
Matteo telah tiba dirumah sakit, dia langsung bergegas memasuki lift dan mengeluarkan semua pengunjung dan perawat yang sudah duluan masuk kedalam lift.
Tidak ada yang berani melayangkan protes, mereka hanya diam tidak bergeming seolah pasrah.
Ceklek pintu terbuka....
Mata Matteo langsung tertuju kepada gadis cantik yang mampu membuat jiwanya tenang masih terbaring dengan mata terpejam. Matteo kemudian memberanikan diri menyapa Ilham dan Sofi setelah itu dia langsung mendekat ke brankar Altea. "Apa Altea belum sadar dari tadi Bu? .
"Sudah nak, tadi dia sudah bangun sebentar ke toilet habis itu dia bobo lagi" ucap Sofi dengan senyum hangat. "Benar begitu ? Tanya Matteo antusias . "Iya nak" ...
"Sebaiknya aku ke bengkel sekarang, anak anak belum paham menutup bengkel tanpa pengawasan " Ucap Ilham sambil melirik jam yang menempel di dinding. Anak anak yang dimaksud Ilham adalah anak sekolah kejuruan yang sedang PKL di bengkel miliknya.
"Rencananya ibu juga mau ke rumah, untuk mengambil beberapa pakaian Altea" ucap Sofi menimpali.
"iya sudah Bu, Altea biar aku yang jaga "Matteo menimpali.
"Apa kamu tidak keberatan nak?" Tanya sofi dengan lembut, kemudian dibalas anggukkan dari Matteo. "Yakin ? tanya Sofi sekali lagi.
"Iya Bu tidak apa apa " Matteo menampilkan senyum tulus untuk meyakinkan Sofi.
"Ya sudah kami tinggal dulu , aku titip Altea sebentar " Ilham berdiri dan menepuk pundak Matteo.
Lama saja tidak apa apa pak, aku dengan senang hati menjaga gadismu disini.
Seringai licik Matteo menghiasi wajahnya ketika melihat pintu sudah tertutup menandakan jika Ilham dan Sofi sudah berlalu.
Dia kembali beralih menatap lekat wajah Altea yang masih tertidur. Perasaan hangat dan tenang meliputi perasaannya.
Tanpa sadar dia mulai menggerakkan tangannya mengusap wajah Altea dengan perlahan.
Kulit putih, hidung mancung dan bibir ranum yang mungil melengkapi kesempurnaan gadis itu,meskipun kulitnya tampak sedikit pucat namun tidak mengurangi kecantikan natural Altea.
"Kau benar benar membuat ku tergila gila " Gumam Matteo disela sela aktivitasnya membelai wajah Altea, kemudian beralih meraih jemari gadis itu dan merabanya dengan lembut.
Perlahan tangan kekarnya menggenggam erat tangan Altea, dirabanya tangan mungil itu kemudian tanpa sadar dia mengecupnya untuk pertama kali. "Aku mencintai mu Al"
Merasa sesuatu mengganggu tidurnya akhirnya Altea membuka mata dengan perlahan. "Matteo " Altea menyebut nama pria yang sedang menggenggam tangannya.
"Kau sudah bangun al.." Matteo gelagapan melepas tangan Altea, karena merasa terkejut dan malu .
"Kamu ngapain kesini? " Altea menetralkan suara seraknya .
"Memangnya salah jika aku menjenguk wanita yang aku cintai? "senyum licik terpampang di wajah Matteo. Entah keberanian dari mana dia sudah mulai berani menggoda Altea.
Altea hanya memutar bola mata malas menanggapi ucapan pria itu. "Ayah dan ibu kemana ? ".
"Untuk apa kau mencari orang lain sementara aku disini? " Matteo masih setia menggoda Altea.
Mata Altea memicing mendengarkan godaan Matteo yang membuatnya geli dan ingin tertawa. "Aku mau ke toilet" ucap Altea sambil menurunkan kedua kakinya.
"Tunggu, sini aku bantu " Matteo langsung memapah Altea dan membantu gadis itu mendorong tiang infus sampai kedalam toilet.
Matteo masih berdiri melihat Altea yang juga terdiam didalam toilet. "Kau keluarlah..." ucap Altea mendorong lembut tubuh Matteo.
"kenapa aku harus keluar ?" pertanyaan polos Matteo keluar begitu saja.
"Aku bisa sendiri " Altea menajamkan pandangannya.
Melihat Altea menajamkan pandangannya Matteo bingung, namun dia tidak bisa memahami ketajaman pandangan itu.
"Apa kau mau melihatku membuka celanaku Matteo !! " suara Altea naik satu oktaf karena kesal melihat laki laki itu tidak mau keluar.
"Untuk apa kau membuka celana mu?Tanya Matteo masih dengan nada polosnya.
"Aku mau buang air kecil!!!! Altea menekankan semua kalimatnya sambil memandang Matteo sebal.
" Ya sudah kau kan tinggal buka resleting celana mu dan kau tinggal bidik ke...... oh iya aku lupa kau harus duduk ternyata " Matteo menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil menampilkan deretan giginya karena merasa malu.
"Baiklah aku tunggu diluar" Matteo akhirnya keluar setelah menyadari kebodohannya.
Altea hanya bisa menggelengkan kepala kemudian mengunci pintu dengan rapat. "Apa dia gila bertanya untuk apa dia keluar? Dasar aneh .batin Altea.
"Sudah ? " tanya Matteo yang melihat pintu toilet yang sudah terbuka kemudian disusul oleh Altea yang muncul sambil mendorong tiang infus ,Matteo spontan membantu Altea sampai gadis itu kembali duduk di brankar miliknya.
"Apa kamu mau makan ? "pertanyaan Matteo hanya dibalas anggukan oleh Altea.
Matteo langsung meraih nampan dan membuka mangkok berisi bubur putih yang sudah di lumuri kecap asin. "Buka mulutmu"
"Aku bisa sendiri" Altea berusaha meraih mangkok dari tangan Matteo namun secepat mungkin Matteo mengelak.
"Kau tidak boleh banyak bergerak , jadi biar aku menyuapi mu" Ucap Matteo dengan wajah datarnya. "buka mulutmu " Matteo kembali mengarahkan sendok berisi bubur ke mulut Altea.
"Aku tidak mau, aku mau makan sendiri saja" Ucap Altea sambil berusaha meraih mangkok dari tangan Matteo. Rasanya Altea segan bercampur malu jika sampai Matteo menyuapinya.
Dengan berat hati akhirnya Altea membuka mulutnya dan menerima suapan dari tangan Matteo. "Sejak kapan dia bisa berperilaku konyol. ? Batin Altea.
Matteo menarik senyum tipis melihat Altea akhirnya mau membuka mulutnya walau pun wajahnya tampak kesal. "Kau manis saat merajuk"
Matteo melihat jika bubur didalam mangkok sudah tinggal sedikit, akhirnya dia menyendok bubur secuil demi secuil.
Rasanya dia masih ingin berlama lama menyuapi Altea.
"Kenapa sedikit sekali? Altea merasa bubur yang masuk kedalam mulutnya hanya sedikit, langsung melayangkan protes.
"Aku tidak mau membiarkan mulut mu kelelahan mengunyah" Ucap Matteo sambil menampilkan senyum bodohnya.
Altea hanya memutar bola mata malas, ingin sekali dia membalas ucapan Matteo namun rasanya dia belum punya banyak tenaga untuk berdebat.
"Terimakasih "
Matteo hanya tersenyum kemudian meletakkan mangkok yang sudah kosong diatas nampan.
"Apa kamu butuh sesuatu Al?
"Tidak "
Hening sejenak, Matteo menatap wajah Altea dengan hangat, ingin sekali dia memeluk erat tubuh wanita itu sekarang.
"Aku hampir saja gila mendengar mu pingsan di kampus" Matteo berbicara tanpa menoleh ke arah ranjang Altea.
"kenapa seperti itu ? Meskipun Matteo berbicara tanpa melihatnya dia tau jika yang dimaksud Matteo adalah dirinya .
"Aku pikir kau dijahatin sama orang orang Al"
Matteo sejenak menoleh kemudian menatap lekat wajah Altea hingga membuat pandangan mereka kembali beradu.
"Aku baik baik saja " buru buru Altea mengalihkan pandangannya.
"Iya aku tau itu" Matteo menoleh kearah pintu karena mendengar suara, ternyata Sofi sudah datang menenteng tas minggat ukuran sedang.
"Kamu sudah makan nak? Sofi melihat bubur diatas nampan sudah kosong.
"Sudah bu"
"Baiklah minum obat mu sekarang ya nak" Sofi memberikan obat tablet dan air didalam gelas.
"Maaf tadi ibu tidak jadi membawa boneka mu, soalnya tidak muat " Sofi menunjukkan tas minggat yang full.
Tampak raut wajah altea berubah sambil mengerucutkan bibirnya. "besok ibu ambil ya nak, ini sudah malam" bujuk Sofi.
umur berapa dia masih suka bermain boneka?
Batin Matteo.
"Bu aku kebawah sebentar " Matteo melangkahkan kaki nya dan menutup pintu dengan pelan.
.
.
.
"Beli Boneka sekarang, yang cantik ,dan besar , garis bawahi Besar !!!! " pinta Matteo melalui sambungan telepon.
"Boneka? boneka untuk apa? " Tanya Gio penasaran.
"aku tunggu di lobby rumah sakit 5 menit!!! tutttttt Matteo mematikan sambungan telepon sepihak.
Matteo duduk di kursi lobby sambil menatap lekat detik detik yang bergerak di lingkaran jam yang menempel dipergelangan tangannya.
5 menit kemudian Matteo melihat Gio dan anggota gengnya sudah memarkirkan motor mereka dan hendak masuk ken lobby rumah sakit.
"Mana bonekanya ? " Tanya Matteo datar.
"Ini bos " Guntur menyerahkan boneka beruang jumbo warna pink lembut, tinggi boneka tersebut bahkan hampir sama dengan tinggi Matteo.
"Baiklah aku permisi" Matteo merampas boneka itu dan menghempaskan jarinya agar Gio bersama anggotanya segera pergi.
Matteo berjalan membawa boneka jumbo itu sambil tersenyum penuh kehangatan membayangkan wajah bahagia Altea saat menerima boneka tersebut.
Sedangkan Gio dan anggota gengnya jangan tanya bagaimana lebarnya mulut mereka menganggap melihat ketua gengstar itu berjalan dengan santai sambil menggandeng boneka beruang warna pink.
Bersambung......