Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Kau mau mengandung anakku?


Pagi hari di pinggiran Kota Barcelona.


Juna menekan bel berkali kali tapi tidak ada sahutan atau tanda tanda pintu terbuka. "Sepertinya Matteo dan istrinya tidak tidur disini semalam " Ucap Juna berbalik.


"Lalu bagaimana? " Aurel sedang kewalahan saat Thiago yang sedang di gendongannya mengacak acak rambut Aurel. Kedua tangan mungilnya sibuk menarik narik helaian rambut lurus Aurel hingga dia sedikit merasakan sakit.


"Berikan dia padaku " Juna mengulurkan tangannya karena melihat istrinya kewalahan ketika Thiago menjambak jambak rambut Aurel.


Setelah itu mereka kembali masuk kedalam mobil. Niat mereka pagi ini untuk mengantar Thiago akan tetapi sepertinya tidak jadi.


"Kita kemana setelah ini ? " Ucap Juna datar seperti biasa. Juna sudah bersiap untuk melajukan mobil.


"Aku mau membeli beberapa oleh oleh untuk mama dan diva" Ucap Aurel dengan pelan seperti takut.


"Oh baiklah. " Juna memasang seatbelt di tubuhnya.


"Bagaimana dengan Thiago? " Aurel menoleh sejenak.


"Biar saja dia ikut dengan kita. Matteo tidak bisa dihubungi. rumahnya tertutup aku tidak tau mereka menginap dimana" ucap Juna.


"Kalau begitu sebaiknya aku menghubungi Altea dulu. Aku takut mereka kenapa kenapa " Ucap Aurel merogoh isi tasnya lalu mengambil ponsel.


"Tidak diangkat " desah Aurel menarik nafasnya. "Apa mereka baik baik saja? "


Mendengar pertanyaan istrinya Juna jadi merasa tidak nyaman. Dia juga jadi kepikiran dengan adiknya.


Mobil masih belum melaju. Mereka sibuk dengan pikirannya masing masing. Juna tidak pernah meragukan keselamatan adiknya karena tau Matteo seperti apa. Akan tetapi kali ini entah mengapa dia sedikit khawatir. Belum lagi thiago sudah mulai menggumam dengan rengekan mau menangis.


"Aku akan mengecek kedalam sebentar" Juna kembali turun dari mobil. " Kau dan Thiago tetap disini. " Juna mengunci pintu mobil menghindari kemungkinan buruk.


Agak aneh melihat sekeliling rumah adiknya. Mobil terparkir di depan tapi tidak ada tanda tanda kehidupan. Pengawal yang biasa berjaga juga tidak ada.


Juna mulai menggedor pintu dengan tenaganya. Tapi nihil. pintu itu bahkan terkunci dengan sistem. Bukan seperti pintu biasa. Juna mendesah frustasi.


Dia kembali ke dalam mobil lagi memastikan Aurel dan Thiago baik baik saja di dalam.


"Bagaimana? " Aurel sudah mulai cemas. Wajah cemas Aurel membuat Juna semakin panik.


"Pintu terkunci dengan sistem" Ucap Juna sambil memijit pelipisnya.


"Bagaimana kalau kamu hubungi kakek. Kakek pasti tau kunci rumah Matteo bukan? minimal pintu darurat agar bisa masuk kedalam " Ucap Aurel.


"Benar juga. Kenapa aku tidak kepikiran dari tadi " Juna buru buru menghubungi kakek Raymund.


"Tidak diangkat " ucap Juna. Dia sibuk mengotak ngatik ponselnya.


"apa mungkin pin rumah mu sama dengan Matteo?" tiba tiba otak cerdas Aurel bekerja. "Sebaiknya kamu coba. Mana tau kakek juga menyamakan pin pada keamanan sistem di rumah kalian "


"Baiklah. Tunggu disini. aku akan mencoba menggunakan jaringan sistem rumah kita "


Dan benar saja. Pintu terbuka ketika Juna menghubungkan sistem dengan ponsel miliknya. " Pantas saja perusahaan kakek mudah di bajak orang. masa pin ku dengan Matteo disamakan" Juna geleng geleng kepala sambil masuk kedalam.


Matanya menyipit melihat keadaan rumah gelap gulita menutupi samudra raya.


Juna meraba raba tembok mencari tombol dan blarr!!! lampu menyala terang benderang. Dia menaiki anak tangga menuju lantai dua. Jujur jantungnya semakin berpaju dengan cepat membayangkan hal hal buruk apa yang terjadi dengan adiknya.


Sedetik kemudian terdengar ponselnya berbunyi dan ternyata Aurel yang menghubungi . "Bagaimana apa mereka baik baik saja ? " suara Aurel terdengar cemas.


"Tunggu sebentar aku sedang mengeceknya " Juna mematikan sambungan telepon sepihak seperti biasa.


Dia berjalan dengan hati hati menuju kamar di lantai dua.


"Matteo !!! "


"Matteo!!! "


Dua kali teriakan sama sekali tidak membuahkan hasil. Sampai akhirnya dia menghubungkan sistem agar bisa membuka kamar di depannya dan un locked. Pintu tidak terbuka.


Mata Juna menyipit. kenapa bisa tidak terbuka. Seharusnya pintu terbuka karena sistem sudah terhubung dengan ponselnya.


karena tidak sabar Matteo segera mencari rekaman cctv dari ruangan kecil di sudut.


Walaupun di kamar Matteo tidak ada cctv akan tetapi dia bisa melihat rekaman terakhir dari ruangan tengah.


Desain rumahnya dengan rumah Matteo tidak jauh berbeda sehingga dia dengan mudah melangkah atau bahkan menguasai setiap sudut rumah matteo.


Shittt !!!! sialan !


Juna segera turun dari lantai dua setelah melihat apa yang di carinya.


"Bagiamana? " Tanya Aurel cemas melihat Juna datang.


"Kita pergi saja. Si brengsek itu pasti ketiduran! setelah bertempur hebat dengan istrinya tadi malam " Juna melajukan mobilnya dengan jengkal.


"Bertempur hebat bagaimana? " Aurel semakin panik.


Juna membenturkan kepalanya mengenai setir. "Sudahlah jangan cemaskan mereka. " Juna melajukan mobilnya meninggalkan rumah Matteo.


Thiago yang berada di Gendongan Aurel menggumam dengan keras seolah tau jika dia belum kembali ke pangkuan ayah dan ibunya.


"Hei boy... Daddy mu tidak mempedulikan mu lagi. jadi sebaiknya kau milik kami saja ya " Juna menggoda Thiago yang membuat Aurel tersenyum geli.


Mereka sudah tiba di pusat kota. Juna membiarkan istrinya membeli apa saja yang dia mau. Sementara dia sendiri tetap mendampingi Aurel sambil menggendong Thiago.


Senyum tersungging dibibirnya melihat Aurel antusias. Entah mengapa ada perasaan hangat melihat Aurel tersenyum.


"Aku membeli ini. ayo kita pakai " Aurel membeli tiga syal warna senada. Dia melilitkan syal itu di leher Juna dan di leher Thiago.


Aurel mengambil ponselnya. "Ayo kita berfoto " Dia membidik satu foto. "Ahh manisnya. Aku posting ya " Dia segera membuka akun sosial media miliknya dan mengunggah foto mereka.


'One day with my baby Thiago'.


Komentar komentar para teman sosialitanya langsung membanjiri beranda Aurel.


'anakmu manis sekali ' komentar salah satu temannya yang paling heboh. Sambil berkeliling dia tersenyum melihat komentar orang orang di berandanya.


"Kenapa ? " tanya Juna menaikkan alisnya. Mereka sedang menikmati hidangan makan siang bersama dengan Thiago.


"Lihat orang orang mengira Thiago anak kita. hahaha. soalnya cocok sih " ucap Aurel tidak melihat garis senyum di bibir Juna.


"Kau mau punya anak ? " pertanyaan itu langsung menyambar kedua bola mata Aurel. Yang tadinya dia sedang senyum senyum sendiri seketika terdiam. Jantungnya berdebar.


"Kenapa tidak menjawab?


Kau tidak mau mengandung anakku? " Tanya Juna dengan datar.


Aurel bahkan menjatuhkan ponsel miliknya hingga membentur lantai. Dia tidak menyangka jika Juna mempertanyakan perihal ini.


"Baiklah kalau kau tidak mau " Juna memperbaiki posisinya menghadap Thiago yang sedang memporak porandakan makanan diatas meja. Bayi mungil yang menggemaskan itu terlihat berantakan sekali. Coklat dan keju belepotan di seluruh tubuhnya.


"Biarkan aku membersihkan " ucap Aurel langsung membuka jeket Thiago.


Kemudian dia menggantinya dengan yang baru. Untung dia kepikiran membeli jeket Thiago tadi.


Hampir 1 jam mereka menghabiskan waktu untuk menikmati makan siang. Tidak Banyak percakapan lagi setelah Juna menyinggung soal anak tadi.


Kau mencintaiku tapi tidak mau mengandung anakku ! Cih! Aku tidak bisa menebak mu .


Juna menyandarkan kepalanya sebentar sebelum suara seseorang terdengar.


"Anak mommy !!!!! " Altea sudah setengah berlari menuju meja tempat dimana Juna dan Aurel sedang makan siang.


"Halo mommy tadi aku makan banyak ...." ucap Aurel mendirikan Thiago di pangkuannya dan menirukan suara thiago untuk menjawab Altea.


"Ma.. maa.. ma..." Suara gumaman Thiago terdengar. Bayi itu sudah merentangkan tangannya bersiap pindah ke pangkuan Altea.


"Mommy sangat merindukanmu " Ciuman bertubi tubi di pipi gembul Thiago.


Aurel menggeser posisinya agar Altea mendapat tempat duduk. "Duduk Al. kau mau makan apa " Ucap Aurel.


Altea duduk disamping Aurel kakak iparnya. "Apa kakak membelikan dia jeket baru ? " Tanya Altea.


"Iya Al. sekalian ini jaket kotor Thiago. nanti kamu jangan lupa bawa ya tadi dia makan belepotan" ucap Aurel menjelaskan.


"Makasi ya kak. kakak udah jagain thiago. Pasti kakak kurang tidur semalam kan. Apa dia rewel kak " Tanya Altea merasa bersalah.


"Hehehe sedikit al. mungkin karena dia tidak pernah jauh darimu " ucap Aurel.


"Maaf ya kak" Altea semakin merasa bersalah.


"Tidak apa apa Al "


Mereka akhirnya berbincang-bincang sambil menunggu pesanan Altea datang.


"Cih.. berapa ronde kau membantai istrimu sampai kau baru bangun jam segini " decak Juna memandang Matteo jengkel.


Matteo sudah duduk tepat di depan Juna. Senyumnya mengembang sempurna membuat Juna kakaknya tambah kesal.


"Tidak terhitung..." Matteo menjawab sumringah tanpa beban dengan senyum nya yang semakin menjadi jadi.


"Tadi malam Altea tidak mau menyerah maka mau tidak mau aku juga tidak bisa kalah dong " Matteo menarik senyum devilnya menggoda sang kakak.


Walau tidak sepenuhnya. Namun sedikit banyak dia tau hubungan Juna dan Aurel kakak iparnya.


Lagi lagi Matteo tersenyum. "Kenapa kakak kesal ? Apa kakak ...


"Tutup mulutmu " Juna mengalihkan pandangannya ketika melihat senyum jenaka adik yang menjahilinya.


Setelah selesai makan siang. Altea dan Matteo memutuskan untuk pulang membawa Thiago.


"Sekali lagi terimakasih ya kak. Aku akan mengganti uang kakak " Nah kembali lagi jiwa jiwa polos Altea yang membuat aurel jengkel.


padahal altea merasa jika Aurel pasti merogoh uang yang tidak sedikit untuk membeli jaket yang dikenakan thiago.


"Kamu apa apaan sih Al, jangan aneh aneh deh." Aurel menghadiahkan sebuah ciuman di pipi gembul Thiago sebelum mereka pergi.


.


.


"Kenapa kau mendiamkan ku dari tadi ? " Aurel memberanikan diri menghampiri Juna yang sedang mencari udara di balkon.


Mereka sudah berada di rumah sementara selama di Barcelona.


Sudah terkumpul cairan bening di pelupuk matanya. "Aku sangat mencintaimu. jangan diamkan aku " Dia memeluk Juna dari belakang.


Sekarang di Barcelona terlihat mulai gelap. Matahari mulai tertutupi oleh awal tebal. Endusan angin mulai terasa dingin hingga menembus pori pori.


Saat Juna diam seperti ini entah mengapa dia begitu takut dan juga sangat terpukul.


Takut Juna kembali seperti dulu. Menceraikannya dan atau bahkan membuangnya.


"Dan soal tadi. Aku tidak menjawab bukan karena aku tidak mau mengandung anak mu " dia sebenarnya tau kenapa Juna diam.


"Lalu " Juna tiba tiba berbalik hingga membuat Aurel tersentak kaget. Tatapan datar Juna membuat Aurel takut.


"A... aku...


Aku hanya terpaku saat kau membahas itu " Ucap Aurel menghapus air matanya.


Juna yang melihat Aurel menangis sebenarnya hatinya teriris. Melihat getaran tubuh Aurel dia tau istrinya sedang menahan diri.


"terus... " Bukan Juna namanya kalau tidak bisa terlihat cool walau hatinya sebenarnya menolak melihat Aurel menangis.


"Kau bahkan tau bukan ?


Aku ingin jadi istrimu seutuhnya. Memilikimu dan melahirkan anak anakmu


dan hidup menua bersamamu " Terungkap juga apa yang ada di hati aurel.


"Aku bahkan sudah menyerahkan mahkotaku yang berharga untukmu kenapa kau masih meragukan aku ? " Air matanya mengalir lagi kali ini di iringi dengan Isak kecil.


"Aku.....


Belum sempat melanjutkan ucapannya Juna sudah menutup mulut istrinya dengan ciuman.


Dia mengangkat tubuh Aurel merebahkannya diatas tempat tidur dimana mereka tidur semalam.


"Benar kau mau mengandung anakku? " Tanya Juna mulai menelurusi leher jenjang Aurel.


Wanita itu menatap kedua bola mata Juna. Lalu mengangguk.


"Baiklah. Aku akan menanam benih benihku disini" Dia meraba perut rata Aurel yang membuat si empunya menggelinjang kegelian.


Dan pada akhirnya malam itu milik mereka berdua.


Jika tadi malam adalah milik Matteo dan Altea maka, malam ini milik sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta.


Keduanya saling memburu menyalurkan perasaan cinta masing masing.


Juna bahkan tertegun sendiri ketika mendapat perlawanan dari istrinya dan itu membuatnya tambah semangat.


Percintaan itu berlangsung dengan gila.


Kecapan demi kecapan memecahkan keheningan malam.


Tidak tau sekarang jam berapa akan tetapi di sebuah kamar di lantai dua masih terdengar suara rintihan manja dan juga erangan erangan kecil yang samar samar terdengar.


Bersambung....


Haduh....


Ada yang sedang di mabuk cinta 🙈.


Next episode selanjutnya ! jangan lupa tinggalkan komentar dan like kalian.


Salam jumpa tetap jaga kesehatan dan jangan lupa pakai masker setiap saat.