
"Apa kau tau jika Altea baik kepada semua orang termasuk samaku" Ibra menambahkan kalimatnya.
"Iya aku tau, lalu apa masalahnya? Ketus Matteo.
"Ya jelas masalah lah , ini kamu baca sendiri"
Ibra melempar map kepangkuan Matteo. Namum Matteo malah mengesampingkan map itu tanpa membukanya.
"Asap rokok mu menyengat sekali sialan! " Ucap Matteo sambil mengibaskan telapak tangan di depan hidungnya.
Ibra kemudian menghentikan kegiatan merokoknya dan kembali duduk di samping Matteo.
"Apa ayah Altea sekarang sedang dirawat di rumah sakit?
Matteo sempat menangkap pembicaraan Altea satu jam yang lalu bersama Ratna.
"Lebih tepatnya sudah sembuh,dan yang aku dengar ayahnya sudah dirumah" balas Ibra.
"Terus saja kau mendengar, lalu kapan kau melihat dengan jelas" gerutu Matteo yang berpikir jika Ibra memberi informasi yang kurang akurat.
"Apa kau senang Altea datang tadi ? "
Ibra kembali melayangkan pertanyaan.
"Apa profesi mu sekarang sudah berubah menjadi wartawan?" Matteo malah bertanya balik sambil menunjukkan wajah masam nya karena kesal melihat Ibra yang selalu menyorot urusan pribadinya.
"Aku hanya menduga kau sedang jatuh cinta dengan wanita itu" Ibra tersenyum penuh arti.
Matteo hanya diam dan tidak menjawab Ibra. tidak menjawab iya atau tidak, mungkin dia masih bingung dengan perasaannya atau karena dia gengsi.
"Tebakan ku benar bukan? " Ibra kembali bertanya. Dia ingat betul ketika Matteo sedang tidak sadarkan diri,dia malah memanggil nama Altea.
"Kau tidak perlu gengsi mengakui, jatuh cinta itu hal wajar, yang tidak wajar itu kau yang jatuh cinta tapi tidak mau mengakui" Ibra tertawa kecil seolah meledek.
"Aku tidak mencintainya , aku hanya mengagumi tidak lebih" Matteo memilih menyandarkan punggungnya menggunakan bantal sebagai penahan.
"Jika dirimu hanya mengaguminya selamat menyaksikan dia akan dimiliki pria itu" ujar Ibra sambil tersenyum penuh makna.
"Apa maksudmu? mendengar pria itu dia langsung menengadah.
"Nama pria itu Rafael Alison ,anak tunggal Rivan Alison sekaligus ahli waris FRT Group, dan yang aku dengar beberapa hari belakangan ini dia sering ke rumah sakit menjenguk ayah Altea atau mungkin sedang berusaha mendapat hati Altea" ucap Ibra cengengesan sambil mendudukkan bokongnya kembali di ranjang kosong Matteo.
Berbekal bantuan Daniel, Ibra berhasil mencari tau indentitas pria yang dilihatnya bersama Altea beberapa hari yang lalu.
Mendengar pemaparan panjang Ibra, ada rasa sakit dan sesak mengetahui jika seseorang sedang berusaha mendekati gadis yang mengisi ruang rindunya selama ini.
"Apa mungkin aku sudah jatuh cinta dengannya?" suara Matteo terdengar lirih, seolah dirinya sulit mengatakan kebenaran.
Mendengar itu Ibra tidak lagi terkejut dugaannya tepat sasaran. "Itu artinya kau sedang bersaing dengan Rafael Alison" Ibra menekankan kalimatnya.
"Rafael Alison? Matteo mengeraskan rahangnya.
"Anak tunggal Rivan Alison sekaligus ahli waris FRT Group"
Matteo mencerna identitas Rafael, ada rasa sedih ketika dirinya harus bersaing dengan pria mapan seperti itu.
Dari sisi aspek kehidupan pribadi yang dimiliki Matteo rasanya dia akan kalah bersaing dengan Rafael untuk mendapatkan Altea.
Belum lagi dia memiliki aspek kepribadian yang buruk, sudah pasti peluang mendapatkan Altea hanya sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali.
"Rafael ahli waris FRT Group ingat itu" Ibra kembali mengulang kalimatnya seolah mengatakan jika saingan Matteo tidaklah gampang.
"Aku yakin Altea bukan tipe wanita seperti wanita mu yang hanya mengincar uang " gerutu Matteo karena dirinya merasa disepelekan.
"Itu memang sudah profesi mereka" Ibra tertawa kecil.
"Apa kau sedang mengatakan Altea sama dengan wanita wanita ****** mu itu ? Matteo langsung menatap tajam Ibra yang sedang berbaring.
"Tidaklah, sudah pasti perbedaannya jauh" jawab Ibra.
"Altea bahkan tidak bisa dibandingkan dengan wanita mana saja, dia terlalu berharga untuk dibandingkan" Matteo menekankan kalimatnya.
"Uang memang bukan segalanya,tapi segalanya butuh uang termasuk senjata mu mendapatkan Altea" Ibra berbicara dengan raut wajah sinis.
"Aku tidak perlu uang mendapatkan Altea, aku cukup mencintainya dengan tulus dan benar benar menyayanginya" Matteo berbicara dengan tatapan kosong.
"Omong kosong jika itu berhasil " Ibra langsung bangun dan mengambil soda dari dalam lemari pendingin untuk menyegarkan tenggorokannya.
Matteo hanya berdecak kesal sambil melapisi kakinya dengan selimut.
"Cinta butuh pengorbanan boy" ucap Ibra dengan santai.
"Tau apa kau tentang cinta , kau hanya tau meniduri wanita " ledek Matteo.
"Setidaknya aku tidur dengar mereka berdasarkan cinta, meskipun hanya cinta satu malam " Ibra tertawa nyaring seolah menertawakan kalimatnya sendiri.
"Jangan bicarakan cinta jika kau tidak tau artinya" gerutu Matteo.
Sejenak Matteo menatap wajah Ibra, namun buru buru dia mengalihkan pembicaraan.
"Sudah lah aku mau tidur, aku bosan dikurung ditempat terkutuk seperti ini" gerutu Matteo.
"Cepatlah pulih agar kau bisa menyaksikan kebahagian Rafael dengan Altea" Ibra mencoba memancing reaksi Matteo.
"Aku tidak akan membiarkan pria sialan itu mengambil Altea dariku" sorot mata tajam menghujam tergambar jelas dari raut wajah Matteo.
"Baiklah selamat berjuang ! " Ibra dengan santai menekan kalimatnya dan menampilkan senyum penuh arti.
Ibra berjalan menuju sofa disudut ruangan kemudian membaringkan tubuhnya sambil merogoh ponsel dari saku tampak dia menghubungi seseorang lewat video call.
Matteo menguping pembicaraan Ibra, namun karena jaraknya jauh atau karena suara Ibra yang kecil Matteo tidak bisa mendengar dengan jelas, tapi samar samar dia mendengar Ibra sedang berbicara mesra dengan seseorang.
"Dasar buaya" gerutu Matteo sambil membaringkan tubuhnya dan membelakangi sofa tempat Ibra berbaring.
Matteo menghadap tembok dan memandangi dengan tatapan kosong. "Kenapa tadi aku tidak minta maaf sama Altea" .
Karena merasa begitu senang Altea datang dia bahkan lupa jika Altea sedang membencinya.
Sesekali Matteo menarik senyum di bibirnya mengingat bagaimana Altea dengan telaten menyuapinya makan.
Dengan kedatangan Altea sudah jelaslah mood yang awalnya hancur tiba tiba berubah menjadi baik. "mungkin benar aku jatuh cinta denganmu" batin Matteo.
Dia sudah mulai membayangkan hari hari indah bersama Altea, dia juga sesekali memejamkan matanya seolah merasakan sentuhan Altea.
Namun mata itu seketika terbuka lagi, dia kembali ke dalam alam sedih mengingat Altea dengan Rafael saat terakhir kali dilihatnya.
"apakah aku hanya bisa membayangkan mu tanpa memilikimu?
Dia membuka ponselnya dan melihat nomor ponsel Altea entah mengapa ingin sekali dia menghubungi gadis itu sekarang.
Dia rindu suara halus Altea yang seakan bisa menghipnotis pendengarannya.
Sejenak dia melihat jam sudah menunjukkan pukul 22.00. Itu artinya baru satu jam dirinya ditinggal Altea tapi rasa rindu itu seolah menyeruak.
Tanpa sadar dia menekan tombol call, namun buru buru dia mengakhiri panggilan itu. Tanpa di sangka Altea malah menelpon balik.
deg....
Jantung Matteo berdegup melihat nama Altea terpampang di layar ponselnya. "Altea "
"Halo Altea " Matteo memberanikan diri mengangkat ponselnya.
"Hai ada apa meneleponku?
"Aku mau nanya apa kamu sudah sampai?
Pertanyaan inilah yang muncul di pikiran Matteo.
"Oh sudah ,sekitar 30 menit yang lalu"
"Apa kamu baik baik saja ?
"Iya , Tante Ratna mengantar aku sampai rumah"
"Baguslah" Matteo kehabisan kata kata.
"Kenapa kamu belum tidur?
"Aku, aku khawatir sama kamu" Matteo menepuk keningnya seolah merujuk kebodohannya.
"Jangan khawatirkan aku, sekarang kamu istirahat, selamat malam Teo", Altea langsung mematikan sambungan telepon sepihak.
"Apa? dia membuat nama panggilan ku Teo? Mendengar Altea menyebut namanya Teo tiba tiba dia merasa kegirangan. Masih dengan hal kecil saja Matteo serasa mendapat hal spesial yang baru dari Altea.
Padahal bisa saja Altea hanya menyingkat namanya karena dia malas berbicara panjang lebar tapi hal itu dianggap spesial oleh Matteo.
Sebahagia itulah dia jatuh cinta ?
Hai reader episode selanjutnya akan lebih seru, dijamin. itu akan menjadi kisah awal mula perjuangan Matteo mendapat cinta Altea.
jangan lupa pantengin yahh ..
bantu komen dan like 🤗
"
.
.
.