
Pesawat akan didaratkan di bandara Bandara Internasional Barcelona El Prat terletak sekitar 12 km sebelah barat daya dari pusat kota Barcelona.
Mendengar aba aba Matteo Refleks terbangun sama halnya dengan Altea juga. Mereka sama sama mengumpulkan kesadarannya setelah tertidur pulas di dalam pesawat. Pulasnya Matteo tidur dipengaruhi oleh Thiago. Matteo dan Altea akan tidur dengan tenang jika anaknya tidak rewel.
"Sayang kita sudah sampai ? " Ucap Altea sambil mengucek matanya. Suara seraknya menandakan jika wanita itu belum sepenuhnya sadar.
"Sepertinya sudah.. " Matteo menekan tombol di sebelahnya agar kursinya kembali ke posisi semula.
"Berikan dia padaku ? ucap Altea prihatin melihat Matteo memangku Thiago sepanjang perjalanan.
Matteo Menyerahkan Thiago yang masih tertidur. Bayi itu menggeliat sebenar habis itu tidur lagi. "Sepertinya dia senang naik pesawat " Ucap Altea.
"Sepertinya begitu. Dia tidur dengan pulas" Matteo merenggangkan otot ototnya yang sudah mulai terasa kebas.
"Apa tanganmu pegal sayang ? " tanya Altea melihat Matteo.
"Sedikit .."
"Aku akan memijat mu nanti " Ucap Altea.
Matteo tersenyum. " baiklah aku menunggu pijatan plus plus mu.. " sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Altea memutar bola matanya. Setiap hari sepertinya ilmu menggombal Matteo semakin tinggi. Jujur Altea tidak pernah menyangka jika Matteo pandai menggoda.
"Wah anak mommy sudah bangun juga? " Altea melihat baby Thiago sudah membuka mata. Bibir mungilnya menguap lebar lebar. Hahaha dia imut sekali.
Pesawat telah mendarat dengan sempurna.
"Hati hati sayang " Matteo siaga berjalan di samping altea. Mereka sudah turun dari pesawat.
Altea sedikit terkesima melihat sekelilingnya.
"Matteo kita dimana sih" Tanya wanita itu sambil mengerutkan keningnya. Langkahnya bahkan sudah berhenti. Altea menatap Matteo penuh harap. Kali ini dia benar benar butuh jawaban yang real.
"Kita dimana ini? " Tanya Altea sekali lagi. Angin dingin yang berhembus membuat Altea mulai menggigil.
"Silahkan dipakai nona" salah satu wanita yang bertugas mendampingi mereka memberikan Coat tebal. Matteo menerima Coat itu dan memakainya kepada Altea.
"Nanti kamu akan tahu sayang. Sekarang ayolah.. " Matteo melingkarkan tangannya di pinggang Altea.
"Beritahu aku dulu " Ucap Altea sebal.
"Huh ! " desah Matteo. "Apa kedua mata ini tidak bisa melihat ya ? " sindir Matteo sambil menunjukkan sebuah tulisan yang terpampang di depan.
Altea ternganga. Dia takut takut melirik Matteo disebelahnya yang sedang menahan senyum.
Apa ! apakah aku sedang bermimpi ?
Ini benarkan aku sedang di Barcelona. Teriak Altea di dalam hati. Hei bangun! bangun ! jika ini mimpi ayolah bangun. Dia masih terkesima melihat sekelilingnya.
"Aku akan beku jika berlama lama berdiri disini " ucap Matteo.
"Eh.. iya ayo " Altea gelagapan mengambil langkah ke arah mana.
Thiago sudah berada di dalam stroller. Tadi perawat sudah mengenakan baju hangat untuk melapisi baju bayi itu. Cuaca yang dingin di Barcelona membuat perawat harus ekstra hati-hati dalam menangani si kecil.
"Berikan saja padaku " Matteo menerima kemudian mendorong stroller.
Mereka menuju tempat pemeriksaan. Setelah melakukan pemeriksaan lanjutan dan juga penyemprotan mereka memasuki mobil yang sudah menunggu.
Didalam mobil Altea tidak membuka suara sama sekali. Dia masih sibuk dengan pikirannya. Dia terkejut tiba tiba ada disini.
Mobil berhenti di depan sebuah hotel super megah.
"Ayo sayang " Matteo mengulurkan tangannya membantu Altea turun. Lagi lagi dia terpana melihatnya hotel tempat mereka berhenti.
Tinggi bangunan hampir menyentuh langit. Tidak tau berapa anggaran yang di keluarkan untuk mendirikan bangunan SE megah ini.
Mereka sudah tiba di lantai paling atas.
"Kalian istirahatlah " ucap Matteo kepada para pendamping yang selalu berjaga di belakang mereka.
"Baik tuan " Angguk mereka masing masing.
Pendamping itu sudah tidak terlihat lagi. Termasuk perawat yang disiagakan juga sudah meninggalkan tempat itu.
"Mengapa mereka pergi ? " tanya Altea membuka suara.
"Memang mereka mau apa disini ? " Matteo menarik tangan Altea dan menempelkan telapak tangan wanita itu hingga bersentuhan dengan sensor pintu.
tit! Pintu terbuka. Altea lagi lagi ternganga.
Dia melihat Matteo kemudian melihat telapak tangannya.
Ingin rasanya Matteo tertawa sekarang. "Masuklah " ucap Matteo sambil tersenyum mendorong stroller baby Thiago.
"Kenapa kamu diam saja dari tadi ? " Matteo sudah duduk. Dia menarik Altea agar duduk di pangkuannya. Wanita itu menurut.
"Apa kau tidak suka kesini ? " tanya Matteo sedikit mengerutkan keningnya.
"Bu.. bukan begitu " Ucap Altea .
"Jika tidak suka bilang. Kita bisa ganti tempat sekarang juga " Ucap Matteo.
"Tidak tidak tidak...." Altea menggeleng. "Aku suka hanya saja aku merasa... "
"Merasa apa ? "
"Merasa jika ini adalah mimpi." ucap Altea pelan. Jujur Matteo ingin memakan wajah Altea Sakin gemasnya.
"Selera mu aneh sekali" Ucap Matteo sambil menurunkan Altea dari pangkuannya. Laki laki itu sudah berdiri. Dia berlalu ke kamar mandi.
Altea sedikit menarik senyum tipis. Dia mengangkat Thiago dari dalam stroller karena gumaman berkeluaran dari bibir thiago.
Dari ketinggian tempatnya berpijak matanya menangkap suatu tempat yang membuat senyum di bibirnya sumringah.
Lapangan camp Nou, itu mimpiku. Aku ingin memijak rumput lapangan itu. Aaa jangan bangunkan aku jika ini mimpi.
Barcelona, Sekali lagi kumohon jika ini mimpi tolong jangan bangunkan aku. Aaa aku tidak sabar menjelajahi semua sudut Barcelona.
"Kau suka ? " Ucap Matteo sudah keluar dari kamar mandi. Tangannya sudah melingkar di pinggang Altea.
Altea kemudian meletakkan Thiago diatas tempat tidur. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Matteo.
"Kenapa kau tidak bilang jika kita mau kesini " Altea mengusap wajahnya dengan manja tepat di dada Matteo. Kakinya sudah berjinjit mengimbangi tubuh Matteo. Cup cup cup ! Tiga kali kecupan dibibir Matteo. Itu membuat Matteo tergelak kecil.
"Kenapa ? kenapa kau tidak memberi tahuku kita mau kesini " Tanya Altea lagi lagi menghentakkan kakinya.
"Aku mau berikan kejutan. Tapi sepertinya kau tidak terkejut ya. aku jadi sedih " Ucap Matteo dramatis dengan aktingnya yang luar biasa.
"aaa siapa bilang aku tidak terkejut. Aku terkejut tau " Altea memukul mukul dada Matteo dengan kedua kepalan tangannya.
"Aku tidak melihat mu terkejut tadi. Seharusnya kau berteriak dan memeluk dan menciumku di depan semua orang itu baru terkejut " Ucap Matteo datar. Tapi percayalah dia ingin tertawa sekarang.
"iiiihh terkejut tidak harus seperti itu juga kali.." Muah ! muah ! Altea mengecup bibir Matteo lagi lagi pria itu tergelak.
"Sanalah... lepaskan aku. kau tidak senang kita kesini bukan " Matteo sudah melerai pelukan Altea.
Altea mempererat pelukannya. Dia menoleh ke ke atas. "Mau peluk " Altea sudah menempelkan kepalanya di dada Matteo. "Mau peluk sayang " rengeknya dengan manja.
Matteo membalas pelukan Altea juga pada akhirnya. Dia membelai pipi Altea.
"Terimakasih sudah membawaku kesini aku senang sekali " Ucap Altea sambil tersenyum memandang wajah suaminya.
"Berterimakasih lah dengan benar nanti malam " Ucapnya dengan seringai licik yang menjengkelkan. Altea tau maksudnya kalimatnya itu.
"Sekarang bersihkan tubuhmu dan ganti baju mu sana ".
Bibir Altea mengerucut. Tapi dia berlalu ke kamar mandi.
Matteo membuka vertical blind. Hingga kaca terbuka lebar menampakkan keindahan kota Barcelona yang membuat siapa saja pasti terpana. Bangunan bangunan yang tersusun rapi bahkan dengan desain unik dan warna pilihan hingga terlihat jauh lebih elegan.
Sambil menunggu Altea keluar dari kamar mandi dia memilih seloyoran diatas tempat tidur bersama dengan anaknya Thiago.
Thiago sudah mulai menggulingkan badannya kesana kemari membuat Matteo semakin takjub. Bayi itu juga sudah mulai tengkurap dan berjalan menggunakan dua tangan dan dua kakinya.
Sambil menggumam dia menggulingkan badannya dan menarik narik kaos Matteo.
"Anak Daddy mau main apa ? "
Thiago lagi lagi menggulingkan badannya. Suara gumamannya terdengar lebih keras.
"Mungkin dia sudah haus " Altea keluar menggunakan handuk kimono. Dia meraih tubuh thiago. "Anak mommy haus ya " . Memangku Thiago kemudian berbalik membelakangi Matteo. Pria itu mengernyit tidak suka.
"Apa daddy nya tidak diberikan minum susu juga " Ucap Matteo tepat di belakang telinga Altea.
"Ck hentikan tanganmu " Altea menatap Matteo dengan tatapan tajamnya. Tangan Matteo sudah masuk kedalam tubuh Altea yang dibalut kimono.
"Aku juga mau "Ucap Matteo dengan suara manja. Wajah imutnya dia tampilkan seperti anak kucing yang sedang meminta makan dari tuannya. Wkwkw...Altea ingin meremas kedua pipi Matteo sekarang.
"Apa dia belum juga selesai menyusu ? " Matteo mengintip dari belakang punggung Altea.
"Sudah... "
"Lalu apa kamu akan memakai handuk kimono sepanjang malam ini ? " Tanya Matteo dengan seringai licik. "Aku sih senang " ucapnya lagi.
Altea merasa sinyal berbahaya mulai terhubung. "Jangan macam macam Teo" Altea mengeratkan lipatan kimononya.
"Hahaha...sebaiknya kau harus ganti baju sekarang. "
"Aku tidak tau harus pakai apa malam ini " gerutu Altea kesal mengingat baju yang tadi basah terkena percikan air. Dia merutuki dirinya yang mendengarkan Matteo agar tidak membawa apa apa.
"Sudah sana ganti baju mu" Matteo menunjukkan ruangan melalui sorot matanya. Dia mengambil Thiago dari pangkuan Altea.
Altea berjalan menuju ruangan itu. Dia mengerutkan keningnya sebentar. "Kapan dia menyiapkan semua ini " Ucapnya setelah melihat isi sebuah lemari. Dia berjalan sambil menggaruk tengkuknya. "Benar benar manusia yang sulit di tebak " Altea menggelengkan kepalanya.
Tangannya sudah mulai memilih pakaian mana yang harus dia pakai sekarang.
Setelah lama wanita itu keluar menggunakan setelan baju tidur tipis dengan tali spagetti.
"wah kau sedang menggodaku ya " Ucap Matteo menahan tawa.
Lihat kau tertawa kan ! Aku tau maksudmu menyuruhku tidak membawa apa apa lalu kau menyiapkan baju yang tidak jelas seperti ini. Huh! kesalnya aku sekarang.
"Hei hentikan tanganmu. " Altea memperbaiki tali baju tidurnya yang sudah di lorotkan Matteo.
"Kenapa kau tidak tahan lagi ya wkwkwk " Dia tertawa jenaka membuat Altea semakin kesal.
"Aku tidak mau Thiago melihat aksimu yang gila itu " Ucap Altea jengkel. Dia memakai nama Thiago untuk membungkam suaminya.
"Hahaha meskipun gila tapi kau tetap suka kan? iya kan ? aku tau itu " Matteo semakin menggoda Altea. Wanita itu memutar bola matanya.
.
.
Waiters hotel sudah menghidangkan makanan diatas meja disebuah ruangan di lantai paling atas. Matteo menyudahi perdebatannya dengan Altea. Dia mengajak wanita itu ke ruangan sebelah untuk makan malam.
"Duduklah..nikmati makan malam kita" Tampak Matteo menuang jus kedalam gelas dan memberikannya kepada Altea.
"Terimakasih"
Matteo dan Altea menikmati makan malam romantis untuk memulai liburan mereka di Barcelona. Tempat Impian Altea dari dulu.
Wanita itu terlebih dahulu memberikan Thiago makan bubur. Setelah selesai barulah dia dengan tenang menikmati hidangan makan malam. Begitulah peran wanita setelah memiliki anak. Dia akan selalu mengutamakan kepentingan anak diatas kepentingan pribadi.
Bersambung....