
Altea baru saja tiba dirumah. Merasakan keram mendadak disekitar betis dan lututnya dia segera duduk di sofa, menunduk sedikit kemudian memijit perlahan kakinya, maklum mungkin karena efek kehamilan ditambah lagi Altea yang berjalan ke sana kemari sewaktu di kampus menyebabkan kedua kakinya terasa sangat pegal.
"kaki mu kenapa sayang? " Matteo juga tiba dirumah selang beberapa menit setelah Altea, tidak lupa senyum manis yang licik masih menghiasi wajahnya. Entah ide apa yang sudah terkumpul di dalam otaknya.
"Tidak apa apa! "ketus Altea mengembalikan posisinya lagi menyadari Matteo datang. Dia segera berdiri dan meninggalkan Matteo rasanya dia masih malu sekali mengingat kejadian diantara mereka tadi pagi.
Wanita itu sudah tiba dilantai dua akan tetapi dia tidak berani masuk ke dalam kamar karena dia tau lampu didalam kamar masih padam.
Akhirnya Altea membuka kamar kecil yang berada disudut ruangan tempat dimana dia pernah sehari menempati kamar itu tapi anehnya lampu dikamar itu juga padam. Altea hanya mendengus kesal sambil berbalik.
"Tidak mungkin aku mandi dikamar mandinya lagi apalagi tidur ahh " gumam Altea sambil menutupi wajahnya merasa frustasi.
"kenapa masih disini ? " Matteo juga sudah berada dilantai dua dan melihat Altea seperti gusar. "Lampu dikamar ku mati " ucap Altea malas.
"Oh itu ,maaf aku lupa menghubungi teknisi tadi" Matteo menggaruk kepala "untuk sementara kamu tidur dengan ku saja dulu kalau tidak keberatan " Matteo memberikan solusi.
Setelah menimbang akhirnya Altea menganggukkan kepalanya pertanda jika dia mau menerima solusi Matteo.
Senyum mengembang langsung memancar dari wajah Matteo. Membuka pintu kamar dan mempersilahkan Altea masuk dan mandi duluan.
Setelah selesai mandi Altea dan matteo turun untuk makan malam yang sudah disiapkan oleh asisten rumah tangganya. Bagaikan candu baru dimeja makan Matteo kembali bertingkah konyol meminta Altea menciumnya.
"kalau tidak di cium aku mogok makan !" ancam Matteo meletakkan garpu dan sendok dari tangannya kemudian memalingkan wajah dengan ekspresi datar.
Aku mau lihat bisa tidak kau mengelak haha...
Dari pada urusannya semakin panjang Altea dengan kesal menahan gejolak amarah didalam hatinya akhirnya mendaratkan kecupan manis di pipi Matteo.
.
.
.
Altea sudah berada diatas tempat tidur matteo, wanita itu melenguh karena rasa keram kembali berdenyut denyut kecil disekitar betisnya, merentangkan kedua kaki dia kembali memijit dengan perlahan, bersamaan dengan itu Matteo datang membawa nampan berisi susu hangat didalam gelas.
"Kaki mu pegal ? " Matteo langsung meletakkan nampan diatas nakas dan beralih ke kaki Altea.
"Pegal ??? " Tanya Matteo meminta penjelasan lagi.
"Sedikit " lirih Altea.
"Minum susu milikmu aku kebawah sebentar " Matteo menunjuk gelas diatas nakas,kemudian dia berbalik.
Matteo kembali lagi ke dalam kamar sambil membawa botol botol kecil ditangannya, "Sudah kamu minum? "
Altea hanya menganggukkan kepala ,mata Matteo kemudian beralih melihat gelas sudah kosong itu artinya Altea memang sudah menenggak habis susu itu.
"Kemarikan kaki mu " tangan Matteo sudah menjulur.
"Mau apa kamu ?" Altea menatap tajam Matteo.
Tanpa menjawab Matteo meneteskan sedikit minyak urut di telapak tangannya kemudian perlahan memijit kaki Altea. Wanita itu hanya bisa pasrah Matteo menyentuh kakinya karena memang dia merasa keram dikakinya sangat mengganggu.
"Apa kamu sering memijat orang ? " tanya Altea menyadari pijatan Matteo sangat membantu menghilangkan rasa keram di kakinya.
"tidak " jawab Matteo singkat. "aku yang sering dipijat" tambahnya lagi, Matteo menyelipkan tawa kecil disela sela ucapannya.
"Apa kamu sering mengalami keram sepertiku?" tanya Altea karena semenjak dia hamil sering kali rasa keram dan kebas kebas menjalari tubuhnya.
"Tidak " Ucap Matteo lagi.
"Aku tidak pernah mengalami keram biasa, lebih tepatnya aku sering nyeri,sakit atau semacamnya lah apalagi sehabis aku keluar dari arena. " ucap Matteo mengingat masa masa dimana dia sering melakukan pijat khusus untuk menghilangkan pegal atau nyeri disekitar tubuhnya.
Mendengar Matteo menyinggung masa lalu nya , timbul niat Altea untuk menanyakan lebih tentang arena.
"Apa kau masih sering bertengkar di arena atau dijalanan?" pertanyaan Altea sukses membuat Matteo menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh kepada Altea.
Matteo sadar jika Altea pasti masih mengingat hal hal buruk tentang dirinya.
"Mengapa kau bertanya soal itu " Matteo melayangkan pertanyaan kembali.
"Memangnya tidak boleh ? "
Matteo tidak langsung menjawab, beralih ke kaki Altea yang satu lagi kemudian melanjutkan pijatannya kembali. "Aku bahkan sudah mulai lupa soal itu " kekeh Matteo sekilas.
"Aku tidak pernah lagi menghabiskan waktu di arena semenjak..... "
"Semenjak apa ??? " Tanya Altea penasaran.
"semenjak.... semenjak kejadian malam itu "
Malam yang dimaksud Matteo adalah malam ketika dia memperkosa Altea. Rasanya bibir Matteo tidak bisa berkata leluasa mengenai hal itu
Sisa sisa memory tentang malam itu masih membekas dihatinya. Meskipun disini Altea adalah korban nya akan tetapi Matteo juga merasakan sakit yang begitu menyiksa setelah mendapati bahwa dirinya telah menyakiti seorang gadis polos dan lugu yang dikagumi.
"Maafkan aku soal itu " Lirih Matteo lagi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kejadian itu tidak hanya menyisakan luka untuk Altea dan keluarganya saja akan tetapi Matteo sangat terpukul, karena kejadian itu bukan unsur kesengajaan melainkan keserakahan orang lain untuk mendapatkan keinginan tersendiri.
"Apa dengan memaafkan mu semua akan kembali ?" pertanyaan lolos begitu saja dari mulut Altea, wanita itu perlahan menarik kakinya dari hadapan Matteo, rasa jijik dan takut yang sudah menghilang perlahan muncul.
Matteo seketika membeku mendengar pertanyaan Altea, dia merutuki kesalahannya membawa nama arena yang berujung soal malam menyakitkan itu. Yang membuat dia semakin kesal adalah pertanyaan Altea yang seolah masih berharap semua kembali ke awal. Kini pembahasan mengenai pijatan sudah beralih ke pembahasan mengenai masa lalu.
Melihat Altea menarik kaki dari pangkuannya dia menyimpulkan jika wanita itu kembali merasa jijik atau takut, akhirnya dia memilih menghindar agar tidak memperkeruh suasana.
Matteo tidak lagi mengeluarkan sepatah kata pun, dia segera keluar dari kamar kemudian menuju balkon rumahnya, menatap pemandangan malam ibu kota dia berusaha menetralkan gemuruh didalam hatinya. Ingin sekali dia memporak porandakan seluruh isi balkon rumahnya untuk meluapkan kekesalannya.
Rasa bahagia yang dia dapatkan dari Altea tadi pagi, sekarang berubah menjadi rasa sakit. Sakit rasanya melihat wanita yang dia cintai tidak bisa mengerti situasi dan kondisi dirinya.
Aku harus jawab apa Al...
haruskah aku bilang tidak bisa kembali ?
kalau aku berkata demikian pasti kau dingin lagi seperti kemarin-kemarin.
dari mana aku mulai menjelaskan Al..
Aku pikir usia mu tidak lagi berpengaruh untuk bisa berpikir kedepannya, bukan malah berpikir mundur kebelakang.
Benar kata orang orang kau begitu luar biasa, luar biasa dalam menghadapi masalah diantara kita. Aku bahkan sudah berusaha menciptakan suasana yang baru dan mengabaikan jati diriku dihadapan mu akan tetapi semua sia sia.
Cerita malam ini ditutup dengan Matteo tengah malam kembali ke dalam kamar dan melihat Altea tidur meringkuk. Menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Altea, kemudian dia mengecup dahi Altea sekilas, dan membawa bantal keluar dari kamar
kamu bobo dimana kenapa tidak tidur disini ?
Yang pura pura tidur hanya bisa membatin.
Bersambung...