Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat

Aku Mencintaimu,Tanpa Syarat
Berangkat Ke Manchester


Di dalam ruangan Presdir tampak Matteo sedang berbicara dengan 4 orang jajaran penting perusahaan. Matteo mengamati satu persatu wajah pria itu dengan seksama. Tidak ada yang bisa menebak apa yang ada didalam pikiran Matteo. Matanya mengarah kepada mereka secara bergantian, mengamati rona wajah dan struktur kalimat yang dia dengar.


"Baiklah aku harap kerjasama yang baik tetap kita dipertahankan yang belum tolong di perbaiki kedepannya" Ucap Matteo setelah merasa topik yang mereka bahas sudah selesai.


Mendengar ruangan pintu diketuk Matteo menoleh . " Masuk ".


"Ini adalah informasi yang anda perintah untuk saya kumpulkan " lelaki itu menghidupkan layar dan menunjukkan fitur didalam mobile.


"Baik, tetap pantau semua perkembangan informasi selanjutnya , untuk urusan luar negeri sepertinya aku harus turun tangan " Matteo menepuk pundak pria itu lalu pergi.


Matteo segera keluar dari perusahaan dan menjemput Altea dari kampus setelah mendapat kabar dari bibi pelayan bahwa wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu bersikukuh masuk kuliah meskipun dilarang oleh Matteo.


Mike masih berdiri memandangi punggung Matteo yang sudah berlalu. " Aku harap anda jeli mengikuti permainan yang sedang berjalan, tantangan perusahaan sangat besar " . gumam pria tersebut.


Nama pria itu adalah Mike, usianya terpaut 10 tahun dari Matteo, yakni 34 tahun. Dia merupakan salah satu orang kepercayaan Raymund di perusahaan.


"Ada hal penting yang harus kita bicarakan " Matteo dan Altea sudah berada didalam mobil.


"Ada apa " Altea mengambil air mineral lalu menenggaknya.


"Kita bicarakan dirumah " Matteo melajukan mobilnya membelah kemacetan ibu kota.


"Al, aku mau tanya apa kau masih takut denganku ? " Mereka berdua sudah berada di ruang tamu. Tampak Altea melirik Matteo dengan tatapan sulit diartikan. "Baik aku ganti pertanyaan, apa kau masih membenciku ?" Matteo kadang bisa menebak pikiran Altea akan tetapi lebih sering tidak bisa.


Altea tidak membuka suara, pandangan beralih kearah lain, wajahnya seperti biasa tidak bersemangat .


"Baiklah diam mu aku artikan sebagai jawaban iya " Matteo menghela nafas dengan berat, jika boleh jujur Altea adalah beban pikirannya sekarang.


"Besok aku akan berangkat ke Manchester, cabang perusahaan kakek di sana sedang menyurut aku harap dirimu mengerti " Ucap Matteo. "Dan untuk sementara kamu tinggal bersama mama dulu, aku akan menghubungi mama nanti karena aku tidak mungkin meninggalkan kalian disini "


Mendengar Matteo pergi keluar negeri bagi Altea tidak ada masalah. Mungkin karena rasa nyaman dengan Matteo belum ada membuat Altea tidak keberatan melepas Matteo ke luar negeri.


"Tidak usah aku tinggal dengan ayah dan ibu saja "


"Baiklah " Matteo tidak mau terlalu memaksa Altea untuk menerima tawarannya. Yang terpenting adalah wanita hamil itu nyaman ,itu sudah cukup untuk Matteo.


***


Malam hari setelah semua penghuni rumah sudah terlelap Matteo bangkit dari tempat tidur menuju kamar Altea, suara dengkuran halus menandakan jika wanita itu sedang menikmati keindahan mimpi dibawah alam sadarnya.


Ada rasa yang tidak bisa diungkapkan ketika melihat wajah damai Altea. Dengan perlahan Matteo menyentuh wajah cantik Altea dengan perasaan campur aduk.


Kita tinggal satu atap tetapi seperti dipisahkan oleh lautan dan samudera.


Aku tidak pintar merayu wanita seperti laki laki lain, tapi aku tulus mencintai mu.


Sepertinya perjuanganku semakin berat untuk mendapatkan cinta dari mu. Tetapi aku masih semangat Al . Aku akan meninggalkan kehidupan buruk ku dan aku akan mengembangkan perusahaan kakek dengan begitu aku bisa bersanding dengan mu, dan mulai sekarang aku akan berjuang mencari bekal buat anak kita.


Pandangan Matteo beralih ke perut rata Altea yang tertutup oleh selimut, perlahan dia menyentuh perut itu dan mendaratkan kecupan halus "Anakku ".


Dia melihat ada dua kartu debit terselip di dalam dompet Altea. Ingatannya kembali dengan kejadian dimana Aurel kakak iparnya berbelanja dengan Altea, Matteo masih mengingat jelas raut wajah dan gerak gerik Aurel seolah memandang istrinya dengan rendah.


Perlahan dia mengambil kedua debit itu dan menggantinya dengan 4 kartu debit miliknya.


Matteo juga mengambil Black card dari saku jas yang dia kenakan tadi siang dan menyelipkan didalam dompet Altea.


Aku tidak mau ada orang yang merendahkan istri ku. gumam Matteo mengeraskan rahangnya mengingat wajah Aurel kakak iparnya


Kemudian dia kembali ke dalam kamar Altea dan meletakkan dompet itu di tempatnya semula. Menutup pintu dengan perlahan dan kembali ke kamarnya.


Jam 4 pagi Matteo bangun dari tidurnya tempat yang pertama dia kunjungi adalah kamar istrinya. Dia melihat Altea dengan mata tertutup, Matteo mendaratkan kecupan di dahi Altea kemudian dia juga mengecup perut rata wanita itu dengan perasaan hangat.


Kemudian Matteo kembali ke kamar dan bersiap karena sebentar lagi Mike dan Gio akan datang menjemputnya. Setelah selesai berpakaian dia mendengar suara ponselnya berbunyi.


"Bos kami sudah di depan rumah mu" Ucap Gio dari sambungan telepon. "Tunggu Sebentar ". Tepat dugaan Matteo jika Mike dan gio datang tepat waktu.


Sebelum pergi Matteo melihat pintu kamar Altea masih tertutup, kemudian dia kembali masuk dan mengulang perlakuannya mengecup dahi Altea dan perut wanita itu. "Sakit rasanya ketika melihatmu menjauhiku dengan alasan yang sama, akan tetapi aku tetap menunggu mu mencintai ku, aku pergi dulu " .


Dengan berat hati Matteo keluar dari kamar Altea, sebenarnya dia tidak sanggup berjauhan dengan wanita itu meskipun Altea selalu menjaga jarak dengannya akan tetapi Matteo tetap merasa nyaman. Namun, tidak ada pilihan lain perusahaan Raymund yang dia pegang sekarang sedang gawat gawatnya, dan itu membuat Matteo harus ekstra berjuang.


Beban yang dia pundak sekarang begitu banyak, mulai dari perjuangannya untuk Altea, tanggung jawabnya untuk perusahaan, belum lagi masalah mengenai Clarish masih memenuhi pikirannya. Semua itu dia pikul dengan sendirian.


Yakin kan aku Tuhan dia milikku gumam Matteo sambil menuruni anak tangga.


"Ayo ini sudah jam 5 " Gio meraih tas dari tangan Matteo dan memasukkannya ke bagasi mobil. Mereka bertiga berangkat menuju bandara. Didalam mobil Matteo mengetikkan pesan kepada Altea.


Aku sudah berangkat ketika kamu tidur, maaf tidak membangunkan mu aku tidak tega. hubungi aku jika butuh sesuatu. Terkirim.


Matteo juga mengirimkan pin dari kartu debit dan Black card yang dia selipkan di dompet Altea.


.


.


.


Altea masih memegang keningnya bekas kecupan Matteo, perlahan dia berjalan menuju jendela kaca dan mengintip mobil Matteo yang perlahan menghilang dari balik pagar besi hitam, tanpa di undang air mata Altea lolos begitu saja dari pelupuk matanya.


Ada rasa bersalah yang menghinggapi perasaanya kepada pria yang sudah menjadi suaminya itu. Sebenarnya dia sudah bangun ketika Matteo masuk kedalam kamarnya dan mendengar apa yang dikatakan oleh pria itu.


Ponsel Altea bergetar tanda pesan masuk. Dia meraih ponselnya dan melihat ternyata Matteo yang mengiriminya pesan.


"Kartu kredit ? " gumam Altea, matanya beralih melihat dompetnya diatas meja, meraih dompet tersebut Altea membulatkan matanya dengan sempurna melihat isi dompetnya begitu mengejutkan. "Apa apaan ini ??? "


Altea mencari debit miliknya namun tidak ada, didalam dompetnya sudah ada 5 kartu yang baru. Dengan kesal Altea menutup dompet tersebut dengan susah payah karena isi dompetnya terlalu penuh. "Kenapa dia tidak berubah selalu saja bersikap semaunya ihh " Gerutu Altea kesal.