak wine berkali kali.


"Apa kau tau Altea akan makan malam dengan laki laki sialan itu? Ucap Matteo sambil meletakkan botol dari tangannya.


"Oh, jadi ini semua karena Chelsea Altea" ucap Ibra santai.


"Aku bahkan lebih tampan dari pria brengsek itu ! " Matteo masih mengumpat.


"Pacar Altea ? Tanya Ibra penasaran


"Kurasa bukan"


"Lalu ?


"Aku melihat jika mereka bukan sepasang kekasih, karena Altea memperlakukannya sama dengan memperlakukanku"


"Lalu kenapa kau tidak mengajak Altea makan malam juga ?


"Bagaimana aku mengajak, dia bahkan menamparku demi membela lelaki sialan itu ! Rahang Matteo kembali mengeras mengingat bagaimana telapak tangan mulus Altea mendarat di pipi kirinya.


Ibra tertawa kecil mendengar ******* frustasi dari sahabatnya itu. Dia benar benar dapat hiburan baru.


"Apa kau cemburu pada Altea ? Ibra menyandarkan tubuhnya sambil mengangkat kakinya keatas meja.


"Atau kau cemburu kepada laki laki itu??


Matteo langsung mengalihkan pandangannya seakan menyembunyikan perasaanya sekarang.


"Jika kau cemburu dengan laki laki itu maka kau harus dapatkan Altea, hanya itu obatnya " Ibra langsung berdiri bersiap untuk pulang.


"Kau mau kemana ?


"Aku ada janji dengan wanitaku, "Oh iya ini kunci motor mu " Ibra melempar kunci motor kepangkuan Matteo.


Matteo merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil menutupi wajahnya dengan lengan tangan kekarnya. "harus mendapatkan Altea?


Jam bergerak lebih cepat, Matteo terbangun dari tidurnya karena dia merasa ada yang bergejolak didalam perutnya.


Segera mendekat ke toilet dan memuntahkan isi perutnya, sesekali dia membasuh mulutnya dengan air karena lidahnya merasa asam dan pahit.


Dia melirik jam yang tertera di ponselnya menunjukkan jam 18.00, Itu artinya dia sudah tidur selama 5 jam. "Altea " Hanya nama itu yang dia batin kan dalam pikirannya sekarang.


Dia juga melewatkan makan pagi hanya untuk mengejar Altea ke rumah sakit karena dirinya mengkhawatirkan gadis itu.


Dia sebenarnya sudah menyadari jika dirinya memang tidak sekedar hanya menyukai atau mengagumi sosok Altea saja bahkan sudah lebih dari situ. Tapi entah mengapa mulutnya berbohong.


Berkali kali dia ke kamar mandi untuk memuntahkan segala isi perutnya.


Sekujur tubuhnya begitu lemas mungkin efek baku hantam dengan Alex ditambah lagi dia menyiksa tubuhnya dengan miras.


Ingin sekali dia menemui Altea sekarang, Namum kondisi tubuhnya tidak mendukung Fisiknya seolah menolak semua ide yang dikirim oleh sistem sarafnya.


Bayangan Altea pergi bersama Rafael masih terbayang bayang dipikirannya, ada rasa sakit yang dia alami, namun dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata kata.


"Sebodoh dan secepat inikah aku jatuh cinta dengan mu?


Bahkan cemburu pun aku tidak berhak" Batin Matteo.


Karena merasa fisiknya lelah , tanpa sadar dia memejamkan matanya dan membawa pikirannya berimajinasi didalam mimpi mimpi manis yang sementara menenangkan jiwa nya.


Berbeda dengan Altea, Dia menghabiskan waktu dirumah mewah Rafael yang terletak di pinggiran kota Jakarta.


Meskipun baru pertama kali bertemu namun dia merasakan kenyamanan bersama pria itu.


"Kamu harus sering sering datang kesini nak" Ucap seorang wanita paruh baya kepada Altea.


"Udah ma , aku Antar Altea pulang dulu" ucap Rafael kepada ibunya.


Rafael melajukan mobilnya membelah kemacetan ibu kota, sesekali dia melirik Altea senyum manis tergambar di wajah pria itu.


"Harusnya kakak tidak usah mengantarku pulang, aku kan bisa naik taksi tadi " Altea menggerutu.


"Aku tidak tega menelantarkan orang yang sudah menolongku" Ucap Rafael dengan senyum manis menghiasi wajahnya.


"Kakak mah bisa aja " Altea mengusap ponsel miliknya dan melihat panggilan berkali kali dari Matteo, seketika rasa bersalah itu hadir.


Namun mengingat bagaiman Matteo memukul Rafael tadi siang ,sejenak rasa bersalah itu hilang. Dia merasa jika Matteo sudah kelewatan.


Dia kembali membuka akun WhatsApp miliknya dan melihat Chat grup , dia menggeser kan ibu jarinya ke atas dan kebawah untuk melihat schedule yang akan dia ikuti besok.


"Kamu sedang lihat apa Al? Tanya Rafael


"Tidak kak, aku sedang melihat schedule"


Altea menunjukkan layar ponsel nya agar Rafael percaya.


Bersambung....


Episode selanjut nya segera...