
"Altea .... boleh kau jelaskan padaku ? " Matteo memeriksa seluruh tubuh Altea. Memangnya ada ya orang yang tidak menyukai malaikat seperti mu ?.
"Siapa yang berani menyentuhmu ! "Matteo mengeraskan rahangnya, amarah mulai muncul kala pria yang sudah berubah itu menemukan ada bekas cakaran kuku di leher putih istrinya.
Aku saja enggan walau hanya sekedar meninggalkan bekas kepemilikan ku disana, kok beraninya dia menodai leher istriku . Begitu arti tatapan mengerikan Matteo.
Matteo menjaga Altea baikan menjaga sebiji berlian permata yang bernilai tinggi. Nyamuk sebiji saja tidak ia biarkan menempel di tubuh wanita itu. Apalagi ada tangan orang yang mendarat di tubuh istrinya.
"Jawab aku ! Siapa yang melakukan ini !! " Matteo menurunkan volume suaranya, walau nadanya rendah namun terdengar lebih menakutkan.
Altea tersenyum kecil, sambil menutupi leher dengan geraian rambut. "Aku tidak apa-apa sayang. Ayo kita ke sana" Altea memilih menghindar. Dia tau ini bukan waktu yang tepat untuk memberitahu soal pertengkarannya dengan Clarish.
"Jawab aku dulu Chelsea Altea!!! " Menahan keras tangan Altea hingga wanita itu meringis. "uhh ".
"Maaf... maafkan aku " meniup pergelangan tangan Altea.
Saat sedang meniup tangan Altea seseorang datang menghampiri. "Maaf pak mengganggu, ini rekaman cctv dari toilet baru saja ".
Paniknya Matteo mencari dimana Altea hingga membuat dia harus meminta bantuan pengawas hotel agar memeriksa semua sudut, pintu exit dan ruangan tersembunyi hotel.
"Baik terimakasih" Matteo menerima video itu.
Matteo segera memutar rekaman ulang video dan menemukan siapa yang mencakar leher Altea.
"Kurang ajar " ..
"Prang !!! " membanting ponsel miliknya penjaga hotel hingga kepingan hancur berserak kemana mana.
"Wanita itu sudah diurus oleh Tommy " Juna datang menghampiri adiknya.
"Sebaiknya kita dampingi papa disana" Terdengar suara datar Juna mengajak adiknya fokus sampai acara selesai.
Akan sangat tidak terhormat jika mereka sibuk dengan satu masalah dan meninggalkan acara yang sedang berlangsung.
"Jangan kasi ampun wanita iblis sialan itu !!! " Suara Matteo penuh emosi.
"Sayang jangan buat mood mu rusak karena sesuatu yang tidak penting " Altea mengusap lengan suaminya.
Sepanjang acara Matteo menahan diri untuk tidak melakukan tindakan seperti dirinya yang dulu. Selain membuat keluarga mahaprana Malu satu nama yang dia jaga yaitu Altea. Dia tau istrinya tidak menyukai dirinya yang gampang emosi maka dari itu Matteo berusaha untuk tidak mengambil resiko. bisa semakin rumit urusannya nanti jika dia tidak bisa menahan emosi.
Namun Altea cukup jeli memperhatikan setiap gerak-gerik Mateo sepertinya wanita itu sudah menghafal bagaimana Matteo ketika sedang baik-baik saja dan tidak baik-baik saja.
"Aku baik baik saja sayang kamu jangan khawatir muah.."
Altea memberikan kata-kata yang bisa menghangatkan hati suaminya dan menghadiahinya sebuah kecupan di pipi. Dan tentu saja itu membuat seorang Matteo tidak bisa berbuat apa-apa selain menurut.
Altea melihat emosi Mateo mulai reda namun dia tahu jika suaminya tidak segampang itu langsung bisa menghilangkan rasa emosionalnya.
Di bawah meja Alta yang menarik tangan Mateo Dan meletakkan diperutnya yang sudah mulai membuncit. "Dia merindukan mu " Lirih Altea tersenyum dan membuat Matteo begitu tersentuh, Sekali lagi Matteo Luluh.
"Berjanjilah padaku agar kau tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dirimu sendiri ,kau nyawaku Altea!!" Menangkup kedua wajah Altea tanpa mempedulikan tatapan orang lain.
"Iya "
"Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi apa-apa denganmu" suara Matteo terdengar berat penuh penekanan seolah menegaskan jika Altea harus selalu baik baik saja.
Sudah cukuplah perlakuanku pernah membuatmu terluka , jangan ada orang lagi yang membuatmu tidak nyaman, karena aku adalah orang yang paling bersalah jika sampai terjadi apa apa dengan mu.
"Makanlah sayang... kau tidak boleh kelaparan" Matteo menyerahkan piring berisi menu yang sengaja dia pilih menu apa saja yang cocok untuk keadaan istrinya yang sedang hamil.
"Terimakasih.. perhatian banget sih " Gemas Altea mengedipkan matanya sambil tersenyum.
"Kau berutang penjelasan padaku "
"Soal Clarish " Ucap Matteo malas. Dia tau jika istrinya bukan pertama kalinya bertemu dengan Clarish pasti sudah ada pertemuan mereka sebelumnya hingga ada bahasa yang keluar dari mulut Clarish soal tidak menepati janji.
...----------------...
Matteo dan Altea memutuskan untuk menginap di hotel karena menyadari hari ini terlalu larut malam untuk tulang mengingat Istrinya sedang hamil.
Setelah memesan kamar dan mendapatkan akses card Matteo mengajak Altea masuk. Setelah membuka jas dan seutas tali di yang melingkar di leher, kemudian dia menghampiri altea dan membantu wanita itu melepaskan Hells.
"Aku tidak mungkin tidur pakai dress bukan ? " Ucap Altea sambil menunjukkan dress panjang yang dia gunakan. "Akan sesak nantinya, kamu juga tidak mungkin tidur memakai stelan kemeja mu " imbuh Altea lagi merasa Frustasi.
"Oh itu... Kita tidur tidak perlu memakai baju sayang " ucap Matteo dengan seringai licik. Perlahan mendekati Altea yang masih berdiri.
"Aku merindukan mu " Matteo melingkarkan tangannya di pinggang sang istri, kemudian perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah altea salah satu tempat yang ingin dia tuju adalah bibir ranum Altea yang begitu menggoda baginya.
Awalnya Mateo ingin membicarakan mengenai pertengkaran istrinya dengan clarish. Namun melihat lengkuk tubuh Altea yang sedari tadi membuat dirinya gagal fokus dia tidak bisa melewatkan malam ini tanpa cinta.
Abaikan masalah yang terjadi tadi, ayo kita selesaikan dulu urusan kita.
Matteo langsung mencium bibir Altea dengan rakus, rasanya dia begitu merindukan rasa nikmat yang begit manis yang berasal dari dalam sana yang sudah menjadi candu baginya.
Altea hanya pasrah membiarkan suaminya sudah mulai memasuki tahap tahap yang pernah dia hadapi, Altea sudah tau kemana tujuan akhir Matteo membawanya.
Dan benar saja dugaannya, Matteo mulai melepaskan gaun yang menempel ditubuh Altea dan melempar kain itu entah mendarat dimana.
"Kenapa? " Matteo merasa terganggu ketika Altea tiba tiba memalingkan wajahnya dan mendorong tubuh Matteo.
"A.. aku malu " lirih Altea dengan pipi yang sudah merona secara alami. Walaupun mereka sepasang suami istri dan sudah pernah melakukannya namun disaat seperti ini rasa malu itu masih muncul.
Matteo hanya tersenyum kecil melihat istrinya yang masih malu-malu, dia tahu altea bukan tipe wanita yang tidak tau malu seperti wanita -wanita yang sering dia temui di klub malam.
"Tatap aku ! " pinta Matteo didepan telinga Altea, hembusan nafas Matteo membuat bulu kuduk Altea sontak berdiri.
Tatapan Matteo seperti menghipnotis Altea hingga rasa malu itu mulai berkurang. Matteo memberikan ruang agar Altea bisa menyesuaikan dengan gerakan yang dia ciptakan.
Percintaan itu berlangsung dengan penuh cinta bukan ***** belaka. Matteo menyalurkan semua kerinduan dan cintanya kembali.
Malam panjangpun berakhir dengan durasi waktu yang cukup lama.
Sebenarnya Matteo masih tergoda dengan tubuh Altea yang menurutnya semakin hari semakin ****. Karena beberapa bagian tubuh wanita itu mulai berisi dan menciptakan keseksian tersendiri untuk Matteo.
Namun dia sadar , dia tidak bisa melakukannya berkali kali karena istrinya sedang dalam keadaan hamil dia tidak mau akibat dirinya yang tidak bisa menahan diri membuat istrinya kelelahan hingga membahayakan anaknya.
"Aku mau membersihkan diri sebentar " Altea duduk sambil mengamankan tubuhnya menggunakan selimut.
"Tidurlah... ini sudah hampir subuh tidak baik untuk kesehatan mu bermain air malam malam " Matteo memberikan nasehat.
"Aku boleh tidak memakai kemeja mu ? " Rasanya Altea tidak nyaman tidur tanpa sehelai benang pun. soalnya ada buaya disampingnya yang siap menyergap, sedangkan tidak diberi umpan saja Matteo langsung tergoda dan menyergapnya apalagi dikasi umpan manis tanpa baju seperti ini. Altea tidak bisa membayangkan apa yang terjadi nantinya.
"Kau tidak perlu memakai baju sayang " Matteo masih tersenyum penuh arti.
"nanti aku kedinginan... " Menyadari ada yang aneh dengan tatapan Matteo.
"Aku akan memberimu kehangatan" Matteo langsung berbaring kemudian menepuk ranjang kosong disampingnya.
"Kemarilah aku tidak akan melakukannya lagi, aku tidak setega itu padamu kau lagi hamil anakku " meyakinkan Altea karena melihat wanita itu tidak bergerak.
Perlahan Altea mendekat, kemudian Matteo memeluk Altea dengan hangat dan membawa wanita itu kedalam mimpi mimpi manis yang akan menghiasi tidur mereka malam ini.
Bersambung.