
Matteo keluar dari ruangan rawat kakeknya tampa pamit terlebih dahulu. Namum sebelum itu dia sempat berbisik ke telinga Altea agar menunggunya di depan pintu Lobby.
Ratna dan Altea kemudian turun menggunakan lift pengunjung disusul oleh David suaminya.
Setibanya di lobby semua perawat dan dokter menyapa Ratna dan David, Altea sendiri hanya menunduk karena Ratna memegang tangan Altea dengan lembut.
Tampak Matteo sudah menunggu di depan pintu, setelah melihat Altea dan Ratna keluar Matteo langsung menyambar tangan Altea dan membukakan pintu mobil agar Altea masuk.
David dan Ratna hanya menggeleng kepala melihat putra mereka, bahkan Matteo sendiri tidak menyapanya sama sekali.
Matteo melajukan mobilnya membelah ibu kota. Tidak ada suara yang terdengar, Altea sibuk dengan pikirannya sementara Matteo fokus menyetir.
"Apa kamu hari ini tidak bekerja? Matteo membuka suara untuk mengurangi kecanggungan mereka berdua.
"Tidak kak, aku off" Altea hanya menjawab seadanya.
"Kalau begitu kita makan siang dulu " Matteo melihat jam di dasboard mobilnya sudah menunjukkan angka 12.00 WIB.
Altea sejenak membuka tasnya untuk memastikan jika dia tidak lupa membawa dompet.Dia juga memeriksa dompetnya untuk melihat apakah uang cash nya masih ada atau tidak. Dirinya tidak mau sampai menanggung malu nanti.
"Baiklah, tapi kita berhenti di minimarket depan dulu " Altea menunjuk salah satu minimarket di pinggir jalan.
"Untuk apa ke sana? ucap Matteo sambil melambatkan laju mobilnya.
"Aku lupa membawa uang cash ku, untung ATM ku kubawa" ucap Altea sambil menunjukkan kartu debit miliknya.
"Lalu ? Matteo bertanya balik karena bingung.
"Aku ambil uang cash dulu di ATM, sekalian aku mau cek mutasi kurasa gaji pertamaku sudah keluar " Ucap Altea dengan senyum tergambar diwajahnya membayangkan gaji pertamanya cair. "Aturannya semalam sih "tambahnya lagi.
Matteo hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal melihat tingkah polos Altea. Bisa bisanya dia dengan percaya diri membahas gaji pertamanya .
"Baiklah..." Matteo memarkirkan mobil nya di depan mini market , dia keluar membuntuti Altea yang sudah baris mengantri di mesin ATM.
Altea mengeluarkan dua kartu debit nya. Setelah mendapat giliran Altea memasukkan debitnya dan mengetik PIN. Dia menekan menu lainnya dan melihat saldonya sudah bertambah. "Yes sudah masuk" gumam Altea .
Altea kemudian mentransfer sebagian saldonya ke sebuah rekening khusus yang dia jadikan sebagai tabungan. Tidak lupa dia menarik beberapa lembar uang cash dan menyimpannya di dompet sebagai persediaan.
"Kamu mentransfer uang sama siapa ? " Matteo sengaja mengintip layar mesin ATM ketika Altea melakukan transaksi tadi.
"Ke rekening ku " ucap Altea singkat.
"Rekening mu? Apaan kek gitu? " Matteo bingung sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya.
"Setelah aku menerima gaji ,aku sengaja mengasingkan sebagian uangku kedalam rekeningku yang lain dan ku jadikan tabungan khusus, biar hemat " Altea dengan bangga menjelaskan sambil memainkan kedua tangannya.
Jika tadi Matteo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sekarang Matteo memijit kepalanya yang tidak sakit, seolah dia pusing. "Tahun berapa ini, apa cara seperti itu masih berlaku? Gumam Matteo.
"Kenapa tidak sekalian uang mu kau investasikan" Ucap Matteo
"Investasi? Altea bertanya sambil memandang Matteo seolah meminta penjelasan.
"Iya investasi, kamu tau kan arti investasi? " Matteo bertanya lagi.
"Investasi adalah aktivitas menempatkan modal baik berupa uang atau aset berharga lainnya ke dalam suatu benda, lembaga, atau suatu pihak dengan harapan pemodal atau investor kelak akan mendapatkan keuntungan setelah kurun waktu tertentu" Altea menjawab pertanyaan Matteo sedetail mungkin seperti sedang menjawab ujian sekolah.
Matteo sontak tertawa karena merasa terhibur, dirinya begitu geli mendengar penjelasan Altea.
"Apa kamu juga seperti itu? Rasanya Altea penasaran. "Iya " jawab Matteo singkat.
"Jadi kamu selalu dapat keuntungan begitu? Altea bertanya dengan Antusias. "Sudah soal itu nanti kita bahas, kita makan siang dulu".
Matteo memarkirkan mobil nya didepan sebuah restoran.
Kadang Altea merasa canggung yang begitu luar biasa, tapi kadang juga Altea bisa melawan rasa canggungnya sendiri ketika bersama Matteo.
Matteo berjalan masuk kedalam restoran,sedangkan Altea mengekor dengan langkah sedikit berlari mengimbangi langkah Matteo.
Terlihat Matteo sedang berbicara dengan petugas di restoran itu dan kemudian melangkah mendekati Altea yang berdiri kaku dibelakang Matteo.
"Ayo.." Matteo menarik lembut tangan Altea seketika jantung Altea berdegup saat tangan kekar Matteo melilit tangan mungilnya, Altea melihat jelas luka ditangan Matteo yang masih membekas akibat pertengkarannya semalam.
"Duduklah " Matteo menarik kursi agar Altea duduk. Matteo membuka jaket kulit miliknya dan meletakkan jaket itu di sandaran kursi yang dia duduki.
Altea melirik Matteo, dengan balutan kaos abu abu yang pas ditubuhnya , tampak kaos itu mencetak body kekar ,lengan dan dada Matteo.
"Tampan nya "
Altea memesan satu menu lengkap dengan nasi putih dan satu minuman hangat.Terbiasa dengan pola makan sederhana Altea sulit untuk mengubah kebiasaanya.
Sambil menikmati makan siang Matteo melirik Altea yang makan menggunakan tangan manual, dari sekian banyak wanita yang Matteo kenal hanya Altea yang selalu menunjukkan sikap sederhana.
Tapi sepertinya itu tidak berlaku untuk Chelsea Altea, dia percaya diri dengan sikap sederhana yang dia dapatkan dari kedua orang tuanya.
Altea melirik Matteo yang sudah selesai menikmati makanan nya, kemudian Altea berdiri dan menyatukan piring kosongnya dengan piring Matteo sambil merapikan meja yang mereka tempati.
Altea melakukan itu karena dia juga bekerja di restoran dan kebetulan dia bagian pelayan ruang VIP. Dia tahu betul bagaimana lelahnya seorang pelayan.
Melihat hal itu, Matteo benar benar kagum dengan sosok gadis cantik yang sedang duduk di seberangnya itu.
"Aku harus segera pulang.... " Altea berbicara sambil melirik kearah Matteo.
"Baiklah" Matteo kemudian memanggil pelayan untuk meminta bill. "berapa? Altea mengeluarkan dompet dari tas nya seakan siap untuk membayar.
Matteo hanya tersenyum kecil. "Sudah ayo.."Matteo berdiri dan memakai kembali jaketnya. "Apa kau yang membayar? " Altea kembali melayangkan protes, Namum dihiraukan oleh Matteo.
Saat keluar dari ruang VIP Altea menoleh ke kanan karena mendengar seseorang memanggil namanya. "Kak Rafael? Kakak disini?" Altea tersenyum.
"Kamu apa kabar, tadi aku ketempat kerja mu tapi katanya dirimu masuk siang" Ucap Rafael sambil memasukkan tangannya kedalam saku.
"Lebih tepat nya aku memang off hari ini kak" jawab Altea seadanya.
"Apa dirimu sibuk hari ini?
"Tidak kak, aku tidak sibuk"
"Kalau begitu aku ingin mengajak mu makan malam nanti, aku harap kamu tidak menolak" ucap Rafael.
"Altea , ayo.... Belum sempat Altea menjawab tawaran dari Rafael, Matteo sudah spontan menarik tangan Altea.
Matteo sengaja keluar lebih dulu dari ruang VIP, untuk mengangkat panggilan dari Daniel, namun langkahnya berhenti ketika menyadari jika Altea tidak mengikutinya.
Kemudian dia menoleh kebelakang dan melihat Altea dan Rafael sedang berbicara dengan posisi berhadapan. Seketika rahangnya mengeras "Laki laki itu !
"Matteo, sakit... Altea meringis ketika mereka sudah keluar dari restoran.
"Hei, hentikan sikap kasar mu, dia seorang wanita" Rafael menarik kembali tangan Altea.
"Aku tidak ada urusan dengan mu boy, pergilah!
Matteo mengibaskan tangannya agar Rafael pergi.
"Aku tidak akan membiarkan Altea dalam keadaan bahaya" Rafael bukannya pergi malah semakin mendekat seakan menantang Matteo.
"Apa mau mu ha! Bugh bugh bugh...
Matteo menghantam wajah dan bagian perut Rafael, karena merasa geram namun Rafael juga menyerang balik Matteo. Baku hantam disiang bolong pun akhirnya terjadi lagi.
"Matteo !! Hentikan.... Altea menarik tangan Matteo namun kekuatannya tidak sebanding, akhirnya dia meminta petugas untuk melerai.
"Tidak bisakah kau mengontrol emosi mu!!!
" Dasar Brengsek !
Altea mengumpat sambil berlari kecil menyusul Rafael yang sudah dipapah oleh petugas keamanan, "Altea tunggu, kau mau kemana! Matteo meraih ujung baju Altea dan menarik nya "Lepaskan aku!.
"Tidak , ayo pulang ! Matteo kembali menarik tangan Altea dengan kasar dan membuka pintu mobilnya, "Plak! seketika tangan kanan Altea mengeras dan melayangkan tamparan di wajah Matteo.
"Kau menguji kesabaran ku Matteo!" . Altea kembali berlari menyusul Rafael dan meninggalkan Matteo yang terpaku sambil memegang pipi bekas tamparan Altea.
Untuk pertama kalinya ada seorang wanita yang berani menampar Matteo.
Bukan karena sakitnya tamparan Altea, namun tamparan itu menggambarkan betapa emosinya Altea sekarang!.
Matteo hanya berdiri memandangi punggung Altea yang semakin menjauh, dia benar benar frustasi.
Dia melajukan mobilnya mengikuti Mobil Rafael yang dikemudikan oleh petugas setempat, tampak mobil itu menuju sebuah klinik terdekat.
Altea memapah Rafael keluar dari mobilnya, ini adalah pemandangan menyesakkan yang dilihat oleh Matteo. Ingin rasanya Matteo keluar dari mobil dan menarik tangan Altea agar menjauh dari pria itu tapi dia tidak mau menambah masalah baru.
Setelah lama berargumen dengan pikirannya akhirnya Matteo memutuskan keluar dari mobilnya dan menyusul Altea yang sudah masuk kedalam klinik.
Tampak Altea duduk di samping Rafael dan membantu perawat membersihkan luka Rafael menggunakan Alkohol. Matteo hanya memandang dari jauh sambil mengeraskan rahangnya. Apakah dia cemburu?
Bersambung...
episode selanjutnya segera saya liris...
bantu like dan komen.🤗